Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 57


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, setelah keduanya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjodohan itu, Lusiana akhirnya meminta pada kedua orang tuanya untuk kuliah keluar negri. Setelah tahu perjodohan itu ternyata sedikit demi sedikit perasaannya semakin kuat. Namun, Zaen menolak perjodohan itu.


Bahkan keduanya jadi jarang bertemu karena merasa ada yang aneh dengan sikap masing-masing. Lusiana menjauh karena tidak ada cinta dari Zaen untuknya sehingga ia membiarkan laki-laki itu dengan pilihannya. Begitu juga Zaen, mereka berdua malah menjadi canggung.


Kepergian Lusiana tidak diketahui oleh Zaen, bahkan kedua orang tua Lusiana pun terkejut dengan keputusan putrinya. Ini sangat mendadak.


Lisia pun menghampiri putrinya yang tengah beberes, memasukkan baju-baju ke dalam koper.


"Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa kamu pergi mendadak seperti ini, hah?" tanya Lisia.


Lusiana menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh kepada ibunya. "Aku merasa ada yang aneh dengan hatiku," jawab anak gadis itu.


"Kamu mencintai, Zaen?" duga Lisia.


"Tapi dia hanya menganggapku adik, Mam. Aku tidak mau merusak persahabatanku karena masalah ini." Akhirnya, Lusia berkata jujur tentang perasaannya.


Ibunya mengerti akan hal itu, kenapa nasibnya harus terjadi pada purtinya? Mencintai dengan perasaan sendiri itu sangat sakit.


"Mammy dukung kamu," ujar Lisia


Tak lama, Leon pun datang, pria itu menuruti apa yang diinginkan putrinya bahkan saat meminta kuliah di luar negri.


"Sudah siap?" tanya Leon.


Putrinya itu mengangguk.


***


Di kediaman Zaen.


Pria itu menghubungi Lusia. Namun, tak ada jawaban dari gadis itu. Sudah hampir satu minggu mereka tidak bertemu, ternyata ini lebih sakit dari pada tidak bertemu dengan Ameera.


"Tumben, kenapa tidak mengangkat telepon dariku?" ujar Zaen sendiri. "Sebaiknya aku temui saja dia."

__ADS_1


Hari ini adalah hari libur, Zaen pergi menggunakan motornya, saat tiba di rumah Lusia ternyata penghuni itu tidak ada. Hanya para pekerja yang menemuinya. Dan mereka tidak tahu kemana majikannya pergi, yang jelas pembantu itu mengatakan bahwa Lusiana membawa koper besar.


"Koper besar? Apa mereka berlibur?" pikir Zaen. "Tapi kenapa tidak mengajakku?"


Zaen pun akhirnya pergi dan kembali ke rumah.


"Kamu kenapa? Wajahmu ditekuk begitu?" tanya Rayyan.


"Lusiana pergi, mereka berlibur tidak mengajakku," jawab Zaen.


"Berlibur? Bukannya mereka pergi ke Bandara untuk mengantar Lusia? Memangnya kamu tidak tau?" Tidak ada rahasian di antara Leon dan Rayyan, setelah perjodohan itu batal tak ada yang berubah dari mereka karena itu memang kesepakatan yang terbaik untuk semuanya.


"Ke Bandara? Mengantar Lusia?" tanya Zaen.


"Iya, Lusia mau kuliah di sana."


"Kenapa Daddy tidak bilang padaku?"


"Daddy kira kamu tau."


Hari-hari kehari, ternyata hidupnya hampa tanpa gadis itu. Jika begini akhirnya kenapa ia tidak menerima saja perjodohan itu? Meski perjodohan itu batal, Lusiana tetap pergi dan semuanya berubah. Ternyata keduanya malah tersiksa dengan perasaan ini.


Akhirnya Zaen kembali menemui orang tua Lusia. Ia meminta alamat gadis itu tinggal. Ia pun mendapatkan alamat itu. Tanpa mengulur waktu Zaen segera pergi menemui Lusiana.


***


Tiba di sana, Zaen langsung pergi ke tempat di mana Lusia tinggal. Pada saat itu ia melihat gadis itu baru saja turun dari kendaraan. Zaen pun baru sampai di gedung apartemen Lusia.


Lusia menajamkan pandangannya, bahkan mengucek kedua matanya saking tak percaya apa yang dilihatnya. Zaen pun akhirnya menghampirinya sambil menepuk kening gadis itu.


"Kenapa pergi tanpa pamit padaku, hah? Ada apa denganmu? Kamu bilang tidak akan ada yang berubah di antara kita tapi nyatanya kamu malah pergi meninggalkanku?"


Lusiana hanya tersenyum kikuk, lalu mengajak pria itu ke tempat tinggalnya.

__ADS_1


"Kok Kakak ada di sini? Ada urusan bisnis ya?" tanya Lusia basa-basi.


Bukannya menjawab, Zaen malah memberikan pertanyaan pada gadis itu.


"Kenapa tidak jujur kalau sebetulnya kamu itu memiliki perasaan padaku, hah? Maaf, aku juga tidak peka saat kamu meminta lelaki sepertiku. Mungkin itu ungkapan perasaanmu padaku 'kan?" tanya Zaen.


"Tidak! Kakak terlalu PD," elak Lusia.


"Jangan bohong lagi, kamu pergi ke sini karena menghindariku dan aku datang untuk menjemputmu kembali. Kamu bilang jangan ada yang berubah di antara kita bukan? Jadi ku mohon kembali."


"Tidak, Kak. Aku harus menyelesaikan kuliahku."


"Apa yang membuatmu ingin di sini? Kuliah bukan alasan, Lusia! Kamu menghindariku. Kamu marah 'kan padaku?"


"Tidak sama sekali, aku betah di sini."


"Kalau aku minta kamu kembali bagaimana? Sepertinya aku tidak siap kehilanganmu."


Sejujurnya, Lusia pun begitu. Merasa ada yang kurang dari hidupnya.


"Kalau ternyata ada perasaanku untukmu bagaimana? Apa kamu akan kembali pulang bersamaku?"


"Maksudmu?"


"Rindu, seperti ada yang kurang dalam hari-hariku. Apa itu bukan cinta? Ternyata aku merasa kehilanganmu, Lusia. Apa kamu mengalami hal yang sama denganku?"


Lusia terdiam, ia merasa ini mimpi. Zaen datang langsung mengungkapkan perasaannya.


"Jawab, kenapa diam saja? Apa kamu tidak menyukaiku? Jangan ada kebohongan lagi di antara kita, aku sudah jujur padamu. Sikapmu berubah setelah kita menolak perjodohan itu bukan?"


"A-aku ..." Lusia malah tidak bisa menjawab ini membuatnya sangat terkejut. Ini terasa mimpi.


Zaen meraih tangan Lusia, dengan ini ia menyatakan perasaannya bahwa ia tidak bisa jauh dari gadis itu. Zaen menunggu jawaban dari gadis itu. Ia berharap Lusia jujur dengan perasaannya.

__ADS_1


Mereka malah saling pandang dan itu terjadi cukup lama.


"Kamu maukan?" tanya Zaen untuk yang kedua kalinya.


__ADS_2