
Rayyan meraih tubuh yang tergeletak itu, ia belum tahu apa penyebab jatuh pingsan istrinya. Rayyan panik, begitu juga dengan Elena. Wanita itu memberikan baby Zaen kepada Leon, lalu menghampiri Rayyan yang tengah membopong Maura dan merebahkannya di sofa.
Beruntung, kejadian itu tak saksikan oleh pak penghulu. Karena pria itu sudah pulang beberapa menit lalu. Leon pun akhirnya menghampiri karena ia juga ingin tahu kenapa wanita itu jatuh pingsan. Tapi, Leon melihat ponsel yang tergeletak. Ponsel itu masih terhubung, dan Leon bercakap menyahuti suara yang masih memanggil-manggil nama 'Maura'
"Hallo," ucap Leon.
"Leon, ini aku, Nolan. Maura-nya mana? Dia baik-baik saja 'kan?" tanyanya, Nolan hafal betul suara Leon.
"Maura pingsan, sebenarnya ada apa?" tanya Leon lagi. Dan akhirnya, Nolan menceritakan semuanya. Bagaimana tidak shock? ternyata nenek tua itu berada di rumah sakit dan tengah kritis. Percakapan itu akhirnya selesai.
Elena memberikan minyak angin dan mendekatkannya di hidung Maura. Berharap, wanita itu akan sadar. Tak berselang lama, Maura pun akhirnya tersadar. Ia histeris karena neneknya masuk rumah sakit.
"Aku harus ke rumah sakit, Rayy. Nenek ..." Maura tak sanggup meneruskan kata-katanya karena rasanya tidak sanggup jika harus kehilangan orang yang telah berjasa padanya. Nyonya Merlin yang sudah menolong hidupnya, bahkan hingga sampai saat ini. Kehidupan Maura berubah drastis, dari yang tidak punya apa-apa kini memiliki semuanya. Meski semua harta bukan miliknya, tapi nyonya Merlin sudah mengatas namakan semua harta itu jatuh kepada Zaen.
"Aku harus ke rumah sakit," kata Maura lagi.
"Tenanglah, aku akan mengantarmu. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian," ujar Rayyan.
"Tapi, Zaen?" kata Maura. Pasalnya, ia tak mungkin membawa anaknya ke rumah sakit.
"Biar Mama yang menjaganya, kalian pergilah. Zaen akan baik-baik saja bersama Mama di sini," ucap Elena.
Maura nampak ragu, ia masih takut dengan orang tua suaminya yang begitu kejam. "Tenanglah, kamu bisa percaya pada Mama," kata Rayyan.
Akhirnya, Maura pun merelakan anaknya bersama ibu mertuanya. Meski hatinya belum percaya penuh. "Baiklah, aku titip Zaen sebentar ya, Ma," kata Maura. Dan itu diangguki oleh Elena.
"Pergilah, kalian hati-hati," kata Elena lagi.
__ADS_1
***
Rayyan dan Maura sampai di rumah sakit.
Maura langsung saja berlari ke arah ruangan nenek Merlin dirawat. Dan ia pun akhirnya melihat keberadaan Nolan.
"Nolan? Bagaimana dengan nenek?" tanya Maura setibanya di sana.
"Masih kritis, darah yang dikeluarkan sangat banyak. Dokter hanya menyarankan kita untuk berdoa saja, semoga ada keajaiban," terang Nolan.
Maura sangat marah kepada Alex, tega-teganya pria itu berbuat jahat pada neneknya sendiri. Kurang baik apa selama ini neneknya kepada Alex? Semua kebutuhan dicukupi, tapi laki-laki itu masih saja meminta harta gono gini.
Lama Maura berada di sana, sampai akhirnya dokter pun keluar dari ruangan nenek Merlin. Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, peluru itu mengenai ginjal sehingga ada luka yang cukup serius dan darah terus mengalir. Nyonya Merlin tak dapat diselamatkan, apa lagi wanita itu sudah cukup tua sehingga tak dapat menahan rasa sakit yang amat luar biasa itu
Tubuh Maura kembali terkulai lemas. Hampir saja terjatuh ke lantai kalau Rayyan tidak menyangganya. Rayyan membawa Maura ke ruangan. Merebahkan tubuh istrinya di atas brankar. Kedaan Muara sangat lemas, wanita itu terpukul memdengar kabar duka itu.
Pemakanan langsung diurus hari itu juga. Semua kolega hadir melayad jasad nyonya Merlin. Jasad itu labgsung dibawa ke rumah untuk segera di makamkan di pemakaman keluarga. Di kediaman nyonya Merlin sangat ramai, bahkan berita itu langsung tersebar luas di media sosial bahkan ditelevisi.
Sampai tibalah waktu pemakaman itu, Maura menyaksikan semua sampai selesai. Mengantar jasad ke tempat perisirahat terakhir. Tangis yang tak dapat lagi ditahan sehingga membuat matanya sembab dan merah. Tubuhnya sangat lemas karena sedari tadi hanya menangis dan nangis.
Setelah pemakaman selesai, Rayyan mengajak Maura pulang. Tapi tak membawa ke tempat di mana ada baby Zaen. Tak memungkin membawa Maura ke sana karena jarak yang cukup lumayan jauh. Rayyan membawa Maura ke apartemen miliknya.
"Kita mau kemana? Aku ingin bersama anakku saat ini," kata Maura.
"Istirahatlah sebentar, kita ke apartemen. Baby Zaen biarkan bersama mama," kata Rayyan.
"Tidak, aku mau anak-ku," kekeh Maura. "Pulang ke sana tidak usah ke apartemen, aku tidak apa-apa," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Hmm, baiklah kalau begitu." Rayyan tak bisa menolak keinginan istrinya itu. Mungkin baby Zaen yang mampu membuatnya tenang, pikirnya.
***
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka sampai. Maura langsung turun dari mobil bahkan tanpa menunggu suaminya yang membuka pintu. Kematian nyonya Merlin membuatnya sangat terpukul.
"Di mana putraku?" tanya Maura pada Leon yang masih berada di sana.
"Baby Zaen ..." Leon tak meneruskan kata-katanya.
"Di mana dia?!" desak Maura.
Leon malah diam tak menjawab, harus jawab apa? Sedangkan baby Zaen dibawa oleh sang nyonya.
"Jangan diam saja, di mana putraku?" desak Maura.
"Tenang, Maura. Anak kita pasti sama mama, iyakan, Leon? Mamaku di mana?" tanya Rayyan kemudia, karena ia pun sebenarnya penasaran. Sejak sampai di villa ia tak melihat keberadaan ibu dan anaknya itu, bahkan suaranya pun nyaris tak terdengar. Karena Leon tak kunjung menjawab, Rayyan kembali mendesak.
"Jawab, Leon! Jangan diam saja! Kamu buatku jantungan," cetus Rayyan.
"Tadi, tadi ada tuan Smith datang dan membawa nyonya juga baby Zaen," jelas Leon.
"Apa?! Dan kamu membiarkan itu terjadi?" ujar Maura. "Apa kalian memang sengaja mau mengambil anak-ku? Dan pernikahan ini hanya kedok untuk mengambil putraku begitu?!" Maura sangat marah saat tahu anaknya dibawa pergi oleh mertuanya.
"Tidak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Pernikahan ini memang aku inginkan, kamu jangan berpikir buruk terhadaku!" jelas Rayyan.
"Tidak! Aku tidak percaya Kembalikan putraku?!" Maura histeris sampai-sampai ia memukuli tubuh suaminya.
__ADS_1