
"Terima kasih." Leon mengecup kening Lisia. Dan wanita yang sudah tidak suci lagi hanya menganggukkan kepala pelan. Menahan sakit di area sensitifnya. "Tidurlah." Leon kembali mengecup keningnya lalu menarik selimut untuk menghangatkan tubuh istrinya.
Tanpa menunggu lama lagi, mereka langsung tidur bersama. Rasa lelah itu terbayar dengan rasa nikmat yang tak bisa diungkapkan kata-kata. Semua akan terasa indah jika disertai kesabaran, begitu pula dengan mereka. Sampai pada akhirnya, mereka bertemu setelah hati terpatahkan. Tergantikan dengan sebuah keindahan dan kebahagiaan.
_
_
_
Dua bulan kemudian.
Hoekk ... Hoekk ...
Terdengar dari arah kamar mandi.
"Kamu kenapa sayang?" Rayyan nampak khawatir dengan istrinya.
Maura tak menjawab, sepertinya ia sudah tahu pertanda itu. Saat hamil Zaen pun seperti ini. Wanita itu hanya membasuh mulut membersihkan sisa muntahan.
"Apa perlu kita ke dokter?" Maura menggelengkan kepala.
"Belikan obat mual saja di apotik." Maura memberikan resep obat pas ia mual saat mengandung baby Zaen.
"Oke, aku akan menyuruh Leon untuk membelikannya."
"Jangan suruh dia, aku maunya kamu yang beli."
"Aku atau Leon 'kan sama saja."
"Gak mau, pokonya harus kamu!"
"Tapi aku mau meeting."
"Gak mau tau!"
"Ada apa sih? Pagi-pagi sudah ribut?" tanya Elena yang kebetulan baru saja tiba, karena pintu kamar mereka terbuka sehingga perdebatan di antara anak dan menantunya terdengar.
"Beli obat, Ma. Aku atau Leon yang beli 'kan sama saja," jawab Rayyan.
"Obat apa memangnya?" tanya Elena.
"Ini." Rayyan memperlihatkan sebuah kertas yang bertuliskan obat tersebut.
Elena yang mengetahui obat itu langsung tersenyum bahagia. "Sudah sana belikan, jangan membantah."
__ADS_1
"Mertua sama mantu sama saja." Meski begitu, Rayyan tetap pergi. Ia tak akan menang melawan mereka.
***
"Ke apotik," suruh Rayyan kepada Leon.
"Ke apotik? Kita harus segera ke kantor, meeting tidak bisa ditunda," ucap Leon.
"Sudah, jangan membantah! Undur meeting jam 10."
Leon hanya menghela napas, mana bisa meeting diundur? Yang ada harus buat jadwal ulang karena meeting hari ini dengan MR Joseph yang berasal dari Hongkong. Mana susah buat jadwal dengannya. Tapi apa boleh buat? Ia tak mau kena amukan dari bosnya itu. Lagian, obat apa yang akan dibeli sampai dirinya yang harus turun tangan?
Rayyan nampak melihat sebuah kertas yang bertuliskan obat itu, dan Leon pun melihatnya dari kaca mobil yang menggantung di tengah.
"Obat apa sih, Bos?" tanya Leon yang masih berkemudi.
"Tidak tau, hanya disuruh beli obat mual."
"Coba tanya sama mbah google, obat apa itu? Aku jadi penasaran."
Rayyan meraih benda pipihnya langsung mencari tahu, alisnya mengerut karena saking khusunya membaca kegunaan obat yang akan dibelinya. "Mual, pusing." Seketika, Rayyan berjingkrak-jingkrak. Leon yang melihat sampai terkejut dibuatnya. Namun, ia kembali terdiam karena melihat usian Zaen yang baru berumur 5 bulan. Jaraknya terlalu dekat, padahal Zaen tidak cocok susu formula. Semoga ada solusinya.
"Leon ...," panggilnya gemas.
"Ada apa?" Sesekali Leon menoleh.
"Wah, selamat, Bos. Aku turut bahagia."
"Kamu kapan? Kalian juga sudah 2 bulan ini menikah, aku tunggu kabar baiknya."
Leon hanya tersenyum tipis, ia hanya bisa berdoa semoga istrinya cepat hamil.
_
_
Di kediaman Maura.
Wanita itu tengah memakan mangga muda di pagi ini. Lisia yang baru saja tiba di rumahnya pun melihatnya. "Tidak salah pagi-pagi gini makan rujak?" Wanita itu sampai bergidik.
"Ngilangin pusing, sepertinya kehamilan sekarang lebih parah dari kehamilan pertama," ujar Maura.
"Ha-hamil? Serius?!" Lisia belum begitu percaya. "Gak pasang pengaman emangny?"
Maura menggelengkan kepala. "Terlambat, sudah keduluan anu makanya gak KB sekalian." Maura terus memakan mangga mudanya sampai habis.
__ADS_1
"Mama dulu juga gitu, jam segini sudah makan rujak," timpal Elena sambil menggendong Zaen. "Zaen, lihat Mommy-mu. Sebentar lagi kamu akan punya adik," tuturnya. Seakan mengerti, Zaen tertawa senang. "Baik-baik ya selama Mommy mengandung adikmu." Elena menciumi Zaen dengan sangat gemas.
"Sudah periksa?" tanya Lisia.
"Belum, tapi aku yakin kalau aku hamil. Sudah telat beberapa minggu, terus mual dan pusing. Sesuai pengalamanku begitu," jawab Maura.
"Tapi akan lebih baik diperiksa," kata Lisia lagi.
"Iya, mungkin besok aku periksa. Sekarang lagi malas kemana-mana, maunya tuh rebahan aja di kamar."
Lisia menyentuh perutnya, sudah lama juga ia menikah tapi tidak ada tanda-tanda hamil. Bahkan saat ini saja lagi datang bulan. Tapi ia tak boleh menyerah, ia akan terus berusaha.
Tak berselang lama, Rayyan sudah kembali bersama Leon. Ia tidak tahu kalau ada istrinya di sana. Rayyan juga membatalkan meeting pada akhirnya, ia akan menemani istrinya di rumah. Mengingat dulu, ia tak bersama Maura saat hamil Zaen, dan sekarang ia akan menebus kesalahannya.
"Sayang, kamu di sini juga?" sapa Leon pada istrinya.
"Iya, aku bosan di rumah. Makanya ke sini, kamu gak ke kantor?" tanya Lisia.
"Ini baru mau berangkat, ayo, Bos?" ajak Leon kemudian.
"Kamu saja, ajak istrimu sekalian. Gantikan aku hari ini, aku akan di rumah seharian ini bersama istriku." Rayyan langsung menghampiri istrinya dan ikut duduk di sebelahnya. "Ma, aku titip Zaen juga. Ibu hamil harus banyak istirahat."
"Aku gak apa-apa kok, ngapain mesti istirahat? Zaen masih membutuhkanku, selama ASI-ku masih banyak aku akan tetap menyusui," terang Maura.
"Emang boleh, Ma?" tanya Rayyan.
"Boleh saja, asal perbanyak istirahat dan makan makanan yang bergizi. Itu juga kalau tidak ada keluhan dari kandungannya, terkadang saat hamil ASI berkurang juga. Apa lagi dibagian put*ng saat hamil akan terasa sakitnya luar biasa," jelas sang mama.
"Tuh, dengerin. Bukan cuma Zaen aja yang diurus, dede bayi yang ada dalam kandungan harus lebih dijaga ketat. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa," ujar Rayyan.
"Tapi Zaen tidak minum susu formula," protes Maura.
"Nanti dicoba lagi ya, siapa tau Zaen mau."
Leon dan Lisia hanya mendengarkan, ada rasa iri dari dalam hati wanita itu. Ia juga sangat menginginkan hadirnya sosok bayi mungil melengkapi keluarga kecilnya. Karena memang sudah diperintahkan untuk segera ke kantor, Leon pun akhirnya berangkat bersama istrinya.
***
Di dalam mobil, Leon dan Lisia tidak bercakap. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, mendengar istri dari bosnya hamil lagi membuat mereka lebih ingin mendapatkan momongan.
"Sayang, nanti kita lebih giat lagi ya buat dede bayi," ucap Leon.
"Aku lagi datang bulan, baru hari ini," jawab Lisia.
Leon langsung lemas saat mendengarnya, baru saja ia bersemangat. "Ya sudah tidak apa-apa, bisa lain waktu, apa perlu kita bulan madu lagi setelah selesai datang bulan? Kata orang-orang setelah selesai datang bulan biasanya subur."
__ADS_1
Lisia mengangguk sambil tersenyum. "Kamunya juga sibuk terus, aku yakin bosmu pasti sering bolos karena istrinya lagi hamil. Siap-siap saja sibuk kerja terus," tutur Lisia lagi.