Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 34


__ADS_3

Di dalam ruangan gelap serta suara-suara tikus berdecit, menggerayangi tubuh Alex. Pria itu sangat merasa kesakitan akibat tembakkan di kakinya. Darah masih merembes keluar. Pria itu tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya masih terikat.


Derap langkah mulai terdengar di pendengarannya. Alex menajamkan pendengarannya, berharap ada orang yang menolongnya. Meski mustahil, tapi ia sangat berharap. Ia begitu jijik dengan binatang-binatang yang masih menempel di tubuhnya, apa lagi di dalam celananya. Tikus itu masih bersemayam di dalam sana, bahkan sesekali mencakar kepemilikkannya.


"Siapa di sana?" tanya Alex. Keadaan gelap membuatnya tak bisa melihat ruangan disekitar.


Suara langkah kaki semakin dekat. Alex sudah ketar-ketir karena orang itu tidak menjawab, ia yakin orang itu akan kembali menyiksanya.


"Aduh ... Sakit," keluh Alex menjerit. Lukanya yang dirasakan semakin menjadi kala ada yang menendangnya. Orang yang datang itu benar menyikaanya. "Ampun, tolong maafkan," ucap Alex.


"Tidak ada kata ampun bagi orang sepertimu, berani kau menyakiti istri dan anakku maka kau akan menerima akibatnya!" katanya, yang tak lain adalah Rayyan.


Alex tahu siapa yang datang, akhirnya ia meminta ampun. Ia tak akan menyakiti istri dan anaknya. Rayyan bukan lawannya, kini ia tahu siapa laki-laki yang sudah menikahi Maura. Rayyan bukan orang sembarangan, pria itu tak memiliki hati kepada orang seperti dirinya. Alex terus memohon ampun, setidaknya Rayyan mau menjauhkan binatang-binatang itu dari tubuhnya.


"Aku akan melakukan apa pun, tapi ku mohon jauhkan tikus--tikus itu," ucap Alex begitu mengiba.


"Ini tidak setimpal dengan apa yang telah kau lakukan kepada nyonya Merlin, kau sudah membunuhnya hanya demi harta. Dan sekarang, kau ingin menyingkirkan putraku." Rayyan menyalakan sebuah lilin, cahayanya mampu menerangi wajah Alex yang penuh dengan keringat.


Dari lelehan lilin itu, Alex kembali meminta ampun. Dengan kejamnya, Rayyan meneteskan cairan lilin panas itu di bagian wajah Alex. Pria itu mengepiskan wajah ke kanan dan ke kiri untuk mengindari lilin itu.


"Hentikan, ku mohon," ujar Alex.


Rayyan menghentikan sejenak, lalu menatap tajam wajah Alex. "Ini belum seberapa, kau akan mendapatkan hukuman lebih dari ini." Setelah mengucapkan itu, Rayyan melempar lilin tersebut dan mengenai sebuah kain yang tergeletak di sana. Kain itu sampai terbakar.

__ADS_1


Alex ketakutan saat melihat api di depannya yang melahap sebuah kain. Rayyan membiarkan api itu membesar. Alex beringsut sampai terjatuh bersamaab dengan kursi yang di dudukinya. Pria tak berdaya itu mencoba menghindari api yang sebentar lagi merambat mengenai dirinya.


Sosok kejam Rayyan akhirnya muncul, ia membiarkan Alex ketakutan. Sepertinya, permainan hari ini cukup sampai di sini. Seketika, api dipadamkan dengan injakkan kaki Rayyan. Ruangan itu kembali gelap gulita.


Alex masih meronta tak berdaya, apa lagi ia harus menahan sakit di kaki akibat tembakkan itu. Pria itu mesih tergeletak di lantai dengan posisi terikat dengan kursi.


Rayyan meninggalkan tempat itu, ia harus pulang karena janjinya kepada istrinya.


"Jaga tempat ini, jangan sampai dia kabur," ucap Rayyan pada anak buahnya di sana. "Leon, kamu ikut pulang denganku," ajaknya kemudian.


Leon pun mengangguk dan menyusul bosnya yang lebih dulu berjalan meninggalkan tempat itu. Mereka putuskan untuk pulang.


***


Buru-buru, Leon turun dari mobil untuk melihat keadaan di dalam rumah. Rayyan hanya bisa menyaksikan kepergian anak buahnya yang pergi begitu tergesa-gesa.


Ini sudah larut malam, kenapa ada Nolan di sini? Pikiran itu terus membayangi, kenapa ia tak rela jika Lisia dekat dengan Nolan? Apa karena Lisia baik dan tulus? Jadi ia tak rela jika wanita itu terluka oleh seorang laki-laki.


Tiba di dalam, ia melihat Lisia tengah duduk di sofa bersama Nolan. Entah apa yang mereka lakukan di sana, yang jelas, saat dirinya sampai mereka langsung terdiam dan melihat ke arah dirinya.


"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Leon.


"Tidak, justru aku senang kamu kembali. Kamu bisa temani Nolan di sini, aku sudah ngantuk," jawab Lisia. Dan gadis itu segera pergi, karena Lisia pergi, Nolan pun akhirnya pamit.

__ADS_1


"Sebaiknya aku juga pulang," ujar Nolan. Saat Nolan hendak keluar, ia berpapasan dengan Rayyan. "Tuan Rayyan," sapa Nolan. "Saya permisi," ujarnya lagi.


Rayyan tak menghiraukan, paling, kedatangan pria itu menemui Lisia, pikirnya. Ia pun melanjutkan perjalanan menuju kedalam rumah. "Kamu ngapain masih di sini?" tanya Rayyan. "Istirahatlah," tuturnya lagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30, Rayyan putuskan untuk segera menemui istrinya. Ia tak akan mengecewakan istrinya itu dengan janjinya yang tak akan pergi dalam jangka yang lama. Karena memang sudah larut, Muara pun sudah tertidur nyenyak bersama baby Zaen.


Bahkan kedatangannya tak disadari oleh mereka. Karena ia pun sudah mengantuk berat sehingga ia langsung merebahkan tubuh di samping Maura. Sampai-sampai, wanita di sampingnya terbangun karena akibat getaran tubuh yang ditimbulkan.


Maura langsung memeluk tubuh suaminya. Dan Rayyan pun membalas pelukkannya. "Habis dari mana sih jam segini baru pulang?" tanya Maura dengan nada serak khas bangun tidur.


"Ada urusan sebentar, maaf menganggu tidurmu," kata Rayyan.


Maura tak lagi berucap, wanita itu kembali tidur dengan sendirinya. Rayyan mengangkat wajah untuk melihat istrinya, ternyata istrinya itu sudah tidur. Ia tak mengganggu wanita itu. Ia membiarkan istrinya beristirahat. Mengurus seorang anak seharian tentu tidak mudah.


"Kamu pasti kecapean," ujar Rayyan. Ia mengecup kening istrinya dan menyusulnya untuk tidur.


***


Di ruangan lain, Leon malah tidak dapat tidur malam ini. Entah apa yang membuatnya tidak mengistirahatkan tubuhnya. Ia terus gulang-guling di tempat tidur. Kenapa ia malah kepikiran Lisia? Ada apa dengan wanita itu? Mendengar curhatan gadis itu membuatnya kasihan.


"Apa istimewanya Nolan?" ucap Leon sendiri. Lalu ia beranjak dari tempat tidur. Ia juga langsung menyalakan lampu. Ia bercermin dan mengamati wajahnya di dalam cermin. "Kalau dibandingakan aku dengan Nolan, sepertinya lebih tampan aku kemana-mana. Tapi apa yang membuat Lisia begitu menyukainya?"


Leon malah sibuk dengan pikirannya sendiri. "Kenapa aku jadi memikirkannya? Apa hak-ku membandingkanku dengannya? Itu urusan Lisia, Leon. Kenapa kamu ikut campur?" omelnya sendiri.

__ADS_1


Malam ini, Leon memaksakan diri untuk segera tidur. Ia tak ingin ikut campur urusan mereka. Mau apa pun itu bukan urusannya. "Lebih baik aku tidur, terserah mereka mau ngapain," pikirnya.


__ADS_2