Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 59


__ADS_3

Mereka semua langsung menoleh kala mendengar suara itu. Rayyan dan Maura tidak menyangka kalau anak bungsunya tiba-tiba saja pulang.


"Kalian sedang merayakan apa? Kenapa tidak memberitauku?!" Wajah Ranzha terlihat kesal dan hidungnya kembang kempis, bibirnya pun cemberut.


"Sayang, kenapa pulang tidak memberitau kami?" tanya Maura sambil menghampiri putrinya. "Kakakmu sedang melamar Lusia," ujar Maura lagi.


Ranzha terkejut, lalu menoleh kearah sepasang kekasih itu. Matanya menajam melihat sang kakak. Tidak pernah terpikirkan kalau mereka akan menjalin hubungan.


"Kamu itu paling kecil di sini, kenapa mendahuluiku?" kata Ranzha pada Lusia.


Gadis itu hanya tersenyum tipis memperlihatkan gigi putihnya. Lusia memang paling kecil di antara mereka, bahkan paling imut.


"Kecil-kecil juga dia calon kakak-mu," timpal Zaen. "Jadi kamu harus sopan, dia mendahuluimu karena aku Kakak-mu," tutur Zaen lagi.


"Oke-oke ... Aku akui itu, tapi kenapa tidak memberitau soal ini? Kalian tidak menganggapku asa begitu?" kata Ranzha.


"Bukan begitu, ini semua mendadak," sahut Rayyan.


"Daddy ... Jangan membela mereka, kalau aku tidak pulang mungkin aku tidak tau kabar bahagia ini, jadi kapan pernikahan itu diadakan? Besok? Lusa?"

__ADS_1


Pertanyaan Ranzha sepertinya menjadi ide. Mereka pun setuju kalau pernikahan dipercepat. Akhirnya, tanggal pernikahan pun ditetapkan. Lusia belum siap karena ia baru saja pindah mengenai pendidikkan yang ingin menjadi seorang pengacara.


"Tunggu sampai kuliahku selesai," usul Lusia.


"Tidak! Pokoknya minggu depan kita menikah, jangan biarkan perasaan ini direbut wanita lain," protes Zaen.


Lusia pun memukul dada bidang pria itu. "Itu namanya kamu tidak niat menikahiku, seenaknya aja mengancamku!" Mata Lusia mendelik.


"Kisah kalian seperti Daddy dan Mommy, selalu ribut. Tapi ujungnya saling rindu," kekeh Rayyan.


Maura yang merasa malu pun memukulnya pelan.


"Dulu iya sering ribut, tapi kesini-sininya bucin akut," timpal Leon.


"Kamu ini bisa saja," sahut Lisia.


***


Sesuai rencana, minggu ini, Zaen dan Lusia tengah mengadakan hari bahagianya. Beberapa menit lalu, mereka baru saja resmi menjadi sepasang suami istri. Dan malam ini tengah merayakan pesta pernikahan.

__ADS_1


Zaen tak menyangka kalau Ameera akan hadir diacara hari bahagianya. Ternyata, gadis itu datang sendirian. Ia kira Ameera akan datang bersama kekasihnya. Ranzha pun mengenal dekat dengan gadis itu. Bahkan Ranzha mencoba menghibur Ameera.


Lusia meraih tangan suaminya, menyadarkan pandangan lelaki itu. Bahwa dirinya yang kini menjadi miliknya. Zaen pun menoleh lalu mencium tangan istrinya.


Zaen tak lagi memandang Ameera karena ia harus menjaga hati istrinya. Pesta malam itu sangat meriah, semua pun akhirnya berfoto bersama. Bermacam gaya ditunjukkan.


Sepasang pengantin itu sangat bahagia, tak menyangka kalau mereka akan berjodoh bahkan langsung menikah tanpa adanya hubungan terlebih dulu. Keduanya sudah saling mengenal dan tahu karakter masing-masing. Tak perlu lagi pengenalan diri.


Selesai berfoto, Ameera menghampiri dan memberikan ucapan selamat.


"Selamat ya, semoga kalian bahagia," ucap Ameera.


"Terima kasih sudah datang," jawab Zaen.


"Kita foto bertiga sebagai kenang-kenangan." Lusia menarik Ameera dan menempatkannya di tengah-tengah mereka. Mereka bertiga tersenyum. Namun, senyum yang ditunjukkan Ameera adalah senyum kepedihan. Bertahun-tahun ia mengharapkan, tapi tak kunjung kesampai. Hingga pada akhirnya, ia kehilangan untuk selama-lamanya.


Jodoh, maut, semua Tuhan yang menentukan. Bahkan kita tidak tahu kepada siapa cinta kita akan berlabuh, orang asing atau pun orang terdekat itu semua rahasia yang sudah direncanakan.


Sampai di sinilah cerita ini, terima kasih untuk pembaca yang terus mengikuti cerita ini sampai selesai.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2