Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 43


__ADS_3

Darah Leon merasa mendidih saat itu juga. Kemarin kemana saja? Mengabaikan Lisia tanpa perasaan, dan sekarang dengan mudah ingin memeluknya. Pria mana pun tidak akan merelakan kekasihnya dipeluk orang lain. Meski itu salam perpisahan, cukup berjabat tangan 'kan bisa! Bagaimana pun Lisia pernah menaruh hati yang begitu dalam, bagaimana kalau perasaannya berubah dan kembali pada cinta pertamanya? Rasanya tidak sanggup untuk kehilangan yang kedua kalinya.


Baru saja Leon hendak melangkah. Namun, sebuah tangan menghentikannya. Rayyan mencoba meredam emosi anak buahnya itu. Kalau ia jadi Leon pun sepertinya akan sama, tidak rela jika wanitanya disentuh apa lagi di peluk. Tapi ia yakin, Lisia bukan wanita murahan. Walau sedikit agresif tapi gadis itu masih punya batasan.


Lisia agresif bukan seperti wanita nakal, ia agresif hanya karena perhatiannya berlebihan. Leon hanya menghela napas panjang. Di ujung sana ia menantikan apa yang akan dilakukannya setelah tahu orang yang pernah dicintainya minta salam perpisahan.


Nolan hendak merentangkan tangan karena Lisia tak kunjung merespons, tapi saat itu juga gadis itu menghentikannya dengan tangannya. Ia menolak pelukkan perpisahan itu. Ia tak ingin menyakiti kekasihnya, baru saja ia merasakan kebahagiaan.


"Maaf, aku tidak bisa." Penolakkan itu semaiin membuat Nolan hancur, tapi tak mengapa. Ia memgerti.


"Maaf, aku tak bermaksud ..." Nolan tak bisa melanjutkan kata-katanya, semuanya sia-sia saja walau dijelaskan. Ini memang sudah saatnya ia pergi. "Semoga kamu bahagia, maafkan aku yang pernah menyakitimu." Selepas kata itu, ia pun pergi tanpa menoleh kembali.


Nolan benar-benar sudah pergi dari pandangan.


Maura mengusap punggung Lisia. "Sudah, jangan dipikirkan. Sudah saatnya kamu bahagia, Leon masa depanmu."


Lisia tersenyum, lalu menoleh ke arah kekasihnya. Ia sudah siap kejenjang yang lebih serius. Lagi pun, apa yang ditunggu? Usia mereka cukup matang untuk menjalani sebuah keluarga.


_


_


Leon benar-benar dengan pernyataannya. Hari ini, setelah kejadian kemarin membuatnya ingin mengikat Lisia dengan ikatan pernikahan. Leon tidak mau menunggu lagi.


Berkat dukungan dari sang bos semua bisa teratasi. Acara dadakan pun bisa sesempurna ini. Leon dan Lisia sudah seperti ratu dan raja. Beberapa menit yang lalu mereka sah menjadi sepasang suami istri. Wajah berseri menghiasi pasangan yang berbahagia itu.


Keamanan sangat dijaga ketat. Tamu tak bisa masuk tanpa undangan yang dibagikan secara mendadak. Bahkan Rayyan menggunakan barkot sebagai undangan sehingga tak bisa ada yang menganggu pesta pernikahan Leon dan Lisia. Gedung mewah itu menjadi saksi bisu, sakralnya pernikahan mereka disaksikan orang-orang terpenting. Kolega keluarga Rayyan Smith hadir. Begitu pun dengan kedua orang tua Rayyan sendiri.


Elena nampak sedang menggendong cucunya. Tapi, suaminya masih perang dingin dengan putranya itu. Rayyan tak menyapa ayahnya sama sekali. Ia merasa tidak salah, tapi ia membiarkan sikap ayahnya seperti itu padanya. Ia hanya berharap, Smith dapat menerima cucunya dengan hati bersih.


"Ma, Papa masih marah sama aku dan suamiku?" tanya Maura pasa mama mertuanya.


"Tidak, gengsinya terlalu kuat. Rayyan sama papanya itu sebelas dua belas." Elena terkekeh karena ia dan suaminya pun sudah berbaikan. Ia berhasil meluluhkan hati suaminya. Setelah kepergian Said, tak ada lagi prinsif-prinsif. Semua kehidupan punya jalan cerita masing-masing. Yang terpenting sekarang semuanya bahagia.

__ADS_1


"Mama senang akhirnya Leon menikah, dia gadis yang sangat cantik," puji Elena saat melihat mempelai wanita.


"Bukan cuma cantik, dia juga baik dan pintar," timpal Maura.


"Menantu Mama juga cantik, sampai melahirkan cucu yang sangat tampan." Elena mencium baby Zaen dengan sangat gemas.


"Tapi aku takut, Ma. Ini pertama kali aku membawa Zaen keluar rumah."


"Jangan takut, kami ikut menjaga kalian."


***


Pesta masih berlangsung. Sepasang suami istri itu terlihat kelelahan. Bibir yang begitu terasa kering karena selalu mengumbar senyum. Kedua kaki sudah terasa pegal karena sedari tadi menyambut para tamu yang memberi ucapan.


"Kapan kita menggelar pesta? Bos-nya saja belum merayakan hari pernikahan," celetuk Rayyan. Jelas ia iri dengan pengantin itu, saat ia menikah malah alakadarnya. Tapi anak buah menggelar pesta sangat meriah.


"Ngomong apa sih kamu ini? Sudah menikah saja aku sudah bahagia, yang terpenting baby Zaen punya Ayah. Aku tidak mau menggelar pesta, aku takut nanti malah ada orang yang berbuat jahat. Lindungi saja aku dan anakmu," jawab Maura.


"Ya, setidaknya ada honeymoon yang kita jalani."


"Serius mau nambah?"


Maura mengangguk. "Aku pengen anak kita nanti perempuan, pasti lucu." Sembari membayangkan anak kecil yang sangat cantik, ia mendandaninya dengan menguncir rambutnya yang seperti rambut jagung.


"Pulang yuk?" ajak Rayyan kemudian. "Sudah selesai 'kan? Aku sudah bisa menyentuhmu 'kan?" Rasa ketidaksabaran itu sangat mendesaknya, ia melakukannya pun baru dua kali, sedangkan anaknya sudah lahir. Kalau dipikir, ia hebat juga. Sekali tancap langsung jadi, apa lagi sekarang yang bisa melakukannya berulang kali.


Rayyan sudah membayangi gaya apa saja yang akan dicobanya. Pikirannya sudah sejauh itu, ia benar-benar sudah ingin pulang.


"Acaranya masih lama, baru juga jam berapa?" Maura melirik jam di tangan.


"Mumpung ada mama yang jaga Zaen, kita bisa ke hotel sebentar 'kan?!" Rayyan menaikturunkan kedua alisnya.


"Gak ah, nanti saja tunggu malam. Ini masih siang."

__ADS_1


Wajah Rayyan langsung muram, tidak ada pilihan lain selain menunggu jam kunti.


Elena mendekat, ia menyerahkan baby Zaen kepada orang tuanya. Karena ia akan pergi ke toilet sebentar. Saat Elena ke toilet, Smith menghampiri. Ia terlalu gengsi karena ada istrinya.


Ayah dan anak itu saling berhadapan, Maura hanya bisa menyaksikan tanpa ikut berucap. Tiba-tiba saja, Smith merangkul putranya itu. Rayyan terkejut dengan perlakuan ayahnya. Apa pria itu sudah menerima anaknya? Apa Smith benar-benar tulus memeluknya?


Leon yang berada di vodium pun tersenyum, akhirnya, ayah dan anak itu kembali akur. Semoga tidak ada lagi penghalang di antara mereka. Hanya satu yang masih belum diselsaikan, yaitu Lukas. Pria itu harus disingkirkan, jiwa serakahnya seperti Said. Benar-benar tidak ada ampun lagi untuk pria itu.


***


Sampailah di penghujung acara. Elena begitu bahagia saat tahu suaminya memeluk putranya. Sepertinya peperangan antara ayah dan anak itu sudah berakhir. Bahkan Rayyan meminta tolong kepada orang tuanya, untuk menjaga baby Zaen semalam saja. Karena ia akan pergi bersama istrinya.


Tentu, dengan senang hati Elena mau direpotkan oleh cucunya itu.


"Tapi kita tidak bisa pergi lama, jangan lupakan kalau anak kita tidak bisa menyusu susu formula."


"Iya, kita pergi hanya sekitar dua jam atau tiga jam."


Karena acara sudah selesai, ia pun tak mau kalah dengan pengantin baru. Rayyan segera mengajak Maura pergi, dan mereka berpisah dengan baby Zaen di parkiran. Maura menciumi putranya terlebih dulu sebelum pergi.


"Mama pergi dulu ya, sayang. Mama janji tidak akan lama," ucapnya sembari mencium baby Zaen. "Aku titip anakku sebentar ya, Ma."


"Iya, kalian hati-hati. Jangan pulang terlalu malam."


Mereka pun berpisah. Rayyan membawa mobilnya langsung le hotel. Sedangkan Elena dan suaminya pulang ke rumah. Baby Zaen memang anak emas. Penjagaan diperketat, karena Smith tahu akan keberadaan keponakannya yang masih mengincar cucunya.


"Jangan lengah ya, Ma. Rayyan bisa ngamuk kalau terjadi sesuatu dengan Zaen," ujar Smith.


"Ya, Papa juga bantu jaga." Elena ingat betul akan kedatangan Lukas waktu itu ke rumahnya, pria itu akan membalaskan dendamnya soal kematian Said.


"Iya, Mama tenang saja." Smith melihat ke belakang, ia mengenali mobil yang kini tengah mengikutinya. "Sial," rutuknya. "Baru saja diomongin."


Elena pun menoleh ke belakang. "Itu mobil Lukas 'kan? Dia mengikuti kita, apa dia tahu kalau kita bawa Zaen?"

__ADS_1


"Tenang, jangan panik. Papa bisa handle." Jangan remehkan Smith dalam soal seperti ini, dari muda hidupnya sudah berliku-liku. Melumpuhkan bocah tengik seperti Lukas terlalu gampang. Ia tak akan membiarkan keponakannya itu menyentuh baby Zaen cucu pewarisnya.


__ADS_2