
Di Hotel, tepatnya di tempat di mana sepasang suami istri yang baru menikah hari kemarin. Seusai menggelar pesta, mereka langsung tertidur karena benar-benar lelah. Dan sekarang pun masih teridur dengan nyenyak. Padahal, hari sudah pagi.
Mereka tidur dalam keadaan saling membelakangi, saking nyenyaknya sampai tidak sadar bahwa mereka sudah menikah. Dan tak lama, yang lebih dulu terbangun adalah Leon. Pria itu mengerjapkan matanya, melihat ruangan itu berbeda dari tempat yang selama ini di tempatinya.
Seketika, ia tersadar bahwa kini ia telah menikah. Tapi di mana istrinya? Leon langsung menoleh ke belakang, bibirnya tersenyum. Ternyata istrinya tengah ia belakangi. Saat itu juga, Leon membalikkan tubuh dan langsung memeluk istrinya.
"Selamat pagi." Leon mencium pundak istrinya, dan Lisia nampak mengerjap. Lalu menyentuh tangan yang melingkar di perut. Leon membalikkan tubuh istrinya dan mereka saling berhadapan. Leon menyusuri wajah dengan jarinya, dari kening turun ke pipi lalu menyentuh hidung dan terakhir di benda kenyal nan mungil. Warna bibirnya begitu natural.
Cup
Leon mengecup bibir itu sekilas. Lisia kini miliknya, tak ada yang boleh mendekatinya apa lagi menyentuhnya.
Lisia langsung menelusupkan kepalanya di leher suaminya, dan tangannya terletak tepat di dada bidang suaminya. Lalu menggambar secara abstrak. Perlakuan Lisia membuat aliran darah suaminya mendesir. Gadis itu memancing gairahnya pagi ini.
Lisia juga menyentuh wajah suaminya, mengusap bibir Leon dengan ibu jari. Leon semakin terbuai, rasanya ia tidak sabar untuk melakukannya. Menjadi pengantin baru itu sangat indah bukan? Apa lagi tanpa memikirkan berapa biaya yang sudah dihabiskan. Leon sangat beruntung memiliki bos seperti Rayyan, pria itu sangat mendukung dirinya memiliki pasangan.
Pada saat ia akan mencium bibir istrinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Leon mendengus, kenapa tidak mematikan ponsel? Padahal, ia tak ingin ada gangguan. Namun, yang menghubunginya adalah bosnya. Mau tak mau ia harus menerima panggilan itu.
"Temui aku sekarang, ena-enanya nanti saja. Ini lebih penting dari bercintamu."
Leon melihat ponselnya, kenapa bosnya bisa tahu dengan apa yang akan dilakukannya?
"Kenapa? Siapa yang menghubungimu?" tanya Lisia.
"Bos," jawab Leon lemas.
"Mau ngapain? Gak pengertian banget sih punya bos, kita 'kan baru saja menikah. Masa iya dia sudah menyuruhmu bekerja." Lisia tidak terima, ia harus protes pada suami Maura.
"Mau gimana lagi? Nasib jadi bawahan ya seperti ini. Kita mandi saja yuk?" ajak Leon kemudian.
"Kamu duluan saja deh, nanti yang ada malah lama." Lisia terlanjur kesal karena momen bahagianya dirusak oleh atasannya.
***
Leon dan Lisia sudah sampai di kediaman Smith, karena Rayyan memberitahukan keberadaannya. Sekarang, ketiga pria itu tengah berada di ruangan yang sama. Mereka membicarakan soal baby Zaen. Anak itu memang menjadi incaran. Tapi yang berniat menyingkirkan Zaen yang tersisa tinggal Alex.
__ADS_1
Rayyan menyerahkan hidup dan matinya Alex kepada Leon. Ia tak ingin pria itu di penjara karena sewaktu-waktu bisa bebas. Sedangkan di tempatnya, mereka ingin Alex membusuk dengan sendirinya.
Dan kecelakaan yang menimpa Lukas belum diketahui, karena belum ada berita tentang kecelakaan itu. Rayyan sendiri akan pergi ke sana dan mengajak Leon untuk melihat keadaan.
Leon sendiri setuju-setuju saja, tapi untuk sekarang ia harus meminta izin kepada istrinya. Hari ini masih hari cuti dan Lisia berhak menolak pekerjaan itu. Wanita itu tidak setuju dengan kepergian suaminya yang menemani bosnya.
"Kenapa tidak menolak? Untuk pergi ke sana kan bisa di antar supir," kata Lisia yang baru saja suaminya meminta izin padanya.
"Selama ini aku selalu stay, rasanya aneh aja kalau aku menolak." Leon jadi serba salah.
"Tapi ini masih hari cuti, kamu tega ninggalin aku?"
"Bukan begitu, kali ini saja. Aku tidak akan lama, kamu bisa menunggu di sini bersama Maura 'kan?"
Lisia menghela napas panjang, mau bagimana pun suaminya tetap akan pergi. "Tapi janji, setelah itu langsung pulang."
"Iya, aku langung pulang begitu urusan selesai."
"Janji." Lisia menyodorka jari kelingkin.
"Iya, aku janji." Leon menyatukan jarinya dengan jari istrinya.
***
"Kenapa tidak memberitaukanku soal kedatangannya?" tanya Rayyan pada Leon.
"Aku masih bisa handle soal dia, masih bocah tengik," jawab Leon memandang Lukas dengan sebelah mata. "Hanya Alex yang tersisa, tapi sepertinya pria itu kapok."
"Jangan diberi ampun, orang licik akan menghalalkan segala cara. Biarkan saja dia mendekam di sana menghabiskan sisa umurnya di tempat itu."
Karena sudah menyaksikan sendiri mobil Lukas berada di jurang. Rayyan dan Leon pun segera pergi dari sana. Di perjalanan, Leon mau pun bosnya tidak ada yang bercakap. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Namun, keadaan mereka jauh lebih baik dari sebelumnya.
Leon sudah menikah, dan orang tua Rayyan sudah menerima kehadiran baby Zaen. Mereka berharap, ke depannya akan semakin bahagia.
Sampailah mereka di rumah. Saat mereka tiba, orang-orang rumah tengah berkumpul. Sambil menonton tv bersama baby Zaen. Lisia pun tangah bersama mereka. Wanita itu jadi ingin secepatnya mempunyai momongan.
__ADS_1
Rayyan sendiri langsung menggendong putranya.
"Kalau cucu kita bertambah sepertinya rumah ini akan ramai," ucap Elena.
Rayyan dan Maura saling melempar pandangan.
"Zaen masih kecil, tunggu sampai 1 tahun atau 2 tahun," jawab Rayyan.
Maura baru kepikiran, semenjak ia menikah ia belum memasang KB. Sedangkan mereka sudah melakukannya dua kali. Satu kali aja langsung jadi, apa lagi berkali-kali. Ucapan suaminya juga ada benarnya, baby Zaen masih kecil apa lagi minum susu ASI. Kalau ia hamil lagi bagaimana? Pertumbuhan anaknya bisa tersendat karena Zaen tidak cocok susu formula.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Rayyan.
"Tidak apa-apa, aku hanya kepikiran kalau aku hamil lagi."
"Tunda saja dulu, tunggu sampai Zaen besar."
"Tapi aku gak pasang KB."
"Terus bagaimana?" Rayyan mana tahu yang begituan.
"Paling Zaen punya adik."
"Kalian membicarakan apa sih? Dari tadi bisik-bisik terus," timpal Elena.
"Tidak ada, Ma," jawab Rayyan.
Bukan hanya Maura dan Rayyan yang saling berbisik. Leon dan Lisia pun begitu. Mereka pamit undur diri karena mereka harus mempersiapkan malam pertama mereka. Lisia tidak ingin menunda momongan, melihat kelucuan baby Zaen ingin segera memiliki anak.
***
Malam pun tiba.
Lisia sudah siap dengan pakaian keramatnya. Setelah menikah, ia tak lagi tinggal di rumah nyonya Merlin. Leon mengajaknya tinggal di apartemen miliknya. Apartemen yang sudah lama tidak terisi karena Leon selalu bersama bosnya kemana pun pria itu pergi.
Tempat tidur yang rapi dan wangi membuat keadaan semakin nyaman. Apa lagi, Lisia sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ia tengah menunggu suaminya karena Leon sedang membersihkan diri. Tak lama, Leon kembali menggunakan handuk sebatas pinggang
__ADS_1
Lalu menghampiri istrinya yang berada di balik selimut. Ia sendiri tidak tahu dengan pakaian yang dikenakan istrinya. Tubuhnya terbungkus oleh selimut, bahkan berpura-pura tidur. Namun, pas Leon sudah berada di sisi tempat tidur, Lisia langsung menarik tangan suaminya. Sehingga, dalam sekejap pria itu sudah ikut bergelung di dalam selimut.
Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi di antara mereka. Malam yang tak akan pernah luput dari kucuran keringat yang menggelora.