
Wanita itu berjalan dengan sangat anggun menghampiri Rayyan. Pasca kejadian satu tahun silam membuat gadis itu terpaksa menghilang karena Rayyan membencinya. Namun, kali ini ia datang dengan hati baik. Ia sudah salah dengan melakukan percobaan waktu itu.
Ya, Liza datang untuk meminta maaf. Jika dulu ia berambisi untuk mendapatkan hati Rayyan, tapi tidak untuk kali ini. Ia tak bisa tinggal diam saat ada orang yang ingin menjelekkan namanya. Liza kenal betul siapa Rayyan.
"Liza," ucap mama Rayyan.
"Ya, Tante," jawab Liza. "Tante harus percaya kalau Rayyan tidak mungkin melakukan itu," katanya lagi.
Orang tua Carla langsung menatap wajah putrinya, kalau bukan Rayyan lalu siapa pelakunya? Carla yang malu pun akhirnya beranjak hendak meninggalkan rumah calon suaminya itu, begitu pun dengan orang tua Carla. Dengan kejadian ini, membuat Rayyan tidak perlu bersusah payah untuk menggagalkan pernikahan itu. Nasib baik masih berpihak padanya. Tapi ia merasa kasihan kepada Carla, bagaimana pun ia cukup mengenal siapa wanita itu. Ia harus menyelidiki siapa yang telah berbuat jahat kepada Carla.
Tapi sayang, Rayyan masih belum bisa memaafkan Liza sahabatnya itu. Rayyan kira, tidak perlu membahas masalah Carla lagi kepada orang tuanya. Ternyata, cinta memang tidak bisa dipaksakan, pikir orang tua Rayyan. Kejadian ini membuatnya harus lebih hati-hati lagi menilai seseorang. Carla terlihat lembut dan sopan, tapi tak menyangka dibalik itu semua tersembunyi kenalakan gadis itu.
"Rayyan, tunggu." Liza menghampiri. "Kamu masih belum bisa memaafkanku?" tanya Liza.
"Tidak perlu basa-basi, masih punya muka untuk menemuimu? Kamu jangan berpikir kejadian ini aku akan berhutang padamu, tanpa kamu membantu barusan aku tidak akan mungkin menikahi wanita yang sudah hamil apa lagi itu bukan anakku." Rayyan tidak mudah memaafkan seseorang, apa lagi sudah berbuat fatal. Perbuatan Liza bahkan merugikan orang, terlebih pada Maura.
"Aku benar-benar minta maaf, aku tau aku salah," ucap Liza
"Kalau kamu tau salah kenapa tidak kamu jelaskan kepada orang tuaku soal itu? Bahkan sampai sekarang mereka tidak tau soal wanita yang ku hamili."
__ADS_1
Percakapan antara Rayyan dan Liza nampak serius, orang tua Rayyan hanya melihat dari kejauhan tanpa mendengar apa saja yang mereka bicarakan.
"Kenapa diam? Kamu jangan pura-pura tidak tau, Liza. Bahkan kamu tau wanita itu bukan?" desak Rayyan. Selama Liza menghilang, bukan berarti dia tidak peduli lagi padanya. Liza malah sering mengikuti kemana pun ia pergi. Sampai temannya itu tau bahwa kini ia telah memiliki seorang anak. "Jika kamu memang ingin maaf dariku, jelaskan kepada orang tuaku. Selama ini aku diam bukan tidak peduli pada anakku, kamu tau bagaimana prinsip keluargaku? Diharamkan di keluargaku memiliki anak di luar nikah, itu sebabnya aku tidak mengatakan kepada orang tuaku. Semua kuncinya ada pada dirimu," jelas Rayyan.
Liza menelan ludah susah payah, sebenarnya ia ingin sekali mengatakan semuanya kepada orang tua Rayyan yang sebenarnya. Tapi ia tak memiliki keberanian, ia takut mereka membencinya dan tak ingin lagi mempasilitasi hidupnya.
"Pergi, dan katakan pada mereka apa yang kamu lakukam dulu padaku. Kecelakaan itu bukan sepenuhnya salahku, kamu tau? Satu tahun aku dihantui rasa bersalah," kata Rayyan lagi. Beruntung, Maura orang berada hingga membuatnya merasa tenang.
"Jika kamu tulus ingin meminta maaf, kenapa tidak mengakui semua kesalahanmu?!" Setelah mengatakan itu, Rayyan benar-benar pergi meninggalkan Liza.
***
Harga diri dikeluarga Smith memang harus dijaga dengan baik. Dari situ, Rayyan tidak pernah melakukan pergaulan bebas. Dari dulu, keluarga Smith terkenal dengan kejamnya. Tak memandang siapa pun, siapa yanf berbuat zina maka akan terkena hukuman. Pasangan itu akan dipisahkan seumur hidup bahkan tidak diperbolehkan bertemu dengan darah dagingnya sendiri.
Semua, Rayyan sembunyikan dari orang tuanya. Ia tak ingin bernasib sama seperti saudarnya yang lain. Hanya dengan cara ini ia melindungi Maura dan putranya. Ia belum siap, apa lagi ada orang yang ingin menjatuhkannya.
Kekayaan nenek moyang mempercayakan kepada Rayyan bahwa hanya dia yang pantas mengelola perusahaan. Rayyan mampu melewati aturan-aturan keluarga Smith. Mampu untuk tidak melakukan pergaulan bebas. Nama Rayyan sangat bersih di keluarganya.
Rayyan tidak mampu memejamkan mata malam ini, ingatannya masih terbayang akan di mana Maura menyentuh bibir Nolan saat itu.
__ADS_1
"Arrggghhh ..." Rayyan kesal sendiri, kenapa ia tidak suka dengan kejadian itu? Apa mereka sedekat itu? Bagaimana kalau Maura memiliki rasa pada Nolan? pikirnya.
"Tidak! Maura tidak boleh suka pada laki-laki lain, dia ibu dari anak-ku," ucap Rayyan sendiri. Tapi di sisi lain, ia tak belum bisa membawa Maura dan anaknya pergi.
Sementara Liza, gadis itu masih belum mengatakan semuanya kepada orang tua Rayyan. Ia takut papa Rayyan terkena serangan jantung. Liza sendiri jadi serba salah. Ia masih berbincang dengan mama Rayyan, karena gadis itu cukup dekat dengan orang tua Rayyan.
Sedangkan di tempat lain.
Alex semakin geram karena anak buahnya kalah tanpa membuatnya bangga. Kalau sudah seperti ini, ia harus bertindak sendiri. "Kamu yang mulai, Moren. Kamu akan terima semuanya," ucap Alex.
"Mau kemana, Bos?" tanya anak buah Alex.
Alex tak menghiraukan pertanyaan itu, ia akan memberi perhitungan langsung kepada sepupunya itu. Diam-diam, Alex datang ke rumah nyonya Merlin. Ia dapat masuk sesuka hati karena penjaga dan pekerja di rumah itu tahu betul siapa Alex. Apa lagi nyonya Merlin menganggap cucunya sendiri.
Rumah sudah dalam keadaan gelap, sudah dapat dipastikan bahwa penghuni sudab tidur dengan lelap. Alex menyeludup berniat jahat. Pria itu, diam-diam masuk ke kamar Maura dan melihat baby Zaen di ketera bayi. Maura yang tidur pulas tidak tahu kalau Alex berada di kamarmya.
Pria itu meraih tubuh mungil itu, Alex berhasil membawa baby Zaen. Namun tiba-tiba ... Seseorang mengetahui aksinya. Tanpa menunggu lama lagi, orang itu memukul tubuh bagian belakang Alex sehingga Alex mengaduh dan meletakkan bayi itu di jalan. Tangisan baby Zaen langsung terdengar dan membuat para penghuni terbangun terutama pada Maura.
Mendengar tangisan anaknya ia segera beranjak dan melihat kereta bayi itu sudah kosong. Maura panik dam segera berlari menghampiri sumber suara.
__ADS_1
"Kamu, kamu mau menculik putraku?" tanya Maura pada orang yang tengah menggendong baby Zaen yang sedang menenangkannya.