
Zaen mendudukkan tubuhnya, tak menyapa Ameera sama sekali. Sudah sering ia katakan bahwa ia tak ingin diganggu olehnya.
Ameera langsung beranjak dan memasukkan ponselnya, lalu menghampiri Zaen dan duduk di kursi meja kerjanya.
"Aku menunggumu sejak tadi, kamu kemana sajak?" tanya Ameera.
"Berhentilah mengganggu, Ameera. Kamu tau aku tidak bisa membalas cintamu, sudah ada wanita yang dijodohkan denganku. Berhentilah mengharapkan cintaku, aku tidak mau memberi harapan kepada siapa pun termasuk kamu," jelas Zaen.
Meski orang tuanya tidak mengatakan pada siapa ia dijodohkan, tapi ia tahu dari neneknya. Pada usianya 23 nanti, maka orang tuanya akan mengatakan semuanya. Entah kenapa mesti harus menunggu usianya di 23 tahun. Dan sekarang umurnya baru menginjak 21 tahun.
Ameera baru mendengarnya, dan itu pun langsung dari mulut Zaen sendiri.
"Siapa gadis itu? Siapa gadis yang beruntung mendapatkanmu?" tanya Ameera. "Tapi aku mencintaimu, Zaen. Sejak pertama kali aku pindah dan satu sekolahan denganmu aku langsung jatuh cinta padamu, aku masih setia menunggumu sampai sekarang dan kamu mematahkan hatiku saat ini juga." Ameera menitikkan air mata, karena mendapat penolakan dari lelaki yang ia cintai.
"Kalau memang tidak cinta tidak usah bilang kalau kamu sudah dijodohkan, itu seperti kamu menutupi isi hatimu sendiri. Katakan kalau kamu memang tidak mencintaiku, katakan?!" desak Ameera.
"Pergilah, jangan menggangguku lagi," usir Zaen.
Tak ada penolakan darinya, meski sikapnya dingin tak pernah sedikit pun ia menyakiti Ameera. Baru kali ini ia sampai membuat gadis itu menangis. Itu pun, ia berani setelah ia tahu bahwa ia memang dijodohkan.
***
Sepulang dari kantor, Zaen langsung pulang ke rumah Lusiana. Sekedar ingin curhat mengenai perjodohan yang direncanakan oleh kedua orang tuanya. Bila perlu ia menanyakan kepada Lisia, mungkin wanita itu tahu kepada siapa ia dijodohkan.
Saat tiba di rumah Lusiana, Zaen ditanyai oleh Lisia. Karena anak gadisnya mengatakan bahwa Lusiana akan pergi bersama Zaen. Namun, pada kenyataannya Zaen malah datang berkunjung ke rumahnya.
"Lalu kemana Lusia pergi?" tanya ibunya. "Anak itu sudah berani membohongiku," geram Lisia.
"Sudahlah, Mam. Jangan terlalu mengekangnya, biarkan dia menikmati masa remajanya."
"Apa kamu tidak khawatir? Dia itu anak gadis, Mammy takut dia salah bergaul, Zaen."
"Iya aku tau, tapi Lusia harus mengenal dunia luar juga. Dia pasti tau mana yang baik dan mana yang buruk."
__ADS_1
"Memang, kamu ke sini bukan untuk menemui anak Mammy?" tanya Lisia.
Zaen menggelengkan kepala, kedatangannya selain curhat pada Lusia tujuan utamanya hanya ingin menanyakan soal perjodohan itu. Zaen tidak mau dijodohkan apa lagi dengan orang yang tak ia kenal sama sekali.
"Lalu? Ada perlu sama, Mammy?" tanya Lisia.
"Iya, aku ingin menanyakan sesuatu pada Mammy. Apa Mammy tau siapa yang akan dijodohkan denganku?" tanya Zaen.
"Kamu tau dari mana?" Lisia dan Maura sudah sepakat untuk tidak mengatakan dulu soal perjodohan itu pada Zaen, karena mereka ingin melihat pertemanan anak-anaknya seperti apa. Meski ada perjodohan, tapi kalau tidak ada cinta dari anak-anaknya maka mereka akan membatalkan perjodohan itu.
"Omma yang bilang, tapi tidak tau juga itu benar atau tidak, saat aku tanya lagi tidak menjawab," terang Zaen.
"Apa kamu sudah mempunyai kekasih?" tanya Lisia.
"Kekasih sih belum, tapi ..."
"Tapi apa? Apa ada gadis yang ada dalam hatimu? Katakan?! Katakan pada Mammy siapa gadis itu?" Lisia berharap anaknya yang sukai Zaen, jika benar maka perjodohan dilanjutkan.
"Ada satu gadis yang selalu menggangguku, pokonya selalu merepotkanku," jawab Zaen.
"Apa kamu sungguh mencintainya?" tanya Lisia lagi.
"Maka dari itu, aku ingin tau siapa yang dijodohkan denganku. Aku tidak mau menyakitinya dan memberikan harapan palsu," jelas Zaen.
"Ternyata anak Mammy sudah besar ya, Mammy coba bicarakan masalah ini dengan Mommy-mu."
Perbincangan itu pun akhirnya selesai, saat itu juga Lisia langsung menemui Maura. Sepertinya ini sudah saatnya Zaen tahu siapa gadis yang akan dijodohkan dengannya. Apa lagi melihat kedekatan Lusiana dan Zaen yang cukup dekat.
***
Pertemuan diadakan di restauran, Lisia sengaja mengundang Maura juga suaminya. Mereka membicarakan mengenai perjodohan yang mereka rencanakan sejak anak-anak merekaaaih bayi. Lisia begitu antusias saat mengatakan bahwa sudah ada signal dari Zaen.
"Apa kamu serius?" tanya Maura. Ia tak begitu yakin kalau anaknya menyukai Lusiana. Setiap ia memperhatikan, Zaen dekat dengan gadis itu tak lebih dari seorang adik. Tapi mendengar penuturan Lisia, mengarah pada kedekatan Zaen dan Lusiana.
__ADS_1
Semoga saja dugaan Lisia benar, jika benar itu lebih baik.
"Jadi bagaimana? Apa kita pertemukan keduanya dan langsung mengatakan bahwa mereka memang dijodohkan?" ujar Lisia.
"Kalau mereka memang saling cinta menunggu apa lagi? Aku setuju-setuju saja, mereka juga sudah cukup dekat," sambung Rayyan.
Namun, hati kecil Maura berkata lain. Insting seorang ibu tidak mungkin salah. Melihat kegirangan Lisia membuat Maura tak bisa berkata apa-apa.
Makan malam berakhir dengan cepat, mereka pulang ke rumah masing-masing. Pada saat Rayyan dan istrinya sampai, di sana ada Lusiana bersama Zaen. Bibirnya tersenyum, mungkin benar apa yang diucapkan Lisia. Zaen menyukai Lusiana. Pasangan remaja itu tengah bersendau gurau sambil melihat tayangan di tv.
"Aunty," sapa Lusiana. Maura tersenyum seakan menyuruh mereka melanjutkan momen berdua.
"Lihat, apa kata Lisia benar. Zaen dan Lusiana saling suka, tapi kenapa mereka diam-diam saja ya? Apa gengsi karena kita bersahabatan dengan orang tua Lusiana?" kata Rayyan.
"Apa mungkin belum berani mengatakan cinta?" ujar Rayyan lagi. Melihat umur anaknya yanf memang baru berusia 21 tahun dan Lusiana 19 tahun, jadi wajar kalau mereka belum saling terbuka, pikir Rayyan.
***
"Kira-kira siapa ya gadis yang dijodohkan denganku?" tanya Zaen.
Lusiana hanya mengangkat kedua bahu sebagai jawaban. "Emangnya kamu mau dijodohin? Aku sih ogah, apa lagi tidak mengenalnya."
"Tapi kalau mengenalnya bagaimana? Kalau kamu ada diposisiku kamu mau bagimana? Apa akan menerima perjodohan itu?"
"Kalau kayak gitu mungkin aku bisa dipertimbangkan, tapi lihat dulu siapa yang orangnya. Saling mengenal juga kalau orangnya tidak sesuai dengan kriteria mau bagaimana lagi?"
"Kamu melihatku itu orangnya seperti apa? Dalam pandangan pribadimu?" tanya Zaen.
Lusiana menyentuh dagu sambil berpikir. "Tentangmu, apa ya? Kamu baik, ganteng, mapan juga, pasti tidak akan ada yang menolakmu," jelas Lusiana.
"Termasuk kamu?" kata Zaen.
Lusia terdiam sesaat, menatap wajah Zaen lekat-lekat. "Aku tidak menyukaimu."
__ADS_1
"Bohong, kamu bilang tidak ada gadis yang akan menolakku, termasuk dirimu." Zaen terkekeh menggoda gadis itu.