
Lisia yang merasa tertangkap basah pun mencoba melepaskan tangannya. Tapi sayang, Leon tak melepaskannya begitu saja. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi, hari bahagia ini mereka pun harus merasakan.
"Good, itu baru namanya laki." Sepertinya, tak ada yang harus dijelaskan. Rayyan tahu apa arti dari tangan saling menggenggam itu. Leon tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja. Kemajuan yang sangat pesat, diam-diam ia membawa kabar bahagia.
"Kita ke kamar." Rayyan memutarkan tubuh istrinya dan mengajaknya pergi, membiarkan sepasang sejoli itu berduaan.
"Mereka pacaran, ya?" Rasanya, Maura gereget pada Nolan. Padahal, ia sangat mendukung Lisia dengan pria itu. Tapi ya sudahlah, perasaan memang tidak bisa dipaksa. "Leon beruntung mendapatkan Lisia, dia gadis yang sangat baik dan bertanggung jawab." Ujar Maura seraya merebahkan anaknya di tempat tidur.
"Ya, dan hanya pria bodoh yang menolaknya." Maura tahu siapa yang dimaksud suaminya.
"Bukan bodoh, perasaankan tidak bisa dipaksa. Untuk apa bersatu kalau akhirnya saling menyakiti?"
"Ya, ya ... Bela saja dia." Rayyan tidak begitu menyukai istrinya berpihak kepada Nolan, karena ia pun sempat cemburu dengan kedekatan mereka.
"Kamu kenapa sih? Kayaknya gak suka banget sama Nolan?"
"Kamu yang kenapa, kenapa selalu bela dia? Kamu suka?"
"Kamu cemburu?!" Akhirnya, sepasang suami istri itu malah adu mulut. Tapi, mereka tak ingin berlarut-larut dalam kesalahpahaman. Mereka terdiam sejenak, tidak ada yang mesti diributkan bukan?
"Maafkan aku," ucap mereka bersamaan.
Rayyan mendekat dan duduk di sisi tempat tidur. "Kok kita yang jadi berantem sih? Kita jangan sampai bertengkar karena masalah yang tidak jelas, maafkan aku." Rayyan memeluk istrinya.
"Maafkan aku juga, ya, aku akui aku salah karena terlalu memihak Nolan. Aku tuh berharapnya Lisia sama Nolan pacaran, tapi mereka memang bukan jodoh. Leon beruntung."
"Aku ngatuk, kita tidur ya." Ajak Rayyan sembari menarik tubuh istrinya.
"Sampai kapan hidup kita tenang? Rasanya aku bosan sekali di rumah terus, sekali-kali aku juga butuh liburan. Mengenalkan dunia kepada anak kita, ini malah kaya anak ayam yang batu netes. Di kurung terus," sindir Maura.
"Nanti aku pikirkan, sekarang tidur dulu aku sudah ngantuk."
***
Di tempat lain.
__ADS_1
Bukannya tidur, Leon dan Lisia malah nonton. Mereka benar-benar menghabiskan malam itu berdua. Menonton film romantis di rumah besar bosnya. Duduk di sofa berdua dengan posisi Lisia duduk di depan kekasihnya. Tangan Leon melingkar di perut dan dagunya tersangga oleh bahu gadis itu. Sungguh romantis bukan? Siapa pun yang melihat pasti mengiri. Pasangan baru itu sangat romantis. Benar apa kata Nolan, Lisia memang sedikit agresif.
Tapi tidak apa-apa, sekarang mereka sepasang kekasih, dan Leon tak akan menunggu lama. Ia akan meresmikannya dengan cara menikahinya. Jika perlu, besok pun ia akan menikahinya.
Saking asyiknya menonton film, sampai tidak sadar hari sudah berganti. Bahkan mereka ketiduran di sofa. Tidak ada yang berani memabngunkan mereka, terkecuali pemilik rumah. Para asisten di sana malah bergosip ria di dapur. Leon dan Lisia tidur di tempat yang sama. Sofa sempit itu menjadi saksi akan keindahan semalam. Meski tidak terjadi sesuatu di antara mereka, tetap saja itu jadi bahan gosip pagi ini.
Maura terbangun lebih dulu, ia tidak menyadari kalau di sofanya ada yang tengah tidur. Ia hanya mendengar para asisten berisik di dapur. Seketika, para pekerja bungkam karena ada majikan.
Yang tadinya berisik kini menjadi sunyi, Maura pun akhirnya penasaran. Apa yang mereka bicarakan? Kenapa tiba-tiba bungkam?
"Kalian membicarakan apa?" Maura ikut bergabung di dapur sambil menenteng sebuah gelas karena ia ke dapur berniat untuk minum.
"Emang Nyonya tidak lihat?" tanya yang bernama Runi, dia tukang bebenah rumah. Maura nampak menggelengkan kepala, lalu kembali meminum air putihnya. Seketika, ia langsung tersedak saat mendengar.
"Non Lisia tidur di sofa sama tuan Leon." Asisten yang biasa bergosip langsung memberikan informasi kepada majikannya.
Maura belum berhenti batuk. Kerongkongkannya mendadak perih. Ia meletakkan gelas di meja dan segera pergi ke ruang tamu. Ia berkacak pinggang saat melihat sepasang kekasih tengah tidur bersama di tempat sempit. Tanpa diduga, bukan hanya Maura yang melihat keadaan mereka.
Nolan pun menyaksikan kejadian itu, ia baru saja tiba. Dan kedatangannya disambut dengan pemandangan yang membuat hatinya semakin sesak. Mencoba mengikhkaskan, tapi tak mudah merelakannya.
Lisia dan Leon langsung membuka mata, mereka pun terkejut dengan posisi mereka. Tidak ada yang terjadi apa-apa, mereka hanya tidur dan itu pun tanpa disadari.
"Kalian memang minta dinikahkan ya?" kata Maura.
"Ada apa sih pagi-pagi sudah ribut?" tanya Rayyan yang baru tiba sambil menggendong baby Zaen.
"Lihat, baru semalam pacaran mereka sudah berani tidur bersama," adu Maura pada suaminya.
Hah, pacaran? Secepat itu mereka? pikir Nolan. Benar-benar tak ada kesempatan lagi baginya. Ia memang harus melupakan Lisia untuk selama-lamanya.
"Tidak usah berisik, kami hanya tidur," kata Leon. "Lihat, baju kami masih lengkap tidak ada satu pun kancing yang terlepas. Jangan berprasangka buruk, aku tidak sebejad itu."
"Cepatlah kalian menikah," ucap Maura lagi.
"Iya, kalau ini aku setuju," timpal Rayyan.
__ADS_1
Mereka semua senang dengan kabar bahagia itu, tapi tidak dengan Nolan. Pria itu tak berucap sama sekali. Perlahan, ia undur diri dari sana. Maura menyadari kepergian Nolan, ia pun menyusulnya.
***
Nolan duduk di taman sambil melamun, tak lama Maura datang untuk menghibur.
"Perasaan memang bisa berubah tanpa kita sadari, aku yakin kamu bisa menghadapi ini." Maura mengerti perasaan Nolan saat ini.
"Ya, kehilangan memang sangat menyakitkan. Tapi aku sadar kalau ini memang salahku, aku berharap mereka bahagia."
Maura menyentuh bahu Nolan, lalu menepuknya pelan. "Sabar ya?"
Nolan hanya tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa, tidak perlu khawatir. Aku hanya kaget mendengar mereka sudah pacaran." Tak menyangka kalau Lisia akan dengan mudah melupakannya.
"Aku ikut bahagia, Lisia berhak bahagia dengan orang lain. Karena aku tidak bisa membahagiakannya." Penyesalan itu terdengar sangat dalam, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Menyesal pun percuma. Keadaan tidak akan kembali seperti dulu.
Nolan hanya bisa mengelus dada saat tahu ia sudah terlambat. Ia jiga tidak memaksakan diri untuk merebut gadis itu, semua memang salahnya. Ia terlalu mudah mengabaikan hati seserang. Lagian, kedatangannya kemari karena ingin pamit. Tugasnya sudah selesai semenjak nyonya Merlin meninggal.
"Tetaplah jaga amanah nyonya Merlin, beliau tidak mau hartanya dikuasi oleh orang-orang serakah."
"Maksudmu?" Maura bingung dengan penuturan Nolan.
"Aku akan pergi, sepertinya aku harus kembali keasalku." Sudah terlalu lama ia berada di sana, sudah terlalu lama juga ia pergi dari rumah. Nolan bukan pria biasa. Ia tinggal bersama nyonya Merlin karena kabur dari rumah saat usianya 17 tahun.
Kehidupannya hancur saat itu, ia harus dihadapkan dengan orang tuanya yang akan berpisah. Bila teringat akan hal itu, membuatnya menjadi pria dingin. Tak ingin mengenal yang namanya wanita. Bahkan ia hanya bermain-main dengan wanitanya kemarin, tidak terlalu serius berpacaran.
Dan saat menyadari Lisia begitu mencintainya, perasaan itu terlambat sudah.
"Kenapa harus pergi?"
Nolan dan Maura pun menoleh ke sumber suara. Lisia datang dan mendengar semuanya. Kini ia tahu perasaan Nolan kepadanya. Namun, ia tak mungkin membalas perasaannya karena ada hati yang mesti ia jaga.
Perlahan, Lisia berjalan menghampiri Maura dan Nolan. Ia akan mengucapkan perpisahan. Gadis itu sudah berdiri tepat di hadapan Nolan.
"Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kali?"
__ADS_1
Di sebrang sana, Leon mendengar permohonan terakhir itu.