Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 40


__ADS_3

Di kantor.


Pagi ini semua sibuk di kantor, Rayyan mengecek langsung di lapangan. Perusahaan yang didirikan dalam bidang makanan, seperti snack, biskuit, minuman dan yang lain-lain. Ahli gizi sudah menilai kehigienisan makanan di sana, dan semua aman terkendali.


Rayyan puas akan kerja sama dengan karyawannya, apa lagi dengan ketiga orang itu. Leon, Nolan juga Lisia. Mereka kompak ketika bekerja. Namun, tak luput dari permasalahan pribadi yang mereka alami. Ada cinta segita sepertinya di antara mereka. Dan Rayyan tahu itu secara langsung.


Sesekali, ia sering memperhatikan gelagat Nolan yang melihat kedekatan Leon dengan Lisia. Namun, ia tak akan ikut campur mengenai hal itu. Selama tidak mengganggu pekerjaannya itu urusan mereka. Tak lama, ia pun kembali ke ruang kerjanya karena di lapangan aman terkendali.


***


Leon tidak memberitahukan akan siapa yang menyerangnya tadi malam, ia sengaja karena tak ingin membuatnya cemas. Untuk hanya mengurus tikus-tikus itu ia sendiri masih mampu. Ia sangat diandalkan sehingga dirinya menjadi ajudan yang sangat cekatan juga dapat dipercayai. Sudah beberapa tahun ia mengabdikan hidupnya di keluarga Smith.


Bahkan, bosnya sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi pada hidupnya dimasa lalu. Leon menutup kisah percintaannya pada bosnya itu. Bahkan kematian kekasihnya yang membuatnya terpuruk dan sampai saat ini masih sendiri.


Hingga akhirnya, ia menemukan sosok gadis yang sangat baik. Rasa sabar dan ketulusannya menyerupai mantan kekasihnya. Bukan itu yang membuatnya menaruh hati kepada Lisia. Gadis itu sangat baik sehingga ia mencoba kembali membuka hatinya.


Sayangnya, ia harus bersaing secara sehat. Apa lagi, tak mudah mendapatkan hati Lisia karena gadis itu telah menyukai seseorang.


"Hai, sibuk aja. Sudah waktunya makan siang, makan siang yuk?" ajak Lisia.


"Boleh, ayok." Leon pun beranjak dari tempat duduknya.


Saat mereka hendak pergi, mereka berpapasan dengan Nolan. Karena tidak enak pergi begitu saja, Leon pun berbasa-basi mengajaknya ikut makan siang bersama. Padahal, dalam hatinya takut akan perasaan Lisia kembali kepada Nolan. Bagaimana pun, gadis itu sangat mencintai pria itu.


Akhirnya, mereka pergi bertiga. Suasana menjadi canggung, bahkan Lisia pun tak seperti biasanya. Sikapnya berubah total kepada Nolan, tak ada perhatian yang diberikan kepada laki-laki itu lagi.


Nolan merasa menjadi penghalang di antara mereka karena sikap Lisia yang mendadak dingin. Biasanya, gadis itu selalu menawarkan makanan apa yang akan dipesannya tapi sekarang tidak lagi. Ia merasa kesepian, tanpa sosok Lisia yang sering mengganggu.


Karena tahu diri, Nolan berpura-pura izin ketoilet.

__ADS_1


"Aku ketoilet dulu," pamit Nolan. Padahal, ia sengaja pergi dari sana. Sikap dinginnya selama ini memang sangat keterlaluan. Ia begitu karena merasa risih, Lisia begitu agresif kepadanya. Dan ia tidak begitu menyukai wanita yang agresif.


Dari kejauhan, Nolan mengintip. Selama kepergiannya, mereka terlihat akrab dan sesekali Lisia tertawa sumringah.


Nolan pun akhirnya pergi karena tak ingin menjadi pengganggu. Hatinya tiba-tiba saja sesak, ia tidak menyangka kalau hatinya akan terpikat pada gadis itu. Dan sayangnya perasaan itu sudah terlambat, tak ada lagi ruang untuknya di hati Lisia. Sudah ada Leon yang menempati hatinya.


Lisia terlihat sangat happy bersama Leon. Tanpa pamit, ia pun akhirnya pergi dari restauran tempat mereka makan.


***


Leon mencari keberadaan Nolan, matanya celingak-celinguk kesana kemari. "Kemana Nolan? Kenapa masih belum kembali?" Leon melirik jam di tangan, sudah hampir setengah jam pria itu pergi.


"Biarkan saja, lagian dia memang seperti itu, tidak jelas," jawab Lisia.


"Bukannya seharusnya kamu senang dengan keberadaannya?" Pertanyaan itu membuat Lisia terdiam. Seiring berjalannya waktu hatinya mulai membaik tanpa adanya Nolan di sampingnya.


"Tidak usah membahas dia, aku mulai melupakannya. Hidup itu harus melihat ke depan, jangan ke belakang terus," jelas Lisia.


Makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang. Mereka menikmati makanannya.


"Mau coba makananku gak?" Lisia menyodorkan sendok ke arah mulut Leon, tanpa menolak pria itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar.


"Hmm, makananmu enak sekali. Tapi kamu harus cobain ini, makananku ini tak kalah enak dengan makananmu." Leon pun menyodorkan sendok ke mulut Lisia. "Enak 'kan?"


"Iya, tukeran deh." Lisia langsung mengambil piring milik Leon, pria itu sampai terdiam dengan apa yang dilakukan gadis itu.


"Tapi itu bekas," kata Leon.


"Gak apa-apa, kamu tidak punya penyakit menular 'kan?" Lisia tekekeh dengan pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


Leon hanya tersenyum, sangat disayangkan gadis sebaiknya dianggurin. Sepertinya Lisia sudah memberikan sinyal kuat padanya, ia akan mencoba mengutarakan isi hatinya. Semoga gadis itu menerimanya. Diam-diam, ia menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan acara untuknya.


Tapi bagaimana dengan Nolan? Ah, masa bodo. Lisia sendiri pun akan melupakannya bukan?


***


Akhirnya mereka pun kembali ke perusahaan, jam makan siang telah usai. Di sana, mereka pun tak melihat keberadaan Nolan. Kemana laki-laki itu pergi?


Tak terasa, jam kantor pun selesai. Sebelum pulang, Leon mengajak Lisia pergi kesuatu tempat. Ini saatnya ia mengutarakan isi hatinya. Ini kesempatan baginya menyembuhkan luka dalam hati gadis itu karena selalu diabaikan oleh Nolan. Ia akan menjadikan Lisia ratu dalam hidupnya.


"Kita mau kemana?" Lisia melihat jalan sekitar, jalan itu bukan ke arah tempatnya tinggal.


"Aku mau mengajakmu pergi sebentar, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Kamu tidak keberatan 'kan?" Leon yang sedang menyetir pun menoleh ke arah Lisia. Gadis itu malah tersenyum manis, membuat Leon semakin yakin kalau gadis itu pun memiliki perasaan yang sama.


"Selama kamu membuatku nyaman, aku akan ikut kemana pun kamu pergi." Perasaan itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, ia sendiri tidak menyangka akan memiliki perasaan kepada Leon.


Padahal, ia begitu cinta mati kepada Nolan. Tuhan maha adil, bisa membalikkan kehidupan dengan mudah. Ia pikir tidak bisa melupakan Nolan, semenjak kenal dengan Leon, hidupnya lebih berwarna. Wajah Lisia nampak merah malu-malu, hatinya pun sangat deg-degan. Mau dibawa kemana oleh Leon? Apa jangan-jangan dibawa ke penghulu? Hatinya semakin resah karena Leon cukup misterius.


Tibalah mereka di tempat itu, karena cukup jauh mereka sampai tepat pada pukul 7 malam.


Lisia sendiri sampai ketiduran, dan Leon tidak berani membangunkannya. Ia hanya bisa menunggu Lisia terbangun dengan sendirinya.


Leon memiliki cara untuk membangunkan Lisia, ia membuka jendela mobil sehingga udara dingin menerpa tubuh gadis itu. Dan perlahan, Lisia membuka mata dan langsung mengedarkan pandangannya. Deru ombak terdengar sangat kencang, ia tak percaya bahwa Leon akan mengajaknya ke tempat ini.


"Di mana kita?" tanya Lisia pura-pura tidak tahu.


Leon tak menjawab, ia malah mengajak Lisia turun dari mobil. Ia sudah mempersiapkan sesuatu, dan menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan semua.


Mereka berdua pun akhirnya turun. Terlihat, sebuah tenda yang sudah dihias di tepi pantai. Dan itu menjadi pusat perhatiannya. Leon meraih tangan Lisia dan mengajaknya ke tepi pantai. Tiba di sana, Leon langsung berlutut dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.

__ADS_1


Lisia sampai tak percaya, ia hanya menutup mulutnya yang menganga.


__ADS_2