Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 12


__ADS_3

"Ada apa ini, Nolan? Siapa mereka? Mereka mau apa?" tanya Maura, terlebih dia kaget saat melihat salah satu orang itu mengeluarkan senjata tajam.


"Tetap di sini dan jangan keluar," kata Nolan. Pria itu keluar dari dalam mobil, dengan beraninya Nolan menghampiri mereka seorang diri. Orang-orang itu berjumlah 4 orang, Nolan mengenal salah satu di antara mereka. Orang yang sering ia lihat bersama Alex. Tapi, dengan motif apa mereka menghadang? Selama ini, meski Alex brutal tak pernah menghadang secara langsung seperti ini.


Salah satu dari mereka memukul Nolan dari belakang, Nolan menoleh dan membalas pukulan itu. Saat Nolan tengah dikeroyok, Rayyan dan Leon turun dari mobil. Mereka membantu Nolan saat itu juga. Namun, pada saat perkelahian berlangsung, salah satu di antaranya menghampiri Maura di dalam mobil. Aksi orang itu diketahui langsung oleh Rayyan, sontak, membuat Rayyan tergerak menyelamatkan wanita itu.


"Leon, kamu bantu dia aku harus menyelamatkan Maura," ucap Rayyan. Rayyan langsung saja meraih baju bagian belakang pria yang tengah membuka pintu mobil bahkan sudah menarik tangan Maura.


Pria bertubuh tinggi besar itu terhempas seketika saat Rayyan menariknya. Orang itu tak terima dan berniat membalas dengan bogeman mentah. Rayyan menangkal pukul itu, sehingga pria bertubuh besar itu meringis kesakitan saat tangannya melintir ke belakang oleh Rayyan. Rayyan menendang bok*ng pria itu sampai orang itu tersungkur ke tanah.


Rayyan langsung menghampiri Maura yang tengah kesakitan di bagian pergelangan tangannya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Rayyan. Belum Maura menjawab, wanita itu menarik tubuh Rayyan dan kakinya terjulur keluar karena hendak menendang pria bertubuh besar itu. Rayyan terkejut sehingga ia terjerembab diapitan paha Maura.


Kaki panjang Maura berhasil menendang pria itu di bagian tubuh sensitifnya. Rayyan menyeringai dengan aksi Maura yang cukup berani. Sekilas, pandangan mereka bertemu. Mereka melupakan sesuatu, Nolan dan Leon masih berkelahi di luar sana. "Tunggu di sini dan kunci pintu," ucap Rayyan.


Sang supir tak bisa apa-apa karena supir itu hanya kalangan warga biasa. Sehingga ia sendiri pun ketakutan, apa lagi dengan usianya yang sudah cukup tua. Rayyan tidak menghubungi anak buahnya karena tak ingin Maura tahu siapa dirinya, selagi ia bisa menyelesaikan masalahnya ia sendiri yang akan turun tangan bersama Leon.


Leon cukup bisa diandalkan dalam hal urusan perkelahian. Orang-orang suruhan Alex akhirnya kabur terbirit-birit. Nolan terkena pukulan sehingga di sudut bibirnya mengeluarkan darah. Setelah orang-orang itu pergi, Maura menghampiri. Ia khawatir saat melihat bibir Nolan berdarah. Maura menyentuh bibir pria itu, dan Rayyan melihatnya langsung membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Leon, aku rasa mereka sudah tidak perlu bantuan kita," ujar Rayyan.


Leon membenarkan jasnya akibat perkelahian itu sedikit kusut. Ia menuruti apa perintah bosnya. Leon pun akhirnya menyusul sang bos yang lebih dulu pergi. "Tunggu!" kata Maura.


Langkah Rayyan terhenti, tapi tak menoleh sedikit pun. Maura berlari kecil ke arahnya untuk menghampirinya. "Terima kasih," ucap Maura setelah berada di hadapan Rayyan.

__ADS_1


Rayyan tidak menjawab, pria itu langsung pergi begitu saja. Entah kenapa, melihat Maura menyentuh bibir Nolan merasa sakit di dadanya. Seakan tidak terima dengan jari-jari lentik Maura menyentuh laki-laki lain. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri bukan siapa-siapa wanita itu.


Rayyan menghilang dari pandangan Maura. Nolan menghampirinya dan langsung mengajaknya pulang, karena ini sudah larut malam. "Ayo, pulang," ajak Nolan.


"Bibirmu?" tanya Maura.


"Tidak apa-apa, hanya luka sedikit," jawab Nolan.


***


Di tempat lain.


"Bos, aku rasa mereka punya musuh. Apa tidak sebaiknya Bos katakan semuanya kalau Anda sudah tau soal anak itu? Mereka butuh perlindunganmu, apa lagi dengan keadaan Maura yang sebagai pewaris nyonya Merlin," terang Leon.


Mobil yang ditumpanginya terus melaju, hingga akhirnya sampai di kediaman Rayyan Smith. Saat tiba di sana, ia dikejutkan dengan kehadiran Carla bersama orang tuanya. Di sana terjadi kericuhan. Orang tua Carla meminta pertanggugjawaban dari Rayyan Smith.


"Ada apa ini?" tanya Rayyan tiba-tiba. Ia melihat Carla tengah menangis, gadis itu sedang hamil dan orang tuanya meminta Rayyan bertanggungjawab. Selaku tunangannya, tentu orang tua Carla menuntut itu kepada Rayyan.


"Sepertinya pernikahan tidak bisa ditunda lagi, hubungan kalian sudah sangat jauh," ucap ayah Carla.


Kening Rayyan mengerut, ia bingung dengan keinginan ayah Carla yang tiba-tiba ingin mempercepat pernikahan. Rayyan menarik tangan Carla, ia ingin bicara empat mata dengan gadis itu.


"Ada apa ini? Kenapa ayahmu ingin mempercepat pernikahan kita? Bukannya kita sudah sepakat kalau hubungan kita hanya sekedar teman? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Rayyan.

__ADS_1


"Aku hamil, dan kekasihku pergi meninggalkanku," ucap Carla.


"Kalau kamu hamil kenapa minta tanggung jawab padaku? Apa kamu tidak mengatakan semuanya tentang hubunganmu dengan kekasihmu?" tanya Rayyan lagi.


Carla menggelengkan kepala, ia tak mungkin mengatakan semuanya kepada orang tuanya. Carla mengatakan bahwa anak yang di kandungnya adalah anak Rayyan. Tentu, Rayyan tidak terima akan hal itu. Ia tidak merasa menyentuh Carla sedikit pun, jadi untuk apa menikahinya?


"Jangan gila kamu, Carla! Aku tidak pernah menyentuhmu sedikit pun. Kamu katakan sekarang yang sebenarnya kepada mereka, aku tidak mungkin menikahimu!" tegas Rayyan.


Carla malah tambah menangis dan memohon kepada Rayyan agar menikahinya. Ia janji hanya minta satatus sebagai istri, selebihnya ia tidak akan mencampuri urusan Rayyan.


"Ku mohon, bantu aku menyelesaikan masalahku," kata Carla.


"Urusanmu akan selesai jika menikah dengan kekasihmu, bukan menikah denganku. Sampai ujung mana pun akan ku kejar kekasihmu itu, kamu tidak usah takut. Sekarang kamu jujur kepada mereka, bersihkan namaku dan jangan buat aku malu di hadapan orang tuaku." Rayyan menuntun tangan Carla untuk menemui orang tuanya dan menjelaskan semuanya.


"Katakan semuanya, jangan buat salah paham. Orang tuaku dan orang tuamu sudah menjalin pertemanan sejak dulu, aku tidak mau karena masalah ini semuanya jadi rusak. Harusnya kamu sebagai perempuan punya harga diri, jangan mau disentuh laki-laki yang bukan suamimu," ucap Rayyan.


Penuturan Rayyan membuat kedua orang tua mereka tercengang. "Apa maksudmu? Kenapa bilang seperti itu?" tanya ayah Carla.


"Hanya Carla yang bisa menjawab semuanya, soal kehamilannya saya tidak tau apa-apa," jawab Rayyan. Rayyan sendiri hanya menyentuh Maura dan itu pun tidak disengaja.


"Iya, betul apa kata Rayyan. Rayyan tidak mungkin menyentuh anak, Anda," timpal seorang gadis tiba-tiba.


Mereka semua menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2