
Keesokan paginya, Maura baru mengajak Zaen pergi untuk bertemu dengan Lisia. Zaen merasa senang dapat bertemu dengan wanita yang kini sudah berbadan dua.
Mereka semua terlihat bahagia, tidak ada lagi kesalahpaham di antara keduanya. Sama-sama menyayangi Zaen seperti anak sendiri. Tingkah Zaen yang menggemaskan membuat mereka tertawa.
"Penerusmu sangat lucu, Bos," kata Leon.
"Aku harap anakmu juga lucu dan menggemaskan, rasanya tidak sabar melihat mereka besar bersama-sama," jawab Rayyan.
Jika mereka sedang berbincang, maka Maura dan Lisia nampak berada di dapur. Membantu menyiapkan makanan yang memang sudah dimasak oleh asisten di rumah Leon.
"Terus seperti ini, dan jangan ada yang berubah," kata Maura.
Lisia mengangguk sambil tersenyum. Kejadian kemarin mebuat mereka sadar bahwa mereka tidak bisa berjauhan karena memang saling membutuhkan.
"Bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik?" tanya Maura lagi.
"Hmm, sudah," jawab Lisia.
Tak berselang lama, Zaen datang sendirian untuk menemui sang mommy. Mereka pun melihat kedatangannya. Maura langsung meraih tubuh Zaen dan mendudukkannya di kursi meja makan.
"Aku senang melihat tumbuh kembang Zaen, dia sangat lucu," tutur Lisia. "Kalau anakku ternyata perempuan aku ingin menjodohkannya dengan anakmu ini," ujarnya sambil tersenyum dan dicandai tawa.
"Biarkan mereka memilih jalan hidupnya, aku terserah anak-anak saja," jawab Maura.
"Kalian membicarakan apa? Ada jodoh-jodohan begitu?" tanya Rayyan tiba-tiba.
"Lucu saja kalau kita besanan," kata Lisia.
"Anakmu saja belum lahir, bagaimana kalau ternyata anakmu malah laki-laki juga?" timpal Rayyan lagi
"Kan ada Ranzha," Lisia terkekeh. "Aku hanya becanda jangam dianggap serius."
Mereka sangat bahagia dengan keadaannya sekarang. Maura sudah merasa lega karena yang berniat menyingkirkan putranya satu persatu mulai pergi dan musnah dari muka bumi ini.
***
__ADS_1
Seiring berjalannya waktu, persahabatan seakan menjadi sebuah keluarga. Rayyan dan Leon tetap selalu bersama mengembangkan bisnisnya dari kehari semakin pesat. Terkadang, ada saja kendala dalam perusahaan mereka. Namun, semua bisa teratasi dengan adanya kerja sama.
Perusahaan yang didirikan Rayyan pun semakin maju. Kehidupan para warga mulai terjamin akan adanya lapangan kerja di sana. Tanpa terasa, posisi Rayyan tergantikan oleh Zaen Smith yang kini sudah mulai menginjak dewasa. Beberapa tahun berlalu begitu cepat.
Bahkan anak Lisia dan Leon pun sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang baru saja lulus SMA. Jika Zaen sudah berkecimpung di dunia bisnis karena ayahnya maka lain halnya dengan Ranzha. Gadis itu menekuni cita,citanya. Gadis itu sekolah kedokteran. Bahkan Ranzha berada di luar negri untuk melanjutkan pendidikkannya.
Zaen Smith yang cukup pintar membuatnya tak harus sekolah berlama-lama. Dan sekarang, pria berwajah tampan juga menjadi seorang miliarder muda bahkan sejak masih bayi. Ketampanannya digandrungi para wanita cantik. Namun, sepertinya sikap dingin Zaen mewarisi ayahnya.
Ia hanya berkawan dekat dengan Lusiana yang tak lain adalah anak dari pasangan Leon dan Lisia. Namun, Lusiana yang kini sudah memiliki kekasih tanpa diketahui orang tuanya. Lusiana hanya menceritakan kehidupannya hanya kepada Zaen. Sampai mau berkencan pun Lusiana harus berbohong dan melibatkan Zaen.
Yang kini, Zaen tengah menunggu kepulangan Lusiana dari kampus. Kali ini, ia meminta tolong kepada Zaen untuk mengantarkannya ke seuatu tempat.
"Kamu memintaku datang menjempuu hanya karena mau ke sini?" tanya Zaen.
Lusiana mengangguk. "Aku mau kamu bantu mencarikan kado untuk seseorang, aku tahu seleramu cukup bagus. Lagian, kalau bukan kamu yang mengantarku mana mungkin orang tuakuengizinkanku pergi. Hanya denganmu aku boleh pergi," jelas Lusiana.
"Kamu selalu merepotkanku!" cetus Zaen. Zaen sudah menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri. Juga, ia menganggap Lisia sebagai ibunya. Kebaikan wanita itu membuatnya harus menjaga Lusiana. Tanpa ia tahu, bahwa kedua orang tuanya memang sudah sepakat ingin menjodohkan mereka.
"Yang ikhlas dong kalau mau bantu, jangan setengah-setengah," kata gadis itu.
"Aku rasa kalau hanya untuk membeli jam tangan sepertinya kamu tidak perlu meminta bantuanku, seleramu juga bagus. Jam yang selalu aku pakai itu semua hadiah ulang tahunku darimu. Aku kira, kalau mau kasih hadiah ke pacar itu akan beda," kata Zaen.
"Maksudnya?" Lusiana mengerutkan kening.
"Apa bedanya aku dengan kekasihmu itu? Masa hadiah yang kamu berikan sama dengan apa yang kamu berikan padaku?" tanya Zaen.
Lusiana terdiam sesaat, apa kata Zaen ada benarnya. Kenapa ia menyamakan Zaen dengan kekasihnya?
"Udah ah, jangan berisik. Kamu bantu saja carikan yang mana yang cocok."
Zaen melihat-lihat jam tangan dari luar kotak kaca. Akhirnya, tatapannya menangkap sebuah jam yang cukup bagus. Keberadaan Zaen menjadi pusat perhatian para gadis di sana.
"Kak Zaen, apa kamu tidak tertarik pada mereka?" tanya Lusiana saat melihat gadis-gadis tengah melihat ke arahnya.
Zaen tidak menjawab, ia beranggapan semua wanita itu sama Melihatnya hanya karena seorang miliarder.
__ADS_1
"Apa ini bagus?" tanya Zaen memperlihatkan pilihannya.
Pertanyaan yang tak dijawab membuat Lusiana berpaling pada jam tangan yang sangat bagus. "Tak sia-sia aku mengajakmu, Kak. Seleramu memang oke, aku yakin dia juga menyukainya."
Zaen tidak pernah bertanya siapa kekasih Lusiana, selama pacaran mereka baik-baik saja, ia tidak akan ikut campur. Zaen tidak mau pusing dengan kehidupan orang lain, selama orang itu tidak mengusik ketenangannya maka ia tidak akan banyak bicara apa lagi ngurusin hidup orang lain.
Zaen menyodor sebuah kartu berwarna hitam untuk membayar jam tangan. Tapi, Lusiana langsung menolak karena itu bukan untuk dirinya.
"Sudah, aku tidak menerima tolakkan," kata Zaen.
"Terima kasih," ujar Lusiana.
"Sama-sama."
Zaen mengantar gadis itu pulang sampai ke rumah.
"Tidak mampir dulu, Zaen?" tanya Lisia.
"Tidak, Mam. Aku masih banyak kerjaan," jawab Zaen lalu pergi.
"Kamu pasti ganggu Zaen ya?" tanya Lisia kepada anaknya.
"Dikit, Mam. Dia aja mau kok aku repotin," jawab Lusiana.
Lisia dan suaminya memang tidak pernah membahas soal perjodohan mereka. Selama ini, mereka hanya ingin memastikan bahwa di antara anaknya dengan anak sahabatnya memiliki perasaan.
Zaen langsung ke kantor, tahu tentang hubungan Lusiana dan kekasihnya mulai jauh. Perhatian gadis itu mulai diberikan kepada kekasihnya. Padahal, selama ini Lusiana tidak begitu menunjukkan kedekatannya dengan seorang pria hingga akhirnya ia mulai penasaram siapa laki-laki yang dekat dengan gadis yang ia anggap sebagai adiknya itu.
Nanti ia akan mencari tahu sendiri siapa laki-laki itu. Semoga pria itu tidak memanfaatkan kecantikkan Lusiana.
Sesampainya di kantor, Zaen disambut oleh seorang gadis yang bernama Ameera, gadis sewaktu masa SMA. Zaen tidak begitu menyukai Ameera karena gadis itu terlalu merendahkan diri sebagai perempuan, selalu mengejarnya bahkan sampai berani datang ke rumah.
Zaen menghela napas panjang saat melihat Ameera berada di ruang kerjanya sambil memainkan ponselnya.
...----------------...
__ADS_1
Alurnya semakin dipercepat ya, tidak mau bertele-tele karena Zaen kini sudah besar dan menjadi miliarder muda.