Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 21


__ADS_3

"Berani kalian menyentuh putraku, ku patahkan kaki kalian!" seru Rayyan.


Anak buah Said pun terhenti seketika, tak ada yang berani kepada Rayyan. Mata Said pun meletot kepada anak buahnya, apa yang ditakutkan? Rayyan hanya laki-laki biasa, pikirnya.


Bukan hanya Said yang tidak tahu siapa Rayyan sebenarnya, orang tuanya pun tidak tahu kalau anaknya adalah seorang mafia tersembunyi. Rahang pria itu mengeras, bahkan jari jemarinya merekat kuat. Berani sekali anak buah omnya itu menyuruh mereka mengambil baby Zaen.


Rayyan memberi kode kepada Leon melalui sudut mata. Leon yang tahu akan kode itu langsung mengangguk pelan. Rayyan menyuruhnya mengerahkan semua anak buahnya untuk menghadang anak buah Said. Rayyan pun akhirnya melanjutkan perjalanan menuju kamar sang ibu.


Lagi-lagi, Said menembak untuk menghentikan langkah keponakannya. Rayyan langsung membalikkan tubuh karena sudah tidak bisa menahan amarah. Kepalanya sengaja diadukkan kepada omnya sendiri, sehingga Said mengeluarkan darah dari lobang hidung akibat hantaman dari kepala Rayyan.


Said menyentuh hidung dan darah mengalir mengenai jari-jarinya. Laki-laki itu tersenyum sinis sambil mengusap darah itu. Anak ingusan itu ternyata cukup mempunyai nyali. Perang antara saudara sepertinya akan dimulai, pikir Said.


"Berani kamu melawanku?!" kata Said. "Kamu belum tau dengan siapa kamu berhadapan," ujarnya lagi. Said siap melayangkan sebuah bogeman mentah kepada Rayyan. Namun, tangan itu hanya mampu berada di udara saja.


Rayyan menangkis tangan kekar yang berani menyentuhnya. Ia tak peduli dengan siapa lawannya. Rayyan memelintir tangan itu sampai ke bawah. Tangan Said yang satu lagi tidak tinggal diam. Tangannya membawa senjata dan siap diacungkan ke arah keponakannya itu.


Smith sendiri tidak menyiapkan sesuatu, tangannya kosong sehingga ia tak bisa melawan karena kakaknya membawa senjata. Beberapa menit kemudian, pasukkan yang pinta akhirnya muncul. Anak buah Rayyan datang dan mereka tidak sebanding dengan anak buah Said yang hanya berjumlah beberapa orang.


Salah satu anak buah Rayyan menembak tangan Said tepat disenjata. Seketika, benda mematikan itu terjatuh entah kemana. Said terkejut dengan kedatangan orang-orang itu. Bahkan anak buah Said mundur karena hampir semua anak buah Rayyan memiliki senjata.


Smith tersenyum, anaknya memang bisa diandalkan. Kejadian tak terduga ini bisa menyelamatkannya dari kakaknya. Rayyan selalu menjadi kebanggaan keluarga. Tapi, adanya masalah ini membuat Smith kecewa. Anaknya mencoreng nama baik keluarga.


"Bereskan mereka," kata Rayyan kepada Leon. Om yang selalu ia banggakan, kini mengibarkan permusuhan. Rayyan tidak lagi memandang Said sebagai keluarga. Laki-laki paruh bayu itu berniat jahat kepada putra kecilnya.


Rayyan melangkahkan kaki yang tinggal beberapa meter lagi ke kamar orang tuanya. Tiba di depan pintu, ia langsung mengetuk dan memanggil mamanya.


"Ma, buka pintunya. Aku datang untuk membawa putraku," kata Rayyan.


Elena pun akhirnya muncul dari dalam sambil memangku baby Zaen. Bayi kecil itu menangis karena sedari tadi berada di dalam kamar dan tengah kehausan.


"Kenapa Mama biarkan anakku menangis?" tanya Rayyan. Ia mengambil alih baby Zaen dan mencoba menenangkannya. Tapi, baby Zaen tidak bisa tenang karena memang sangat kelaparan. Rayyan tidak bisa tinggal diam, sedangkan di rumah ini tidak tersedia susu bayi.

__ADS_1


"Ray," panggil sang mama.


Rayyan tak mengedahkan panggilan dari sang mama, yang ia pikirkan saat ini adalah anaknya. Malam semakin larut, di dalam rumah itu masih tegang. Anak buah Rayyan masih berjaga, dan tangan mereka siap menembak jika ada yang berani menghentikan langkah bosnya yang tengah berjalan keluar membawa baby Zaen.


Salah satu anak buah Rayyan lengah, dan itu membuat Said mengambil kesempatan. Said mengambil pist*l dari tangan anak buah Rayyan.


"Berhenti! Atau akan ku tembak." Kata Said sambil mengacungkan senjata ke arah Rayyan.


Rayyan berhenti, lalu menoleh sedikit. Dan tatapannya kembali pada anaknya. Rasa sayangnya lebih besar pada baby Zaen. Apa pun yang terjadi ia tidak peduli, yang penting baby Zaen bisa tenang dan tidak menangis lagi. Rayyan terus melangkah, ia yakin kalau Leon tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu.


Pada langkah ke tiga, Said melepaskan satu tembakan. Tembakan itu mengenai lengan Rayyan. Peluru itu ternyata meleset sehingga kulit Rayyan hanya tergores. Namun, tetap mengeluarkan darah.


Akibat tembakkan itu, anak buah Rayyan langsung membekuk Said. Tak ada ampun dari mereka untuk laki-laki paruh baya itu. Anak buah Said pun kalah karena kalah jumlah.


***


"Bos, tanganmu," kata Leon.


"Cari minimarket terdekat, anakku benar-benar kehausan," ucap Rayyan.


"Tapi tanganmu," ucap Leon.


"Beli susu dulu." Rayyan tak menghiraukan lukanya.


Akhirnya, mobil yang ditumpangi mereka pun berhenti di minimarket. Leon meminta pada petugas di sana untuk menyiapkan susu bayi yang benar-benar bagus. Sekalian membeli perban untuk luka bosnya.


Beberapa menit, Leon kembali dengan pesanan bosnya "Ini, Bos." Leon menyerahkan botol susu yang masih hangat.


Rayyan mengambilnya dan memberikannya kepada baby Zaen. Tapi sepertinya baby Zaen tidak biasa minum susu botol sehingga bayi berusia tiga bulan itu melepehkan susunya.


"Kenapa anakku tidak mau menyusu?" tanya Rayyan.

__ADS_1


Leon kurang mendengar karena ia sendiri sibuk sedang membungkus luka bosnya dengan alat seadanya. Rayyan yang kesal langsung menggubriskan tangannya.


"Hentikan! Apa kamu tuli?!" cetus Rayyan.


"Tapi ini masih berdarah," kata Leon, ia sampai terkejut dan perban itu terjatuh ke bawah jok. "Sepertinya baby Zaen tidak minum susu formula, Bos. Dia minum ASI," jelas Leon.


"Berarti kita harus segera menemui Maura. Kamu saja yang nyetir," titah Rayyan pada Leon. Mobil itu seakan lambam seperti siput, padahal jarak yang ditempuh cukup jauh.


Leon langsung pindah ke kursi kemudi tanpa mobil itu berhenti. Bak pembalap lihai, Leon ngebut sampai Rayyan sendiri memakinya. Leon menghela napas, tadi suruh ngebut dan sekarang malah mengomel, pikirnya.


Perjalanan penuh drama, akhirnya pun sampai. Baby Zaen sampai kembali tertidur. Waktu menunjukkan hampir jam 5 pagi. Beruntung, Maura tidak terbangun sehingga ia tidak tahu akan kembali suaminya.


Rayyan memebaringkan tubuh baby Zaen di samping istrinya. Seketika, Maura terbangun karena merasa terganggu dengan suara tangisan baby Zaen.


"Anakku," ucap Maura yang baru saja terjaga dari tidurnya. Wanita cantik itu menciumi baby Zaen sambil menangis. "Kamu pasti haus ya?" Maura langsung mengeluarkan benda kenyalnya di hadapan suaminya. Rayyan yang baru saja melihat langsung membelakangi. Ia tak ingin mengganggu momen baby Zaen menyusui.


***


Maura menemui suaminya setelah memberikan ASI kepada baby Zaen. Rayyan sendiri tengah mengobati luka akibat tergores peluru dari Said.


Maura melihat luka itu, ia yakin telah terjadi seauatu disaat menjemput baby Zaen. Dugaan yang tidak peduli itu mendadak sirna. Melihat luka di tangan suaminya membuat Maura yakin bahwa Rayyan serius dengan ucapannya.


Maura mengambil alih aktivitas suaminya.


"Pasti ini sakit," ucap Maura.


"Tentu, aku ingin kamu mengobatinya dengan cara lain," kata Rayyan.


Maura menoleh dan menatap wajah suaminya, ada sesuatu di mata laki-laki itu. Ada cinta yang terlihat, tapi ia langsung memalingkan wajah. Sayang, Rayyan tidak membiarkan itu. Ia meraih dagu istrinya.


"Ba-bagaimana ceritanya kamu membawa anak kita kembali?" Pertanyaan itu menghentikan aksi Rayyan yang hendak mendaratka bibirnya di bibir Maura.

__ADS_1


__ADS_2