Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 26


__ADS_3

"Ehem." Suara deheman itu mengejutkan Leon dan Lisia. Sampai-sampai file yang menumpuk itu kembali terjatuh dan mengenai kaki jengjang Lisia. Gadis itu mengaduh kesakita.


Leon yang tekrkejut langsung mengambil berkas itu yang menimpa kaki Lisia. "Maaf, aku tidak sengaja," kata Leon.


"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Akunya saja yang ceroboh," ucap Lisia. File sudah di tangannya dan ia malah melepaskannya, sontak berkas yang menumpuk itu terjatuh.


"Kalau kerja ya hati-hati," ujar Nolan. "Oh iya, aku pergi dulu ya," pamit Nolan kemudian. Jam menunjukkan jam istirahat, Nolan putuskan untuk makan siang bersama kekasihnya.


Melihat kepergian Nolan, Lisia hanya bisa menghela napas panjang. Cuek sekali, pikirnya. Padahal Nolan tahu kalau dirinya menyukainya. Maura sering mengatakan perasaan Lisia kepada laki-laki itu. Entah apa yang membuat Nolan tidak merespons, padahal Lisia gadis baik-baik. Gadis itu malah melamun dan Leon masih melihatnya, ia yakin kalau gadis itu menykai Nolan.


"Sudah waktunya makan siang, apa kamu mau makan siang?" tanya Leon. "Kalau mau kita bisa makan siang bersama," ajaknya kemudian. "Apa kakimu masih sakit?" Leon memborong pertanyaan, tapi Lisia hanya menjawab dengan singkat. Cukup menggelengkan kepala saja.


Sikap Lisia yang pendiam cukup membuat Leon penasaran, gadis cantik seperti ini kenapa ditolak oleh Nolan? pikirnya.


"Aku makan siang di kantin saja, lagian cuaca di luar mendung," tolak Lisia secara halus.


"Iya sih, udara juga cukup dingin. Aku makan siang di kantin jugalah kalau begitu, bolehkan aku ikut bersamamu?" tanya Leon.


Lisia menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Tapi aku selesaikan ini dulu," ujarnya.


"Oke, aku bantu biar lebih cepat." Dengan kecepatan tangannya Leon membantu bahkan tak memberi waktu sedikit pun untuk Lisia semua dibereskan oleh Leon. Setelah itu selesai, Leon dan Lisia segera pergi ke kantin.


Mereka mulai akrab karena Leon menghibur hati gadis yang sedang galau itu. Sesekali, Leon membuat kelucuan sehingga Lisia terkadang dibuat tertawa olehnya.


"Kamu bisa saja, gak nyangka ternyata kamu itu lucu," tukas Lisia saat tiba di kantin. Ternyata, Nolan pun berada di sana dan tak jadi pergi bersama kekasihnya karena sang kekasih tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ditambah cuaca yang kurang mendukung hari ini.


Nolan melihat keberadaan Leon dan Lisia, begitu juga dengan mereka melihat keberadaan Nolan di sana. "Boleh kami bergabung?" tanya Leon.

__ADS_1


"Silahkan," jawab Nolan.


Leon menarik kursi untuk Lisia, dan gadis itu mendudukkan diri di sana. Lisia melirik Nolan sekilas, tapi pria itu fokus dengan santapannya. Leon malah ingin membuat Nolan cemburu, sok akrab pria itu menanyakan apa yang ingin dipesan.


"Sa, mau pesan apa? Biar aku yang pesankan, baso, mie ayam atau soto? Hujan begini enaknya makan yang anget-anget," kata Leon.


"Soto saja," jawab Lisia. "Makasih ya," sambungnya.


"Oke, tunggu. Aku tidak akan lama." Leon segera menemui ibu kantin dan memesan makanan yang diinginkan Lisia. Dari kejauhan, ia melihat kearah Lisia dan Nolan. "Kasihan sekali," kata Leon sendiri


Sedangkan Lisia masih tetap dalam diam, sesekali ia terus mencuri pandang. Tak lama kemudian, Leon datang membawakan pesanannya. "Ini." Ucap Leon sembari meletakkan pesanan Lisia.


"Aku kira kamu pergi keluar," kata Leon pada Nolan.


"Tidak, cuaca kurang mendukung untuk bepergian," jawab Nolan.


"Oh iya, bagaimana kabar Maura?" tanya Lisia sambil mengaduk makanannya. "Aku kangen baby Zaen," katanya lagi.


Lisia yang belum tahu soal Rayyan yang ternyata ayah dari baby Zaen malah terlihat kebingungan. Apa lagi soal pernikahan mereka, hanya Nolan yang baru tahu akan hal itu. Yang Lisia kira, Rayyan hanya membantu melindunginya saja.


"Tuanmu baik sekali mau melindungi Maura dan anaknya," ujar Lisia.


"Jelas dia harus melindungi, 'kan mereka keluarganya," sahut Nolan.


"Keluarga?" ulang Lisia.


"Iya, bosku adalah ayah dari baby Zaen. Dan mereka sudah menikah," jelas Leon.

__ADS_1


"Oh ya, syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya, katakan salam dariku," kata Lisia. Diangguki oleh Leon. Dan akhirnya mereka makan bersama-sama sampai selesai.


***


Malam pun tiba.


Di villa, Rayyan dan istrinya tengah makan malam bersama. Rayyan mengajak Maura makan berdua bak orang yang sedang berkencan. Udara dingin dan pemandangan malam cukup indah karena cuaca tidak lagi hujan.


Rayyan buat malam itu seromantis mungkin, mereka menikmati masa berdua. Sedangkan baby Zaen bersama pekerja di sana, Rayyan tak ingin diganggu. Ia ingin membuka hati Maura agar lebih terbuka padanya. Perlahan tapi pasti, meluluhkan hati istrinya ternyata cukup memakan waktu karena wanita itu memang sedikit keras kepala. Tapi ia akan sabar menunggu sampai tidak ada keterpaksaan di antara mereka.


Maura sangat tersanjung dengan makan malam ini, suaminya ternyata romantis dan sedikit membuat hatinya tersentuh. Rayyan juga memakaikan cincin dijari manis istrinya. Sebenarnya itu cincin yang disiapkan untuk kekasihnya dulu, tapi berhubung ia menikahi Maura jadi ia pakaikan di jari istrinya. Dan ternyata cincin itu sangat cocok.


Mereka saling memandang, dan Maura sesekali tersenyum tersipu malu. Mereka langsung makan malam, dan Rayyan menyuapinya. Seusai makan, mereka berbincang membuka jati diri mereka masing-masing. Mau menceritakan semua tentangnya, ia bukan cucu nyonya Merlin. Ia hanya mirip sehingga wanita tua itu menganggapnya cucunya.


"Lalu, di mana keluargamu?" tanya Rayyan.


Maura menggelengkan kepala, ia sendiri tidak tahu karena yang ia ingat orang tuanya sudah berpisah dan ia tinggal bersama ibunya. Namun, terjadi sesuatu sehingga ia terpisah dengan ibunya dan ditemukan oleh seorang wanita dan ia tinggal bersama wanita tua itu hingga ia besar.


"Aku tidak tau, aku hanya seorang gadis malang yang ditemukan wanita tua dan tinggal di gubuk itu," jawab Maura.


Lama mereka berbincang, sampai malam semakin larut. Maura juga sudah menguap dan Rayyan segera mengajaknya masuk ke dalam.


"Anak kita," ucap Maura yang sambil berjalan menuju kamar.


"Aku akan menjemputnya, dia pasti sudah tidur." Rayyan mempercayakan pekerjanya di sana. Ia mengajak istrinya ke dalam kamar. "Ganti pakaianmu, setelah itu tidur," titah Rayyan.


"Apa kamu masih tidur di sofa? Tempat tidurnya cukup luas, cukup untuk bertiga kita tidur." Secara tidak langsung Maura mengajak suaminya tidur bersama. Rayyan hanya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Maura mengganti pakaiannya, dan Rayyan masih berada di sana. Saat Maura membuka res sleting di bagian belakang punggung membuatnya kesusahan karena tersangkut rambut panjangnya. Rayyan pun akhirnya membantu punggung indah putih mulus itu nampak di depan mata. Jiwa lelakinya muncul seketika. Ia membalikkan tubuh istrinya dan mereka saling berhadapan.


Keadaan Maura yang terlihat menggoda membuat Rayyan mendorongnya kearah tempat tidur dan menindihnya.


__ADS_2