
Seorang wanita tengah duduk di kursi di dekat jendela. Melihat rintik hujan yang membasahi bumi. Tatapannya kosong, entah kenapa hatinya masih merasa sakit. Padahal, tak ada ucapan yang menyakiti hatinya. Ia sadar bahwa ini seharusnya tidak boleh terjadi, persahabatannya sudah cukup lama terjalin.
Tidak ada dendam, hanya saja ia enggan untuk berdebat. Memang, wanita itu lebih berhak memutuskan mengizinkan atau tidaknya. Tapi, itu membuat hatinya terluka karena tidak ada dukungan dari seorang sahabat. Ia tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini selain suaminya.
Setelah melakukan pembuahan di dalam rahim, membuatnya harus beristirahat total. Beruntung, sel telur yang dimiliki suaminya sangat bagus sehingga dapat melakukan transfer bayi tabung. Ia jadi tidak sabar untuk segera melihat hasil perkembangan bayi tabung yang dijalaninya.
Membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat Minggu untuk melihat hasilnya. Dalam kesendirian, Lisia terkesiap dari lamunan. Suaminya baru saja tiba di ruang rawatnya.
"Maaf, terlalu lama aku pergi," kata Leon.
Lisia tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, ada suster yang membantuku."
Sudah satu Minggu lamanya mereka berada di Singapura, entah kapan mereka akan kembali. Proses bayi tabung tidaklah mudah, apa lagi kandungan itu rentan keguguran atau melahirkan secara prematur. Lisia harus beristirahat total. Keberadaannya di rumah sakit membuat Leon tak ada waktu mengurus yang lain.
Bahkan ponselnya sama sekali tidak pernah diaktifkan, itu semua keinginan istrinya. Ia ingin fokus pada bayi tabung yang dijalaninya.
Leon kembali menemani istrinya sambil melihat proses bayi tabung melalui ponsel. Ponsel yang baru dibelinya. Anak yang dilahirkan cukup sehat sehingga membuat Lisia semakin bersemangat.
Padahal, Leon sangat normal. Ia bisa membuahi sel telur istrinya dengan cara manual. Hanya saja, setelah diperiksa, Lisia memang ada gangguan di bagian mulut rahim sehingga tidak dapat secara langsung menerima sel telur yang ditransfer suaminya. Meski begitu, Leon tetap mencintai istrinya karena tidak akan lama lagi akan hadir sosok malaikat kecil dalam hidupnya.
"Boleh aku cek ponselku?" tanya Leon. Ia merasa bersalah kepada bosnya karena terlalu lama pergi tanpa kabar.
"Tapi aku tidak mau mereka tau kalau kita melakukan bayi tabung," jawab Lisia. Setelah tahu mulut rahimnya bermasalah, ada iri dalam hatinya kepada Maura. Entahlah, hanya dia yang tahu kenapa itu bisa terjadi. Intinya ia sakit hati saat Maura tidak mengizinkannya pergi berlibur bersama Zaen.
"Kamu kenapa? Kepergian kita seakan ada masalah besar, apa yang kamu tutupi?" Leon tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, karena Lisia tidak mengatakan apa pun kepadanya.
"Tuan Rayyan pasti kewalahan mengurus pekerjaannya sendirian, dan aku butuh ponsel itu."
Lisia tak kunjung memberikannya. "Bisa tidak jangan bicarakan soal pekerjaan? Aku di sini ingin fokus, dan kamu sebagai suami harus memberikanku suport. Aku mau hanya aku yang kamu prioritaskan."
__ADS_1
Kenapa istrinya jadi seperti ini? Lisia menjadi egois seperti ada yang ditutupi darinya. Karena tidak ingin memperkeruh keadaan, ia pun akhirnya mengalah dan tak lagi meminta ponselnya. Ia menuruti apa kata istrinya karena kata dokter Lisia tidak boleh banyak pikiran, itu akan berakibat pada janin yang ada dalam kandungannya sekarang.
***
Di tempat lain.
Rayyan benar-benar kewalahan tanpa Leon. Tidak mudah menggantikan posisi laki-laki itu. Juga Maura, ia ketergantungan kepada Lisia. Memiliki dua anak dengan umur yang berdekatan membuatnya sangat repot. Bahkan Zaen sering memanggi-manggil Lisia dengan sebutan mammy.
"Rayy, coba kamu cari tau di mana mereka. Masa cari mereka saja kamu tidak bisa," kesal Maura.
"Bukan tidak bisa, aku belum punya waktu banyak. Kamu tau sendiri aku sering pulang malam," jawab Rayyan.
"Suruh orang untuk mencari di mana mereka sekarang."
Bukan tidak ingin, Rayyan sangat membutuhkan Leon apa pun akan ia lakukan untuk mencari pria itu. Sebenarnya, dari kemarin pun ia sempat mencari. Tapi, Leon dan Lisia bak ditelan bumi. Leon begitu pandai dalam menyembunyikan diri, seperti sekarang. Meski Rayyan seorang mafia, bukan berarti ia bisa melakukan semuanya. Terlebih itu, ada Leon yang membantunya.
"Oke, aku akan mencari tau di mana mereka sekarang."
"Untuk apa mereka pergi ke sana? Tidak mungkin kalau hanya untuk berlibur."
Dari data rumah sakit, dalam sekejap Rayyan bisa meminta data yang menjadi pasien di rumah sakit sana. Yang dicari ternyata benar adanya. Lisia yang menjadi pasien salah satu di rumah sakit ternama di Singapura.
***
"Rumah sakit? Untuk apa mereka di sana?" tanya Maura saat suaminya sudah memberikan info kepadanya.
"Lisia melakukan bayi tabung," jawab Rayyan.
"Melakukan bayi tabung? Kenapa tidak bilang padaku?" kata Maura.
__ADS_1
Apa ada kata-kata yang membuat wanita itu tersinggung? Maura tahu betul bagaimana Lisia menolak proses bayi tabung saat suaminya ingin melakukannya.
"Apa kamu bisa berpikir kenapa Lisia melakukan bayi tabung?" tanya Maura.
"Ya karena dia mau punya anak, jalan salah satunya bayi tabung," jawab Rayyan.
"Tapi menurutku bukan itu saja, kamu ingat saat mereka ingin mengajak Zaen pergi bersamanya? Aku memang tidak mengatakan apa pun, tapi setidaknya aku rasa itu penyebab Lisia mau melakukan bayi tabung."
"Jadi, menurutmu mereka marah kepada kita? Tapi apa salahku? Leon tidak mungkin meninggalkanku begitu saja. Tanggung jawabnya begitu besar. Tapi kamu tenang saja, besok aku akan menjemputnya."
Merasa tidak bersalah, dan Rayyan harus membenarkan keadaan ini. Bagaimana pun Leon orang pentingnya, tanpa bantuannya semuanya tidak akan seperti ini.
***
Keberangkatan Rayyan pun akhirnya tiba. Mereka pergi bersama pengawal yang bekerja langsung dari tangan kanan Leon. Orang itu akan ikut membujuk Leon untuk segera kembali ke tanah air. Setibanya di sana. Leon dan Lisia dipindahkan dari rumah sakit terdahulu.
Sehingga, saat tiba di sana, Rayyan tak bertemu dengan anak buahnya itu. Leon sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu.
Sayang, Rayyan tidak dapat tahu soal kepindahan Leon, karena rumah sakit melarang keras
untuk membocorkan alamat pasien di sana.
Rayyan terlambat, ia mendengus kesal. Bahkan ia ngotot pada pihak rumah sakit. Namun, prosedur tetap berlaku sampai kapan pun. Rayyan tidak mendapatkan info kemana Lisia dipindahkan.
"Kenapa jadi seperti ini? Mereka itu sebenarnya kenapa?" kata Rayyan sendiri. Ia juga mengerahkan semua anak buahnya untuk mengecek setiap rumah sakit. Leon yang lebih pandai pun sudah mengetahui keberadaan bosnya. Rasanya ia ingin sekali menemui bosnya itu. Tapi, Lisia tidak mengizinkan. Mereka memang harus segera pergi ke rumah sakit lain.
Lisia dan Leon sudah sampai di rumah sakit tujuanya. Wanita itu langsung dipindahkan ke ruangan yang lebih lengkap. Leon terus menemaninya istrinya.
"Istirahatlah, jangan banyak pikiran."
__ADS_1
"Tetaplah di sini dan jangan ke mana-mana."