Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 7


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Pembangunan proyek itu terus berlanjut, sampai pada akhirnya bangunan berjalan sudah mencapai 50 persen. Rayyan tersenyum melihat pembangunan itu lebih pesat dari perkiraan. Membuat penduduk lebih maju dalam perekonomian sudah sesuai dengan rencananya.


Saat Rayyan berdiri tegak di depan bangunan besar dan tinggi itu tiba-tiba saja terjadi kericuhan. Para karyawan berhenti bekerja secara serentak membuat Rayyan melihat pun kebingungan. "Ada apa ini?" tanyanya sendiri, lalu ia menghubungi Leon yang kini tengah memantau di dalam.


Leon segera saja keluar menghampiri bosnya, lalu mendengar suara teriakan yang menggunakan toa. "Hentikan! Pembangunan ini ilegal, bangunan ini berdiri di atas tanah yang masih pemiliknya Maura Morena cucu pewaris dari nyonya Merlin," teriaknya.


Ternyata, suara itu ditimbulkan oleh sang mandor sendiri. Mandor itu dihubungi langsung oleh pihak dari orang yang berkepentingan dengan keluarga Merlin. Mungkin jika dulu mereka diam karena tengah mengurus Maura yang tengah hamil, dan sekarang wanita itu sudah melahirkan. Melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Mozaen Harsyi. Pewaris tahta keluarga Merlin yang kini berusia 3 bulan.


***


"Aku kira kamu tidak akan turun secepat ini," kata Nolan pada Maura yang kini tengah memangku anak semata wayangnya.


"Bukankah kamu bilang tanah itu masih milik nenek? Berarti aku harus memperjuangkannya bukan?" Maura sudah siap menjalankan bisnis keluarga Merlin, dan ia juga sudah siap bersaing dengan Rayyan Smith yang sekarang tengah membangun perusahaan di tanah sengketa itu.


Rayyan tidak salah dalam hal ini, pria itu pun tidak mungkin membangun di tanah milik orang, ia sudah membeli tanah itu secara sah karena surat-surat yang didapatnya adalah surat asli. Namun, hanya saja tidak ada tanda tangan pemilik tanah tersebut. Setifikat tanah itu dicuri oleh seseorang yang masih kerabat nyonya Merlin yang kini belum tahu keberadaannya.


Rayyan kira sertifikat itu sudah selesai ditadatangani oleh pemiliknya karena ia menyuruh orang untuk menyelesaikannya. Karena ada sesuatu yang terjadi waktu itu sehingga ia tak dapat mengecek secara langsung soal sertifikat tanah tersebut. Dan akhirnya, sekarang berujung dengan kendala. Ditambah lagi, ia tak berpikir jernih karena ternyata sang pewaris adalah wanita yang telah tidur bersamanya.

__ADS_1


Maura merebahkan Mozaen ke dalam kereta bayi. Kini, balita itulah yang menjadi pewaris keluarga Merlin. Wanita tua itu mengatasnamakan Mozaen Harsyi sebagai pewaris tunggal. Sehingga balita itu dijaga ketat karena menjadi incaran orang-orang serakah seperti saudara Merlin yang telah menjual tanah miliknya kepada Rayyan Smith.


"Kapan rencananya kita datang ke bangunan itu?" tanya Nolan.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Maura.


"Apa kamu sudah benar-benar sehat?" tanya Nolan. Pasalnya, Maura baru saja melahirkan dan ia tak ingin terjadi sesuatu nanti pada wanita yang kini telah dianggap adik olehnya. "Sudah siap bertemu dengan Rayyan Smith? Dia bukan orang sembarangan yang bisa merelakan begitu saja, jangan gegabah, Maura. Cepat atau lambat dia pasti tau soal Zaen." Ucap Nolan sembari melihat bayi yang tengah tertidur dengan pulas itu di keretanya.


"Aku tahu itu, bukankah dia taunya kita suami istri?" ucap Maura. Ia meyakinkan diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa kepada anaknya.


***


"Sudah siap bertemu dengannya? Wanita yang sudah tidur bersamamu waktu itu, Bos," kata Leon.


"Jangan bahas masalalu, kamu tahu sendiri kalau aku akan menikah," terang Rayyan.


Akhirnya, Rayyan dijodohkan dengan salah satu anak dari teman orang tuanya. Mereka ingin mendapatkan cucu dari anak semata wayangnya itu. "Kita tidak bisa membiarkan penduduk terus berada di titik kesulitan, setidaknya mereka memiliki hati untuk tetap membiarkan bangunan ini selesai bukannya kita bisa kerja sama dengan keluarga nyonya Merlin?" ujar Rayyan.


Soal bangunan ini bukan untuk kepentingan sendiri, ia memikirka semuanya. Dari banyaknya orang miskin di daerah tersebut sehingga membangkitkan soal kepeduliannya.

__ADS_1


"Ya, aku tahu niatmu baik, Bos. Semoga keluarga nyonya Merlin bisa sepemikiran dengan mu," jelas Leon.


***


Pertemuan sudah diatur, saatnya mereka bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda. Dengan visi misi yang berbeda, semoga menjadi satu tujuan. Rayyan berharap pertemuan ini tidak menggagalkan pembangunan yang sudah berjalan 50 persen. Uang yang dikeluarkan sudah cukup banyak.


Di ruangan pribadi, Maura sudah membooking tempat pertemuan mereka. Maura tidak ditemani oleh Nolan, wanita itu ditemani oleh sekretarisnya bernama Lisia. Wanita itu sudah siap bertemu dengan ayah dari anak yang telah dilahirkannya ke dunia ini. Maura menarik napas dalam-dalam, hatinya tiba-tiba saja dag dig dug. Rasa was-was dan rasa takut itu ada. Ini menyangkut soal keturunannya. Mozaen Harsyi adalah anaknya, sampai kapan pun akan menjadi anaknya.


Sementara di tempat lain, Rayyan dan Leon sedang berada di dalam perjalanan menuju tempat di mana ia akan bertemu dengan wanita yang pernah tidur dengannya. Ia merasakan sesuatu yang ganjal, di mana ia ingat betul dengan kejadian saat melakukan itu dengan gadis itu, begitu susah saat ia akan menjebol gawang gadis itu. Tak sadar ada bercak darah yang meninggalkan bekas karena setelah melakukan itu ia pergi begitu saja.


"Kenapa, Bos?" tanya Leon melihat sang bos melamun menatap jalan sekitar. "Ada sesuatu yang mengingatkanmu?" tanyanya lagi.


Rayyan malah mengingat malam itu bersama gadis itu, ternyata ia tengah tidur dengan gadis pewaris nyonya Merlin, tapi kenapa dia berada di tempat kumuh itu? Sejenak, Rayyan menggelengkan kepala. Kenapa juga harus mengingatnya? Pantas dia menolak tawaran darinya ternyata wanita itu sudah menikah, pikirnya.


Sampailah mereka di tempat yang sudah dijanjikan, hati Rayyan mendadak tak karuan. Setelah sekian lama, kini ia akan bertemu lagi dengan gadis itu. Sejujurnya, itu pertama kali ia tidur bersama seorang wanita. Ruangan itu tertutup untuk umum, hanya ada Maura dan Lisia. Berarti di ruangan itu akan berjumlah 4 orang. Tibalah mereka di ruangan itu.


Deg.


Jantung Rayyan seakan berpacu saat melihat cucu nyonya Merlin sang pewatis yang kini berubah 90 derajat. Pria itu terpaku saat kedua bola mata mereka beradu.

__ADS_1


__ADS_2