Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 37


__ADS_3

Tiba-tiba, sore ini turun hujan. Lisia yang hendak pulang pun menundanya karena hujan cukup deras. Ia masih berada di ruangannya. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul 18.15. Perutnya pun sudah keroncongan. Ia hanya memainkan pena di atas meja sambil mengetuk-ngetuknya.


Merasa bosan karena terjebak hujan di kantor sendirian. Lisia menelungkupkan wajah di tangannya yang bersedekap di atas meja. Gadis itu tertidur dengan sendirinya.


_


_


Leon baru saja tiba, tak ada payung di dalam mobil. Sehingga kehujanan saat turun dari mobilnya, pakaiannya sedikit basah. Di kantor sudah sangat sepi karena semua karyawan sudah pulang pas jam enam sore, itu jam terakhir karyawan keluar dari tempat kerjanya. Bagi yang pulang jam enam, itu artinya mereka lembur selama 2 jam. Jika tidak ada jam lembur, maka karyawan pulang jam 4 sore.


Leon masuk ke dalam, dan ia menyapa security di dalam sana.


"Sore, Pak. Apa semua karyawan sudah pulang?" tanya Leon.


"Sudah, Pak," jawab security.


"Yakin? Apa Lisia juga sudah pulang?" tanya Leon lagi, bahkan ia tak percaya saat security mengatakan semuanya sudah pulang. Ia berharap masih ada yang tersisa di sana.


"Yakin, Pak. Ruangannya kosong, saya sudah mengeceknya," jawab satpam lagi.


Leon menghela napas panjang, untuk apa ia berharap gadis itu masih berada di sini? Jelas, Lisia tidak mungkin menunggunya, gadis itu hanya mengelabui Nolan, dan kenapa ia jadi terbawa perasaan? Akhirnya, Leon putuskan untuk kembali karena Lisia tidak berada di sana, mungkin gadis itu sudah pulang sejak awal, pikirnya.


Saat ia membalikkan tubuh dan hendak berjalan, tiba-tiba semua lampu mati. Dan pada saat itu juga ia mendengar suara jeritan seorang wanita.


***


Lisia terjaga dari tidurnya pada saat lampu mati, gadis itu takut akan kegelapan sehingga ia menjerit karena ruangan itu sangat gelap dan terasa pengap. Ia juga meraba meja,berharap menemukan ponsel di atas meja sana. Namun, apa yang ia dapat? Ia malah menyenggol sebuah gelas, dan gelas itu terjatuh dan akhirnya pecah. Suara gelas itu menjadi perhatian seseorang di luar ruangan.


Cahaya senter dari ponsel menerangi, Leon datang tepat waktu bagaikan pahlawan yang datang untuk menolongnya. Gadis itu langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukkan pria itu.

__ADS_1


"Tenanglah, ada aku. Kamu tak perlu takut." Leon membalas pelukkannya, tubuh Lisia sangat bergetar. Leon dapat memastikan bahwa gadis itu tengah ketakutan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Leon.


Sadar akan keberadaannya, Lisia langsung menarik diri. Gadis itu menghapus air matanya karena ia sempat menangis saking takutnya. "Maaf, aku tidak sengaja," ujar Lisia.


"Tidak apa-apa," kata Leon.


Lisia melihat baju Leon yang terkena noda merah, ia pikir itu pasti lipstik. Karena malu, ia tak memberitahukannya kepada Leon. Pria itu juga tidak menyadarinya. Ia baru sadar, kenapa Leon ada di sini? pikirnya. Apa pria itu datang untuk menjemputnya? Jangan ge'er, Lisia. Itu hanya kebetulan, pikirnya.


"Aku sengaja datang ke sini untuk menjemputmu. Kata Nolan kamu menungguku," ujar Leon tanpa berbelit-belit. Ia langsung pada kenyataan sehingga membuat Lisia menjadi kikuk.


"Memalukan sekali aku ini," rutuknya pelan.


"Apa? Kamu bilang apa barusan? Aku tidak mendengarnya, coba ulangi sekali lagi?!"


"Ti-tidak, aku tidak mengatakan apa-apa," elak Lisia. "A-aku juga tidak menunggumu, Nolan bohong." Lisia mengelak karena ia sangat gengsi, bisa-bisanya Nolan mengatakannya kepada Leon.


Setelah cahaya itu mati, Lisia langsung kembali memeluk Leon. Gadis itu benar takut kegelapan. Dengan tengilnya, Leon kembali menyalakan senter. Sontak, Lisia langsung memukul dada bidang pria itu.


"Menyebalkan, tau aku takut," omel Lisia.


"Lama juga tidak apa-apa kamu peluk aku, aku matikan lagi ya biar kamu peluk aku lagi?" goda Leon.


Lisia langsung memicingkan matanya, mode kesalnya muncul. Pria itu menyebalkan juga, pikirnya. Karena takut senter itu dimatikan kembali, ia merebut ponsel milik Leon. Karena berebutan membuat tubuh mereka limbung dan akhirnya terjerembab di lantai dengan posisi Lisia berada di bawah tubuh laki-laki itu.


Beberapa saat pandangan mereka bertemu, beruntung, tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Padahal, bibir mereka nyaris bersentuhan. Jantung mereka dag dig dug tak karuan. Leon, dengan cepat menarik diri dan langsung berdiri. Ia juga membantu Lisia untuk beranjak.


"Lain kali jangan nakal, untung tidak terkena pecahan gelas," ujar Leon.


"Karena kamu yang nyebelin, cari kesempatan dalam kesempitan," tuduh Lisia. Akhirnya, ia dapat menemukan ponselnya yang berada diujung meja kerjanya. Karena sudah larut ia putuskan untuk pulang.

__ADS_1


_


_


Akhirnya, Leon mengantar Lisia pulang. Hanya mengantar gadis itu sampai depan rumah. Tidak ada yang terjadi apa-apa di antara mereka, drama selesai saat di kantor. Lisia langsung turun dari mobil sesampainya di rumah nyonya Merlin.


"Terima kasih," ucap Lisia kemudian.


"Sama-sama, aku pamit kalau begitu," ujar Leon.


Leon segera kembali ke kediaman Rayyan Smith, saat tiba di sana ia melihat mobil Nolan masih terparkir. Ia bertemu kembali dengan pria itu. Keadaan Leon membuat Nolan melihatnya lekat-lekat, apa lagi baju yang meninggalkan bekas bibir. Pikiran Nolan sudah ngelantur ke mana-mana. Apa yang sudah terjadi di antara mereka? pikirnya.


"Dari mana saja?" tanya Rayyan, yang ia tahu Leon sudah pulang sejak tadi dari tempat penyekapan Alex dan kenapa baru sekarang memperlihatkan batang hidungnya.


"Ada urusan sebentar, Bos," jawab Leon.


Rayyan yang melihat tanda bibir di kemeja Leon langsung menghampirinya. "Kamu sudah berkencan?" tanya Rayyan tanpa basa-basi.


"Tidak," elak Leon.


"Lalu ini apa?" Tunjuk Rayyan pada kemeja Leon yang berwarna putih sehingga warna merah itu sangat kontras.


Leon melihat kemejanya, dan benar saja bekas bibir seorang wanita menempel di kain putih itu. "Ini tidak seperti yang Bos bayangkan, tadi aku ke kantor dan bertemu Lisia, tidak sengaja terkena bibirnya," jelas Leon.


"Mana ada tidak sengaja? Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu, memang bisa bibir itu menyentuh dadamu? Bagaimana ceritanya? Kamu itu ada-ada saja, kalau memang saling suka kenapa tidak menjalin hubungan? Lisia single, kamu juga single. Udah, kejar aja cintanya." Rayyan mendukung Leon karena sudah terlalu lama ia menjomblo.


Leon yang merasa terpojokkan segera undur diri dari sana tanpa menimpali ucapan bosnya lagi. Sedangkan Nolan, pria itu hanya diam saja. Yang ada dalam pikirannya, apa iya Lisia sudah melupakannya? Apa Leon benar-benar menjadi laki-laki yang disukai gadis itu? Secepat itu dia melupakannya?


Setahu Nolan, Lisia sangat mencintainya. Maura sering mengatakannya padanya, apa mungkin ia terlalu cuek? Lebih tepatnya, Nolan terlalu naif. Ia tak menganggap perasaan Lisia, sehingga pada saat gadis itu menemukan pria yang cocok dengannya membuatnya berpaling dari sosok Nolan yang selama ini mengaguminya.

__ADS_1


__ADS_2