Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 41


__ADS_3

"Mau tidak menjadi ibu dari anak-anakku?" Leon menunggu jawaban dengan perasaan deg-degan. Sampai berkeringat dingin, padahal cuaca di sana sangatlah dingin. Belum lagi dari angin yang kencang serta deru ombak yang ikut menyertai. Leon berlutut dengan satu kaki dan tangannya terulur dengan menggenggam sebuah kotak yang berwarna merah. Perlahan, ia membukanya. Nampaklah sebuah cincin berlian yang sangat cantik.


Pandangannya tak lepas dari wajah Lisia yang bersemu merah. Bahkan matanya sudah menggenang karena air mata. Gadis itu sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh seorang pria yang ia tahu cukup diam. Tanpa sebuah ungkapan laki-laki itu langsung melamarnya. Tidak ada kata cinta yang mewakili perasaannya.


Leon begitu berbeda dari lelaki yang pernah dikenalnya. Merasa tersanjung akan kejutan yang diberikan kepadanya. Ia menjadi gugup dan tak bisa berkata-kata. Perasaannya sangat bahagia karena baru kali ini ia diperlakukan begitu spesial.


Leon sampai merasa pegal karena terlalu lama menadahkan tangan. Kaki dan tangannya mulai terasa kebas karena kesemutan. Apa ia tidak diterima? Lisia masih enggan mengucapkan apa pun dari mulutnya. Tanpa ia tahu gadis itu pun sama seperti dirinya. Tubuhnya mendadak berkeringat dingin, pijakan kaki terasa ngambang.


Lisia hanya bisa menghela napas panjang, ini semua terasa mimpi. Mimpi apa semalam sampai di malam ini ia mendapatkan sebuah kejutan yang bisa merontokkan semua bulu-bulu. Tak lama, bibirnya terukir. Melengkung, tersemat sebuah senyuman manis dari bibir mungilnya.


Hanya untuk sebuah anggukkan, Leon harus menunggu sampai setengah jam. Ia benar-benar sudah tidak kuat dengan posisinya. Setelah mendapat anggukkan, ia langsung meraih tangan Lisia dan menyematkan cincin yang begitu pas di tangannya. Perlahan, ia mengecupnya dengan sangat dalam.


Lalu beranjak dan langsung memeluk gadis yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya. Leon melepaskan pelukkannya lalu menangkup kedua pipi dengan tangan. Tatapan mereka beradu cukup lama. Terdorong rasa keinginan saat melihat bibir mungil nan merah delima itu.


Gadis kedua yang pernah ada dalam hidupnya. Meski bukan yang pertama, tapi ia ingin ini yang terakhir. Lambat laun, wajahnya mendekat. Dan ... Sebuah kecupan mendarat di bibir Lisia. Ciuman yang begitu dalam untuk yang pertama kalinya. Apa lagi itu ciuman pertama Lisia. Lisia masih berdiam diri karena tidak tahu harus membalasnya dengan seperti apa.


Gerakkan bibir Leon membuatnya terbawa dang mengikuti apa yang dilakukan pasangannya. Cukup lama mereka bermain lidah. Karena oksigen mulai habis, keduanya pun melepaskan tautannya. Napas mereka tersengal dan hembusan napas itu sangat terasa di wajah masing-masing.


Posisi mereka dalam keadaan kening saling beradu. Tangan yang melingkar di tubuh masing-masing.


"Apa kamu benar menerimaku?" Lisia kembali menganggukkan kepala.


Leon tersenyum dan langsung menarik tubuh gadis itu dan megeratkan pelukkannya.


Momen bahagia ini tidak akan pernah terlupakan oleh mereka berdua. Akan selalu tersimpan dalam memori. "Terima kasih, aku harap kamu bisa menerima segala kekurangaku." Leon kembali menciumnya, tapi kali ini di kening.

__ADS_1


***


Kejutan itu diiringi makan malam romantis. Mereka duduk berdua di tempat yang memang sudah disediakan. Lantunan musik romantis ikut menemani. Duduk berhadapan dengan tangan yang saling terulur di atas meja, mereka saling menggenggam tangan satu sama lain.


Lisia tak mampu berucap, ia hanya membalas apa yang dilakukan kekasihnya. Sampai pada akhirnya, ponsel milik Leon berdering. Awalnya ia mengacuhkannya karena ini momen bahagia mereka jadi ia ingin menikmati malam ini berdua saja. Ponsel itu terus bersuara, dan Lisia meminta untuk melihat siapa yang memanggil.


Sebuah panggilan darurat terhubung. Rayyan menghubunginya karena butuh bantuannya. Pria itu meminta dirinya segera kembali. Karena keadaan gawat, Leon segera mengajak kekasihnya itu pulang.


"Kita harus segera pulang." Leon menuntun gadis itu. Sebelum sampai ke mobil, sepertinya Lisia kedinginan. Peka akan hal itu, Leon langsung membuka jas dan memakaikannya di tubuh gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya beberapa jam lalu.


Waktu menunjukkan pukul 11 malam, dalam perjalanan pulang, Rayyan tak henti-hentinya menghubunginya. Leon menancapkan gas mobil karena tanda panggilan itu tidak bisa ditunda. Keadaan pasti sangat genting, maka dari itu ia harus segera sampai.


"Pegangan yang kuat, aku mau menambahkan kecepatan." Lisia mengencangkan sabuk pengaman dan tangannya mulai memegang kuat kepegangan yang menggantung di dekat kepala. Bukan berani akan hal seperti ini, tapi ia juga tidak bisa melarang Leon untuk menambahkan kecepatannya. Jarak tempuh terlalu jauh dan harus memakan waktu kurang lebih 2 jam sampai di kediaman Rayyan Smith.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Leon.


***


"Siapa mereka? Bukankah Alex masih di kurung? Dan om-mu juga sudah mati, apa yang mereka inginkan?" tanya Maura yang masih berlindung pada tubuh suaminya


"Entahlah, Leon kemana lagi?" Anak buah yang berjaga di bawah sana pun tengah berkelahi dengan lawan. Mereka tak hanya menyerang dengan tangan kosong. Suara tembakkan selalu terdengar, untung kaca jendela yang dipasang anti peluru. Namun, tetap saja mereka harus selalu waspada.


Akhirnya, Leon sampai di kediaman Rayyan. Ia melihat peperangan tengah terjadi. Leon pun bingung, bagaiman ini? Ia tak bisa meninggalkan Lisia sendirian di dalam mobil.


"Aku ikut," ujar Lisia.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain, gadis itu ikut bersama kekasihnya. Mereka pun akhirnya turun bersamaan. Leon menggenggam tangan kekasihnya. Bak pasangan yang ahli dalam peperangan. Leon mengangkat tubuh Lisia untuk mengalahkan lawan. Kaki jenjang gadis itu berhasil melumpuhkan lawan. Tepat mengenai hak tinggi sepatunya sampai bisa merobek wajah lelaki yang bertubuh tinggi besar.


Pandangan Leon menangkap ke arah mobil di ujung jalan, kini ia tahu siapa dalang di balik ini semua. Senjata yang selalu dibawanya akhirnya pun dikeluarkan. Saat ia akan menembak, Lisia kembali malayangkan kaki jenjangnya.


"Awas ...!" Tak menyangka, ternyata gadis itu bisa diandalkan. Lisia menahan tubuhnya ke bahu Leon, dan tubuhnya mulai melayang dengan jurusan kakinya. Tak terlepas dari sepatu hak tingginya.


"Bagus," ujar Leon. Tembakkan pun terlepas dan berhasil memecahlan kaca mobil yang berada di ujung jalan.


Mendengar tembakkan itu membuat Rayyan mengintip dari jendela. Bibirnya tersenyum ketika tahu siapa orangnya. Anak buah yang sangat pintar dan selalu bisa diandalkan.


"Jangan khawatir, Leon datang membantu." Rayyan menenangkan istrinya.


Tak berselang lama, orang-orang itu berhasil dilumpuhkan dan satu persatu mulai kabur. Mobil yang berada di ujung jalan sana pun mulai melaju karena keberadaannya sudah diketahui.


"Lukas!" geram Leon. "Cari mati dia!"


"Siapa, Lukas?" tanya Lisia.


Bukannya menjawab, Leon malah mengecek keadaan kekasihnya. "Kamu tidak apa-apa 'kan? Ada yang terluka tidak?" Leon memutarkan tubuh Lisia.


"Aku tidak apa-apa."


"Kamu hebat, aku kira kamu tidak bisa berbuat apa-apa."


Waktu sekolah Lisia ikut tekwondo sehingga ia bisa membantu melumpuhkan lawan dengan kakinya. Akhirnya, mereka berdua pun masuk ke rumah dan bertemu dengan Rayyam juga Maura.

__ADS_1


Tangan Lisia dan Leon masih berpegangan, dan itu menjadi pusat perhatian.


Rayyan dan Maura saling melempar pandangan, seolah mempertanyakan ada apa dengan mereka?


__ADS_2