Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 49


__ADS_3

Saat Rayyan akan menjawab, Lisia keburu datang sambil menggendong Zaen dan membawa sebuah mangkuk yang berisikan bubur tim.


"Lihat, anakmu benar-benar menguasai istriku. Bagaimana aku akan punya anak kalau tidur terpisah terus?" rutuk Leon.


"Apa, sayang ... Pagi-pagi sudah ngoceh?" tanya Lisia dengan santai. Lalu ia mendudukkan Zaen di sofa di sebelah suaminya.


"Kalau begitu, aku lebih baik jadi Zaen. Makan saja disuapi." Leon cemburu sosial kepada anak kecil itu.


"Ya ampun, kamu kenapa sih sayang? Jangan begitu dong, kamu harus menyayangi Zaen juga biar kita cepet punya bayi."


"Mau beranak bagaimana? Tidur saja terpisah," kata Leon.


"Siapa suruh tidur di sofa? Tempat tidur 'kan luas, cukup untuk kita bertiga. Ya 'kan, sayang?" Lisia sambil menyuapi Zaen makan.


Lisia benar-benar manyayangi Zaen sepenuh hati, sampai anak kecil itu merasa nyaman saat bersamanya. Anak kecil itu merasa terobati akan kerinduannya kepada sang mama.


"Kalau begini caranya, terpaksa aku bawa Zaen menginap," tutur Leon. "Mau tak mau Bos harus mengizinkannya, aku akan membawa mereka berlibur dan aku juga akan ambil cuti."


Perkataan Leon membuat Rayyan membulatkan mata. "Cuti? Dalam rangka apa?" tanyanya.


"Bulan madu kedua, sore ini aku berangkat. Hanya ke luar kota tidak sampai ke luar negri," ujar Leon.


"Serius?" tanya Lisia. "Zaen, kamu dengar? Kita akan berlibur, Zaen mau ikut?" Bocah itu mengangguk-anggukkan kepala seakan mengerti.


Rayyan hanya menghela napas melihat kekonyolan mereka. Kalau Maura tahu Zaen akan dibawa, pasti dia ngamuk.


"Kalian coba saja izin kepada istriku, aku tidak bisa memberikan kalian izin begitu saja," kata Rayyan.


***


Maura tengah menyusui Ranzha, keadaannya sudah jauh lebih baik dari hari kemarin. Tak lama, Rayyan datang sambil menggendong Zaen. Anak kecil itu menangis saat melihat sang adik mengusai ibunya.


"Mimi-mimi," ujar Zaen sambil merengek.


"Ya, sayang. Sebentar ya, dede bayi masih menyusu. Nanti gantian," kata Maura.


Rayyan pun mendudukkan tubuhnya di samping istrinya, kenapa kedua anaknya tidak mau menyusu susu formula? Ia sampai kasihan kepada istrinya itu, akhirnya ia mencoba mewakilkan keinginan Lisia yang ingin membawa Zaen pergi berlibur.


"Yang," panggil Rayyan.

__ADS_1


"Hmm," jawab Maura. "Ya, sebentar ya, sayang," ucap Maura lagi kepada Zaen, karena anak itu masih merengek.


"Lisia mau ajak Zaen berlibur." Maura langsung menatap wajah suaminya.


"Kemana?" tanyanya sambil melepaskan pautan Ranzha yang tengah menyusu. Bisa dibilang, Maura wanita yang hebat, bisa menyusui kedua anaknya. Bahkan sewaktu hamil pun ia masih menyusui Zaen.


"Keluar kota, katanya mau ajak Zaen biar cepet hamil. Memangnya ngaruh ya?"


"Nanti yang ada malah repot kalau ajak Zaen, bukannya berduaan nanti sibuk ngurisin anak kita, malah gak jadi bikin dede bayi," jawab Maura, secara tidak langsung ia tidak mengizinkan Zaen pergi. Ia masih takut sewaktu-waktu kejadian yang tak diinginkan terjadi. Meski yang ingin menyingkirkan anaknya sudah mati, setidaknya ia harus berjaga-jaga.


Maura tak lagi berucap, ia langsung mengambil Zaen dari pangkuan suaminya. Rayyan pun tak lagi berani berkata, meski jawaban istrinya tenang tapi ia tahu kalau wanita itu tidak mengizinkannya. Maura memberikan ASI-nya kembali pada Zaen. Balita berusia satu tahun itu sangat lahap, karena dari semalam tidak menyusu.


Tanpa mereka tahu, ternyata Lisia mendengar perbincangan Maura dan Rayyan. Ia tahu Maura tidak mengizinkan anaknya ikut bersamanya. Segelintir, ada rasa sesak di dada. Tanpa terasa, air matanya berjatuhan begitu saja. Hatinya sangat sensitif jika mengenai soal anak.


Ia harus lebih berusaha bahwa ia pasti bisa memiliki seorang anak. Pada akhirnya, ia siap untuk melakukan bayi tabung. Tidak mendapatkan izin dari Maura membuatnya sakit hati. Lisia kembali ke kamar dan Leon baru saja selesai mandi.


"Kamu kenapa? Kenapa menangis? Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Leon.


Lisia tak menjawab, ia menyeka air matanya langsung dari pipi. "Aku siap melakukan bayi tabung, apa hari ini kita bisa pergi?" tanya Lisia.


Leon kebingungan, apa yang membuat istrinya setuju melakukan bayi tabung? Padahal, selama ini selalu menolak karena resikonya terlalu besar.


Leon langsung memesan tiket penerbangan untuk nanti malam, ia akan mengambil cuti untuk beberapa hari. Karena setelah melakukan bayi tabung recananya ia akan kembali.


***


Sore hari.


Leon dan Lisia pamit, mereka bilang akan berlibur beberapa hari tanpa mengatakan tujuannya. Saat Lisia pamit, Zaen menangis karena tidak mau ditinggal. Lisia pun ikut menangis. Maura yang melihatnya merasa bersalah.


"Sayang, Aunty pergi tidak akan lama. Zaen sama Mommy di sini," kata Maura menenangkan anaknya. "Sa, kamu hati-hati ya, semoga habis liburan ini kamu benar-benar isi," ujar Maura kepada sahabatnya sekaligus sekretarisnya saat dulu.


Lisia hanya tersenyum tipis, dan Maura merasa ada yang aneh. Tidak biasanya wanita itu seperti itu. Rayyan pun ikut mendoakan. Sikap Leon dan bosnya biasa saja, tidak seperti Lisia kepada Maura.


"Ayo, kita harus segera pergi," ajak Lisia. Wanita itu lebih dulu menuju mobil, sedangkan Leon masih bersama Rayyan. Sudah mau berangkat pun masih membicarakan masalah pekerjaan.


"Bos, semua data ada file. Nanti tinggal buka saja, kodenya tanggal lahir Zaen," kata Leon sebelum pergi.


Rayyan mengangguk mengerti. Ia pun melambaikan tangan ke arah anak buahnya yang sudah berada di dalam mobil. Sepeninggalnya Leon dab Lisia, Maura mengeluarkan unek-uneknya.

__ADS_1


"Kamu merasa ada yang aneh gak sih?" tanya Maura.


"Aneh gimana?" tanya Leon.


"Sikap Lisia padaku."


"Gak ada yang aneh, anehnya dari mana?"


"Dia 'kan mau pergi jauh dan lumayan lama, tidak ada dia memelukku atau bilang mau pergi. Dia hanya menangis saat melihat Zaen."


"Mungkin tidak tega meninggalkan Zaen, dia 'kan sudah menganggap anak kita seperti anaknya sendiri."


"Aku takut dia marah karena aku tidak mengizinkan Zaen ikut bersama mereka."


"Bicarakan ini nanti setelah mereka pulang, jangan ganggu mereka kalau tidak menghubungi kita."


Maura hanya manggut-manggut. Tanpa Lisia, ia pasti akan kerepotan. Mau tak mau ia menyuruh ibu mertuanya untuk menginap.


"Suruh Mama nginap selagi Lisia pergi."


Rayyan lebih baik menyewa baby sitter sepuluh dari pada harus mamanya yang ikut membantu istrinya. Ibunya terlalu banyak larangan sehingga ia tidak bebas mau melakukan apa pun.


"Kenapa harus, Mama? 'Kan kita masih bisa pakai jasa pengasuh," kata Rayyan.


"Kamu 'kan tahu, Zaen tidak bisa sama orang asing. Aku takut." Soal kejadian dulu membuatnya trauma, ia takut ada yang menculik Zaen karena bocah itu masih pewaris tunggal nyonya Merlin.


Bagaimana pun masih ada Alex yang tersisia, meski lelaki itu berada dalam ruangan tertutup dan pengap. Bahkan Alex dipasung saking takutnya kabur.


"Hanya untuk beberapa hari saja kok, selagi nunggu Lisia dan Leon. Paling lama juga satu minggu 'kan mereka pergi?"


Mau tak mau, Rayyan menuruti keinginan istrinya. Terpaksa ia menghubungi ibunya. Tapi bagi Elena, itu adalah kesenangan saat mengasuh Zaen.


***


Hari-hari berlalu begitu saja. Seharusnya, Lisia dan Leon kembali pulang hari ini. Namun, sudah tengah malam pun mereka belum juga kembali, bahkan ponsel mereka tidak bisa dihubungi sama sekali. Maura jadi gelisah, apa mungkin dugaannya benar?


...----------------...


Hai readers, mohon dukungannya untuk karya ini, dengan begitu membuatku jadi lebih semangat untuk meneruskan cerita. Semoga masih setia ya dengan hiburan ini.

__ADS_1


__ADS_2