
Yang ada dalam pikiran Rayyan sekarang itu menemui cucu nyonya Merlin, dan untuk gadis itu, ia memang tidak bisa mengabaikannya. Apa lagi ia tidak tahu kelanjutannya, gadis itu hamil atau tidak? Bagaimana pun ia merasa melakukannya tapi gadis itu malah menolak kompensasi darinya.
Rayyan, kini tengah berkacak pinggang di depan cermin. "Bagaimana? Apa penyamaranku sudah oke?" tanyanya pada Leon.
"Bos serius mau ke rumah nyonya Merlin dengan menyamar seperti ini?" tanya Leon.
"Iya, aku rasa cuma dengan cara ini bisa menyeludup ke rumah itu. Malam ini juga aku akan mendapatkan tanda tangan cucu nyonya Merlin itu, hanya dia yang bisa menyelesaikan masalahku." Rayyan tidak mungkin menunggu satu tahun untuk membangun proyeknya ia harus membuka lapangan kerja untuk penduduk di sana.
"Kalau cucu nyonya Merlin menolak bagaimana? Dia 'kan pemilik aslinya, nanti malah semakin kacau," ujar Leon.
"Usaha dulu, kamu sendiri tidak bisa menyelesaikannya. Aku sendiri yang harus turun tangan, sudahlah, aku pergi sekarang nanti terlambat."
Rayyan menyamar sebagai supir di sana, kebetulan ia bisa menyelinap ke sana.
***
Rayyan sudah sampai di kediaman nyonya Merlin, tugasnya malam ini adalah menjemput dokter. "Siapa yang sakit? Apa jangan-jangan ini alasan harus menunggu satu tahun untuk menemui cucunya itu, apa dia yang sakit?" batin Rayyan. Ia sudah menyembunyikan diri dengan menggunakan masker serta topi untuk menutupi jati dirinya.
Dari belakang ia mengoker, kemana pun dokter pergi ia mengikutinya. Ia tak boleh ketinggalan jejak, ia harus tahu di mana pewaris nyonya Merlin itu. Beruntung, tak ada Nolan di sana Sehingga Rayyan bisa lebih leluasa untuk mencati informasi di sana.
Dokter masuk ke dalam ruangan, tapi sayang, Rayyan tidak boleh masuk karena tidak ada kepentingan di sana. Keadaan Maura benar-benar dijaga ketat, nyonya Merlin tidak mau kejadian lalu terulang. Cucunya pergi tanpa sepengetahuannya.
Mau tak mau, Rayyan menunggu sampai dokter selesai memeriksa. Padahal ia ingin sekali masuk, tapi penjaga itu tidak bisa dikelabui. Tak lama, dokter keluar dan memanggil Rayyan dengan sebutan pak supir.
"Boleh saya minta tolong? Sepertinya ada yang ketinggalan di mobil, tolong ambilkan dan antar ke dalam," ujar dokter.
Tentu dengan senang hati Rayyan akan melakukannya karena ini kesempatan baginya untuk bisa masuk ke dalam dan bertemu langsung dengan cucu nyonya Merlin. Rayyan sudah kembali dengan bawaannya di tangan. Penjaga itu membuka pintu dan Rayyan masuk.
Meski sudah berada di dalam, ia tak dapat melihat dengan jelas wajah sang cucu nyonya Merlin itu, wajahnya tertutup masker seperti dirinya. Rayyan mendekat dan saat itu juga ia melihat wajah sang pewaris itu. Betapa terkejutnya ia saat melihatnya. "Gadis itu?" batinnya.
__ADS_1
"Maaf, saya permisi sebentar. Saya ke toilet sebentar," pamit dokter.
Dan ini kesempatan bagi Rayyan, ia melepas masker dan topi. Maura yang melihat sangat terkejut. Gadis itu beringsut, malah ia berpikir apa jangan-jangan pria ini sudah mengetahui soal kehamilannya? Dan akan menyuruhnya menggugurkannya?
Rayyan mengeluarkan sebuah map dari balik pakaiannya, mengambil balpen dan menyodorkannya kepada Maura.
"Saya mau kamu tanda tangan ini." Maura mengira itu perjanjian kemarin, sehingga ia pun berniat menandatanganinya karena tak ingin ada urusan lagi dengan pria itu. Baru saja Maura akan menandatanganinya, tiba-tiba ...
"Hentikan!" teriak seorang pria yang tak lain adalah Nolan. "Kau!" ucap Nolan saat melihat Rayyan. "Sedang apa kamu di sini? Kamu mendesaknya agar menandatanganinya? Jangan harap! Kamu jangan memaksa istriku untuk tanda tangan," ujar Nolan.
"Istri?" ulang Rayyan. Bukan hanya Rayyan yang terkejut, Maura pun terkejut karena ia bukan istrinya. "Jadi? Aku tidur dengan istri orang? Yang benar saja?" batin Rayyan.
"Jangan menghalalkan segala cara, saya minta Anda keluar jangan menganggu istriku yang sedang hamil," terang Nolan.
"Ha-hamil?" Rayyan tak habis pikir dengan dirinya sendiri, kenapa ia bisa tidur dengan istri orang dan sekarang tengah hamil? Shock, ia pun segera pergi dengan tangan kosong.
***
"Wah, sudah pulang, Bos. Bagaimana? Sudah berhasil?" tanya Leon, ia yakin kalau bosnya pasti gagal. Melihat raut wajahnya yang kusut pasti rencananya tidak sesuai dengan harapan.
"Dia sudah menikah, Leon. Aku tidur dengan istri orang, aarrhhh ..."
Leon bingung, apa yang dimaksud bosnya itu? Sudah menikah? Tidur dengan istri orang?
"Gadis itu, gadis yang tidur bersamaku ternyata cucu nyonya Merlin, dan yang lebih buruknya lagi dia sudah menikah dan sekarang tengah hamil," jelas Rayyan. "Lupakan gadis itu, aku rasa tidak perlu tanggung jawab padanya, aku tidak mungkin menikahi istri orang," ujarnya lagi.
Leon tidak begitu yakin, apa lagi melihat bercak darah itu. Ini pasti ada kekeliruan, pikirnya.
"Lanjutkan pembangunan itu, aku tidak mau tau. Lakukan besok juga!"
__ADS_1
***
Perintah dari Rayyan Smith langsung lakukan. Leon mengerahkan pekerja, dan bangunan itu membutuhkan hampir 3 tahun untuk menyelesaikan bangunannya. Tanpa diketahui oleh keluarga nyonya Merlin bahwa tanahnya kini tengah digarap oleh perusahaan yang dinaungi langsung oleh Rayyan Smith.
Nolan dan nyonya Merlin sendiri tengah sibuk mengurus Maura karena kehamilannya yang harus dirawat, wanita itu jatuh sakit saat mengandung. Tidak bisa menampung makanan sedikit pun sehingga harus lebih intensip saat merawatnya.
Gadis itu terkulai lemas, ia beruntung berada bersama nenek itu. Tak bisa membalas budi sehingga ia mengabdikan diri sebagai Morena, cucu dari nyonya Merlin yang sudah meninggal.
"Maaf selalu merepotkanmu," kata Maura. Ia merasa tidak enak selalu merepotkan Nolan, apa lagi Nolan yang menjadi sebagai ayah biologis dalam daftar di rumah sakit. Ia harus menjaga nama baik nyonya Merlin.
"Maaf untuk apa? Justru aku yang berterima kasih, keberadaanmu membuat nenek semangat lagi bahkan jauh lebih bugar. Kamu jangan hiraukan itu ya, sehatlah dulu. Setelah melahirkan nanti kamu siap menjadi Morena 'kan? Rebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik nona Morena," ujar Nolan.
Maura mengangguk, ia akan melanjutkan semua yang sudah tertunda.
"Boleh aku tanyakan seuatu?" tanya Nolan.
"Apa?" jawab Maura.
"Kamu kenal dengan Rayyan Smith? Itu yang kemarin malam minta tanda tanganmu, jangan tanda tangan apa pun kalau dia datang lagi," pesan Nolan.
"Aku kira ..."
"Kira apa?" pungkas Nolan.
Akhirnya, Maura menceritakan semuanya termasuk urusannya dengan pria itu. Nolan sampai terkejut saat tahu bahwa pria itu ayah dari anak yang di kandung Maura.
"Kamu jangan khawatir, dia tidak akan mengganggumu. Berarti aku tidak salah dengan ucapanku kemarin bukan?" jelas Nolan.
Maura tersenyum karena Nolan sudah membantu menyembunyikan kehamilannya, ia takut pria itu nekat menyuruhnya menggugurkannya.
__ADS_1