
Saat pintu terbuka, Maura melihat pemandangan yang tak biasa. Mendengar tawa baby Zaen yang begitu menggema di telinga. Rayyan tengah bermain bersama anaknya, lalu ia menghampiri. Pandangan baby Zaen melihat sang mama begitu juga dengan Maura. Sehingga tawa baby Zaen semakin terdengar nyaring.
"Uuhhh ... Anak Mommy, Mommy ganti baju dulu ya, sayang. Tunggu sebentar, Mommy tidak akan lama," ucap Maura. Tatapannya beradu sekilas kepada Rayyan, dan pria itu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya Maura melihat bibir kaku itu tersenyum padanya.
"Sebentar ya, sayang. Mommy-nya mandi dulu," ucap Rayyan pada putranya.
Maura pun akhirnya pergi, dan baby Zaen langsung menangis saat ditinggalkan mommy-nya. Tapi, Rayyan langsung menenangkan baby Zaen dengan cara menimang-nimangnya.. Maura segera pergi dan buru-buru pergi ke kamar untuk membersihkan diri, mungkin baby Zaen ingin menyusui secara langsung padanya.
Hampir setengah jam Maura berkutat di dalam kamar, sampai-sampai ia kembali menemui baby Zaen, bayi tampan itu sudah tertidur pulas di pangkuan ayahnya. Maura terlambat sehingga ia tak bisa menyusui anaknya karena Rayyan sudah memberikan susu formula pada baby Zaen.
"Kok tidur sih," ucap Maura.
"Terlalu lama jika harus menunggumu, apa kamu tidak bisa cepat sedikit? Baby Zaen haus dan aku harus menenangkannya," jawab Rayyan. Tentu ucapan laki-laki itu terdengar dingin karena pria itu memang begitu dalam berucap sehingga Maura kembali salah paham.
Maura mengira Rayyan tengah memarahinya karena ia terlambat dan menggunakan waktu terlalu lama. Akhirnya, Maura mengambil alih baby Zaen. Tapi sayang, Rayyan tidak melepaskan putranya.
"Biar aku yang mengentar anak-ku ke kamar," ucap Rayyan.
"Dia anak-ku juga," ujar Maura.
__ADS_1
"Anak kita," balas Rayyan lagi. Ego keduanya masih saja ada, karena mereka belum tahu karakter masing-masing.
Maura melihat kesombongan dari seorang Rayyan Smith, dan pria itu juga melihat Maura dengan ego yang besar juga keras kepala. Rayyan beranjak dan membawa baby Zaen ke kamar, sementar Maura mengekor dari belakang.
Sampailah Rayyan di kamar Maura. Tempat tidur baby Zaen tidak jauh dari tempat tidur anaknya. Ranjang mungil itu terlihat sangat lucu karena Maura sendiri yang mendekornya. Rayyan tersenyum manis melihat baby Zaen tidur yang tak lepas dari empengnya. Mulut kecil itu bergerak berirama memompa empengnya.
"Aku mau bicara denganmu," ucap Rayyan tiba-tiba.
Maura langsung menoleh, suara itu melembut dengan sendirinya. Tatapan mereka beradu cukup lama. Akhirnya, Rayyan sendiri melepaskan tatapan itu dan mengalih ke arah balkon kamar Maura. Rayyan berjalan keluar teras kamar, Maura hanya menatap punggung gagah pria itu. Namun, detik berikutnya akhirnya ia mengikutinya.
Mereka berdua sudah berada di balkon, dari ketinggian mereka melihat lampu-lampu dari lantai atas. Cuaca malam ini cukup indah, tapi angin yang sedikit kencang sehingga Maura terlihat kedinginan. Rayyan yang melihat langsung melepaskan jasnya dan memekaikannya kepada Maura. Wanita itu tak percaya saat Rayyan melakukan itu. Perhatian kecil itu mampu menghipnotisnya, pria dingin sombong itu ternyata peduli padanya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Maura.
"Masa depan anak kita," jawab Rayyan tanpa menoleh, tatapannya lurus ke depan. Dan Maura tak melepaskan tatapannya pada wajah tampan itu. Ia masih tak percaya, ini terasa mimpi. Satu tahun, yang ia tahu pria itu tidak peduli padanya.
"Aku ingin membawa anak-ku tinggal bersamaku," ucap Rayyan lagi, lalu pria itu akhirnya menoleh.
"Maksudmu? Kamu mau membawa anak-ku pergi begitu? Memisahkanku dengan putraku?! Kemana kamu selama ini? Kamu tidak pernah memikirkanku, aku hamil atau tidak kamu tidak peduli. Dan sekarang kamu mau membawa anak-ku?" Nada suara Maura terdengar ketus ia tak akan merelakan baby Zaen.
__ADS_1
"Dengarkan dulu, kamu masih sama seperti dulu. Galak, dan selalu menilai capat tentangku. Aku bukan tidak peduli, aku melakukan ini demi kebaikan kalian," jawab Rayyan.
"Kebaikan? Kebaikan apa? Bicara denganmu hanya buang-buang waktu, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan putraku!" Maura berniat meninggalkan Rayyan, tapi sayang, saat Maura membalikkan tubuh, pria itu langsung meraih tangan wanita itu sehingga Maura terjerembab di pelukkan Rayyan Smith.
Tak ada jarak di antara mereka, tubuh itu menempel dan hembusan napas menerpa di wajah masing-masing. Napas Maura tidak beraturan karena ia masih kesal dengan penuturan Rayyan yang ingin membawa anaknya pergi dan tinggal bersamanya. Namun, maksud Rayyan bukan seperti itu, pria itu ingin mereka tinggal bersama. Dan tentu, Rayyan akan menikahinya terlebih dulu sebelum mereka tinggal satu rumah.
Kedatangan Rayyan menemui Maura karena memang desakkan sang mama. Elena ingin putranya menikah agar papa Rayyan tidak bisa memisahkan mereka. Ibu paruh baya itu akan membantu putranya menyelesaikan masalahnya. Namun, itu juga memang keinginan Rayyan bukan hanya karena desakan. Ia memang sudah memikirkan semuanya bahkan rumah yang disiapkan sebentar lagi selesai. Rumah mewah itu membutuhkan hampir satu tahun lamanya saat pembangunan itu.
Tubuh mereka masih menempel, dan tatapan mereka saling beradu sangat lama. Tidak dapat dipungkiri, mereka membutuhkan kehangatan dari pasangan. Diusia yang memang cukup matang membuatnya larut dalam situasi. Ternyata keduanya memiliki perasaan sehingga hampir saja mereka berciuman saat itu juga.
Mendengar baby Zaen menangis, Maura langsung melepaskan diri dan pelukkan pria itu. Ia tak ingin kesalahan dimasa lalu terulang. Maura segera pergi menemui anaknya, lalu menggendongnya. Ia memberikan ASI kepada baby Zaen. Wanita itu membelakangi Rayyan, pria itu masih setia berada di sana. Duduk di sofa sambil melihat seisi kamar wanita itu.
Tak beselang lama, Maura kembali menidurkan baby Zaen ke tempatnya. Lalu menemui Rayyan. "Sudah malam, sebaiknya kamu pulang," ucap Maura.
Rayyan berdiri dan mereka saling berhadapan. Menatap kedua bola mata wanita itu, ia serius ingin membawa baby Zaen, tinggal di sini membuatnya tidak tenang karena Alex tak akan membiarkan hidup Maura tenang di sini. Sama-sama memiliki saudara serakah membuat Rayyan harus membawa Maura pergi, itu satu-satunya cara melindungi mereka. Terlebih dengan sang ayah, ia tak akan membiarkan papanya memisahkan mereka.
"Aku ingin kita menikah," ucap Rayyan tiba-tiba. Ia rasa sudah waktunya, apa pun yang terjadi ia harus menghadapi semuanya. Termasuk prinsip keluarganya yang tidak boleh memiliki anak di luar pernikahan.
Maura tertegun sendiri mendengar penuturan Rayyan Smith yang mengajaknya tiba-tiba. Ajakan itu ada sebuah rasa atau hanya melihat baby Zaen?
__ADS_1
"Kamu mau 'kan menikah denganku?"