
Pada saat berbincang, Rayyan akhirnya memiliki ide untuk menjebak om-nya itu. Ia yakin pria tua itu akan masuk perangkapnya.
"Kenapa, Bos? Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Leon.
"Aku akan membuatnya lenyap. Sebelum dia melenyapkan putraku dia yang akan lebih dulu." Rayyan menyeringai licik. Ia tak peduli meski laki-laki itu adalah kakak kandung orang tuanya. Jika sudah mengenai nyawa, maka lenyap tali persaudaraan di antara mereka.
"Sudah dipikirkan matang-matang? Tuan Said masih keluargamu, Bos. Apa tidak ada jalan perdamaian?" tanya Leon lagi.
Baginya, tidak ada kata damai setelah kejadian hari ini. Hampir saja istrinya menjadi korban, dan baby Zaen pun kena imbasnya. Sekali tidak tetap tidak. Permusuhan sudah dimulai sejak dulu, mereka saja yang tidak tahu. Ia dan anak om-nya sudah bermusuhan. Karena anak dari tuan Said berada di luar negri sehingga anaknya itu belum tahu bahwa ia sudah memiliki anak.
Tapi ia yakin, Said tidak akan tinggal diam. Pria itu pasti memberitahukan kepada putranya apa yang telah terjadi, sebelum anak Said kembali ia harus segera menyelesaikan semuanya. Sebelum anak Said ikut campur mengenai prinsip konyol itu.
Perbincangan mengenai menyusun rencana sepertinya sudah selesai. Rayyan sendiri yang akan melakukannya. Rasa geram kepada Said sudah membuncah, perlakuan lelaki itu sudah tidak bisa ditoleransi. Jika Said menginginkan nyawa, maka ia pun menginginkan nyawa.
***
Maura membelai lembut kepala putranya, ia sedih melihat kondisi baby Zaen. Tak berselang lama, suaminya datang menemuinya. Karena Rayyan menghampiri, Lisia pun pamit. Malam ini ia akan bermalam di sana. Gadis itu mencoba melupakan perasaannya pada Nolan.
"Ra, aku keluar. Kalau butuh bantuan kamu panggil saja aku," ujar Lisia di ambang pintu.
"Ada aku, kamu istrirahat saja. Terserah mau menempati kamar mana," sahut Rayyan. Lisia pun mengangguk dan benar-benar pergi.
"Kamu belum makan sejak tadi, makan dulu ya?" kata Rayyan pada istrinya.
"Aku tidak lapar," jawab Maura.
"Jangan seperti ini, kamu harus tetap makan biar anak kita cepat sembuh. ASI-mu harus tetap terjaga." Rayyan membujuk karena ia membutuhkan bantuannya untuk rencananya besok saat ia akan pergi menemui orang tuanya. Ia yakin kalau Said pasti akan tahu soal kedatangannya.
"Aku ambilkan ya?" kata Rayyan lagi. Dan akhirnya, Maura pun mengiyakan.
__ADS_1
Setelah mengambil makanan, Rayyan langsung menyuapi istrinya. Gizi wanita itu harus tetap terpenuhi. "Enak 'kan?" tanya Rayyan saat menyuapi istrinya, diangguki oleh Maura sendiri.
"Setelah ini kamu istirahat, karena besok aku butuh bantuanmu," ucap Rayyan.
"Bantuan apa?" Maura langsung menghentikan kunyahannya, penasaran dengan bantuan yang harus dilakukannya.
"Besok aku akan menemui orang tuaku, dan kamu harus ikut."
"Tidak, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap bersama putraku," tolak Maura.
"Ini demi anak kita." Ia tak memberitahukan rencana jahatnya, karena ia yakin kalau istrinya tahu wanita itu tidak akan setuju. Rayyan hanya membujuk istrinya untuk ikut, sementara baby Zaen tetap di sini bersama Lisia.
"Setelah semuanya selesai, kita akan baik-baik saja. Hidup kita akan bebas," jelasnya lagi.
"Baiklah, tapi Zaen tetap di sini," ujar Muara.
***
Keesokan paginya.
Rayyan dan Maura sudah siap berangkat. Tapi, saat Maura melihat kereta bayi di dalam mobil, ia tidak langsung masuk. Ia langsung bertanya mengenai kereta bayi itu, sedangkan, suaminya sudah berjanji tidak akan membawa putranya.
Inilah yang disebut susunan rencananya. Rayyan akan menjebak Said dengan kereta bayi itu. Ia yakin kalau Said melihatnya, ia akan menganggap bahwa di dalam kereta bayi itu ada baby Zaen. Incaran Said mau Alex hanya anaknya, bukan yang lain.
"Kamu bilang tidak akan membawa anak kita, tapi ini apa?" tanya Maura sembari menunjuk kereta bayi di dalam mobil.
"Tenanglah, itu bagian rencana Tuan Rayyan," jawab Leon membantu meyakinkan istri bosnya.
"Untuk apa?" tanya Maura.
__ADS_1
"Tidak untuk apa-apa, biarkan saja di dalam mobil," timpal Rayyan. "Kamu sudah atur semuanya?" tanya Rayyan berbisik di telinga Leon.
"Sudah, mobil aman sampai tujuan. Setelah itu, Bos jangan gunakan mobil itu lagi, semua sudah di setting jarak tempuh," jawab Leon dengan bisikkan.
"Mau berangkat jam berapa? Dari tadi kalian bisik-bisik terus. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan Zaen," tutur Maura.
"Oke, kita berangkat sekarang." Rayyan langsung naik ke dalam mobil, dan disusul oleh Maura. Sebelum pergi, Maura melongokan wajahnya di jendela.
"Sa, titip anakku. Aku tidak akan lama," kata Maura. Lisia mengangguk sambil tersenyum.
Rayyan pun mulai menyalakan mesin, dan mobil melaju dengan kecepatan sedang. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya ia sampai di kediaman orang tuanya. Sejak di perjalanan tadi, Rayyan menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya. Ia yakin kalau orang itu pasti suruhan Said.
Saat tiba di rumah orang tuanya, Rayyan melihat seseorang di dalam mobil yang ia yakini itu adalah Said. Sepertinya rencananya akan berjalan mulus. Ia mengajak istrinya turun dari mobil, lalu mengeluarkan kereta bayi.
"Untuk apa kereta bayi itu diturunkan?" tanya Maura.
"Tidak untuk apa-apa," jawab Rayyan. "Kamu duluan saja, aku ada urusan sebentar dengan kereta ini, sepertinya ada kerusakan di rodanya," alasannya.
Karena hari mulai panas, Maura segera saja masuk karena pembantu di sana menyambut kedatangan mereka. Rayyan pura-pura, seolah ada baby Zaen di dalam kereta bayi itu. Ia memancing Said keluar dari mobilnya. Ia juga pura-pura lengah pada anaknya. Lalu, Rayyan berakting seakan menerima panggilan dan membiarkan kereta kosong itu di dekat pintu mobil yang terbuka lebar.
Hingga beberapa saat, seseorang datang menarik kereta bayi itu ke dalam mobil. Dan mobil langsung dibawa oleh orang itu. Rayyan berakting seolah mengejar. Mobil melesat begitu kencang. Dan orang yang membawa mobil itu tertawa terbahak-bahak.
"Kan ku habisi anakmu ini, Rayyan. Anak ingusan sepertimu tidak akan bisa melawanku." Orang itu semakin tertawa, karena merasa berhasil membawa anak keponakannya itu. Siapa lagi kalau bukan Said.
Said terus melajukkan mobil dengan kecepatan penuh, karena ia yakin kalau Rayyan tengah mengejarnya. Sesekali, Said menoleh ke belakang. "Kamu tidak akan bisa mengejar Om," ucapnya sendiri. Lama-lama, ia tidak bisa mengendalikan mobilnya. Tiba-tiba mobil itu bermasalah. Remnya tidak berpungsi, Said gelagapan. Mobilnya mulai oleng dan benar-benar lepas kendali.
Sementara Rayyan, senyum licik mulai terpancar karena ia berhasil menjebak om-nya itu. "Silahkan bawa kereta kosong itu kemana pun kamu pergi!" Rayyan menyeringai puas. Lalu ia segera menyusul istrinya yang sudah berada di dalam rumah.
"Lama sekali, kamu ngapain aja di luar?" tanya Maura. Wanita itu menjadi gugup karena ini pertama kali ia akan bertemu dengan papa suaminya. Ia tidak tahu, apa laki-laki itu akan menerimanya jadi menantu?
__ADS_1