Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 38


__ADS_3

Perasaan Nolan jadi tidak enak, ada perasaan yang mengganjal. Tapi ia juga tidak bisa marah karena ia dan gadis itu tidak ada ikatan apa-apa. Tapi rasanya ia ingin mengeluarkan isi hatinya yang yang merasa tidak suka dengan kedekatan mereka.


Rayyan melihat bagaimana respons Nolan, dari mimik wajahnya pria itu seperti menyembunyikan sesuatu. Tapi ini semua terserah mereka, kalau boleh menyarankan, Nolan harus terima disaat Lisia mulai melupakannya. Gadis itu berhak bahagia dan mendapatkan balasan perasaan dari siapa pun.


"Sudah larut, aku mau ajak Zaen ke kamar." Rayyan mengambil baby Zaen yang berada di pangkuan Nolan. Tidak ada yang salah dengan mereka, hanya saja, kalau Nolan mengutarakan isi hatinya kepada Lisia berarti dia mulai egois.


Nolan membiarkan baby Zaen dibawa begitu saja, sehingga ia sendiri yang tersisa di sana. Ia kembali duduk dan merenung. Ia malah memikirkan tentang mereka, kalau mereka menjalin hubungan, tentu itu akan menjadi hidangan setiap hari. Melihat keromantisan dari mereka. Nolan mengacak rambutnya, ia benar-benar bodoh sudah mengabaikan gadis itu.


Apa karena ia sedang renggang dengan kekasihnya sehingga ingin menagih perasaan Lisia kembali kepadanya. Beberapa hari lalu, mereka bertengkar hebat. Dan tidak tahu kelanjutan hubungannya.


Nolan menyandarkan kepala di sandaran kursi, melihat langit-langit di ruangan itu. Memejamkan mata sejenak untuk mencoba menjernihkan pikirannya.


***


Rayyan membawa baby Zaen ke kamar, dan sang istri sudah tertidur nyenyak. Ia dapat merasakan kenyamanan pada istrinya itu. Baby Zaen di tidurkan di sisi Maura, dan wanita itu pun akhirnya membuka mata.


"Apa Nolan sudah pulang? Maaf, aku ketiduran," ucap Maura.


"Hmm, tidak apa-apa. Kamu lanjutkan saja tidurnya, anak kita juga sudah tidur."


Maura melihat ke arah anaknya, lalu beranjak untuk mencium putranya itu. Setelah itu ia langsung mendaratkan kepala di paha suaminya dan menjadikan bantalnya. Suaminya mengusap lembut pucuk kepalanya.


Beruntung, ia masih bisa bersama Maura, dan tidak ada kata terlambat di antara mereka. Karena diam-diam, selama satu tahun ke belakang mereka saling merindukan. Sehingga mereka menjaga hati untuk satu sama lain. Kejadian di malam itu membuatnya merasa bersalah, apa lagi telah hadirnya seorang bayi yang sangat tampan.


"Aku juga mengantuk," ujar Rayyan. Maura pun memposisikan diri dan kembali mendaratkan kepala di bantal.


Andai, istrinya tak lagi datang bulan. Mungkin Rayyan sudah menjamahnya dan kembali menikmati surga dunia untuk yang ketiga kalinya.

__ADS_1


"Tidurlah, kita juga tidak bisa berbuat apa 'kan?" Rayyan langsung menelusupkan wajahnya di leher jenjang istrinya. Tak berelang lama, saat ia mulai terpejam dan pergi ke alam mimpi tiba-tiba di luar sana terjadi kericuhan.


Nolan yang masih berada di sana karena ketiduran langsung terbangun. Begitu juga dengan Leon, pria itu baru saja akan mengistirahatkan tubuhnya.


"Ada apa ini?" tanya Leon pada Nolan.


"Tidak tau, sepertinya terjadi keributan," jawab Nolan. "Apa kita kesana untuk melihat apa yang terjadi?"


"Kita cek lewat cctv saja, biarkan mereka yang bekerja untuk menyelesaikan tugasnya." Leon sudah mengerahkan beberapa orang untuk menjaga keamanan selama 24 jam. Kematian Said dan Alex yang sudah disekap tak membuat kenyamanan itu ada, siapa lagi yang datang menyerang?


_


_


Rayyan mengintip dari jendela kamar, anak buahnya tengah berkelahi. Maura yang takut langsung menggendong baby Zaen sehingga bayi itu pun terganggu.


Rayyan terus memperhatikan, orang-orang yang menyerang bukan orang yang seperti biasanya. Yang datang menyerang kali ini adalah orang-orang asing . Tubuhnya tinggi besar sampai anak buahnya kewalahan.


Rayyang mengambil ponsel dan menghubungi Leon.


"Kerahkan anak buah, jangan sampai mereka dikalahkan. Cari tau siapa yang sudah berani menganggu ketenanganku," kata Rayyan pada sambungan telepon.


Sebelum mendapat suruhan, Leon sudah mengerahkan anak buahnya lebih dulu. Ia sendiri tengah memantau lewat cctv bersama Nolan.


"Kita tidak bisa remehkan orang-orang itu," ucap Nolan.


Beberapa menit kemudian, kericuhan dapat diredamkan. Anak buah suruhan Leon sudah datang, dan perkelahian selesai.

__ADS_1


Di ruangan lain


"Kamu tunggu di sini, dan istirahat kembali. Tidak akan terjadi apa-apa, aku mau menemui Leon dulu," pamit Rayyan. Tapi Maura tidak menurut, saat suaminya pergi ia ikut membuntuti dari belakang sambil menggendong anaknya. Kejadian hari lalu membuatnya harus lebih waspada, ia tidak boleh meremehkan mereka. Demi keinginan tercapai apa pun akan dilakukan, termasuk melenyapkan putra semata wayangnya.


Tibalah Rayyan di ruangan bawah, ia melihat Leon bersama Nolan. Ia kira pria itu sudah pulang. Suara langkah yang ditimbulkan dari alas sang bos terdengar di pendengaran mereka. Mereka langsung menoleh.


Maura pun berjalan cepat sampai dapat mengejar suaminya. "Siapa mereka, Nolan? Apa mereka mau menculik purtaku? Apa yang datang itu Alex?" Maura tidak tahu kalau Alex kini sudah disekap di ruangan yang mengerikan.


Leon sudah memindahkan Alex diruangan yang lebih sempit dan tikus-tikus kecil yang menemaninya. Setelah peluru itu diambil, Leon melepaskan ikatan Alex dan membiarkan tubuhnya bergerak bebas. Bergerak bebas bukan berarti pria itu bisa melakukan apa yang diinginkannya. Tubuhnya terkurung dan dijaga ketat. Untuk berak dan buang air kecil pun tidak tersedia ruangan itu.


Ruangan itu lebih menjijikan, dan ia rasa Alex pantas berada di sana.


"Bukan, itu bukan Alex," kata Leon. "Alex sudag berhasil diringkuk-kan."


Jangankan Maura, Nolan pun tidak tahu soal penyekapan Alex. Karena itu bukan pekerjaannya. Nolan bukan ahli dibidang perkelahian, sejak dulu ia ditugaskan untuk dikantor. Meski begitu tak membuatnya tak bisa berkelahi. Nolan sama jagonya dengan Leon.


"Lalu siapa? Aku tidak tenang jika hidup seperti ini, aku merasa diteror." Maura kembali mengeratkan gendongannya seolah ingin melindungi putranya. "Kamu jangan diam saja, aku tidak mau hidup seperti ini, bagaimana Zaen bisa tau kehidupan luar kalau seperti ini?!" Ia ingin suaminya lebih extra menjaga dan membuat orang-orang itu tak lagi menganggunya.


"Tenanglah, jangan buatku semakin panik. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian." Rayyan menenangkan istrinya sembari merangkulnya.


"Leon, kamu tau yang harus kamu lakukan? Aku tidak ingin mereka kembali datang menyerang, bila perlu habisi mereka!" suruh Rayyan. Lalu ia mengajak istrinya kembali ke kamar.


_


_


"Brengsek, siapa mereka yang sudah berani menganggu ketenangan di sini?!" Leon mengepalkan tangannya, dan orang-orang yang terrekam di layar cctv akan menjadi pencarian mulai besok, ia harus bisa meringkukkan orang itu bersama Alex. Membiarkan mereka di dalam sana bahkan sampai seumur hidup sekali pun.

__ADS_1


"Tenang, aku akan ikut membantu," kata Nolan, pria itu menepuk bahu Leon. Dan Leon sendiri menoleh kearah pundaknya, lalu menganggukan kepala.


__ADS_2