
Rayyan mencekal kedua tangan Maura agar wanita itu berhenti memukulinya. Sang mama tidak mungkin mencelakai cucunya sendiri, ia yakin meski orang tuanya membawanya, ibunya pasti melindungi baby Zaen. Hatinya pun sebenarnya ikut deg-degan, tapi ia mencoba untuk tenang. Masalah ini harus dihadapi dengan kepala dingin.
"Tenanglah, baby Zaen akan baik-baik saja," ucap Rayyan menenangkan istrinya.
Maura berhenti memukuli tubuh gagah itu, ia menatap tajam mata suaminya. Seolah mengintimidasi. "Apa kamu bilang? Tenang? Setelah aku tau bagaimana orang tuamu kamu menyuruhku untuk tenang?! Aku dan anakku memang tak berarti bagimu," tutur Maura.
"Kenapa mendugaku seperti itu? Aku menyayangi kalian," jelas Rayyan.
"Sayang tidak akan membiarkanku berpisah dengan orang yang aku cintai, hanya anak-ku yang aku punya di dunia ini," kata Maura.
"Aku suamimu, apa aku tidak berarti dalam hidupmu? Apa kamu kira aku tidak serius dengan pernikahan ini?" kata Rayyan.
"Pernikahan ini hanya karena aku memiliki anak darimu, keterikatan kita hanya sebagai orang tua Zaen. Tidak ada cinta dalam hatimu, pernikahan ini hanya keegoisanmu. Zaen pewaris keluargamu bukan? Dan kamu ikat kami karena takut hartamu jatuh kepada saudara-saudara, bukan begitu?"
"Tau dari mana berita konyol itu? Harus dengan cara apa aku membuktikan kalau aku sangat menyayangimu juga anak kita?!" Kalau Rayyan tidak menyanginya, ia tak mungkin ia mempersiapkan rumah juga melindunginya dari kejauhan.
"Perlu aku menghajar Leon karena dia telah merelakan kepergian anak kita?" kata Rayyan.
Leon langsung melotot, ia tak tahu apa-apa. Kenapa harus dihajar? pikirnya. Dan ia juga tidak bisa mencegah kepergian orang tua bosnya yang membawa baby Zaen. Tidak ada yang bisa membantah apa kata tuan Smith.
***
Di tempat lain.
Smith tengah bersama istrinya juga baby Zaen. Smith tahu akan bayi itu yang ternyata anaknya. Ia tahu semua itu dari Alex karena Alex ternyata berteman dengan sepupu Rayyan.
Smith marah besar saat tahu putranya telah memiliki anak di luar nikah. Sesuai prinsip keluarga, Rayyan akan mendapatkan hukuman. Ia harus berpisah dengan anaknya. Tapi melihat istrinya yang sedari memeluk cucunya membuatnya tidak tega. Elena segalanya baginya.
"Aku tidak akan membiarkanmu memisahkan Rayyan dengan putranya," ucap Elena.
__ADS_1
"Peraturan tetap peraturan, tidak ada yang bisa membantah itu," kata Smith.
"Langkahi dulu mayatku kalau kamu berbuat itu pada putraku, ini semua bukan kesalahan anak kita kamu tanya Liza, dia yang telah menjebak putraku," terang Elena lagi.
"Semua keluarga sudah tau mengenai anak ini, yang mengambil keputusan bukan hanya aku," kata Smith.
"Aku tidak mau tau, itu urusan keluargamu. Rayyan putraku, dan di keluarga tidak ada prinsip seperti itu. Semua punya masalah, dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan. Rayyan sudah menikah, jadi apa masalahnya?" tanya Elena sembari menatap wajah suaminya dengan tajam.
Baru kali Elena berani kepada suaminya. Sampai-sampai Smith pun tak percaya akan hal ini. Biasanya wanita itu akan tertunduk tak berani menatap tajam matanya. Seketika, di dalam mobil menjadi hening. Perang dingin itu akhirnya dimulai, sepasang suami itu tengah memperebutkan sang cucu yang kini menjadi masalah bagi keluarga Smith,
Mobil yang ditumpangi mereka akhirnya sampai di kediaman Smith. Di sana sudah terdapat sang kakak dari Smith sendiri. Mereka menantikan baby Zaen yang seperti seorang ******* kecil. Elena terus mengapit tubuh kecil itu. ada yang berani menyentuhnya sedikit pun maka akan berhadapan langsung dengannya.
Semua mata tertuju pada Elena yang tengah menggendong baby Zaen. Bayi mungil itu tengah tertidur dengan nyenyak dalam pelukan sang nenek. Kakak dari Smith sendiri terus menatap ke arah adik iparnya. Elena membawa baby Zaen masuk ke dalam kamar pribadinya. Kakak dari Smith mengekor dari belakang, tapi saat itu juga langsung dicegah oleh Smith sendiri.
Smith tidak bisa bertindak kalau istrinya sudah merajuk seperti ini. Akhirnya Smith menuntun kakaknya itu untuk bicara empat mata dengannya. Di ruangan tertutup mereka bicara.
***
Elena mengunci diri di dalam kamar. Tidak ada yang berani satu orang pun kepada wanita itu bahkan suaminya sendiri. Ia hanya berdua di dalam kamar itu. Baby Zaen akirnya terbangun dan merengek. Tangisan baby Zaen dapat dirasakan oleh Maura. Wanita itu dapat merasakan dari rangsangan payuda*anya yang merembes mengeluarkan air susu.
"Putraku kehausan, aku harus menemuinya, bawa aku kesana untuk menemui anakku," pinta Maura pada Rayyan yang kini menjadi suaminya.
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Aku tau kamu lelah, keadaanmu sedang dalam tidak baik-baik saja. Besok kita ke sana," ujar Rayyan.
Mana mungkin Maura dapat tidur sedangkan putranya sendiri tengah kehausan di sana. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya sangat lemas tak bertenaga, apa lagi setelah apa yang menimpanya hari ini. Akhirnya, Maura pergi ke kamar, bahkan tidak pamit kepada suaminya. Wanita itu menyelonong pergi begitu saja.
Rayyan hanya bisa mengehela napas panjang. Ia pun mengekor dari belakang. Ia kira istrinya akan tidur, tapi nyatanya tidak. Maura menatap ke arah luar dari jendela, dalam hati ia berdoa semoga tidak terjadi sesuatu pada putranya. Rayyan menghampiri lalu menyentuh bahu istrinya. Maura tak bergeming, tatapannya kosong.
"Tidur ya, besok kita temui baby Zaen," ucap Rayyan.
__ADS_1
Maura bagaikan mayat hidup, wanita itu pergi menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya di sana. Setelah istrinya benar-benar tidur, Rayyan tidak tinggal diam. Malam ini juga ia akan pergi menemui orang tuanya.
"Leon, siapkan mobil, kita pergi malam ini juga," kata Rayyan setelah meninggalkan kamar.
"Lalu, bagaimana dengan istri, Anda Bos?" tanya Leon.
"Jangan sampai dia tau, aku inginnya mengambil baby Zaen saja dan setelah itu pergi meninggalkan rumah. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku," jelas Rayyan.
Leon tak lagi bertanya, ia menuruti apa perintah bosnya. Ia mengeluarkan mobil dari garasi dan setelah itu langsung pergi.
***
Kedatangan Rayyan diketahui oleh orang-orang di sana. Salah satu anak buah Smith memberikan kabar bahwa putranya telah kembali. Smith dan kakaknya yang bernama Said menemui Rayyan. Hal pertama yang dilakukan Smith adalah, menampar wajah putranya dengan sangat keras.
Pria tampan itu sampai menunduk setelah mendapatkan tamparan dari ayahnya.
"Di mana putraku?" tanya Rayyan tanpa menoleh, bahkan posisi kepalanya masih menunduk.
"Kamu tidak dapat menemui putramu, hukuman masih berlaku, Rayyan," kata Said.
"Aku tidak peduli dengan prinsip itu, jika harta yang membuat kalian seperti ini silahkan. Aku hanya ingin membawa putraku pergi dari sini," jelas Rayyan.
Mata Smith menyalak marah, ia tidak merelakan begitu saja. Apa lagi dengan harta yang harus jatuh kepada orang lain.
Rayyan pergi hendak mencari putranya. Namun, Said melepaskan tembakan ke sembarang arah. Rayyan tidak bisa bertemu dengan putranya, apa yang ia rasakan makan Smith pun harus merasakannya.
Keadaan di rumah itu seketika ricuh. Anak buah Said berhamburan masuk ke dalam.
"Ambil bayi itu," titah Said kepada anak buahnya.
__ADS_1