
Keesokan paginya.
Rayyan dan istrinya tengah sarapan. Lalu, Lisia dan Leon pun menyusul. Hari ini, Lisia akan pulang dan kembali bekerja. Gadis itu tinggal di rumah almarhum nyonya Merlin bersama Nolan.
"Sini, kita sarapan sama-sama," ajak Mauran.
Leon mendudukkan diri di kursi, tapi tidak dengan Lisia. Gadis itu malah berdiri dan tidak bergeser sedikit pun. Gadis itu tidak ikut sarapan karena tengah menunggu Nolan, pria itu akan menjemputnya. Belum Lisia berkata, sebuah klakson terdengar.
"Sepertinya aku harus segera pergi, Nolan sudah menjemputku," ucap Lisia.
Leon langsung menoleh ke arah gadis itu. "Katanya akan move on, giliran dijemput oke-oke saja. Apa semua wanita seperti itu? Iya di bibir tapi tidak di hati, apa Lisia terlalu mencintainya sehingga disakiti pun tidak peduli?" batinnya. Leon sibuk dengan pemikirannya, sampai sang bos mengajaknya berbicara pun ia tidak menyahut.
"Lihatlah, sepertinya ada yang cemburu," kata Rayyan pada istrinya. "Apa yang dia lamunkan?" sambungnya lagi.
"Biarka saja, mereka 'kan sama-sama lajang. Aku lebih setuju Lisia sama Nolan, mereka kompak jika sedang bekerja," jawab Maura.
"Tapi sebuah hubungan itu bukan kompak dalam urusan, tapi bagaimana cara menghargai pasangannya. Nolan itu sudah punya kekasih, iyakan, Leon?" kata Rayyan pada Leon.
Tapi pria itu masih saja bengong. Rayyan pun akhirnya melempar roti yang telah disobek ke arah Leon, sehingga pria itu pun terkesiap dari lamunannya dan merasa terkejut.
"Bengong saja," ujar Rayyan.
"Maaf, Bos. Bukan melamun tapi ..."
"Tapi apa? Mikirin Lisia?" timpal Maura.
"Ti-tidak," elak Leon.
__ADS_1
"Matamu tidak bisa berbohong, tatapanmu itu beda saat melihat Lisia. Kamu suka ya sama dia? Ayo ngaku?!" desak Maura. "Dia menyukai Nolan, apa kamu tau itu? Aku hanya ngasih tau sebelum kamu patah hati."
"Iya, aku tau. Lagian, Nolan juga sudah punya kekasih. Sepertinya bukan aku yang akan patah hati, kalau Lisia tetap mencintai Nolan dia yang akan sakit. Sebaiknya Bu Bos kasih tau Lisia tentang Nolan, aku kasihan padanya," jelas Leon.
"Kasian apa perhatian?" ledek Rayyan. "Kalau cinta sebaiknya perjuangkan, jangan sampai Nolan mengambil Lisia darimu," sambung Rayyan lagi.
"Kenapa topik pagi ini tentang perasaanku?" ucap Leon pelan. Setelah itu ia tak lagi mempedulikan omongan mereka. Lagi pun, ia belum pasti soal perasaannya kepada gadis itu. Ia hanya tidak ingin Lisia sakit hati dengan sikap Nolan yang mengacuhkannya. Namun, tiba-tiba saja pria itu mendekatinya. Apa ada maksud tertentu? pikirnya.
***
Rayyan dan Leon pun kembali dengan aktivitasnya. Sejenak, mereka melupakan musuh-musuhnya. Rayyan sudah terlalu lama tidak pergi ke kantor karena sibuk dengan urusan pribadinya yang menimpa keluarganya. Hari ini, mereka akan pergi ke perusahaan yang didirikan tahun lalu. Ia akan mengecek pemasukan dan pengeluaran di sana.
Sekalian, mereka akan mengecek kondisi para warga. Apa pemuda di sana sudah benar-benar bekerja di perusahaannya? Jangan sampai ada orang luar yang ikut bekerja di lapangan karena Rayyan mendirikan perusahaan itu khusus untuk warga di sana.
Hal pertama yang dilakukan Leon dan Rayyan adalah mengecek alamat karyawan lewat CV mereka, dengan begitu mereka tahu siapa saja yang bekerja di perusahaannya.
Rayyan meminta bantuan Nolan dan Lisia, kebetulan mereka sudah ada di sana. Entah apa yang dilakukan mereka berdua di dalam ruangan. Leon mendapat tugas untuk menemui mereka. Namun, apa yang ia lihat? Nolan tengah berada di belakang Lisia sambil melihat layar komputer dengan kepala yang condong ke arah gadis itu. Sehingga wajah mereka sangat dekat. Jika keduanya menoleh, ia yakin wajah mereka akan bertemu.
Ia memang tidak apa-apa, tapi saat ini Nolan memiliki kekasih, ia tidak suka karena ia takut Nolan hanya memberi harapan palsu kepada Lisia, gadis baik sepertinya harus dijaga. Bukan dibiarkan dan akhirnya tersakiti.
Kedatangan Leon ke ruangan itu membuat Nolan menarik diri, pria itu berdiri tegak. "Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu?" ucap Nolan yang merasa terganggu akan kedatangan Leon.
"Maaf, aku kira tidak ada kamu. Ini 'kan ruangan Lisia," ucap Leon.
"Meski ini ruangan Lisia bukan berarti kamu bisa masuk seenaknya, itu tidak sopan!" cetus Nolan.
"Sudah, tidak apa-apa," sahut Lisia. "Ada apa?" tanyanya kemudian pada Leon.
__ADS_1
Nolan dan Lisia akhirnya ikut bergabung mengelola perusahaan yang didirikan Rayyan saat ini. Mereka memang diutus oleh Maura untuk membantu di sana. Perusahaan itu akhirnya milik bersama. Tanah itu milik nyonya Merlin, dan bangunannya milik Rayyan Smith. Dua perusahaan akhirnya menjadi satu. Mau tak mau, Nolan, Leon dan Lisia akan sering bertemu di perusahaan itu.
Yang membuat Leon kesal adalah, Lisia pernah berkata akan move on dari laki-laki yang bernama Nolan, tapi nyatanya? Lisia terlalu girang saat Nolan datang dan melupakan ucapannya. Cinta itu memang buta, pikir Leon.
"Kalian dimintai laporan karyawan, bos ingin tau siapa saja yang bekerja di sini. Kirim CV karyawan pada bos," jelas Leon.
"Oke, akan aku kirimkan," jawab Lisia.
Karena Lisia sudah mengiyakan, Leon pun segera undur diri dari sana.
***
"Apa kalian sedekat ini?" tanya Nolan.
"Maksudnya?" jawab Lisia sembari mengotak-atik laptopnya, ia tengah mengcopi data karyawan karena akan di kirimkan melalui email kepada pimpinan perusahaan yang tak lain adalah Rayyan Smith.
"Iya dekat," ujar Nolan.
"Iya, kami dekat. Tau hobi masing-masing, pokoknya aku dan dia saling terbuka. Dia asik juga orangnya, gak nyangka kalau dia itu humoris." Sebuah sanjungan yang tanpa disadari membuat Nolan cemberut. Tapi, Lisia memang merasa happy jika bersama Leon. Dari obrolan pun nyambung.
Sangat beda dengan Nolan, pria itu sangat serius. Bahkan terlihat kaku. Kadang juga menyebalkan, bukan kadang, pria itu memang sangat menyebalkan. Tapi anehnya Lisia menyukainya. Perasaan yang memang tidak bisa dihindari. Dan hari ini, gadis itu merasa senang dengan perubahan Nolan kepadanya. Meski agak janggal, tapi Lisia tidak peduli.
"Kalian pacaran?" duga Nolan.
Ucapan Nolan membuat Lisia terkejut dan langsung menoleh, hingga akhirnya tatapan mereka bertemu. Tak lama, Lisia memalingkan wajahnya. Biasanya, hatinya dag dig dug tak karuan jika melihat pria itu. Tapi kenapa ini tidak? Tatapan itu biasa saja.
"File karyawan itu yang ini." Kata Nolan yang melihat layar laptop, dan tangan mereka akhirnya bersentuhan.
__ADS_1
Tak lama, pintu ruangan Lisia kembali terbuka. Posisi mereka yang seperti itu membuat siapa pun akan berpikir lain. "Apa sekarang mereka pacaran?" batin orang itu.
Lisia langsung melepaskan tangannya ia pu langsung berdiri. Ia tak ingin ini menjadi salah paham. Ia pernah berkata akan move on dari sosok Nolan. Tapi kenapa hatinya jadi bingung seperti ini? Harusnya ia senang saat dekat dengam Nolan, tapi perasaan itu menjadi biasa saja.