
Rayyan langsung saja mendobrak pintu kamar mandi, dan di lihatnya ternyata Maura tengah berjongkok di sudut dinding dengan menutup telinga. Maura hanya mengenakan handuk saja sambil gemetar. Bagaimana tidak gemetar? Peluru itu hampir saja mengenai tubuhnya.
Rayyan langsung menghampiri dan menarik lengan istrinya sambil menggendong baby Zaen. Rayyan juga langsung mengambilkan baju untuk istrinya. Tempat yang ia tempati sudah tidak aman, musuh benar-benar ingin melenyapkan anaknya yang sebagai ahli waris keluarga.
"Pakai bajumu, kita segera pergi dari sini," ajak Rayyan.
"Tapi di luar?" Maura sangat takut, terlebih takut pada anaknya. Karena mereka hanya mengincar anaknya. "Siapa mereka? Alex apa keluargamu?" tanya Maura.
"Sepertinya suruhan Said, dia kakaknya papa," jelas Rayyan.
"Saudaramu itu jahat sekali," kesal Maura, ia tengah memakai baju dengan sangat cepat. "Bagaimana caranya kita keluar? Aku takut."
"Tenang, kita bisa lewat ruangan bawah tanah," kata Rayyan. "Tunggu sebentar, aku hubungi Leon dulu. Dia kemana? Kenapa tidak ke sini?" ujarnya lagi.
"Sini, berikan Zaen padaku." Maura sudah siap menggendong baby Zaen menggunakan kain panjang agar bayi itu melekat erat di tubuhnya. Sementara itu, Rayyan menghubungi Leon menyuruh laki-laki itu untuk menjemputnya di ujung jalan ruang bawah tanah yang menembus langsung ke jalan raya.
***
Setapak demi setapak Rayyan dan Maura melewati lorong panjang itu, jalan ruang bawah yang menjadi tempat rahasia mereka. Genggamannya tak terlepas dari tangan sang istri. Butuh memakan waktu 2 jam untuk melewati lorong panjang itu karena mereka menyebrang danau yang sudah dirakit sejak lama oleh para pegawai.
Lorong itu nampak gelap, Rayyan menggunakan cahaya dari senter ponselnya. Kucuran keringat mulai membanjiri tubuh, di sana tidak ada udara sehingga membuat Maura sedikit sesak napas dan baby Zaen sudah mulai rewel.
"Bisa lebih cepat?" tanya Rayyan. Ia tahu kondisi istrinya sehingga ia meminta baby Zaen dialihkan padanya. Namun, itu menambah waktu berada di dalam sana sehingga Maura tak menyerahkan baby Zaen. Sekuat mungkin ia menahan dan melewati lorong tanpa udara itu.
"Aku masih kuat," kata Maura tersengal.
Rayyan semakin mengeratkan genggaman, ia bukan tak bisa melawan mereka. Ia lebih mementingkan istri dan anaknya. Lagi pun, jumlah mereka lebih banyak.
Sampai pada akhirnya, mereka pun akhirnya sampai di penghujun jalan. Disambut langsung oleh Leon di sana. Rayyan dan Maura langsung masuk mobil, dan terkejut saat melihat seorang gadis di sana.
"Maura," panggil gadis itu yang tak lain adalah Lisia.
__ADS_1
"Lisia, kamu di sini?" tanya Maura. Baby Zaen sangat rewel waktu itu, tubuh baby Zaen sangat berkeringat.
"Ra, buka baju baby Zaen. Sepertinya dia gerah," kata Lisia.
"Perlu kita kerumah sakit?" tanya Rayyan. "Wajahmu pucat sekali." Rayyan melihat wajah istrinya penuh dengan keringat. "Maafkan aku," ujarnya lagi.
Maura menggelengkan kepala, ia tidak apa-apa hanya merasa lelah saat berjalan di lorong tadi. Maura langsung memberikan ASI-nya pada baby Zaen dan bayi itu pun terhenti dari tangisan. Mereka langsung pergi ke rumah yang memang sudah disiapkan Rayyan.
***
"Sial!" rutuk Said. Mereka tak menemukan keberadaan Rayyan dan bayi itu. "Ini jejak mereka," ucap Said. Melihat handuk yang masih basah dan melihat baju-baju bayi, ia yakin kalau tadi mereka ada di sini. Tapi sayang, Said tak dapat menemukan mereka karena Rayyan dan Maura sudah pergi tanpa meniggalkan jejak.
Jalan rahasia tidak ditemukan oleh Said, sampai pria itu semakin uring-uringan karena tidak berhasil membawa anak dari keponakannya. Rasanya sia-sia datang kemari namun hasilnya nihil. Rayyan memang tidak bisa disepelekan, diam-diam pria itu ternyata cerdik. Bahkan ia bisa merahasiakan anaknya sampai terlahir ke bumi ini.
"Arrgghhh ..." Said menghancurkan barang-barang di sana. Bahkan para pegawai di sana hanya bisa mengumpat karena Rayyan sudah menyuruh mereka untuk bersembunyi.
Karena tidak ada siapa-siapa, Said dan anak buahnya pun pergi dari sana. Tapi sebelum pergi, anak buah Said benar-benar menghancurkan villa itu sampai tidak ada yang tersisa. Semua barang rusak dan Said merasa puas.
***
"Sayang, bangun," bisik Rayyan di telinga istrinya.
"Emm, di mana kita?" tanya Maura. Lalu ia mengecek baby Zaen, tubuh anak itu sedikit demam membuatnya menjadi panik. "Zaen demam," kata Maura.
Rayyan langsung menyentuh kening anaknya, tubuh anak itu memang panas. Rayyan langsung menyuruh Leon menghubungi dokter.
"Panggil dokter," titah Rayyan. Lalu ia mengajak istrinya turun dari mobil.
"Baik," jawab Leon.
Tanpa bertanya ini rumah siapa, Maura langsung segera masuk karena baby Zaen tengah sakit. Ia ingin segera sampai ke dalam untuk mengompres anaknya dengan cara manual. Hal pertama yang dilakukannya adalah membuka baju baby Zaen dan meletakan kain basah di ketiak bayi berusia 3 bulan itu.
__ADS_1
Dan Lisia membantu menyiapkan semuanya.
"Terima kasih," kata Maura pada Lisia. Gadis itu mengangguk dan ikut cemas saat tahu baby Zaen sakit.
"Ra, bagaimana ceritanya bisa seperti ini?" tanya Lisia.
Maura tak menjawab, ia malah menoleh ke arah suaminya. "Ceritanya panjang," kata Rayyan. "Sebaiknya kamu istirahat selagi dokter belum sampai, apa mau mandi biar aku siapkan air hangat?" tanya Rayyan lagi.
"Iya, sepertinya aku butuh membersihkan diri. Tubuhku sangat lengket," jawab Maura. "Sa, aku titip Zaen sebentar." Lisia kembali mengangguk.
Tak berselang lama, dokter pun datang dan langsung memeriksa baby Zaen.
"Bagaimana, Dok?" tanya Rayyan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bayi Anda baik-baik saja. Ini hanya demam biasa," jawab dokter.
Maura pun akhirnya selesai mandi dan langsung menemui putranya. "Anak kita baik-baik saja," ujar Rayyan pada istrinya.
Maura bernapas lega, ia takut anaknya kenapa-kenapa. Syukur kalau tidak apa-apa, pikirnya.
"Tapi ini bagus, langsung dikompres jadi panasnya lebih cepat turun," kata dokter lagi. Karena sudah selesai dengan pemeriksaan itu, dokter pun pamit undur diri.
Leon dan Lisia ikut mengantar dokter sampai depan.
"Kamu mau nginap apa mau pulang?" tanya Leon pada Lisia. "Kalau mau pulang aku bisa mengantarmu."
"Nginap saja, aku masih ingin bersama Maura di sini," jawab Lisia.
"Hmm, baiklah." Leon malah suka Lisia di sini, ia ingin tahu bagaimana reaksi Nolan saat tahu Lisia tidak ada. Sikap Nolan sedikit berbeda kepadanya. Apa lagi Lisia lebih terbuka padanya ketibang pada Nolan.
Ternyata, dugaannya benar. Nolan langsung menghubunginya lewat chat dan menanyakan Lisia padanya. Sayang, Leon tak membalas chat dari Nolan dan langsung malah mematikannya.
__ADS_1
"Biar rasa kamu!" rutuk Leon dalam hati.