
Keesokan harinya.
Zaen mau pun Lusiana meminta bertemu di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor tempat Zaen bekerja.
Zaen berpikir kalau Lusiana memintanya bertemu pasti ingin membicarakan soal perjodohan itu. Ia yakin gadis itu sudah tahu soal ini. Mereka bertemu pada jam istirahat. Dan bertemulah mereka di sana.
Seperti biasa, tidak ada sikap yang berubah dari gadis itu. Ia tak ingin perjodohan itu membuat mereka menjadi renggang. Mereka pun akhirnya duduk saling berhadapan.
"Mau pesan apa?" tanya Lusia sambil melihat buku menu.
"Seperti biasa," jawab Zaen.
Gadis itu tahu makanan apa kesukaannya, tanpa bertanya lagi Lusia langsung memesankanan kepada pelayan. Sambil menunggu makanan datang, Lusia berbasa-basi terlebih dulu.
"Bagaimana?" tanya Lusia kemudian.
"Bagaimana apanya?" tanya Zaen balik.
"Soal pria yang ku pinta, carikan aku lelaki sepertimu," ujar Lusia.
"Kenapa tidak aku saja?" Zaen mengetes perasaan gadis itu.
"Mana mungkin, kamu itu Kakak-ku. Bukankah kamu juga anak mammy-ku? Masa adik sama kakak pacaran yang benar saja."
"Serius tidak suka padaku?"
"Tidak lah!" elak Lusia.
Zaen tersenyum. "Baiklah, sebenarnya aku tidak mau ada yang berubah di antara kita. Kamu tetap akan menjadi adikku meski perjodohan itu direncanakan."
"Kamu tau, Kak? Lalu apa tanggapanmu? Jangan bilang kalau kamu setuju dengan perjodohan ini."
"Tidaklah, apa kamu juga sudah tau?" tanya Zaen.
"Iya, kita tolak sama-sama ya? Jangan ada yang berubah di antara kita, bukankah kamu menyukai gadis itu?"
__ADS_1
Zaen mengerutkan keningnya karena bingung. "Gadis yang mana?"
"Jangan pura-pura, kamu sok membencinya tapi dalam hati Kakak tidak relakan dia berhenti mengganggumu?!"
"Ameera maksudmu?" kata Zaen.
"Iyalah, siapa lagi? Jangan sampai kamu nyesel, Kak. Kejar selama masih ada waktu, jangan pikirin perjodohan kita."
Saat mereka berbincang, tiba-tiba Ameera datang ke restauran itu bersama seorang pria. Mereka duduk di meja yang bersebelahan dengan Zaen. Dan Zaen sendiri melihat keberadaan Ameera. Gadis itu tak lagi mengejarnya seperti kemarin, bahkan sekarang pun seakan tidak mengenalnya.
Ameera berubah 90 derajat. Siapa yang bersama Ameera? Pikir Zaen.
Lusiana pun yang melihatnya sampai tak percaya dengam sikap diam Ameera.
"Dengan siapa Ameera?" tanya Lusia berbisik pada Zaen. "Kenapa dia berubah? Apa yang terjadi padanya?" tanyanya lagi.
Zaen tidak menjawab, ia hanya memperhatikan Ameera dari sudut mata. Jika sikap ia dingin saar dulu karena ia mencoba menerima perjodohan itu, tapi sekarang setelah tahu siapa orangnya Zaen tidak bisa lagi meneruskan perjodohan itu. Karena Lusiana tidak mencintainya, pikirnya.
Hati Zaen mendadak panas saat melihat pria disamping Ameera sangat perhatian. Pacarnya kah itu? Sesekali, Ameera pun mencuri pandang pada Zaen. Lalu beralih pada Lusia. Ia berpikir apa mungkin gadis yang dijodohkan dengan Zaen adalah gadis itu?
Makanan yang dipesan pun akhirnya datang dan mereka makan dengan tenang meski hatinya merasa terbakar.
Tidak salah lagi, gadis itu yang dijodohkan dengan Zaen, pikir Ameera. Gadis itu semakin yakin untuk melupakan Zaen. Padahal, selama ini ia mengejarnya dengan hati yang tulus, tanpa memikirkan siapa Zaen sebenarnya.
Karena makan pun telah usai, sehingga Zaen dan Lusiana lebih dulu undur diri dari restauran itu, dan mereka sudah menghilang dari pandangan Ameera.
"Kamu kenapa? Sejak tadi aku perhatikan kamu selalu melihat pria tadi, apa kamu mengenalnya?" tanya seorang pria yang bersama Ameera.
"Dia laki-laki itu," jawab Ameera.
"Laki-laki yang menolakmu? Kenapa kamu tidak membuatnya cemburu?"
"Maksud, Kakak?" Pria yang ada di hadapan Ameera ternyata adalah kakaknya. Dan sepertinya Zaen salah paham.
"Kamu bisa sedikit mesra denganku, hanya ingin tau bagaimana reaksinya. Pria yang seperti itu bisanya tidak suka melihat gadis yang dulu mengejarnya tiba-tiba menjauh."
__ADS_1
Ameera tidak mengerti apa kata kakaknya yang jelas, yang ia tahu Zaen tidak menyukainya dan menerima perjodohan orang tuanya. Gadis itu malah jadi tidak berselera makan saat melihat Zaen bersama seorang gadis.
***
Zaen dan Lusiana sampai di kediaman Leon, dengan gantle, Zaen menemui orang tua Lusiana. Ia tak ingin masalah ini berlarut-larut.
"Zaen, kamu ke sini?" tanya Lisia.
"Iya, Mam. Ada yang ingin aku bicarakan," kata Zaen.
"Hmm, duduklah. Perlu Mammy panggilakan Pappy Lusia?"
"Boleh, aku rasa Om Leon juga harus tau."
"Panggil Pappy-mu," suruh Lisia pada putrinya.
Tak berselang lama, Leon pun datang karena hari ini kebetulan dirinya tidak pergi ke kantor.
"Ada apa, Zaen? Tumben ingin bicara dengan Om?" tanya Leon.
"Jadi gini, Om. Soal perjodohan itu, aku tidak sengaja mendengar obrolan Mommy dan Daddy tadi malam, mereka tidak tau kalau aku sudah tau mengenai hal ini. Sebelum kalian menanyakan langsung kepada kami, aku dan Lusiana hanya berteman. Aku tetap ingin menjalin tali silaturahmi dengan keluarga ini."
"Tidak akan ada yang berubah dengan kami, termasuk pejodohan itu, aku harap kalian mengerti. Ini kesepakatan kami, iyakan, Lusia?" tanya Zaen.
"I-iya," jawab Lusiana.
"Aku harap jangan tidak ada yang salah paham, Mammy bisa bicarakan ini dengan kedua orang tuaku, tidak perlu lagi membahas masalah ini pada kami, sebelum semuanya terlambat lebih baik dari sekarang 'kan?"
Leon dan istrinya memahami soal ini, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Sebelum anak-anaknya merasakan, mereka sudah lebih dulu mersakannya apa lagi dengan Lisia. Ia tahu betul bagaimana rasanya perasaan terabaikan. Cinta bertepuo sebelah tangan itu memang terasa sakit.
Leon dan istrinya memahami ini. Mereka akan membicarakan soal perjodohan yang akhirnya dibatalkan sebelum semuanya terlambat.
Leon sendiri sangat salut dengan keberanian Zaen.
"Kami akan mengatakan semuanya kalau itu yang kalian mau. Zaen jangan salah paham pada kami ya? Kami tidak mengatakan soal perjodohan itu karena ini, kalau dari kalian tidak saling cinta maka perjodohan pun batal," terang Leon.
__ADS_1
Karena semuanya sudah jelas, Zaen pun undur diri. Yang menjadi masalahnya sekarang adalah Ameera. Ia terlanjur menolak gadis itu, dan sekarang pun Ameera ternyata sudah memiliki kekasih. Namun, Zaen bukan pria yang suka merebut kebahagiaan orang lain. Selama Ameera bahagia dengan orang itu kenap tidak?
Penyesalan memang selalu datang belakangan, termasuk apa yang terjadi pada Zaen sekarang. Zaen pun akhirnya pulang dengan sedikit lega karena tidak ada lagi yang menjadi hambatan baginya untuk membuka hati untuk gadis lain.