Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 47


__ADS_3

Sampailah mereka di kantor, semua karyawan menunduk saat melihat mereka datang. Mereka berdua orang penting setelah Rayyan Smith. Setelah menikah, Leon tak hanya menjadi tangan kanannya. Pria itu juga menjabat sebagai direktur, jika Rayyan tidak bisa hadir, maka ia yang menghandle semuanya termasuk meeting penting. Tapi sayang, meeting hari ini gagal karena bosnya terlambat sehingga MR Joseph membatalkan meetingnya karena tak bisa menunggu lama.


Kesibukkan Leon semakin bertambah, beruntung, ia memiliki istri yang cekatan yang bisa membantunya. Lisia lebih baik membantu dari pada ada sekretaris yang sudah disiapkan pihak kantor. Apa lagi sekretarisnya seorang perempuan, padahal, Leon sangat baik. Mana mungkin ia mengkhianati pernikahannya.


Kesibukkan hari ini akhirnya selesai, mereka berdua cukup lelah seharian berada di depan laptop. Lisia nampak meregangkan otot-ototnya. Tak lama, Leon menghampiri dan mengajak istrinya untuk pulang.


"Sebentar ya, aku siap-siap dulu." Lisia mengambil tasnya berisikan bedak. Sebelum pulang ia memoles wajahnya.


"Sudah cantik, gak usah dipoles lagi," kata Leon.


"Biar tambah cantik, sayang. Biar kamu tidak berpaling."


"Mana mungkin aku berpaling? Kamu sudah cantik begini, mau cari yang kaya gimana lagi, coba?" Leon melingkarkan tangan di bagian pundak sehingga ia dapat mencium leher jenjang istrinya.


"Gombal, tetep aja kalau lihat yang lebih cantik dan mulus matamu melotot," cibir Lisia.


"Gak akan, kamu tetap nomor satu." Leon mencium pucuk kepala istrinya dengan sangat dalam, mereka lagi harum-harumnya pengantin baru. Kemana pun selalu berdua. "Ya udah yuk? Kita pulang sekarang," ajak Leon.


Lisia pun beranjak dan langsung melingkarkan tangan di lengan suaminya, tak lupa membawa tas kecil miliknya yang ia sematkan di tubuhnya. Siapa pun yang melihat pasti iri dengan keharmonisan rumah tangga baru mereka. Tak semua juga yang memuji.


"Alah, masih pengantin baru. Lama-lama juga bosan," ucap salah satu karyawan yang memang biasa nyinyir. "Udah dua bulan belum juga hamil, jangan-jangan mandul!" sambungnya lagi.


Teman yang satunya langsung menyikut, mereka tidak tahu bahwa yang dibicarakan tengah lewat. "Siap-siap aja kamu dipecat, makanya kalau ngomong itu dijaga!"


Yang biasa bergosip itu langsung terdiam, bahkan tak berani menggerakkan tubuhnya karena Leon dan Lisia berada di belakangnya.


"Jangan diladenin," kata Lisia.


Kalau bukan istrinya yang menenangkannya, mungkin karyawan itu sudah ia pecat sekarang juga. "Kenapa malah bela dia? Karyawan itu sedang membicarakan kita loh, dan kamu diam saja," ujar Leon.

__ADS_1


"Aku tidak mau ada masalah, biarkan saja mereka mau mgomong apa." Padahal, hatinya terasa sakit saat ada yang bilang dirinya mandul. Padahal, itu belum tentu benar adanya, pernikahannya saja baru dua bulan. Bahkan ada yang lebih lama lagi dari mereka dan sampai saat ini belum memiliki momongan. Meski begitu, Lisia tetap ada ketakutan. Bagaimana jika dirinya mandul? Apa suaminya akan menceraikannya dan mencari wanita lain?


"Hey, kenapa bengong?"


"Kalau aku mandul bagaimana?"


Leon terdiam sesaat. "Ngomong apa sih? Aku tidak suka kamu ngomong begitu, udah jangan dipikirin. Katanya jangan diladenin, tapi kamu malah kepikiran. Aku akan memecatnya, biar mulutnya tidak asal bicara." Mereka pun akhirnya pulang.


***


"Sayang, pijitin coba. Kaki ku pegel sekali," pinta Maura.


"Siap." Rayyan benar-benar membaktikan hidupnya. Terlepas dari masalah yang sudah dilalui, mereka sering keluar rumah tanpa mengkhawatirkan apa pun. Melihat tumbuh kembangnya sang buah hati membuatnya semakin bahagia, apa lagi sekarang yang tengah menantikan anak kedua mereka.


Dengan pelan, Rayyang memijat bahkan mengurut tubuh istrinya. Sampai Maura rilex dan tertidur dengan sendirinya. Karena istrinya tidur, Rayyan pun keluar untuk mengambil Zaen dari pengasuh. Ia juga membantu istrinya menjaga anak mereka. Setelah kehamilan kedua istrinya, Rayyan memang jarang ke kantor. Untung ada Leon yang bisa diandalkan. Ia membayar Leon berkali-kali lipat.


Meski begitu, tak membuat kantongnya jebol. Ia harus membayar Leon sesuai pekerjaannya. Bukan hanya itu saja, Leon juga terkadang harus mengecek keadaan tawanan yang bernama Alex. Sudah beberapa bulan pria itu terkurung. Wajahnya pun sudah ditumbuhi bulu-bulu yang cukup banyak dan panjang. Rambut gondrong serta janggot yang tak beraturan, siapa pun yang melihat tak akan menduga itu adalah Alex. Pria itu malah terlihat seperti orang gila jika dilihat dari penampilannya.


Beruntung, Zaen yang kini sudah berusia satu itu mengerti. Bocah itu mau ditemani oleh pengasuhnya di rumah. Sedangkan semua berada di rumah sakit, termasuk Lisia dan Leon. Mereka tak henti-hentinya mendoakan. Maura ingin melahirkan normal, sedangkan Rayyan tak tega melihat istrinya kesakitan bahkan ia sudah bersedia menandatangani persetujuan operasi.


Seketika, Maura yang kesakitan dan mendengar ucapan suaminya langsung menjitaknya begitu saja. Asal saja kalau beri persetujuan. "Aku tidak mau sesar, aku mau melahirkan normal. Kamu pikir lebih sakit mana sama operasi, hah?!" Maira mendelikkan matanya karena marah.


"Iya- iya, aku gak ngomong apa-apa lagi. Tapi kamu yang tenang jangan buatku panik."


Maura kembali menarik napas dan mengikuti apa perintah dokter. Satu kali gagal, dua kali juga gagal. Kembali mempersiapkan diri, menarik napas dalam-dalam ...


"Ya, sebentar lagi. Ayo dorong lebih kuat," ucap dokter yang menangani Maura.


"Aaaa ....," teriak Maura kencang.

__ADS_1


Oee ... Oee ... Oeee ...


Tangis bayi itu seketika menggema memenuhi ruangan. "Wah, selamat ya, Tuan. Anaknya perempuan," ucap dokter.


Maura mau pun Rayyan memang tidak ingin tahu soal kelam*n anaknya. Mua perempuan atau laki-laki sama saja, mereka tetap menyayanginya. Namun, akan lebih bahagia jika anak mereka sudah sepasang. Bayi itu diletakkan di dada Maura, mencari put*ng sang ibu.


Sementara, dokter dan suster masih sibuk di bawah sana untuk membersihkan sisa darah. "Bagus, tidak perlu dijahit," kata dokter lagi.


"Dijahit? Dijahit apanya, Dok?" tanya Rayyan.


Dokter itu sampai bingung, apa suami pasien tidak tahu? Bukankah ini anak kedua mereka? "Iya, Tuan. Tapi ini bagus tidak perlu dijahit lagi, dijahit bagian itunya." Dokter jadi malu jika harus diperjelas.


"Kamu apa-apaan sih, ngapain nanya kaya gitu? Udah diem aja!" Akhirnya, Maura pun ikut membentak suaminya.


***


Proses persalinan pun berjalan lancar. Yang berada di luar sudah tidak tahan ingin melihat bayi mungil yang mereka dengar suara tangisannya tadi. Tak berselang lama, dokter pun keluar dari ruangan bersalin. Elena langsung meminta masuk ke dalam, tapi dokter tidak mengizinkan karena sebentar lagi pasien dan bayinya akan dipindahkan.


Dan benar saja, Maura keluar dari ruangan menggunakan kurai roda. Karena proses persalinan normal membuatnya merasa lebih baikkan dari kelahiran anak pertama.


"Ra," ucap Lisia.


"Sa, anakku cantik," ujar Maura.


"Aku ikut seneng, aku jadi pengen cepet-cepet punya anak juga," kata Lisia.


Leon yang mendengar hanya bisa terdiam, mereka sudah berusaha sebisa mungkin. Berdoa dan meminum obat dari siapa pun yang menyarankan mereka. Meski begitu, mereka tetap saling menyayangi dan selalu bersama. Terus bersabar sampai keinginannya terwujud.


...----------------...

__ADS_1


Maaf ya, alurnya aku percepat biar tidak bertele-tele. Semoga masih suka dengan alurnya๐Ÿ™๐Ÿ™


Kehidupan tak ada yang mulus, apa lagi dengan sebuah keluarga yang kapan saja diterpa badai. Leon dan Lisia tengah mendapatkan ujian๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2