Bibit Miliarder Sang Mafia

Bibit Miliarder Sang Mafia
Bab 9


__ADS_3

Seusai pertemuan itu, Maura segera pulang. Diperjalanan ia diteror banyak pertanyaan oleh sekretarisnya yang bernama Lisia. Gadis itu bukan hanya sekedar sekretarisnya, gadis itu sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh keluarga Merlin. Tak hanya itu, Lisia tahu siapa Maura sebenarnya. Nolan dan ia-lah yang tahu. Namun, demi kesehetan nyonya Merlin ia sepakat kalau Maura sebagai Morena.


"Siapa suami yang dimaksud laki-laki itu? Benar kamu sudah menikah? Berarti papa Zaen ada? Kenapa tidak dikenalkan kepada kami, hah? Kenapa menyembunyikan ini kepada nenek?" desak Lisia.


Maura menghela napas. "Tidak, sebenarnya itu salah paham. Waktu itu Nolan tidak sengaja mengaku sebagai suamiku," terangnya.


"What? Kenapa bisa? Kalau semua orang tahu bagaimana? Kalau jadi gosip bagaimana?" tanya Lisia.


Maura menatap Lisia dengan seksama, ada apa dengan gadis itu? Kenapa terlihat sewot? pikirnya. "Kamu suka sama Nolan?" tebak Maura.


"Ti-tidak!" elak Lisia sembari menggelengkan kepala.


"Jangan bohong, kalau kamu tidak suka kenapa sesewot itu saat tau Nolan mengakuiku sebagai istrinya?" Maura pun akhirnya tertawa karena wajah Lisia sangat merah.


"Jangan meledek-ku!" Lisia cemberut, lalu ia tak lagi berucap karena kesal. Ia malah menatap jalan sekitar. Cinta bertepuk sebelah tangan itu memang menyakitkan, pikirnya.


***


Tibalah mereka di rumah. Pas tiba di rumah, Maura disambut oleh tangisan baby Zaen. Pasalnya, ini pertama kali Maura meninggalkannya dalam waktu yang cukup lama. Maura langsung panik dan segera menemui anaknya yang tengah bersama baby sitter juga bersama nenek Merlin.


"Syukurlah kamu cepat pulang, baby Zaen tidak mau minum susu formula," ujar sang nenek.


Maura langsung meraih tubuh mungil itu dari pangkuan sang pengasuh. "Cup, cup, cup, sayang ... Ini Mommy sudah pulang, kamu haus ya?" Maura segera memberikan ASI-nya kepada baby Zaen. Seketika, bayi mungil itu terhenti dari tangisannya.


Maura menyentuh jari jemari kecil itu, baby Zaen sangat menggemaskan. Bahkan wajahnya begitu mirip dengan Rayyan Smith, tidak dapat dipungkiri, andai pria itu tahu dan melihat baby Zaen secara langsung, apa dia akan mengakui sebagai anaknya? pikir Maura.


Tapi, melihat kesombongan Rayyan Smith membuat Maura kesal waktu itu. Pria itu malah menawarkan sejumlah uang untuk menebus kesalahannya? Disitu, kenapa Maura tidak memberitahukan soal kehamilannya. Tanpa ia tahu, sebenarnya Rayyan sudah mengetahui semuanya.

__ADS_1


***


Dan di tempat lain.


Kalau sang bos tahu soal Maura yang punya anak darinya kenapa menerima perjodohan itu? pikir Leon.


"Bos, tapi Anda 'kan mau menikah? Kalau Anda menikah bagaimana dengan mereka? Atau jangan-jangan ..."


"Jangan-jangan apa?" pungkas Rayyan.


"Soal Carla? Bukankah dia calon istrimu? Gadis itu yang dipilih orang tuamu? Bagaimana dengan Maura nanti kalau Anda menikah?" tanya Leon.


"Itu hanya settingan, aku dan Carla sudah sepakat mengiyakan perjodohan itu agar orang tua kami tidak terus mendesak, lagian tanggal pernikahan itu entah kapan. Dari pada cerewet jadi kami iya-iya saja. Carla sudah memiliki kekasih, jadi santai saja," ujar Rayyan.


Saat ini mereka dalam perjalanan menuju sebuah restoran di pusat kota, dan saat itu juga pandangan Rayyan Smith tertuju pada seorang pria yang tengah bersama seorang wanita.


Pria itu sangat terkejut, ternyata dia adalah Nolan. Nolan langsung melepaskan tangan seorang gadis yang tengah digenggam olehnya. Rayyan tidak terkejut akan hal itu karena ia tahu bahwa laki-laki ini memang bukan suami dari ibu anaknya.


"Si-silahkan," jawab Nolan.


"Sudah pandai selingkuh ya sekarang?" sindir Rayyan. Ia ingin pengakuan dari pria itu. Rayyan ingin ia menjaga anaknya juga Maura.


Gadis yang bersama Nolan langsung mengerutkan alis, bahkan mencampakkan tangannya. Merasa dikhianati, gadis itu memukul Nolan menggunakan tas miliknya. Gadis itu pergi begitu saja. Nolan hendak memanggil, namun, Rayyan langsung berucap.


"Bagaimana kabarmu juga pernikahan bohonganmu itu?" tanya Rayyan langsung. Nolan sedikit terkejut dengan penuturan Rayyan. "Tidak usah gugup, santai saja. Selagi kamu tidak menyakitinya aku lebih suka dia bersamamu, jaga dia," tutur Rayyan.


"Kau tau?" tanya Nolan soal Maura.

__ADS_1


"Ya, suatu saat akan ku jemput dia. Untuk saat ini aku belum bisa." Pembicaraan mereka saling berbisik. "Kebetulan kita bertemu di sini, tadi aku sudah bertemu dengannya dan dia setuju soal pembangunan itu, kau bisa bicarakan soal ini padanya. Dan satu hal, jangan beritahu dia kalau aku sudah tau semuanya tentang Mozaen. Aku percaya kamu orang baik." Setelah mengucapkan itu, Rayyan beranjak dari tempat duduknya. Ia merasakan sesuatu di sana, dari sudut pandangnya ia melihat gerak-gerik yang mencurigan.


"Kita pergi," bisik Rayyan. Leon mengekor dari belakang.


Sedangkan Nolan, pria itu kebingungan. Dari mana dia tahu soal ini? Apa jangan-jangan dia memata-mataiku selama ini dengan Maura? Tapi kenapa dia diam saja setelah tahu tentang anaknya? pikir Nolan.


***


"Bos," ucap Leon.


Rayyan mengangkat tangan seakan menyuruh anak buahnya itu diam. Ia tahu ada yang mengikutinya dari belakang. Mereka berjalan cepat, tapi orang itu tetap mengikutinya. Situasi cukup ramai karena mereka berada di pusat kota. Rayyan mengambil sesuatu dari balik jas, tanpa melihat ke belakang ia mengarahkan senjatanya dari balik jas itu. Ia membawa senjata yang anti suara sehingga, tiba-tiba saja orang yang mengikutinya terkapar karena tembakan darinya.


Keadaan mulai ricuh karena tiba-tiba ada orang yang tergeletak dengan bersimbah darah dari bagian perut. "Kita pergi sekarang," ajak Rayyan. Rayyan sudah curiga sejak pertemuanya tadi bersama Maura. Sehingga pertemuan itu biasa saja, padahal, Rayyan ingin lebih lama bicara dengan Maura. Demi keselamatan wanita itu membuat sikapnya masih dingin.


Ia cukup memantau semuanya dari baby sitter yang bekerja di kediaman nyonya Merlin. Maura cukup cerdik sehingga ia meyakini bahwa Maura bisa menjaga diri di sana.


Rayyan meninggalkan jejak, ia sudah tidak lagi berada di pusat kota. Kini, ia tengah berada di dalam mobil. Melihat gambar baby Zaen lewat ponsel yang baru saja dikirim oleh sang pengasuh di sana. Leon benar-benar tidak tahu soal ini, laki-laki itu mengira bahwa Rayyan Smith benar-benar akan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.


***


"Sial!" rutuk seseorang yang mengetahui anak buahnya telah mati, ia yakin bahwa ini adalah perbuatan Rayyan Smith. "Aku tidak suka kalau perusahaannya semakin pesat," ucapnya lagi.


"Sabar, sayang. Kamu bisa mengalahkan dia, cari kelemahannya," bisik seorang wanita yang sejak tadi bergelayut manja di tubuhnya.


"Dia tidak bisa ditebak, sikapanya aneh. Bahkan aku tidak pernah melihatnya bersama seorang wanita," terang pria itu yang tak lain adalah sepupunya sendiri. Sejak dulu ia memiliki dendam karena gadis yang disukainya ternyata mencintai Rayyan.


"Bukannya dia dijodohkan dengan gadis yang bernama Carla? Aku rasa dia bisa jadi umpan, setidaknya kekayaanya bisa ditukar dengan gadis itu," ucap wanitanya.

__ADS_1


"Idemu bagus, sayang." Pria itu mencium bibir gadisnya. Rencananya akan ia susun serapi mungkin. Permusuhan mereka tak diketahui keluarga masing-masing, sehingga dalam pertemuan mereka akan bersikap biasa saja. Bagaikan musuh dalam selimut.


__ADS_2