
Setelah mendapat kabar dari Nolan, Rayyan langsung mengerahkan beberapa orang untuk berjaga di perusahaan yang tengah ia bangun di tanah milik nyonya Merlin, bahkan ia sendiri akan mengecek lansung ke sana tapi tidak sekarang. Ia harus meluruskan soal tuduhan istrinya yang mengatakan bahwa ia tak bisa hidup tanpa wanita.
Rayyan menyuruh Leon segera pergi untuk membereskan kekacauan, sekalian mencari di mana Alex bersembunyi. Pria licik itu harus ia musnahkan, ia takut kalau anaknya akan menjadi sasaran keserakahan orang-orang yang gila harta.
Kini, Rayyan menemui istrinya yang tengah bermain bersama baby Zaen. Suara tawa baby Zaen sangat terdengar. Pria itu tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu. Perlahan ia menghampiri dan ikut bergabung.
Maura melihat keberadaan suaminya dan menggeserkan tubuh memberi ruang karena suaminya juga jngin ikut bergabung. Mata baby Zaen langsung terarah, betapa lucunya bayi mungil itu. Rayyan menggendongnya dan menerbangkan di udara. Seketika, suara baby Zaen menggema.
Maura memukul suaminya karena ia tak ingin anaknya dibegitukan.
"Dia masih kecil jangan dibuat terbang," ujar Maura.
"Tapi dia menyukainya, dulu juga aku sering begini sama papa," jelas Rayyan.
Maura tidak mengalami seperti suaminya, dari kecil ia hidup sendiri di gubuk tua yang ada di dekat hutan itu. Hidupnya sangat malang, tapi ia mensyukuri hidupnya. Tak pernah mengeluh meski sering kesusahan. Dulu, ia hidup bersama wanita tua, tapi wanita tua itu pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Melihat kedekatan mereka membuat Maura menitikkan air mata, ia terharu betapa sayangnya suaminya kepada anaknya itu. Maura mengusap sudut mata yang nampak basah, dan Rayyan melihat itu. Suaminya akhirnya menarik tubuhnya kedalam dekapan sehingga tak hanya baby Zaen yang berada dalam pelukkannya.
"Kamu tidak sendiri, ada aku yang akan menjagamu. Kita akan hidup bahagia, hanya kamu wanita yang aku punya," jelas Rayyan.
"Bohong," ucap Maura tidak percaya.
"Dengan cara apa aku harus membuktikannya? Kamu sendiri tidak mau tau tentangku."
"Kalau cuma aku kenapa waktu itu tidak langsung bertanggung jawab?"
"Karena aku belum siap, aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain dirimu."
"Pengecut," kesal Maura.
__ADS_1
"Tapi sekarang aku sudah menikahimu, jangan bilang kalau aku masih pria brengsek yang tidak bertanggung jawab, semua orang memiliki kesalahan di masa lalu, dan itu salah satu kesalahan terbesarku di dunia ini. Maafkan aku karena keegoisanku menyusahkanmu."
Maura tersenyum tipis. Baby Zaen hanya mendengarkan sambil ikut tertawa karena ia merasa kalau kedua orang tuanya mengajaknya mengobrol.
Hari sudah semakin siang, baby Zaen menguap. Mungkin anak itu sudah mengantuk.
"Sepertinya Zaen ngantuk, kamu tidurkan saja dulu. Aku mau menghubungi Leon, apa dia sudah sampai di kantor," kata Rayyan.
***
Leon sudah sampai di perusahaan, menemui Nolan di sana. Saat ia sampai, ia melihat seorang gadis tengah membereskan tempat kerjanya akibat kekacauan yang dilakukan oleh anak buah Alex. Leon menghampirinya untuk menanyakan di mana Nolan berada.
"Permisi, Nona. Saya ingin bertemu dengan Nolan," ujar Leon.
Wanita itu menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh ke sumber suara. Saat wanita itu menoleh ternyata ia pernah bertemunya waktu pertemuan pertama dengan Maura. Ya, gadis itu adalah Lisia yang selalu mengejar cinta Nolan dalam diam, bahkan hingga sampai saat ini cintanya masih bertepuk sebelah tangan.
"Anda yang bersama Tuan Rayyan 'kan?" tanya Lisia.
"Bagaimana kabar Maura? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lisia. Yang ia tahu Maura dibawa oleh Rayyan saat keributan itu terjadi. "Aku rindu sekali dengan baby Zaen," ucapnya.
"Maura baik-baik saja, baby Zaen akan lebih aman jika berada bersama ayahnya," terang Leon lagi.
"A-ayah? Si-siapa ayah baby Zaen?" tanya Lisia.
Tak lama, Nolan datang. Ia melihat keakraban antara Leon dan Lisia. "Kalian sudah saling mengenal?" tanya Nolan.
Lisia dan Leon langsung menoleh ke arah suamber suara.
"Ya, kami pernah bertemu waktu itu," jawab Leon.
__ADS_1
"Iya, kami bertemu bersama Maura," jelas Lisia. Ia tak ingin ada yang disembunyikan karena ia ingin Nolan tahu semuanya. Tapi sayang, sikap Nolan masih dingin sehingga Lisia tak lagi berucap.
"Kita bicara di dalam," ajak Nolan.
Lisia membiarkan mereka pergi, Nolan masih cuek dan tak melihat ada perhatian dari Lisia kepadanya. Nolan hidup sangat serius, tanpa diketahui Lisia kalau ternyata Nolan sudah memiliki kekasih, Leon sendiri pernah melihatnya.
Sebelum mereka pergi, Leon melihat tatapan Lisia yang berbeda kepada Nolan. Ia bisa menebak kalau gadis itu memiliki perasaan, cinta yang bertepuk sebelah tangan pastinya.
***
Di dalam ruangan, Nolan dan Leon berbincang sangat serius. Semua utusan Rayyan disampaikan kepada Nolan. Bahkan Leon mengatakan bahwa Maura dan Rayyan kini sudah menikah.
"Tuan Rayyan berpesan, dia menitipkan perusahaan ini padamu. Tuan Rayyan tidak mengizinkan Muara keluar tanpa dirinya," kata Leon.
"Itu lebih baik, Alex belum ditemukan. Kita tidak boleh menganggapnya enteng, dia itu licik dan anak buahnya cukup banyal. Alex menginginkan harta nyonya Merlin, dan dia mengincar baby Zaen," terang Nolan.
"Tak hanya Alex, tuan Said juga ingin menyingkirkan baby Zaen," jelas Leon.
Mereka berdua sepakat untuk memperketat penjagaan, mereka tidak boleh lengah menghapapi orang licik seperti Alex.
***
Maura tengah menidurkan baby Zaen. Dan Rayyan menemui istrinya yang tengah meringkuk memberikan ASI-nya. Bukan cuma baby Zaen yang tertidur, Maura pun ikut terlelap.
Karena tubuhnya merasa kurang vit, akhirnya Rayyan pun ikut merebahkan tubuhnya di sofa. Ia tak mengganggu istrinya sedikit pun. Ternyata, Muara tidak benar-benar tidur, ia pun akhirnya terbangun dan melihat suaminya tidur di sofa. Rayyan membuktikan ucapannya. Pria itu tak akan memaksanya sehingga Rayyan tak berani mengganggu tidurnya.
Ada rasa kasihan pada pria itu, Maura mengambil selimut untuk menghangatkan tubuh suaminya. Udara di sana cukup dingin karena villa terletak di dekat danau. Perlahan, Maura menyelimuti tubuh suaminya. Rayyan pun membuka mata, dapat merasakan sesuatu menyentuh kulitnya. Tatapan mereka beradu, dan Maura mendudukkan diri di sebelah suaminya.
"Maaf, aku tak bermaksud mengganggu istirahatmu. Kamu boleh pindah di kasur bersama baby Zaen," terang Maura.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Rayyan malah menarih pinggang istrinya sehingga Maura berada di atas tubuhnya. Maura tidak lagi berontak, karena tidak ada larangan untuk suaminya melakukan apa pun padanya. Akhirnya, Maura mendaratkan kepala di dada bidang suaminya. Rayyan pun mengecup kepala istrinya. Ia akan menunggu sampai istrinya benar-benar siap menerimanya sebagai suami.
Mereka pun akhirnya tertidur bersama di sofa, entah apa yang akan terjadi nanti. Yang jelas mereka beristirahat siang ini. Tangan Rayyan yang terluka pun masih berdenyut merasakan nyeri akibat timah panas yang menggesek kulitnya.