Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 23


__ADS_3

Kini, Maura ikut duduk di samping suaminya. Tatapannya terarah pada luka di tangan. "Kenapa membiarkan lukamu? Kenapa tidak ke dokter?" tanya Maura, tapi tangannya langsung bergerak mengeluarkan kasa dan obat untuk membalut luka suaminya.


"Aku hanya ingin tau, apa istriku peduli dengan luka yang kurasakan." Perkataan Rayyan selalu menyindir akan kepekaan Maura yang kini menjadi istrinya, ia menuntut apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Semua laki-laki itu sama ya, selalu egois," cetus Maura, karena ia kesal, ia sampai menekan luka suaminya sehingga membuat Rayyan mengaduh.


"Sakit, kamu itu kasar sekali," ujar Rayyan.


"Itu hukuman buat orang yang selalu menyindir, aku sudah bilang belum siap," kata Maura. Ia sudah selesai membalut luka suaminya dan langsung mengambil baby Zaen dari pangkuan ayahnya. "Cepatlah sarapan, aku tidak mau kamu bilang kalau aku tidak mengurusmu," cetus Maura sembari berlalu.


Rayyan tersenyum tipis, ia suka dengan istrinya. Entah kenapa Maura beda dari wanita biasanya. Hanya dia yang bisa membentak dan menolaknya. Biasanya, wanita-wanita yang menggoda karena ingin kekayaannya. Terlebih ingin menikmati sentuhan darinya.


Rayyan pun beranjak dan segera pergi ke ruang makan, di sana ia melihat Leon tengah menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh istrinya. Leon langsung beranjak dari tempat makan karena ia sudah selesai.


"Tetap di tempatmu, temani aku makan," kata Rayyan.


Leon kembali terduduk, lalu melihat tangan sang bos yang sudah diperban.


"Kenapa, Bos? Apa ada masalah?" tanya Leon, ia bisa menebak dari mimik wajah laki-laki itu Wajah kusut bak kain yang belum disetrika.


"Apa aku terlihat jelek? Apa tidak ada yang menarik dariku?" tanya Rayyan.


Leon mengerutkan kening, ada angin apa pria itu menanyakan tentang dirinya? Apa istrinya masih menolaknya? pikirnya.


"Jawab! Jangan diam saja, apa sekarang aku terlihat tua? Apa keriput sudah mulai terlihat?" tanya Rayyan lagi.


Leon menelisik bentuk wajah bosnya, tidak ada yang berubah wajahnya masih tampan dan keriput belum terlihat. Tubuhnya juga lebih kekar karena Rayyan sering berolah raga dan memakan makanan sehat.


"Apa dia masih menolakmu?" tanya Leon.

__ADS_1


Tak ada percakapan formal jika sedang bukan di tempat kerja, sehingga Leon lebih leluasa menanyakan perihal pribadi kepada bosnya itu. Mereka lebih akrab di luar jam kerja. Dan hari ini Rayyan cuti dari pekerjaan karena ia yakin saudara-saudaranya masih mencarinya apa lagi dengan baby Zaen. Mereka begitu menginginkan ia berpisah dengan anaknya.


"Hanya dia yang menolakku, aku haren saja kriteria laki-laki yang diinginkannya seperti apa?" tutur Rayyan. Ia malah kepikiran akan Nolan, apa jangan-jangan istrinya menyukai pria itu.


Rayyan berbincang sambil menikmati sarapan yang disediakan istrinya. Masakan itu cukup membuat lidahnya menyukainya, tak hanya cantik, Maura juga pintar memasak.


"Apa Bos sudah mulai menyukainya?" tebak Leon.


Belum Rayyan menjawab, Maura datang sambil memangku baby Zaen.


"Siapa yang disukainya?" tanya Maura tiba-tiba. "Tidak cukup memiliki satu wanita saja? Oh, ya. Aku lupa, bukankah kamu tidak bisa jauh dari yang namanya perempuan?" kata Maura.


Sepertinya ada yang salah paham, jadi, Leon putuskan untuk undur diri dari sana. Ia memberikan waktu lebih banyak agar mereka saling mengenal satu sama lain.


"Kenapa selalu menilaiku buruk? Aku tidak pernah mengobral diriku pada wanita-wanita lain," jawab Rayyan, ia tak terima dengan tuduhan istrinya yang selalu memojokkan bahwa ia tak bisa hidup tanpa seorang wanita.


"Oh ya?" Maura tidak percaya, karena yang ia tahu banyak wanita yang mengejarnya.


"Sampai kapan kita di sini?" tanya Maura.


"Sampai kondisi lebih aman," jawab Rayyan.


"Kenapa hidupku jadi tidak tenang seperti ini? Aku ingin hidup tenang dan bahagia bersama putraku," tutur Maura.


"Maafkan aku," lirih Rayyan.


Saat mereka berbincang, ponsel Maura berdering. Yang menghubunginya adalah Nolan. Pria itu memberitahukan bahwa anak buah Alex datang ke kantor dan mengacaukan ruangan Maura. Wanita itu terlihat kesal, kenapa Alex masih menganggunya? Padahal ia tengah menjadi buronan polisi pasca meninggalnya nenek Merlin.


Meski Alex masih kaluarga nyonya Merlin Maura tak akan membiarkan Alex merebut semua harta nyonya Merlin. Pria pemabuk dan suka memainkan wanita harus jera dan tidak bertindak sesuka hati. Tangan Maura mengepal, ia sangat marah saat tahu ruangannya di hancurkan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Rayyan. "Siapa yang menghubungimu?" tanyanya.


"Nolan, anak buah Alex datang membuat kekacauan," jawab Maura.


"Tenanglah, aku akan mengerusnya. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan membawa Alex dan menjebloskannya ke penjara. Keselamatanmu lebih penting, aku tidak mau kamu kenapa-napa. Kamu istriku dan tanggung jawabku. Biarkan Nolan yang mengerus semua pekerjaanmu," jelas Rayyan.


"Tapi ...," Maura protes.


"Tidak ada tapi-tapian, kecuali kamu mau menemui laki-laki itu." Rayyan tidak suka kalau istrinya dekat dengan Nolan. Rasa takut itu ada, ia takut istrinya memiliki perasaan pada laki-laki lain.


Maura mengerutkan kening, apa suaminya cemburu? Ia dan Nolan hanya berteman, tidak lebih. Karena Rayyan suaminya, ia hanya bisa menuruti apa yang diinginkan suaminya itu. Untuk sementara ini ia akan nurut, terlebih, apa kata suaminya benar. Ia dan baby Zaen menjadi incaran.


"Sarapanlah lebih tenang, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menyuruh anak buahku berjaga di sana." Rayyan mencoba meyakinkan istrinya itu. Amanah nyonya Merlin memang sangat besar, wanita tua itu menyerahkan semua hartanya pada baby Zaen. Tak hanya nyonya Merlin, harta dari orang tuanya pun jatuh kepada anaknya. Sehingga baby Zaen harus dijaga ketat.


Rayyan langsung menyuruh Leon untuk mengerahkan orang-orangnya. Ia takut perusahaan yang dibangun hancur. Perusahaan itu pencaharian warga sekitar. Jika perusahaan itu hancur maka secara tidak langsung ia mengubur impian warga di sana.


***


Di tempat lain.


Smith dan Said tengah beradu mulut, antar adik kakak itu masih memperbutkan hak milik. Karena Rayyan memiliki putra maka warisan itu akan jatuh kepada Zaen.


Tapi Said tidak terima akan hal itu. Anak Rayyan tidak berhak karena anak itu terlahir tanpa sepengetahuan mereka yang tak lain adalah anak haram. Anak yang seharusnya di pisahkan sesuai prinsip keluarga mereka.


Adu mulut itu terdengar oleh Elena sehingga wanita yang sudah berumur namun masih terlihat cantik itu langsung memaki kedua lelaki yang masih merebutkan harta.


"Apa harta akan membuat kalian bahagia? Keluarga yang utuh itu jauh lebih bahagia. Kalau kalian ingin ribut jangan di sini," maki Elena. Ia geram dengan kedua laki-laki itu.


"Jangan ikut campur, wanita diam saja!" cetus Said.

__ADS_1


Smith tidak terima dengan perlakuan kakaknya kepada istrinya. Sehingga Smith menentang keinginan kakaknya yang menginginkan baby Zaen pergi dari keluarga mereka. Anak yang tak berdosa itu malah menanggung resiko keserakahan mereka. Apa lagi, sejak kejadian kemarin membuat Elena menjadi dingin kepadanya. Elena benci akan prinsip konyol itu.


__ADS_2