
Suasana siang itu nampak seperti pagi, cahaya matahari yang meredup membuat Rayyan dan Maura terlelap dari tidur siangnya. Dan baby Zaen pun sangat nyenyak karena perutnya dalam keadaan kenyang. Hawa dingin itu menyergap kedua tubuh pasangan suami istri baru itu. Maura mengeratkan pelukkannya, mencari kehangatan yang lebih sehingga ia mendapatkan pelukkan hangat dari suaminya.
Rayyan merubahkan posisi, sehingga yang berada di bawah kini adalah istrinya. Mereka terus saling berpelukkan. Rayyan pun akhirnya mencium leher jenjang istrinya. Menghirup aroma tubuh istrinya, dalam dan semakin dalam. Sehingga sebuah suara lolos begitu saja dari bibir istrinya.
Lenguhan itu terdengar di pendengaran laki-laki itu, Rayyan mengangkat wajah dan melihat wajah istrinya. Matanya masih terpejam, namun wanita itu merasakan sentuhan bibir suaminya yang berada di leher. Perlahan, Maura membuka mata. Tatapan mereka saling beradu dan itu terjadi cukup lama. Tangan Rayyan bergerak mengelus pipi sampai Maura memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut itu.
Rayyan juga menyelipkan jari jemarinya di leher istrinya. Mengangkatnya hingga ia mencium bibir ranum istrinya. Maura tidak berusaha menolak, cuaca yang dingin membuatnya menginginkan kehangatan. Rasanya Rayyan ingin membawa tubuh istrinya ke tempat tidur, namun adanya baby Zaen ia mengurungkan niatnya.
Di tempat sempit pun jadi. Rayyan kembali menciumi wajah Maura. Tangan yang berdenyut nyeri seakan hilang karena suasana yang tercipta membuatnya lupa segalanya. Maura pun tak tinggal diam, ia mengalungkan tangannya di leher suaminya. Mendapatkan lampu hijau membuat Rayyan semakin melancarkan aksinya. Yang pertama ia buat istrinya nyaman lebih dulu. Ia merubahkan posisi duduk dan bersandar di sofa.
Sementara Maura, ibu beranak satu itu mendaratkan tubuh di pangkuan suaminya sehingga tubuh Rayyan diapit dengan kedua pahanya. Kening mereka saling beradu, jantungnya mendadak berdetak lebih kencang dari biasanya. Napas keduanya terhembus di antara wajah masing-masing.
"Apa perasaanmu mulai tumbuh?" tanya Maura tiba-tiba.
Rayyan masih belum menjawab, ia malah memainkan rambut istrinya dan tangan yang satunya lagi sibuk di area pinggang. Pria itu ingin sebuah ungkapan rasa dari istrinya, ia tak akan bertanya bagaimana perasaan istrinya itu. Sudah ia katakan bahwa ia tak akan memaksa. Jika Maura merespons apa yang dilakukan maka ia akan terus melanjutkannya seperti sekarang.
Di luar, tiba-tiba turun hujan. Suasana semakin mendukung aktivitas mereka.
"Kenapa tidak dijawab? Apa pernikahan ini hanya karena anak kitam?" tanya Maura lagi.
"Perlu aku menjawab? Aku rasa kamu tau perasaanku, dari ingin melindungi kalian bahkan aku rela sampai terluka ini semua demi kalian," jelas Rayyan. "Kamu sendiri menolakku, apa keadaan kita sekarang hanya karena suatu kewajiban?" tanya Rayyan selanjutnya.
Sepertinya tidak perlu ada ungkapan perasaan. Dari sikap masing-masing pun sudah terlihat bahwa di antara mereka ada perasaan. Jika dulu Maura menolak karena sikap Rayyan yang begitu menyepelekan seorang wanita. Karena ia menganggap semua wanita itu sama. Tapi ternyata, Maura tidak seperti itu, bahkan saat dirinya hamil Maura malah menghilang dan pergi dari kehidupan seorang Rayyan yang hidup bergelimang harta.
__ADS_1
Maura sangat beruntung, meski tidak bersama Rayyan, ia dipertemukan dengan nyonya Merlin yang dianggap sebagi cucunya sendiri. Hanya karena kemiripan di antara Morena dan Maura.
Hujan semakin deras, hawa dingin semakin dirasakan. Rayyan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Hingga akhirnya, mereka pun melepas rindu dengan saling menautkan bibir. Lama bibir mereka saling bermain, tak hanya di situ tangan Rayyan mulai menjelajah disetiap lekuk tubuh istrinya. Tak ada yang berubah dengan wanita itu, meski tengah menyusui tapi tubuhnya tetap ramping.
Tangam suaminya mulai meraba buah kenyal di depan mata, karena tengah menyusui, cairan itu keluar karena saking suburnya. Baby Zaen baru berumur 3 bulan, tentu ASI itu lagi banyak-banyaknya. Rayyan pun tak melanjutkan sentuhan di area terlarang itu. Buah kenyal itu milik anaknya dan jangan sampai ia memompanya.
Perlahan, Rayyan merebahkan tubuh istrinya di sofa. Rasa takut yang menghantui pasca melahirkan sangat terbayang-bayang. Rasa nyeri karena melahirkan secara normal membuatnya takut dan belum siap untuk melakukan untuk yang kedua kalinya bersama Rayyan Smith yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
Saat Rayyan akan mendaratkan bibir di bibir istrinya, Maura menahannya dengan telapak tangan. Membekap mulut suaminya untuk menghentikan semuanya.
"Kenapa?" tanya Rayyan. "Tidak ada yang mengganggu kita, Zaen tidur sangat nyenyak," ujarnya lagi.
Tapi kepemilikan suaminya sudah dalam mode on, sangat disayangkan jika tidak tersalurkan. Kepalanya bisa mendadak sakit jika kalau begini, tapi apa boleh buat. Sesuai janji ia tak akan memaksa. Akhirnya, Rayyan menarik diri dari atas tubuh istrinya. Tak ada lelaki yang tak kecewa, Rayyan menutupi rasa kekecewaannya dengan cara menyalakan sebatang rokok lalu pergi ke balkon kamar. Menatap air hujan berjatuhan dari langit.
Maura yang merasa bersalah pun mengikutinya, dan memelukny dari belakang.
"Maafkan aku," ucap Maura yang masih memeluk suaminya.
Rayyan menyentuh tangan yang masih melingkar di perut, lalu mengusapnya seakan perwakilan sebagai jawaban bahwa ia tidak apa-apa dan bisa menunggu sampai hari itu tiba.
"Aku tidak bermaksud mengecewakanmu, saat melahirkan Zaen selalu terbayang. Aku melahirkan normal, dan aku takut itu. Kata-kata orang-orang rasanya akan sama seperti kala pertama melakukannya," terang Maura.
__ADS_1
Rayyan mengerti, ia malah merasa bersalah karena tidak mendapingi istrinya saat melahirkan. Ia membuang puntung rokok lalu membalikkan tubuhnya. Membalas pelukkan istrinya.
"Di sini dingin, sebaiknya kamu masuk. Aku masih ingin di sini sebentar menghilangkan keinginanku itu," tutur Rayyan. "Jangan biarkan udara masuk, kasihan anak kita nanti kedinginan," katanya lagi.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Maura.
"Tidak, masih ada hari besok atau hari yang lainnya," jawab Rayyan.
"Hmm, baiklah aku masuk." Maura pun akhirnya pergi dan menemui baby Zaen.
***
Di tempat lain.
Lisia masih berkutat membereskan berkas-berkas yang berserakan di lantai. Lalu, tak lama dari situ Leon keluar dari ruangan Nolan. Ia melihat Lisia nampak sibuk sendiri. Akhirnya, ia berinisiatif membantu.
"Apa ada yang perlu ku bantu?" tanya Leon.
Lisia menoleh dan menggelengkan kepala, ia tak ingin merepotkan orang lain. Ia masih bisa membereskannya.
"Sungguh?" tanya Leon lagi. Meski dapat penolakkan dari Lisia, ia tetap membantu. Ia paling tidak bisa melihat perempuan kesusahan. "Kalau hanya membereskan berkas-berkas ini aku tidak merasa direpotkan, senang bisa membantumu," kata Leon. Lalu menyerahkan file-file itu kepada Lisia
Pemandangan yang tak biasanya terlihat oleh Nolan tepat di depan mata. Katanya suka, tapi giliran ada laki-laki nganggur diembat juga, pikir Nolan saat melihat kedekatan Lisia dan Leon.
__ADS_1