
Maura langsung memalingkan wajah, bagitu pun dengan Rayyan.
"Sial, kenapa tatapan itu beda?" batin Rayyan.
Leon bisa menebak apa yang dipikirkan bosnya itu, bibirnya tersenyum. Ia lebih suka ada perasaan di antara mereka. Tapi tunggu, masa sih cucunya nyonya Merlin ini sudah menikah? Tak pernah terdengar kabar berita itu. Pikiran Leon buyar saat Rayyan menyenggol tubuhnya dengan sikut.
"Fokus, tujuan kita itu untuk penduduk. Buat dia sepakat untuk mendirikan perusahaan itu, bangunan itu tidak mungkin dirobohkan," bisik Rayyan.
"Ehem." Leon memulai percakapan. "Jadi begini Bu ...," ucap Leon menggantung karena ia belum kenalan secara langsung. Bahkan saat pertemuan satu tahun lalu belum sempat mengenalkan diri.
"Maura, panggil saja Maura," ujar wanita itu.
Rayyan ikut menoleh, melihat wanita itu kini memiliki karisma. Tidak seperti dulu saat ia bertemu dengannya. Lagi-lagi, Rayyan teringat percintaan singkat mereka. Sementara itu, Lisia sebagai sekretaris Maura menyodorkan sebuah berkas mengenai sertifikat asli soal tanah itu.
Menyodorkannya kepada atasannya.
"Baik, jadi begini Tuan Leon." Maura menjeda ucapannya, meski ia menyebut nama Leon tapi pandangannya ke arah pada Rayyan Smith. "Ini berkas asli soal tanah itu, saya mau pun nenek saya tidak pernah menjual tanah itu kepada siapa pun," terang Maura.
Leon pun akhirnya mengeluarkan berkas yang sama persis, sampai tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. "Sama 'kan?" tanya Leon seraya memperlihatkan sertifikat itu kepada Maura. "Jadi masalahnya, kami membeli ini hanya kurang satu tanda tangan, yaitu tanda tangan Anda," ujar Leon.
Rayyan masih belum berucap, ia menyerahkan masalah ini kepada Leon. Jika tangan kanannya itu tidak bisa membujuk wanita itu ia sendiri yang akan bertindak.
"Permasalahannya sudah jelas, berarti Anda membangun bangunan di atas tanah ilegal. Tanah itu masih milik keluarga Merlin, dan sampai kapan pun saya tidak akan menjualnya," terang Maura.
__ADS_1
"Bagaimana, Bos? Sepertinya ini agak sulit," bisik Leon.
Rayyan merubahkan posisi, ia duduk tepat di hadapan wanita itu. Ia akan mencoba membujuk dengan cara lain asal bangunan itu tidak dirobohkan. Bukan hanya kerugian yang dialami, para warga akan tetap ada kendala dalam kemiskinan kalau bangunan itu tidak didirikan.
Rayyan menarik napas dalam-dalam sebelum berucap. "Nyonya Maura yang terhormat, jadi begini. Soal tanah itu sepertinya bukan salah kami sepenuhnya, kami tertipu oleh sertifikat ini," ujar Rayyan seraya melihat berkas palsu itu. "Saya harap bangunan itu tidak tersendat, kami tetap akan melanjutkan pembangunan," jelas Rayyan.
"Maksudnya? Tapi itu tanah bukan milik Anda, kenapa Anda masih tetap akan membangunnya?" Maura menatap wajah Rayyan tanpa berkedip, ia hanya ingin tahu apa pria sombong ini masih sama seperti dulu?
"Saya tau, tapi bangunan yang saya dirikan itu bukan untuk kepentingan sendiri. Coba Anda pikirkan soal ini, bangunan itu akan didirikan sebuah perusahaan untuk rakyat kecil, membantu perekonomian warga. Saya tidak akan mengakui tanah itu milik perusahaan kami, saya hanya minta kerja samanya," jelas Rayyan lagi.
Jika sudah mengenai rakyat kecil, Maura tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bisa merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan. Maura nampak menimbang-nimbang. Keputusan ini tidak bisa diputuskan oleh sepihak, ia harus membicarakan masalah ini kepada Nolan. Bagaimana pun, ia bukan ahli waris sesungguhnya. Ia hanya wanita biasa yang memiliki kemiripan dengan Morena Merlin.
"Saya akan bicara soal ini kepada ..."
"Suami, Anda?" pungkas Rayyan.
Yang menjadi pikirannya saat ini adalah, anak yang dilahirkan wanita itu. Ia tak akan gegabah, ia tak ingin rencananya gagal. Ia harus menjaganya, sia-sia kesabaran selama satu tahun kalau berakhir begitu saja. Yang terpenting, wanita itu tidak hidup bersama laki-laki mana pun.
"Kalau memang ingin membicarakan masalah ini dengan suami Anda silahkan, saya juga ingin bertemu dengannya. Ada yang ingin saya bicarakan," jelas Rayyan.
Wajah Maura terlihat gugup karena ada kebohongan dalam hidupnya. Yang membuat Maura mempertahankan kebohongannya adalah untuk melindungi putranya, ia tak ingin terpisah dengan putranya itu.
"Baik, saya rasa pertemuan ini cukup sampai di sini. Kelanjutannya kita akan bertemu dengan suami Anda, bukan begitu?" tanya Rayyan.
__ADS_1
"Ha- i-iya," jawab Maura.
***
"Apa yang Anda bahas tadi, Bos? Kenapa malah mau bertemu dengan suaminya? Apa Bos tetap percaya kalau mereka suami istri? Nolan itu hanya tangan kanan nyonya Merlin, dan anak itu ..."
Rayyan langsung membekap mulut Leon, ia tak ingin ada orang lain yang tahu soal bayi itu. Rayyan bukan tidak mau mengakui anak itu, ini demi keselamatan mereka. Ia tak ingin bayi mungil itu menjadi incaran musuhnya. Selagi belum aman, ia tak akan memperlihatkan diri bahwa ia-lah ayah kandung dari anak yang dilahirkan Maura. Apa lagi dengan status Maura yang menjadi ahli waris nyonya Merlin.
Kalau musuh Rayyan Smith tahu soal ini, mereka akan langsung menganggu ketenangan Maura dan putranya. Bayi mungil itu pun akan menjadi ahli waris Rayyan Smith. Bibit seorang miliarder sejak bayi. Rayyan harus melindungi mereka, meski kebencian yang menjadi taruhannya.
Ia tahu, ada ketidaksukaan dari wanita itu kepadanya. Dan itu memang disengaja untuk mengelabui musuh. Ini caranya melindungi mereka.
"Apa-apan kamu ini, Bos?!" Leon melepaskan tangan sang bos dari bibirnya.
"Jaga mulutmu, aku diam bukan tidak tahu," ujar Rayyan.
"Jadi? Bos tau semuanya? Soal anak itu ..." Lagi-lagi ucapan Leon terhenti karena Rayyan langsung menajamkan sorot matanya. "Ya, ku tutup mulutku rapat-rapat."
"Jangan katakan kalau aku sudah tau semuanya, termasuk padanya," terang Rayyan. Ia tak ingin Maura tahu soal ia tahu tentang putranya. Ia takut mereka menjauh, dan ini belum saatnya semua orang tahu siapa pewaris Rayyan Smith yang sesungguhnya.
Leon tak lagi berucap, ia malah senang karena akhirnya, bosnya itu ternyata melakukan ini karena untuk kebaikan mereka.
"Jadi, selama ini Bos pendam sendiri?" tanya Leon. "Aku salut padamu, Bos. Aku kira Bos tidak peduli soal gadis itu."
__ADS_1
"Kepedulian tidak harus ditunjukkan, aku melakukan ini untuk kebaikan mereka. Terbukti, mereka baik-baik saja tanpa berada di dekatku. Aku tidak ingin mereka terlibat dengan urusanku yang masih memiliki banyak musuk dalam berbisnis, kamu tahu sendiri kalau mereka ingin menempati posisiku. Aku takut mereka mengincar kelemahanku," terang Rayyan.
"Ya, aku tahu. Jangan sampai saudara sepupumu itu tau soal keturunanmu," jelas Leon.