Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 29


__ADS_3

Leon bukan benci, ia hanya kurang begitu menyukai akan sikap Nolan kepada Lisia. Gadis itu baik, tapi Nolan malah menghargai akan ketulusan wanita itu. Perasaan yang tulus susah untuk didapatkan. Apa lagi Leon begitu menghargai perasaan perempuan. Hidup sendiri bukan tidak normal, hampir beberapa tahun ini hatinya kosong tanpa sosok wanita.


Ditinggalkan orang paling dicintai untuk selama-lamanya terasa sakit sehingga ia tak ada kesempatan untuk membalas semua yang pernah dilakukan kekasihnya dulu. Semasa dulu, ia pun begitu. Cuek kepada pasangan sampai penyesalan yang mendalam sangat dirasakan.


"Ya, sudah. Kalau memang mau tetap di sini, gunakan waktumu sebaik mungkin. Jangan hanya dia yang kamu pikirkan," kata Leon. Berkata demikan bukan tidak tahu apa-apa, Lisia sudah mengatakan bahwa dirinya memang menyukai Nolan, Leon mendesak dengan pertanyaan tentang perasaannya pada laki-laki itu dan ia telah menasehati.


'Boleh mencintai, tapi jangan berlebihan hidup itu hanya sekali dan jangan disia-siakan. Jangan dijadikan beban, cintailah diri sendiri sebelum mencintai orang lain.' Sok bijaknya Leon menasehati Lisia dengan kata-kata seperti itu. Tapi memang benar, selama gadis itu mencintainya, Lisia kurang memperhatikan diri sendiri. Perhatian yang diberikan kadang memang terabaikan.


Dan mulai saat ini, gadis itu akan mencoba menahan diri tidak memperlihatkan perasaannya. Benar apa kata Leon, ia harus menjaga perasaannya sendiri. Terkadang, cinta itu memang membuat kita buta.


Lisia dan Leon pun akhirnya masuk kembali setlah mengantar dokter. Gadis itu melupakan rutinitas yang membuat kepalanya terasa berat. Tak hanya pekerjaan yang mengganggu pikiran, perasaan yang bertepuk sebelah tangan menjadi beban dalam hidupnya. Ia memang tidak mengungkapkan perasaan itu secara langsung kepada Nolan, tapi pria itu tahu betul perasaannya. Dari perhatian yang sering ia berikan seharusnya pria itu tahu kalau dirinya menyukainya.


Kenal dengan sosok Leon membuka mata hatinya, baru saja ia mengenal pria itu. Tapi Leon seakan memahami perasaannya, banyak pelajaran yang diberikan. Menjaga hati diri sendiri lebih nyaman, dan perlahan apa yang diucapkan Leon padanya benar adanya. Semenjak ia mulai melupakan, hatinya sedikit tenang.


Ia memang harus menjaga jarak dengan orang yang dicintainya itu. Terlebih, kini ia tahu bahwa laki-laki itu sudah memiliki kekasih. Leon sudah mengatakan semuanya dan pernah melihatnya secara langsung bahwa laki-laki bersama pacarnya. Meski sakit,ia harus menerima kenyataan.


***


Rayyan dan Maura tengah bersama, melihat putra kecilnya yang tengah sakit. Baby Zaen sejak tadi masih tidur, mereka berharap panasnya segera turun. Rayyan menyantuh tangan istrinya, lalu menggenggamnya. Bahkan ia mengecupnya, seolah memberi ketenangan pada istrinya itu.


"Jangan terlalu khawatir, anak kita akan tumbuh menjadi laki-laki yang kuat," ujar Rayyan membuyarkan lamunan istrinya.


Maura hanya tersenyum tipis, ibu mana yang tak khawatir akan keselamatan putranya. Rasanya begitu sakit saat ada orang yang mencelakainya. Bayi yang tak berdosa menjadi bahan rebutan orang-orang yang serakah akan harta. Hidup sederhana jauh lebih bahagia, ia tak butuh harta jika nyawa taruhannya. Hidup susah baginya sudah biasa.

__ADS_1


"Aku mau hidup tenangku, Rayy. Aku mau anakku tumbuh kayaknya bayi pada umumnya. Hidup bebas, tidak menjadi incaran orang-orang serakah. Aku ingin terbebas." Hidup bergelimang harta membuatnya tertekan, tidak bisa hidup dengan bebas, ke sana ke mari tanpa perasaan cemas. Ia ingin mengenalkan dunia pada putranya.


"Sabarlah, aku tidak akan tinggal diam. Semuanya akan baik-baik saja." Pria itu kembali mengecup tangannya.


Maura beranjak dan menghampiri putranya yang tengah tertidur. Perlahan, baby Zaen membuka mata karena merasalan sentuhan lembut di pipi. Maura tersenyum mendapati putranya terbangun. Ia langsung saja meraih tubuh mungil itu dari tempat tidur.


"Sayang," ujarnya sambil meraih tubuh putranya. Ia membawanya duduk bersama suaminya. Panasnya sudah mulai turun. Keceriaan baby Zaen kembali. Bayi mungil itu sudah bisa diajak bermain kembali.


"Sini, biar aku yang menggendongnya." Rayyan merentangkan tangan untuk menyambut putra kecilnya itu, dan senang hati, istrinya memberikannya.


Tak berselang lama, Lisia datang karena pintu kamar tidak tertutup. Apa lagi ia melihat baby Zaen sudah terbangun. Lisia ikut membantu mengasuh baby Zaen kala Maura sedang sibuk. Ia bersama pengasuh sering bergantian menjaga.


"Oh, baby Zaen sudah sembuh," kata Lisia. "Boleh aku menggendongnya? Aku sangat merindukannya," katanya lagi. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengambil baby Zaen dari pangkuan sang ayah.


"Lihatlah, masih banyak orang yang menyayangi anak kita. Kamu tidak perlu khawatir, dia akan tumbuh seperti anak pada umumnya.


"Ada di depan," jawab Lisia.


"Sayang, aku temui Leon dulu ya? Kalian di sini saja," ujar Rayyan pada istrinya.


"Hmm," jawab Maura.


***

__ADS_1


Rayyan sudah berada bersama Leon, mereka tengah menyusun rencana. Sesungguhnya, ia tak ingin ada permusuhan. Apa lagi dengan saudara-saudaranya. Tapi apa boleh buat, Said sudah mengibarkan bendera perang karena pria itu sudah mengusik ketenangannya apa lagi ingin mencelakai putranya.


Apa pun akan dilakukan untuk melindungi keluarganya, sebetulnya ia tidak peduli dengan harta itu, tapi jika Said yang menguasai semuanya akan kacau karena pria tua bangka itu masih suka bermain wanita. Uang akan terkuras habis oleh wanita-wanitanya. Bahkan istrinya lebih dari satu. Mungkin itu penyebab betapa di menginginkan harta itu jatuh kepadanya.


"Apa kita lawan peperangan ini?" tanya Leon.


"Bila perlu kita musnahkan mereka!" ujar Rayyan yang hilang kendali. Jika mengingat akan keselamatan keluarganya rahangnya mengeras, apa lagi tadi, nyaris istrinya menjadi korban.


"Yang mereka inginkan hanya satu, menguasai semuanya," kata Leon.


"Ya, aku tau itu. Kibarkan bendera, aku siap berperang. Aku tidak akan mengenal lawan, mereka berani mengusik keluargaku, jangan beri ampun" kata Rayyan lagi. Padahal, Maura sudah mewanti-wanti untuk mengalah. Tapi yang namanya jiwa lelaki tidak akan pernah menyerah apa lagi sudah membuat hidupnya tidak tenang.


Tak hanya Said yang menginginkan anaknya lenyap. Ia juga harus melenyapkan Alex karena dia paling utama yang harus lebih dulu mati.


"Cari Alex, aku ingin aku sendiri yang buat dia mati." Tidak ada lagi ampun darinya untu laki-laki itu. "Jaga rumah ini dengan ketat, pasang cctv disetiap sudut. Jangan sampai lengah."


Leon mengangguk patuh, ia akan melakukan perintah dari bosnya. Saat mereka berbincang, ponsel Leon berdering.


"Dari rumah," kata Leon melihat ID pemanggil. Langsung saja ia menerima panggilan itu. Tak lama, panggilan pun selesai.


"Apa katanya?" tanya Rayyan.


"Beliau ingin bertemu, dan sekarang tengah sakit karena mogok makan. Ibu Bos sedang mencoba buat tuan Smith ikut membantu kita," jawab Leon.

__ADS_1


Rayyan menghela napas, ia paling tidak bisa mendengar ibunya sakit.


"Aku harus menemuinya," kata Rayyan lagi.


__ADS_2