
Karena digoda, Lusiana akhirnya izin pulang.
"Kenapa pulang buru-buru?" tanya Zaen.
"Kamu mulai menyebalkan, lagian siapa yang menyukaimu? Mungkin Kak Zaen yang suka padaku." Lusiana tertawa dengan sangat renyah sekali, sedangkan Zaen mengacak rambut gadis itu.
"Ya udah ayo, aku antar kamu pulang."
"Tidak usah, aku sudah menghubungi Erick. Dia yang akan menjemput dan mengantarkanku pulang." Lusiana beranjak lalu keluar dari rumah dan Zaen mengikutinya dari belakang mengantarnya sampai depan rumah.
Tak berselang lama, seorang pria datang menggunakan motor berwarna merah. Zaen tak melihat wajahnya. Namun, ia merasa pernah melihat motor itu. Sampai pada akhirnya, ia teringat akan sesuatu.
"Bukankah dia pria yang waktu itu?" gumam Zaen. Pria yang pernah mencoba melecehkan Ameera waktu lalu. Itulah di mana Ameera sampai saat ini selalu mendekatinya karena hanya Zaen lelaki yang paling baik dan sopan kepada wanita.
"Apa dia pacarmu?" tanya Zaen pelan.
Lusiana menoleh sambil mengangguk. "Aku pulang dulu ya." Tanpa mendengar jawaban dari Zaen gadis itu sudah menghampiri pria yang itu bahkan sudah duduk di motornya.
Emang dasar tidak punya sopan santun, pria itu langsung pergi begitu saja. Namun, Zaen merasa tidak ada yang beres. Melihat mata pria itu dari balik helm-nya seperti sedang mabuk. Akhirnya, Zaen pun mengikuti mereka.
Saat mengikutinya, motor itu melaju sangat kencang dan bukan arah ke rumah Lusiana.
"Mau dibawa kemana Lusia?" gumam Zaen.
Motor itu akhirnya terhenti di sesuatu tempat, banyak motor yang lainnya. Sepertinya itu teman-teman Erick. Mereka tengah berpesta, karena Zaen melihat ada banyak botol minuman di sana.
"Kurang ajar." Zaen mengepalkan tangan, bahkan ia melihat Lusiana sepertinya menolak ajakan pria itu. Tangan Lusiana ditarik paksa untuk ikut bergabung. Lalu, mobil Zaen mendekat dan menyorotkan lampu mobilnya ke arah mereka.
Semua yang berada di sana merasa silau akan cahaya dari lampu mobil itu termasuk Lusiana.
"Erick, aku mau pulang. Tolong lepaskan, dan antar aku pulang ke rumah," kata Lusiana.
"Kamu itu kekasihku, jadi kamu harus menemaniku minum di sini bersama teman-temanku," ajak Erick dengan paksa.
"Lepaskan dia!" seru Zaen yang baru saja turun dari mobil.
"Sial, kenapa dia selalu ada mengacaukan semuanya!" gerutu Erick.
"Kak Zaen." Lusia langsung menghempaskan tangan Erick dan menghampiri Zaen.
__ADS_1
"Masuk mobil," kata Zaen.
"Jangan ikut campur, dia itu kekasihku," ujar Erick.
Tanpa jawaban, Zaen langsung saja memukul perut Erick. "Itu pelajaran untukmu, jangan lagi membawa Lusia pergi ke tempat seperti ini dan berhentilah melecehkan wanita!" Zaen sangat geram pada laki-laki itu.
***
Lusiana mau pun Zaen, tidak ada yang bersuara selama dalam perjalanan. Zaen langsung mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.
"Terima kasih," ucap Lusiana saat tiba di rumahnya.
"Lain kali kalau cari laki-laki itu yang benar, jangan asal punya tampang saja," kata Zaen.
"Apa aku harus mencari lelaki sepertimu? Mustahil bagiku bisa mendapatkan lelaki sepertimu, Kak."
"Sudah sana masuk, ini sudah malam," kata Zaen.
"Kalau ada carikan lelaki sepertimu untukku," ucap Lusia setelah turun dari mobil.
Saat ucapan itu terlontar, Lisia dan Leon mendengarnya. Tidak salah lagi, mereka berdua sama-sama saling mencintainya. Keberadaan orang tuanya membuat Lusia terkejut.
"Harusnya kami yang bertanya, dari mana saja kalian jam segini baru pulang? Apa tadi Mammy tidak salah dengar?" tanya Lisia.
"Dengar apa? Aku tidak bilang apa-apa."
"Jangan membohongi kami, sudah berapa lama kalian pacaran?" timpat Leon. "Kami setuju kalau kalian pacaran, kami juga sudah sepakat menjodohkanmu dengan Zaen," jelanya lagi.
Lusia yang mendengar sangat terkejut dengan penuturan ayahnya, sejak kapan mereka merencanakan perjodohan itu? pikirnya. Kerongkongan Lusia seakan tercekat dan tak bisa berkata-kata lagi.
"Kenapa? Apa kamu senang mendengarnya?" tanya Lisia pada putrinya.
"Se-sejak kapan rencana perjodohan itu?" tanya Lusia.
"Sejak kalian masih bayi," jawab Lisia.
Tak ada yang ditutupi dari Zaen kepadanya, ia tahu siapa gadis yang disukai pria itu. Karena perjodohan ini membuat Zaen menutup pintu hatinya kepada wanita lain. Namun, apa jadinya kalau pria itu tahu siapa yang akan menjadi istrinya? Apakah persahabatan mereka akan tetap terjalin? Apa semuanya akan baik-baik saja? Tidak! Semua pasti berubah, tidak ada kata saling sayang lagi, tidak ada canda tawa lagi jika perjodohan itu terjadi.
"Tidak, Mam. Aku dan Kak Zaen hanya ingin berteman dan aku hanya akan menjadi adiknya. Aku tidak mau rasa sayang ity berubah menjadi benci," tutur Lusia.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Leon.
"Kak Zaen mencintai orang lain, aku tidak mau perasaan sayangnya berubah tidak menyukaiku karena perjodohan ini." Lusia langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Itu mengapa, Lusiana mencoba memiliki kekasih. Ia tak ingin Zaen beranggapan kalau dirinya menyukainya. Bahkan Zaen sering menggodabya tentang perasaannya, ia tak ingin persahabatan yang terjalin berantangkan hanya karena perasaan yang tidak tersampaikan.
Ya, Lusiana memang menyukai Zaen sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Namun, pada saat itu ia tahu ada yang menyukai Zaen bahkan sampai saat masih mengejarnya. Karena perjodohan inilah yang membuat Zaen masih belum bisa menerima wanita lain.
Perjodohan yang tak pernah dibahas sama sekali oleh kedua orang tuanya, dan akhirnya hari ini Lusia tahu siapa yang dijodohkan dengan Zaen Smith. Yaitu, dirinya.
Demi persahabatan agar tetap terjalin dengan baik, Lusiana menolak perjodohan itu.
Kedua orang tuanya terdiam saat putrinya menolak perjodohan itu.
"Bagaimana ini? Lusiana menolaknya, tapi aku dapat melihat cinta di matanya pada Zaen," tutur Lisia.
"Keputusan memang ada pada mereka 'kan? Kalau keduanya menolak, kita sebagai orang tua tidak bisa memaksa. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya," jelas Leon.
***
Zaen pun tiba di rumah.
Saat tiba di dalam, ia tak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya. Ia pun sangat terkejut saat tahu siapa yang dijodohkan dengannya. Selama ini, Zaen anak yang sangat berbakti. Tak pernah sekali pun ia membantah apa kata orang tuanya. Namun, kenapa harus dengan Lusiana? Bukan kah gadis itu tak mencintainya? Hubungan seperti apa yang akan dijalaninya jika tak ada cinta?
Setiap kali menggoda gadis itu, ia sering mendapatkan jawaban bahwa gadis itu tak menyukainya. Lusia hanya menganggapnya sebagai kakak, tidak lebih dari seorang adik yang minta perlindungannya.
"Zaen," panggil Muara. "Kamu baru pulang?" tanyanya lagi.
"Iya, Mom. Aku ke kamar dulu," pamit Zaen.
"Apa dia mendengar perbincangan kita?" tanya Maura pada suaminya.
"Aku rasa tidak," jawab Rayyan.
Di dalam kamar, Zaen merebahkan tubuhnya. Kabar hari ini cukup membuatnya jantungan. Lusiana yang dijodohkan dengannya, dan apa gadis itu menerima perjodohan ini? pikirnya.
Ia juga sudah menyakiti hati Ameera karena ia akan menerima perjodohan itu. Tapi sekarang, setelah ia tahu siapa gadis itu membuatnya gelisah. Lusiana atau Ameera?
Begitu pun dengan Lusiana, gadis itu tidak ingin memikirkan perjodohan itu. Namun, bayang wajah Zaen selalu melintas. Mencoba membuka hati untuk orang lain pun malah gagal. Tapi ia harus membicarakan masalah ini, ia tidak boleh egois. Mungkin, jika mereka menolak perjodohan itu secara bersama-sama kedua orang tuanya akan mengerti.
__ADS_1