
Cuaca sudah mulai panas, Zaen pun sudah terbangun. Bocah itu berjalan dengan tertatih, bingung akan keberadaannya yang tengah di hutan. Bocah kecil itu juga melihat sosok laki-laki yang masih tidur. Alex menyembunyikan tubuhnya di pohon besar. Tanpa sepengetahuannya, Zaen berhasil pergi. Bocah itu pergi entah kemana, hanya menyusuri jalan setapak bahkan teekadang mesti merangkak karena banyak akar-akar yang menghalangi.
Lalu, ia mendengar suara anjing menggonggong, bocah itu langsung menangis karena takut. Dan Alex baru terjaga dari tidurnya, pria itu terkejut saat tahu anak itu sudah tidak ada.
"Kemana bocah itu?" Dengan kaki pincangnya ia berjalan dengan tertatih, ia juga mendengar suara anjing mengonggong. "Aku malah berharap anak itu dimakan binatang buas," ucapnya.
Suara anjing itu semakin terdengar sangat jelas, Alex merasa tidak aman karena ia juga mendengar suara orang-orang berisik. Pria itu mencoba bersembunyi, tapi sayang, anjing pelacak milik Smith datang dari arah belakangnya. Tak lama, segerombolan orang datang dan menyaksikan anjing itu mencabik tubuh Alex. Pria itu berteriak histeris bahkan meminta tolong. Tak ada yang menolongnya, bahkan saat pemilik anjing itu tiba pun diam saja.
Lalu, Smith mengedarkan pandangan di hutan itu. "Cari cucuku, aku yakin Zaen masih berada di sekitar sini."
Anak buahnya mulai berpencar, dan Leon pun tiba di hutan itu. Smith yang melihat pun tersenyum. Leon pun ikut mencari Zaen, dan ia melihat pemandangan yang sangat menjijikan. Tubuh Alex tercabik-cabik, Leon langsung bergidik saat melihat wajah Alex sudah tidak berbentuk karena cakaran dan gigitan anjing pelacak.
Sampai akhirnya, Zaen ditemukan oleh Leon sendiri. Anak kecil itu langsung berhenti menangis saat melihat sosok yang dikenalnya.
"Zaen." Leon menciumi anak itu, ia sangat rindu padanya. Sudah hampir dua minggu tidak bertemu. Leon merasakan tubuh Zaen hangat, anak itu pasti masuk angin, pikirnya.
Karena Zaen sudah ditemukan, ia kembali menemui Smith. Dan pandangannya semakin tidak karuan saat melihat tubuh Alex, rasanya ia ingin muntah saat itu juga. Tubuh Alex sudah tidak berbentuk lagi. Ia juga menutup mata Zaen agar tidak melihat anjing itu memakan daging mentah.
"Cucuku." Smith pun menciumi Zaen.
Semua anak buahnya telah kembali, dan mereka langsung pulang meninggalkan tubuh Alex membusuk di sana. Tubuh pria itu hancur tak berbentuk lagi. Tibalah mereka di rumah, keadaan Maura masih lemas. Elena pun menemani sambil memangku Ranzha.
"Zaen pasti ditemukan, kamu tenang ya, sayang," kata mertuanya.
Maura hanya menangis, bahkan ia tak menghiraukan perutnya yang terasa sakit. Sedangkan Rayyan, ia terus memghubungi Leon karena ingin menanyakan soal pencarian itu. Sebelum Leon menjawab, pria itu sudah lebih sampai di rumahnya. Rayyan yang tahu akan hal itu langsung menemuinya ke depan rumah.
Bibirnya melengkung saat melihat Leon menggendong anaknya.
"Panggil dokter," kata Leon. "Tubuhnya demam," sambungnya lagi. Lalu membawa anak itu masuk ke dalam, dan Rayyan langsung menghubungi dokter.
__ADS_1
Maura yang tahu karena mendengar suara berisik dari kendaraan juga pembicaraan orang-orang di sana langsung beranjak dari tempatnya. Ia langsung mengambil Zaen dari pangkuan Leon, ia tak menyadari kalau yang memangku anaknya adalah anak buah suaminya.
"Anakku." Maura menciumi Zaen sambil menangis. "Tubuhmu panas, sayang," ucapnya.
"Aku sudah menghubungi dokter," kata Rayyan.
Maura membawa Zaen ke kamar, mengganti bajunya yang kotor, tak lupa membalurkan minyak telon ke tubuh anak itu.
Tak berselang lama, dokter datang untuk memerikasa keadaan Zaen. Bocah itu sedikit demam, ditambah lagi Ranzha pun terbangun karena ingin menyusu. Maura sudah tidak kuat dengan perutnya yang sakit. Bagaimana ini? pikirnya. Namun, ia tetap menguatkan diri.
"Sayang, kamu pucat sekali," ujar Rayyan. "Dok, nanti periksa istriku juga ya," pintanya pada dokter yang tengah memerika Zaen.
Dokter itu mengangguk sambil menoleh melihat Maura. Setelah memeriksa baby Zaen, dokter itu mulai berpindah memeriksa Maura. Wanita itu akhirnya mengatakan keluhannya. Setelah itu dokter memberikan resep obat yang harus ditebus di apotik.
Tak berselang lama, Leon pun muncul. Maura yang melihat langsung menanyakan keberadaan Lisia. Leon mengatakan semuanya dan ia juga meminta maaf atas kepergiannya. Tapi ia yakon kalau Lisia tidak bisa meninggalkan Zaen terlalu lama. Setelah sel telurnya berkembang, ia akan membawa istrinya kembali.
"Kalian marah padaku karena aku tidak mengizinkan Zaen pergi? Mungkin, Lisia ada benarnya waktu itu, andai aku mengizinkan kalian pergi membawa Zaen mungkin kejadian ini tidak akan terjadi," sesal Muara kemudian.
"Katakan padanya kalau aku minta maaf, aku tidak mau ada permusuhan dengannya. Aku sudah menganggap dia keluargaku," kata Maura lagi. Leon mengangguk dan akan menyampaikan pesan itu.
***
Di rumah sakit.
Lisia baru saja terjaga dari tidurnya, ia tengah menunggu kembali suaminya. Ia juga menantikan kabar baik soal baby Zaen. Ia jadi menyesal karena sudah berniat meninggalkannya.
Tak berselang lama, suaminya telah kembali dan langsung menemui istrinya. Lisia langsung menanyakan bagaimana kabar Zaen juga Maura. Wanita itu menjadi sedih saat tahu kabar mereka. Sepeninggalnya, Maura kerepotan mengurus kedua bayinya.
"Maura memang keras kepala, kenapa tidak memakai jasa baby sitter," kesal Lisia kemudian.
__ADS_1
"Karena dia mengira kamu akan kembali dan tak akan pergi selama ini. Jadi bagaimana? Apa kejadian ini ada hikmah yang kamu ambil?" tanya Leon.
"Ya, aku sadar. Aku juga yang salah karena mengambil keputusan tidak berpikir dampaknya," ujar Lisia.
"Zaen juga membutuhkanmu, dia sering memanggilmu," terang Leon.
Lisia jadi tidak sabar menunggu satu bulan, baginya 1 bulan cukup lama karena berada di rumah sakit sangat membosankan.
Hari-hari berlalu, kini tiba saatnya Lisia dan Leon kembali ke tanah air. Maura dan Rayyan menantikan kehadiran mereka. Bayi tabung yang dijalani cukup berhasil dan bayi yang ada dalam perut Lisia sudah mulai berkembang.
Kedatangannya disambut oleh Maura, wanita itu kini sudah sehat pasca melahirkan anak keduanya. Kedua anaknya tengah bersama baby sitter. Akhirnya, Maura memakai jasa baby sitter karena Lisia tak mungkin lagi membantunya mengasuh Zaen karena wanita itu tengah hamil.
Kedua wanita itu saling berpelukkan, saling meminta maaf karena keegoisan mereka.
"Selamat atas kehamilanmu," kata Maura saat melepaskan pelukkannya.
"Maafkan aku juga, maaf atas keegoisanku," ujar Lisia.
Kedua lelaki yang berada di sana pun tersenyum, persahabatan mereka cukup kuat. Karena sudah berbaikan mereka segera pulang. Lisia pun pulang ke rumahnya karena ia harus banyak beristirahat. Soal Zaen, Maura akan membawanya nanti menemui mereka.
Mereka sampai di rumah masing-masing.
Maura yang lebih dulu sampai karena letak rumahnya tidak jauh dari Bandara. Kedatangnnya disambut Zaen. Bocah berusia satu tahun lebih itu semakin lancar berjalan. Berlari-lari menuju ke sana ke mari. Zaen masih memanggil-manggil mammy yang artinya ia sangat merindukan sosok Lisia yang selama ini selalu bersamanya.
"Ini Mommy, sayang. Nanti kita temui Mammy ya," ujar Maura.
"Zaen benar-benar merindukan Lisia, bagaimana nanti kalau anak Lisia lahir? Dia tidak mungkin selalu bersama Zaen," kata Rayyan.
"Berarti Zaen akan punya dua adik, aku berharap mereka akur sampai dewasa nanti. Zaen, harus jadi Kakak yang baik ya? Jaga kedua adikmu nanti," kata Maura pada anak sulungnya.
__ADS_1
Zaen hanya mengangguk-anggukkan kepala meski ia tidak mengerti apa kata ibunya.