Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 22


__ADS_3

Rayyan tak menjawab pertanyaan istrinya itu, ia tahu apa maksud pertanyaan Maura. Wanita yang baru menjadi istrinya itu tengah mencari alasan untuk menghindarinya.


Tanpa permisi, Rayyan mendaratkan sebuah kecupan di bibir ranum Maura. Maura langsung melepaskan tautan itu. Mereka saling menatap, dan ketika Rayyan hendak mendaratkan bibirnya kembali, baby Zaen terbangun dan menimbulkan suara tangisan. Maura yang mendengar langsung beranjak dari tempat duduknya.


Tapi, Rayyan langsung menarik tangan Maura hingga wanita itu terjatuh tepat di pangkuan suaminya. Jantung Maura berdetak lebih kencang, bahkan napasnya tak beraturan.


"Lepaskan, Zaen bangun," ucap Maura, ia mencoba melepaskan diri dari jeratan suaminya. "Kamu itu kenapa?" tanya Maura basa-basi, secara, wanita dewasa tentu tahu apa maksud suaminya. Apa lagi mereka kini sudah berstatus suami istri.


Rayyan mengusap pipi mulus istrinya, sejak awal melihat Maura ia memang sudah terpana akan kecantikkan wanita itu. Berhubung Maura sangat galak bahkan menjatuhkan harga diri sebagai laki-laki tampan dan langsung ditolak mentah-mentah oleh Maura membuatnya harus menjaga image.


"Sebentar saja biarkan seperti ini." Rayyan menyandarkan kepada di buah dada istrinya.


Maura menjadi salah tingkah saat wajah suaminya menelusup di leher jenjangnya. Maura terus menghindari suaminya karena ia benar-benar teringat baby Zaen yang masih merengek.


"Ini yang aku tidak suka darimu," kata Maura.


Ucapan itu membuat Rayyan melepaskan diri dari wanita itu, lalu menatap wajahnya seakan minta penjelasan.


"Anakmu nangis dan kamu membiarkan aku masih di sini," kata Maura.


Rayyan tersenyum tipis, lalu melepaskan jeratannya. Maura segera beranjak dan meninggalkan suaminya yang masih di ruang tamu. Rayyan kembali membersihkan lukanya yang masih menyisakan darah kering.


Sementara Maura, wanita itu langsung meraih tubuh mungil itu. Waktunya baby Zaen terbangun dan harus mandi pagi itu. Maura membawa baby Zaen ke kamar mandi dan membersihkannya. Peralatan baby Zaen memang sangat lengkap sehingga Maura tak lagi membutuhkan apa pun karena semua memang sudah tersedia.


***


Baby Zaen sudah wangi dan terlihat lebih tampan. Maura menggendong anaknya dan membawanya menemui suaminya. Terlihat, Rayyan tengah memejamkan mata. Pria itu masih duduk di sofa dengan posisi kepala tersandar di sandaran sofa.


Kala itu, saat Maura hendak menemui suaminya salah satu pekerja di villa itu sedang membersihkan ruangan. Ia meminta tolong untuk menjaga anaknya sebentar.


Seorang wanita langsung menunduk saat Maura menghampirinya. Wanita yang mungkin umurnya jauh di atas Maura.


"Boleh saya minta tolong?" kata Maura.

__ADS_1


"Iya, Non," jawab wanita itu yang bernama Asty.


"Titip baby Zaen sebentar," ucap Maura lagi.


Wanita yangvbernama Asty itu langsung mengambil baby Zaen dan membawanya keluar untuk berjemur. Maura langsung menemui suaminya, ia merasa kasihan karena tangannya yang terluka. Pertanyaannya tadi saja belum dijawab, ia hanya ingin tahu kenapa tangannya sampai terluka?


Perlahan, Maura mendekat. Wanita itu ternyata tertipu. Rayyan tidak tidur, pria itu langsung membawa Maura ke pangkuannya. Sehingga sang istri terduduk di kedua pahanya.


"Kenapa sikapmu terus seperti ini?" tanya Maura. Wanita itu merasa tidak nyaman karena sikap suaminya yang berubah drastis.


"Kenapa? Kamu istriku, dan aku berhak atas dirimu," jelas Rayyan.


"Tapi aku tidak terbiasa," kata Maura. Meski mereka telah menikah tak membuatnya jadi seperti ini. Tidak ada kata cinta yang terlontar dari mulut suaminya. Yang Maura lihat hanya sebuah naf*u. Dan itu bukan cinta, pikirnya.


"Lepaskan, aku takut ada yang melihat," ujar Maura.


Rayyan melepaskan wanita itu, setelahnya ia langsung beranjak. Maura hanya menatap tubuh yang mulai menghilang dari pandangan. Ia sendiri merasa aneh, tidak ada getaran apa pun. Hanya detak jantung yang berdebar, itu karena tak terbiasa. Maura tak pernah memiliki kekasih, sedangkan Rayyan, banyak wanita yang mengejar-ngejar dirinya.


Pasca diputuskan oleh kekasihnya, Rayyan mencoba melupakannya. Dan itu membuatnya selalu teringat pada wanita yang pernah ditiduri olehnya yang tak lain adalah Maura.


Dari pada bediam diri, Maura pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Maura berkutat di dapur bersama pekerja di sana. Ada dua wanita yang berjaga di villa itu. Saat Maura di dapur, Rayyan datang dengan tampilan rambut basah. Pria itu tak mengenakan baju, hanya celana yang menutupi tubuhnya.


Luka di tangannya membuat Maura meringis. Rayyan ke dapur hanya mengambil minum. "Perlu sesuatu?" tanya Maura kemudian. "Biar aku siapkan," katanya lagi. "Kamu bisa minta tolong apa pun."


"Minta tolong apa pun?" ulang Rayyan.


"Ya," jawab Maura.


"Kenapa bilang seperti itu? Kenapa menawariku? Memangnya kamu akan menyanggupinya?" tanya Rayyan.


"Tentu, karena itu memang kewajibanku," jawab Maura.


Rayyan tertawa. "Kewajiban?" tanya Rayyan. "Kamu tau apa saja kewajiban seorang istri?" tanya Rayyan lagi.

__ADS_1


"Ya, aku tau," jawab Maura.


"Aku rasa kamu perlu belajar menjadi seorang istri, kamu harus tau kewajiban seorang istri itu apa saja," tutur Rayyan. Setelah mengucapkan itu, Rayyan langsung pergi dan membuat Maura kebingungan.


Ada yang aneh pada laki-laki itu, pikir Maura. Bukan tidak tahu akan apa saja kewajiban seorang istri, hanya saja ia belum siap. Mengingat kejadian satu tahun silam membuatnya bergidik. Bagaimana bringasnya pria itu saat itu.


Karena Rayya sudah pergi, Maura kembali melajutkan aktivitasnya. Menyelesaikan masakannya bersama seorang wanita di sana. Tak berselang lama, masakan yang dibuat selesai. Aroma masakkan itu tercium oleh Leon, sehingga lelaki yang berstatus bujang itu menemui Maura di dapur.


"Apa yang dimasak? Baunya harum sekali, apa aku boleh mencobanya?" tanya Leon.


"Ya, boleh. Makan saja duluan, aku harus menemui Rayyan dulu," jawab Maura. "Oh iya, apa ada perban?" tanya Maura kemudian.


"Ada di mobil," jawab Leon.


***


Maura mengambil kasa dan obat yang lain, ia akan mengobati lelaki yang kini berstatus suaminya. Ia tahu kalau Rayyan tengah marah padanya Secara tidak langsung, perkataan laki-laki itu membuatnya berdosa karena telah mengabaikan hasrat suaminya.


Ternyata Rayyan tengah bersama baby Zaen. Duduk di kursi kayu yang menghadap danau. Sesekali Rayyan menciumi wajah tampan putranya, tidak dipungkiri kalau anak itu memang putranya. Wajahnya dominan pada baby Zaen.


Perlahan, Maura mendekat. Dan Rayyan pura-pura tidak melihat. Ia mengalihkan semuanya pada baby Zaen. Maura menghela napas panjang, suaminya memang lagi kesal kepadanya.


"Kamu marah?" tanya Maura tiba-tiba.


Rayyan menoleh lalu menjawab. "Marah kenapa? Apa hak-ku marah?" tanyanya balik.


"Karena kamu suamiku dan berhak marah karena ketidakpekaanku," tutur Maura. "Aku tau di mana letak kesalahanku, tapi aku belum siap," jelasnya lagi.


Mendengar kata belum siap membuat Rayyan terdiam sesaat. "Aku tidak akan memaksamu," ujar Rayyan dengan mode kesal.


...----------------...


Selagi nunggu kalian bisa baca karya temanku yang berjudul : KETIKA HATI HARUS MEMILIH

__ADS_1


Karya : Neng Syantik



__ADS_2