
"Kamu itu kenapa sih, Kak? Datang-datang malah tanya-tanya mau atau tidak, apa ini karena Ameera? Kamu mrlampiaskannya padaku?"
Lusiana masih belum percaya akan hal itu, ia takut perasaan yang diungkapkan hanya untuk membujuknya pulang.
"Harus dengan cara apa aku membuktikannya kalau aku itu sebenarnya ..."
"Sebenarnya apa?" pungkas Lusia dengan tatapannya yang tidak terlepas dari mata lelaki itu. Keduanya begitu dekat sehingga tak ada jarak di antara mereka.
Zaen menyentuh bibir gadis itu dengan ibu jari, mengusapnya dengan lembut. Jantung Lusia cukup berdebar dengan adegan itu. Seperti ada di film-film, ini pertama kali baginya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kejadian ini akan terjadi. Lalu, Zaen menangkup kedua pipi gadis itu. Dan tatapan mereka masih bertemu.
"Hentikan ini bila kamu tidak mencintaiku." Ujar Zaen sambil menarik wajah Lusia.
Tak ada jawaban bahkan penolakan pun tidak ada. Gadis itu membiarkannya begitu saja, hanya waktu yang menjawab semuanya. Hingga akhirnya, Zaen terus menarik wajah gadis itu. Nyaris tidak ada jarak, lalu, kedua bibir itu akhirnya menyatu dengan sempurna.
Ciuman itu hanya sekilas karena Zaen melepaskannya dan menggantinya dengan sebuah pelukkan hangat. Untuk yang pertama kalinya mereka berpelukkan sangat erat.
"I LOVE YOU," ucap Zaen.
"I LOVE YOU TO," balas Lusia. Bahkan nadanya terdengar sangar bergetar.
Lama mereka berpelukkan, kalau tak mendengar suara panggilan dari dalam saku celana Zaen mungkin mereka akan tetap seperti itu. Setelah pelukkan terlepas, keduanya malah canggung. Lusia jadi salah tingkah. Begitu pun dengan lelaki itu. Sudah tahu ponselnya berdering tapi tidak tahu mau berbuat apa.
"Handpone-mu, Kak yang bunyi," ujar Lusia mengingatkan.
Kejadian itu membuat Zaen merasa malu sendiri, karena ini juga pertama kalinya mencium seorang gadis. Tubuhnya mendadak panas tak karuan
"A-aku panggil telepon dulu," kata Zaen.
__ADS_1
"Jawab, Kak. Bukan panggil." Lusia pun akhirnya tertawa melihat tingkah konyol pria itu. Ia kira Zaen tidak bisa melucu seperti itu.
"Ah, iya. Itu maksudku." Zaen pun menganggkat panggilan itu yang tak lain adalah dari orang tuanya. Mereka memanggil melalui vidio call.
"Zaen," panggil Maura dari layar ponsel.
"Ya, Mom," jawab Zaen.
"Sudah bertemu dengan Lusia?" tanya Rayyan kali ini. Zaen mengangguk, lalu mengarahkan ponselnya pada gadis itu yang sedang melipat baju.
Lusia nampak melambaikan tangannya ke arah ponsel Zaen, menyapa kedua orang tuanya lelaki itu. Entah apa saja yang dibicarakan mereka. Lusia nampak malu-malu dan terus menghindar pertanyaan dari orang tua Zaen. Maura dan Rayyan akhirnya tahu apa maksud kepergian anaknya yang tak lain adalah menjemput kembali gadis itu.
Sepulang dari sana, orang tua Zaen juga orang tua Lusia sudah sepakat untuk meneruskan perjodohan karena ternyata keduanya saling mencintai dan tak bisa berjauhan.
Panggilan pun berakhir, dan Zaen kembali menghampiri Lusia. Duduk di sofa sambil melihat gadis itu dengan aktivitasnya.
"Ada baiknya juga kamu di sini, kamu jadi lebih mandiri," kata Zaen.
"Sa," panggil Zaen.
"Hmm," jawab gadis itu tanpa menoleh.
"Kamu menerimaku tidak?" Zaen ingin kembali meyakinkan hubungan mereka.
"Apa perlu diperjelas? Aku rasa Kakak tau jawabannya, jangan buatku malu dengan pertanyaanmu," tutur Lusia.
***
__ADS_1
Akhirnya, mereka merayakan hari jadi mereka dengan makan malam seadanya. Lusia memasak di apartemen miliknya dan Zaen menemani gadis itu di dapur.
"Lucu ya kalau kita nikah muda, kamu kuliah dan aku sudah kerja, melewati masa pacaran kita dengan status pernikahan." Zaen malah membayangkan Lusia dengan perut buncit sedangkan tubuhnya kecil.
"Ngebayangin apa?" tanya Lusia penasaran.
"Perut buncit," jawab Zaen. "Sa, kamu siap tidak kalau kita langsung menikah?"
"Usiaku saja belum 20 tahun, Kak. Baru juga 19 tahun."
"Kenapa memangnya dengan umur segitu? Bukannya itu bagus, kita jauh dari kata dosa. Maaf juga tadi sudah menciummu tanpa izin."
"Apa hatimu sudah mantap? Aku takut ini hanya sebatas pelampiasan, aku tau kamu mencintai Ameera."
"Jangan bahas orang lain, aku sudah melupakannya. Dia juga sudah punya kekasih. Besok kita pulang ya? Aku mau mengatakan kalau kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih."
Lusia hanya tersenyum kikuk menanggapi penuturan lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya.
***
Keesokan harinya.
Kedua orang tua mereka menyambut kedatangan putra putrinya, dengan sebuah kejutan yang tak akan pernah mereka bayangkan.
Maura dan Lisia sudah menyiapkan cincin pertunangan, mereka benar-benar ingin meresmikan hubungan mereka.
Dan sepasang kekasih itu pun akhirnya tiba di kediaman Rayyan Smith. Zaen dan Lusia tidak menyangka dengan sambutan orang tuanya. Zaen pun akhirnya memakaikan cincin di jari manis Lusia
__ADS_1
Namun, tiba-tiba saja ...
"Kalian ..." Suara seorang gadis terdengar dari arah pintu.