
Wanita itu menghadang Rayyan, siapa lagi kalau bukan sang mama. Wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda itu langsung menarik tangan anaknya. Meski Rayyan terlihat sangat, tapi ia akan tertunduk di hadapan orang tuanya. Bak anak kecil yang dituntun, Rayyan mengikuti kemana mamanya pergi.
"Benar, kalau kamu sudah punya anak? Kenapa bisa? Kamu gegabah sekali, bagaimana kalau papa sampai tau?" Elena yang sebagai ibunya Rayyan tentu takut akan hal ini, ia takut suaminya bertindak karena aturan di keluarganya sangat berlaki, termasuk kepada anaknya sendiri.
Rayyan tertegun sambil menatap bola mata yang ketakutan itu, ada genangan air mata yang sudah siap tumpah. Ia tahu kalau sang mama tengah kecewa padanya, kecewa karena memiliki anak di luar nikah. Setidaknya ia mengatakan ini dari dulu kepadanya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semua tidak dapat kembali seperti yang diinginkan.
"Ma-mama tau soal ini?" tanya Rayyan.
Elena celingak-celinguk terlebih dulu, ia takut suaminya tahu dan marah akan hal ini. "Kenapa ini bisa terjadi?" tanya mamanya.
"Ini tidak seperti yang Mama pikirkan, semua di luar kendaliku, Ma," jelas Rayyan. "Ku mohon jaga rahasia ini, aku tidak ingin papa tau sebelum aku menjelaskannya," terangnya lagi.
"Di mana wanita itu? Mama harus tau bobot bebetnya, apa dia layak untukmu? Pewaris Smith harus jelas asal usulnya, Rayyan. Mama bisa terima siapa pun wanita itu, tapi bagaimana dengan papamu?" Elena gereget kepada Rayyan, kenapa anaknya bisa seceroboh itu?
Rayyan tidak akan meragukan restu kedua orang tuanya, pasalnya, Maura orang terpandang. Mereka akan suka dengan wanita itu, tapi masalahnya ia sudah memiliki anak di luar nikah. Prinsip tetaplah prinsip, ia tak ingim dipisahkan dengan anaknya karena kesalahannya.
"Apa Liza mengatakan semuanya?" tanya Rayyan.
"Ya, untung hanya Mama yang tau. Mama ingin bertemu dengannya, ajak Mama menemuinya," pinta Elena.
__ADS_1
Masalahnya, Rayyan sendiri belum bisa menemui Maura, apa lagi soal kejadian tadi malam. Lagi pun, mereka belum pernah membahas soal baby Zaen. Angan-angan hidup bersama masih jauh, itu hanya rencananya dan belum tahu soal perasaan Maura padanya, yang ia tahu, wanita itu tidak menyukainya. Kehadiran baby Zaen bukan karena cinta, itu sebuah kecelakaan yang tidak disengaja.
"Terus, kenapa kamu tidur di luar? Dari mana kamu semalam?" tanya Elena lagi.
Rayyan tidak mungkin mengatakan semuanya, apa lagi ia memiliki musuh. Orang tuanya tidak tahu kalau ia seorang mafia. Rayyan memiliki anak buah yang siap dikerahkan kapan saja, apa lagi dalam bidang usaha yang ia bangun tanpa sepengetahuan orang tuanya. Di balik itu, ia bermusuhan dengan saudara-saudaranya sendiri. Dan mereka iri padanya yang ditunjuk penerus sebagai keluarga Smith. Nama Rayyan semakin bersinar dari pada saudara-saudara sepupunya yang lain.
"Mama bisa jaga rahasia ini 'kan? Aku tidak ingin papa tau soal ini. Maka dari itu aku menyembunyikan mereka pada kalian. Untuk saat ini aku belum siap mempertemukan Mama dengannya, yang jelas, cucu Mama hidup dengan sehat dan berkecukupan. Mama pasti gemas kalau melihatnya, apa Mama tega memisahkanku dengan putraku?"
Mama mana yang tega melihat kehancuran putranya sendiri. Tentu Elena akan mendukung putranya meski hubungannya dengan suaminya yang menjadi taruhannya. Mama Rayyan menangkup kedua pipi putranya, air matanya meneteskan cairan bening. Putranya sudah dewasa, Rayyan memang sudah cukup matang membina sebuah keluarga. Anak nakalnya sudah besar. Lalu, ia memeluk putranya itu.
"Jaga wanita itu juga cucu Mama. Doa Mama menyertaimu," ucap Elena.
"Terima kasih, termi kasih sudah mengerti posisiku," balas Rayyan.
Maura gelisah, bagaimana kalau Rayyan datang dan meminta hak asuh atas baby Zaen?
"Tidak, Zaen hanya putraku dan selamanya akan bersamaku," kata Maura sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Nolan. "Rayyan tidak mungkin memisahkanmu dengan anakmu, justru dia akan membawa kalian," ujar Nolan.
__ADS_1
"Membawaku? Maksudmu?" tanya Maura yang tidak mengerti.
"Apa selamanya kalian akan seperti ini? Tidak ada keinginan untuk menikah? Ayolah, Maura. Kamu jangan egois. Anakmu butuh sosok ayah, dan itu tidak bisa didapatkan darimu. Kasih sayang ibu dan ayah itu beda, Maura. Ada perbedaan yang di mama baby Zaen butuh itu."
"Kamu pikirkan ucapanku, apa kamu Alex datang lagi dan melakukan sesuatu pada baby Zaen? Aku rasa, tak hanya baby Zaen yang butuh sosok Rayyan. Kamu juga membutuhkannya," jelas Nolan lagi.
Penuturan Nolan tak dapat dipungkiri. Semua perkataan itu ada benarnya. Maura memikirkan semuanya meski hati belum siap dengan semua itu, apa lagi mengingat sikap Rayyan yang menyepelekan sebuah kehormatan.
Karena kejadian semalam membuatnya trauma, hampir setiap jam ia memantau cctv di rumahnya untuk mengecek keadaan baby Zaen. Karena ada urusan membuatnya harus pergi meninggalkan baby Zaen. Kepergiannya tak luput dari seorang Nolan, kemana pun Maura pergi maka disitu ada Nolan. Pria itu memang diutus oleh nyonya Merlin untuk menjaganya. Sepintas, siapa pun yang melihat mereka seperti pasangan kekasih. Bahkan, Rayyan sendiri merasa cemburu melihat kedekatan mereka.
Sibuk di kantor membuat Maura harus pulang larut. Kepergian Maura dan Nolan, kini ditemani oleh seorang bodyguard. Dan itu diutus langsung oleh Rayyan Smith. Sang bodyguard itu menunggu di mobil, dan sebenarnya, Maura tidak setuju. Tapi berkat bujukan Nolan membuat Maura menerima bodyguard itu menjadi supirnya.
Tibalah waktu Maura untuk pulang, tubuhnya merasa pegal-pegal. Ia meeindukan baby Zaen, dan untuk menghilangkan kerinduan yang tak tertahan membuatnya membuka ponsel untuk melihat langsung sedang apa putra semata wayangnya itu.
Di rekaman cctv itu terlihat punggung seseorang, ia melihat orang itu tengah memangku putranya. Maura mengenali tubuh gagah itu. Semenjak nyonya Merlin tahu siapa ayah dari baby Zaen membuat nenek tua itu mengizinkan Rayyan masuk ke dalam rumahnya. Maura hanya menghela napas saat melihat mereka.
Tak lama, bibirnya melukis sebuah senyuman. Rayyan tengah mengajak baby Zaen bermain. Bahkan medengar suara tawa bayi mungil itu. Dan kejadian itu tak luput dari pantau Nolan.
"Sudahlah, terima saja kalau Rayyan memang ayah baby Zaen. Kamu tidak bisa menghindarinya, Maura," ucap Nolan. "Lihatlah, bibirmu sendiri tidak bisa berbohong. Senyummu terukir jelas," ucap Nolan lagi.
__ADS_1
Maura memukul bahu Nolan, pukulan disertai candaan. "Kamu benar, Nolan. Mungkin akan setiap hari aku bertemu dengannya, nenek sendiri mendesakku untuk menerima Rayyan," jelas Maura.
Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka pun sampai. Maura menarik napas dalam-dalam, menyiapkan diri karena ia akan bertemu kembali dengan Rayyan Smith.