
Perlahan, saat tubuh itu terdorong dengan sangat pelan sehingga Maura merasa nyaman karena sikap lembut itu mampu membuatnya tanpa sadar bahwa ia sudah berada dalam kungkungan sang suaminya. Rayyan menciumi wajah sampai ke leher. Maura yang merasakan itu akirnya terbuai dalam hangatnya kelembuatan sentuhan itu.
Lidah mulai mengexplor ronggga mulutnya dan Maura membalas setiap kecupan yang diberikan suaminya. Perlahan tapi pasti, cumbuan mereka akhirnya membawa kearah naf*u yang menggila. Maura merasakan sentuhan jari jemari suaminya merambat kearah bawah, dari mulai perut dan terus ke bawah sampai pada titik yang sangat paling sensitif.
Rayyn menjeda sebentar aktivitasnya, ia melihat ke arah istrinya terlebih dulu untuk memastikan bahwa tak ada paksaan yang ia lakukan. Melihat napa istrinya tersengal membuatnya langsung melanjutkan kembali aktivitasnya yang terhenti itu. Sepertinya Maura sudah siap untuk melakukannya.
Malam yang dingin ini sangat cocok untuk menghangatkan badan apa lagi dengan orang yang dicintai. Rayyan mulai melucuti pakaiannya sendiri, dan Maura sendiri memang sudah separu melepaskan pakaiannya. Hanya bra dan dalaman yang tersisa. Secepat kilat Rayyan melepaskannya sehingga ia langsung kembali menindih tubuh istrinya.
Mereka memang sangat sudah siap, bahkan Maura sendiri sudah dibakar api cinta yang sangat menggelora.
"Lakukanlah, aku sekarang milikmu," ujar Maura.
Mendengar itu membuatnya langsung melakukannya tanpa mengulur waktu lagi. Cumbuan demi cumbuan sudah mendarat di tubuh Maura, dari mulai wajah sampai turun ke leher jenjang dan merambat lagi ke perut dan terakhir disela-sela hutan rimba.
Sehingga Maura mengapitkan kedua paha karena merasa malu. Tapi itu langsung ditahan oleh suaminya, Rayyan tak membiarkan istrinya menghalanginya karena ia sangat menginginkannya.
"Malu," ujar Maura.
"Kenpa mesti malu? Aku suamimu sekarang, kamu milikku dan aku milikmu bukan?" kata Rayyan.
Akhirnya Maura melentangkan kedua paha, karena ia tak ingin mengecewakan suaminya yang memang sudah menginginkannya. Hutan rimba itu masih terbungkus kain berwarna merah maroon yang senada dengan warna bra yang dikenakannya.
Jari suaminya mulai menyentuh area sensitifnya, ia mulai merasakan rasa yang luar biasa. Tangan itu mulai menjelajah manja sehingga ia sendiri merasakan nikmat yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tubuh Maura melengking saat sentuhan itu semakin dirasakan.
Desah*n mulai lolos dari mulutnya. Rayyan belum mengeluarkan semua jurusnya dan Maura sudah kewalahan akan kenikmatan yang dirasakan. Rayyan tidak bisa menyentuh buah kenyal karena wanita itu tengah menyusui, ia hanya bermain dengan hutan rimba dan itu mampu membuat istrinya terbang ke awan.
Rayyan tersenyum puas saat melihat istrinya menggelinjang karena ulahnya. Maura sudah mencapai puncaknya. Napasnya tersengal, dadanya naik turun. Rayyan, akirnya menarik diri dan mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya. Mata wanita masih terpejam dan perlahan terbuka. Rasanya malu sekali saat ia terus menolak, tapi setelah menikmatinya ia malah ketagihan dan ingin merasakan lagi. Bahkan ingin lebih karena barusan suaminya hanya menggunakan lidah dan jari.
Rayyan kembali menelusuri tubuh istrinya, mencium bibirnya kembali. Rayyan tidak menyangka kalau istrinya akan membalas dan bahkan lebih dari yang diperkiran. Muara lebih bringas dari sebelumnya. Dan itu mmbuat Rayyan semakin bersemangat untuk membuat istrinya kembali terbang.
__ADS_1
***
Tubuh Maura bergoyang mengikuti irama hentakkan dari pinggul suaminya yang maju mundur. Entah dari kapan suaminya menungganginya, yang jelas cucuran keringat sudah membasahi tubuh.
Tak lama, tubuh keduanya bergetar hebat karena mereka sudah mencapai kenikmatan yang hakiki. entah berapa jam mereka bermain, Muara sudah sangat kelelahan bahkan sudah mengantuk. Ia sampai lupa kepada baby Zaen untuk yang pertama kalinya.
Rayyan membaringkan tubuh di samping istrinya ia juga sangat lelah karena harus memuaskan istrinya agar wanita itu bisa membuka hati untuknya. Akhirnya mereka terlelap bersama. Pada sampai tengah malam, Maura terjaga dari tidurnya ia teringat akan baby Zaen yang tak bersamanya.
Muara pun membangunkan suaminya dengan cara menggoyangkan tubuhnya.
"Rayy, bangun ...," seru Maura.
"Hmm ..." Rayyan menggeliat dan malah menarik selimut karena hawa dingin sangat menyeruak di dalam kamarnya.
"Bangun," kata Maura lagi.
"Jam berapa sekarang?" tanya Rayyan.
"Tidak tau, cepat bangun! Bawa Zaen kemari, aku takut dia terbangun karena haus. Dia tidak bisa minum susu formula," ujar Muara lagi.
Mau tak mau, Rayy pun segera bangun dan memakai baju dengan asal. Hanya menggunakan boxer dan kaos oblong. Lalu segera pergi untuk mengambil baby Zaen.
Tak berselang lama, Rayy datang sambil menggendong baby Zaen. Dan benar sja saat ia menemui anaknya, karyawannya tengah kewalahan karena Zaen tengah merengek. Muara sudah kembali memakai bajunya dan langsung mengambil baby Zaen yang baru saja tiba bersama suaminya.
"Haus ya, sayang?" Maura menimang-nimang putranya itu, ia langsung saja memberikan ASI-nya. Baby Zaen sangat lahap karena memang sudah kelaparan. "Lihat, zaen sangat haus," ucap Maura kepada suaminya.
"Iya, aku minta maaf," sesal Rayyan.
Baby Zaen kembali tidur karena perutnya sudah terisi. Maura merebahkan tubuh baby Zaen di tempat tidur, meletakkannya tepat di tengah-tengah.
__ADS_1
"Sudah terlalu larut, tidurlah," kata Maura pada suaminya. Karena Rayyan menemaninya saat memberikan ASI-nya kepada baby Zaen.
Karena memang sudah mengantuk, Rayyan pun akhirnya tidur dan membaringkan tubuhnya di samping anaknya. Maura pun ikut merebahkan di samping baby Zaen sehingga posisi anaknya berada di tengah.
Mereka tidur terlelap bersama-sama. sampai keesokan harinya, Rayyan lebih dulu terbangun karena ia ingin melihat wajah istrinya di pagi hari. Baby Zaen masih terlelap sehingga tak ada yang mengganggunya untuk menggoda istrinya kala itu.
Maura tersenyum saat merasakan sentuhan di bagian wajahnya. Ia membuka mata dan yang dilihat pertama adalah wajah suaminya karena posisi suaminya berada di atasnya.
"Kamu nakal sekali sih!" kata Maura.
"Nakal pada istri tak ada salahnya bukan?"
"Ya, ya ...," kata Maura lagi. "Mumpung Zaen masih tidur, aku mau mandi dulu, kamu jaga dia ya?" Maura segera pergi ke kamar mandi. Namun, pada ia sudah berada di dalam tiba-tiba saja terdengar suara tembakkan dari luar sana sehingga Maura menjerit karena takut.
Rayyan langsung beranjak sambil menggendong anaknya dan menemui istrinya yang berada di dalam kamar mandi.
"Maura, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Rayyan dari luar.
Sedangkan di dalam tubuh Maura begetar saking terkejutnya. Karena suara tembakan itu tepat dari arah kamar mandi.
Sepertinya Rayyan lengah sehingga tak ada yang menjaga di villa itu, karena ia pikir tak ada yang tahu soal tempat ini selain orang tuanya juga Leon. Tapi pria itu sampai saat ini belum juga kembali.
"Siapa yang berani mengusikku?" kata Rayyan sendiri. "Maura kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Rayyan karena ia sangat khawatir, Maura tak kunjung menjawab.
...----------------...
Selagi nunggu aku up lagi, mampir di sini juga, karya teman.
Nama Pena : SANTI SUKI
__ADS_1