Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 48


__ADS_3

Semua berkumpul di ruangan Maura. Mereka sangat bahagia atas kehadiran putrinya yang diberi nama, Ranzha Rayyana Smith. Pertama yang menggendong Ranzha adalah Lisia. Ia sangat gemas dengan kecantikan bayi mungil itu, wajah kedua orang tuanya yang begitu berpadu.


"Ra, gemes banget sih." Lisia menciumi bayi mungil itu.


"Semoga kamu cepet nyusul," ucap Maura.


"Doakan saja," timpal Leon.


Lagi pun, mereka masih menikmati masa berdua mereka. Anggap saja masih pacaran, dan pacaran halal lebih menyenangkan bukan?


***


Karena persalinan secara normal, membuat Maura tidak merasakan sakit lagi. Wanita itu meminta segera pulang. Ia merindukan Zaen yang dari kemarin tidak bertemu. Karena memaksa, membuat suaminya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya iya-iya saja.


Dan akhirnya, mereka pun pulang hari ini juga. Ranzha di gendong oleh Elena. Sementara Leon dan Lisia berada di mobil yang berbeda. Meski begitu, mereka ikut ke rumah bosnya. Maura juga sudah sepakat dengan Lisia, mereka berdua yang akan mengurus Zaen juga Ranzha. Maura tak mau memakai jasa baby sitter.


Dan Zaen pun terpaksa di titipkan bersama pengasuh, dan itu hanya satu hari saja. Mereka pun akhirnya sampai di rumah. Zaen dan pengasuh itu sudah menyambut kedatangan mereka.


"Mom," ucap Zaen yang baru belajar bicara.


Maura melambaikan tangan pada bocah tampan itu. Zaen jingkrak-jingkrak karena tidak sabar ingin digendong oleh mommy-nya. Namun, Maura tak dapat menggendongnya karena suaminya melarangnya. Zaen berat sedangkan Maura baru saja melahirkan.


Zaen terus menangis meronta ingin di gendong. Lalu, sang ayah yang menggendongnya. Zaen tetap tidak berhenti menangis karena yang ia rindukan adalah ibunya. Zaen ingin menyusu, karena sejak kemarin hanya minum susu formula itu pun harus dipaksa.


"Jangan menangis ya, sayang. Biarkan Mommy istirahat dulu, sekarangkan ada dede bayi." Rayyan menunjuk ke arah Ranzha yang di gendong ibunya.


Zaen ingin memukul bayi itu karena tidak senang saat berada dalam gendongan neneknya.


"Ish, jangan dipukul. Nanti dede bayinya nangis," ujar Rayyan lagi.


Dan mereka pun masuk ke dalam rumah.


"Sepertinya Zaen cemburu, Zaen sama Aunty aja ya." Lisia mengambil alih Zaen dari pangkuan ayahnya.

__ADS_1


Seketika, Zaen berhenti menangis. Sepertinya, kasih sayang Lisia sama seperti ibunya.


"Zaen lebih anteng sama kamu dari pada sama aku, padahalkan aku Ayahnya," tutur Rayyan.


"Ya udah, Zaen berikan saja padaku. Itung-itung mancing," ujar Lisia.


"Enak saja, emangnya anak ayam," kata Rayyan disertai candaan.


***


Maura tengah beristirahat bersama bayi mungilnya. Dan Zaen bersama Lisia, mereka sangat dekat. Selama Maura hamil, Zaen sering dititipkan kepadanya. Dan sekarang, Lisia malah mau membawa Zaen menginap di rumahnya. Tentunya akan meminta izin lebih dulu kepada orang tuanya.


Maura dan Rayyan tidak mengizinkan, kecuali Lisia dan Leon yang bermalam di rumahnya. Tidak ada pilihan, akhirnya Lisia dan suaminya bermalam di sana.


Sampai menjalang malam pun tiba. Zaen tengah disuapi oleh Lisia. Dan kejadian itu dilihat oleh suaminya, ia pun ikut bergabung.


"Sayang, sabar ya. Kita pasti memiliki momongan, aku ada ide. Bagaimana kalau kita bayi tabung saja, secara kata dokter kita sama-sama subur kok."


"Kalau bayi tabung resikonya besar, aku mau alami saja. Lagian, belum satu tahun 'kan? Sabar aja ya?" Lisia kembali menyuapi baby Zaen. Anak itu menjadi dekat kepadanya setelah Maura memiliki anak kedua. Semoga, dengan ia ikut mengurus Zaen jadi terpancing.


"Sa," panggil Rayyan di depan pintu kamar tamu, ia berniat untuk membawa Zaen karena Maura yang menyuruhnya. Sayangnya, malah Leon yanf keluar.


"Mana Zaen?" tanya Rayyan.


"Sudah tidur bersama Lisia," jawab Leon.


"Aku mau membawanya," kata Rayyan.


"Tapi sudah tidur, biarkan saja mereka tidur bersama. Lagian, kalau menangis pun pasti kedengeran." Secara tidak langsung, Leon menolak karena ia ingin istrinya bersama Zaen.


"Hmm, baiklah. Nanti panggil saja aku." Rayyan pun berniat kembali ke kamarnya.


Pada saat itu juga, ia berpapasan dengan ibunya. "Kamu belum tidur, Rayy?" tanyanya.

__ADS_1


"Belum, Ma. Tadinya aku mau ambil Zaen yang masih bersama Lisia, tapi katanya sudah tidur."


"Biarkan saja, lagian itung-itung mancing. Siapa tau Lisia cepet hamil kalau asuh Zaen. Bisa bantu Maura juga 'kan? Kamu tau sendiri kalau istrimu itu tidak mau pakai jasa pengasuh."


Rayyan hanya manggut-manggut saja, setelah itu ia benar-benar pergi ke kamar. Setibanya di sana, Maura langsung menoleh dan menanyakan anaknya. Rayyan tak langsung menjawab, ia malah ikut duduk di tempat tidur. Bukan hanya istrinya yang harus beristirahat, ia juga kurang tidur saat menemani Maura yang sedang merasakan kontraksi di rumah sakit.


"Zaen nya mana? Kok gak diajak?" tanya Maura.


"Sudah tidur sama Lisia, aku juga gak sempat bertemu. Leon yang bilang," jawab Rayyan.


"Tapi kasihan Zaen, dia pasti lemes karena tidak menyusu. ASI ku juga sudah banyak lagi nih, Ranzha belum lahap minum susunya," terang Maura.


"Ya, mau bagaimana lagi? Zaen sudah nyenyak dan aku tidak tega membangunkannya. Mending, sekarang kamu tidur, Ranzha juga sudah tidur tuh."


Maura meletakkan bayi perempuannya di box bayi, dan ia pun mulai merebahkan tubuhnya yang sudah lelah. Menyangga kepala dengan dua bantal dan mulai memejamkan mata. Rayya memeluk istrinya dan mereka tidur.


Pagi hari.


Lisia sudah berkutat di dapur sambil menggendong Zaen. Pagi ini, ia sedang membuatkan bubur untuk anak itu. Zaen selalu mengoceh dan itu membuat Lisia semakin gemas.


"Pasti kamu sudah laper ya, sebentar lagi bubur timnya jadi. Ini rasa wortel, Zaen pasti suka. Zaen jangan panggil Aunty deh kalau gitu, panggil Mammy ya?"


Zaen menganggukkan kepala. Dan Lisia langsung terbahak. "Anak pinter, Mammy buatkan bubur tim untuk Zaen karena sekarang Zaen anak Mammy." Lisia menciumi wajah Zaen dengan sangat gemas.


Tak lama, Rayyan pun datang. Ia melihat kedekatan anaknya bersama wanita itu Bibirnya tersenyum karena mereka sama-sama mengoceh. Ia tak mengganggu aktivitas mereka. Selama Zaen senang maka ia akan membiarkannya.


"Semoga saja kamu cepat hamil," ucap Rayyan.


Mereka bukan seperti atasan dan bawahan lagi. Mereka sudah seperti keluarga yang saling melengkapi. Lisia menjadi pengganti saat Maura sedang sibuk, apa lagi sekarang, peran Lisia sangat penting di sini. Rayyan akan membujuk Leon untuk tinggal bersama, setidaknya memiliki rumah yang letaknya tidak jauh dengannya. Bila perlu ia akab buatkan rumah di lahan kosong samping rumahnya.


Karena tidak sabar, Rayyan langsung menemui Leon yang ternyata masih tidur di sofa kamar. Rayyan langsung masuk begitu saja dan membangunkan pria itu. Sayangnya, kali ini Leon begitu susah dibangunkan. Rayyan sampai bingung tidak biasanya laki-laki itu ngebo.


Padahal, semalaman Leon begadang. Ia tidak bisa tidur karena istrinya terbangun bersama Zaen, entah apa saja yang menjadi bahan perbincangan orang dewasa dengan seorang anak itu. Mereka sangat berisik sekali. Untung hari ini hari libur, membuat Leon bernapas lega.

__ADS_1


"Bangun, ini sudah pagi. Kamu ngapain tidur di sofa?" tanya Rayyan.


"Anakmu menguasai istriku," jawab Leon dengan suara serak khas bangun tidur.


__ADS_2