Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Armanda Akbar


__ADS_3

ARMANDA AKBAR itulah namanya kini. Anggraeni sudah menghilangkan nama Bintang Kecil sejak kepindahannya ke Inggris, bahkan tidak hanya itu Anggraeni sudah mengubah seluruh identitasnya dengan mengganti kedua orang tuanya, Yang aslinya anak dari Bintang Akbar dan Quin Alipa diganti menjadi putra pasangan Revalina Akbar dan Jose Willyam.


Anggraeni sengaja mengubah identitasnya karna ia ingin melupakan masa lalunya yang pahit tentang putranya yang sudah meninggal.


Setelah sampai di bandara mereka mendapatkan mobil jemputan dari perusahaan sesuai permintaan Anggraeni, sementara Armanda menantikan seseorang untuk menjemputnya, seseorang yang sudah dua tahun ini ia temui hanya melalui telepon dan sosial media saja. Dan ketika orang itu datang Armanda meneriakinya.


''Ginsul dua! I am here...'' Teriak Armanda pada seorang gadis yang nampak sedang celingak-celinguk mencarinya.


Mutiara Agung gadis tomboy super cuex yang dinobatkan Armanda sebagai pacar pertamanya saat SMP, ketika masih sama-sama tinggal di Inggris. Tak ada yang berubah dari penampilan gadis itu masih enerjik dan masih tidak suka berdandan.


Lihat saja gayanya sekarang rambutnya pendek seperti laki-laki dengan menggunakan topi terbalik ke belakang, celana jins berpadu dengan kaos oblong warna biru tua dan sepatu skat, Mutiara jauh dari kesan cantik kalau tampan mungkin iya, satu yang menarik dalam dirinya yaitu gigi ginsul dua di kedua gigi taringnya, saat ia tersenyum menambah manis wajahnya, itulah kenapa Armanda menyebutnya si ginsul dua.


Gadis itu tidak tersinggung lagi dengan ucapannya, saat di luar negeri dulu itu sudah menjadi makanan sehari-harinya dijadikan pembully-an si badung ini, dan Mutiara sudah terbiasa dengan hal itu, tanpa ejekannya hidupnya tidak menarik lagi.


Sebagaimana sahabat akrab gadis itu berlari dan meloncat kearahnya memeluk tubuhnya seperti anak monyet. Reflek kedua tangan Armanda menangkapnya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir jatuh mundur kebelakang.


Mutiara tertawa gembira melepas kerinduannya setelah dua tahun berpisah, untuk sesaat setelah melepas pelukannya yang membabi buta ia berhenti tertawa, memandang wajahnya pria di depannya yang masih begitu tampan seperti beberapa tahun lalu.


"Tidak berubah," menyentuh kedua pipi Armanda kagum. "Masih tetap tampan seperti dulu."


"Tentu saja aku ditakdirkan tampan dari lahir." ujar Armanda bangga lalu mencubit kedua pipi Mutiara seperti karet.


"Wajahmupun tidak berubah. Jangan-jangan kamupun terlahir seperti ini dari lahir?'' tersenyum nakal


"Seperti apa...?''


Dilihat dari senyumannya yang menjengkelkan sepertinya Mutiara yakin akan mendapat satu serangan berupa ejekan karna dari dulu si badboy ini senang sekali mengatainya.


"Tidak begitu jelas,''


Armanda menurunkan kedua tangannya dari kedua pipi gadis di depannya, ia pura-pura menyipit menilai dari bawah sampai atas.


"Dikatakan laki-laki..," Armanda menggelengkan kepala, "lebih mirip perempuan, dikatakan perempuan..." Armanda tersenyum mengejek. "Memang ada yah, perempuan dengan buah dada rata seperti ini.''


Armanda menunjuk, menempel tepat pada kedua buah dada Mutiara dengan kedua telunjuknya yang nakal. Selangkah tubuh Mutiara menjauh mengamankan dadanya, memeluk menyilang. Pipi Mutiara memerah seperti bayi tikus baru lahir menahan malu.


"Dasar Mesum...!"


Mutiara berteriak, pura-pura marah untuk menghilangkan rasa malunya pada pria di hadapannya yang menyentuh dadanya yang kecil.


"Walau dadaku rata, tetap saja gue tuh perempuan, mana boleh pegang-pegang seperti itu." Masih mengamankan dadanya dengan memasang wajah manyun. "Gue laporin ke komnas perlindungan perempuan, tahu rasa luh..."


Armanda membalasnya dengan senyuman lebar.


"Siapa takut."


"Serius nggak takut?" Sambil menurunkan kedua tangannya melepas pertahanan pada dadanya. "Komnas  perempuan di Indonesia itu galak, kalau gue laporin lo bisa langsung ditangkap, emang nggak takut?"


"Tidak, kan ada kamu yang selalu menjagaku."


Armanda membalasnya dengan godaan yang membuat gadis tomboy di depannya malu-malu meong dan Armanda selalu tahu bagaimana cara menggodannya yang membuat gadis itu menjadi sangat imut.


Setelah beberapa menit melepas kerinduan dengan saling mengejek, keduanya segera menaiki mobil.


Sesuai kesepakatan lewat telepon setibanya di Indonesia Mutiara akan langsung membantunya mencari kakaknya. Tempat pertama yang akan dikunjunginya adalah Yayasan Sumber Kasih.


Mutiara menancap gas dan mobil itupun melaju dengan kecepatan tinggi. Armanda berteriak girang seolah jadi supporter bagi Mutiara. Ugal-ugalan seperti ini seolah mengenang saat-saat dua tahun lalu ketika Mutiara masih sekolah di Inggris.


"Pacar pertamaku memang tidak pernah mengecewakan." ujar Armanda setengah berteriak menyesuaikan dengan kebisingan suara mobil.


Mutiara memperlambat mobilnya ketika pria di sampingnya mengingatkan masa lalu tentang dirinya yang disebut sebagai pacar pertama Armanda yang kini jadi sahabatnya.


"Gua pikir lo lupa kalau kita pernah pacaran?"


"Mana mungkin lupa? Satu-satunya pria yang pernah ku kencani ya cuma kamu..?"


"Sialan, kau."


"Sumpah saat ku pacaran denganmu untuk pertama kalinya aku merasa jadi Gay."


"Dasar..!'' Mutiara menendang kaki pria yang duduk di sampingnya hingga berteriak kesakitan, Mutiara mendesis. "Setidaknya gue bukan ibu-ibu yang biasa lo kencani."


Mutiara mengejek kebiasaan pria ini yang suka tertarik pada wanita-wanita lebih tua, salah satunya adalah guru SMA-nya dulu yang sengaja ia pacari padahal anaknya seumuran dengannya, terus pacaran sama anak kuliahan padahal saat itu ia masih kelas sembilan, dan ada banyak lagi cerita, hanya saja dia tidak bener-bener serius.


Dalam sehari Armanda bisa memacari dua wanita sekaligus entah apa yang dicarinya, teman-temannya menyebutnya, Si Oedipus complex.


"O ya. Aku lupa menanyakan bagaimana kabarmu selama dua tahun di sini? Punya pacar baru?''


"Dilarang pacaran. Gue harus menyelesaikan study gue dulu baru setelah itu diizinkan pacaran.''

__ADS_1


"Benarkah?" Armanda menatap Mutiara terpukau. "Aturan macam apa itu?" Kembali menatap ke jalan besar. "Kamu harusnya berontak ayahmu tidak benar kalau punya aturan Primitif seperti itu."


"Bukan aturan dia.''


"Lalu?"


Armanda menilai bingung karna selain ayahnya si ginsul ini tak memiliki siapapun selain tante angkatnya yang tinggal di Inggris. Mutiara nyaris tidak memiliki siapapun.


"Seseorang terdekatnya.''


"Siapa?" Armanda menyipit


"Sial. Bikin mood gue hilang tuh cewek." Ketus Mutiara kesal setiap kali ingat seseorang sudah mengatur hidupnya sejak dua tahun ini.


Armanda mendengar kekesalan pada wajah Mutiara yang seolah mengingat sesuatu yang tidak disukainya. Armanda menebak sahabatnya ini akan berubah kesal jikalau ada seseorang yang begitu dekat dengan ayahnya.


"Pasti calon ibu barumu." Armanda sengaja menggodanya.


Satu kaki Mutiara kembali menendang kaki Armanda kali ini lebih keras yang berhasil membuat Armanda berteriak kesakitan.


"Kamu ini suka sekali menendangku aku laporkan ke Komnas perlindungan pria tampan, tau rasa loh." protes Armanda sambil membungkuk mengusap-usap kakinya.


"Tak sudi gue punya nyokap seperti itu! Bisa kacau hidup gue dengan banyak peraturan gak boleh ini gak boleh itu, lama-lama gue bisa gila!"


Armanda terpukau kaget, kekesalan Mutiara ternyata serius bahkan darurat sepertinya hal buruk sedang terjadi kepadanya, tebakannya benar hal itu menyangkut perempuan ayahnya.


"Jadi benar dugaanku." ujar Armanda kembali menatap perempuan di sampingnya yang masih menyetir dengan serius.


"Aku benci dia..!"


"Sepertinya dia begitu mengganggumu."


"Mood gue jadi jelek setiap ingat dia."


Mutiara merasa kesal mengingat hidupnya selama dua tahun ini seperti Anjing cihuahua yang selalu manis dan mengikuti majikannya.


"Apa dia sangat jahat seperti di film-film."


"Lebih buruk dari itu."


"Apa dia merebusmu."


"Benar juga..." Armanda tersenyum melihat kekesalan gadis di sampingnya yang membuatnya sangat imut. "Kamu pasti sudah matang kalau direbus."


"Lagian pake direbus-rebus segala emangnya gue sayuran."


"Lalu apa dong, kamu bilang dia jahat?"


"Aku disuruh belajar, diwajibkan pintar, harus memiliki nilai tertinggi di kelas, harus jadi anak yang manis dan bla bla bla.., seperti wajib militer." Menatap Armanda. "Menyebalkan. Kan?"


"Aku pikir dia sejahat apa, ternyata cuma itu?"


"Emangnya lo mau dipaksa-paksa belajar."


Armanda menggeleng sambil memutar matanya seolah menilai sebelum akhirnya menjawab.


"Enggaklah, kamu tahu sendiri aku keluar sekolah karena aku tidak suka belajar, bikin pusing, apalagi itu tuh sejarah tentang pahlawan, aku kesal kenapa  coba si Spiderman tidak ada di buku sejarah, padahal itukan cerita aku dari kecil sampai sekatang masih terkenal tapi enggak masuk buku sejarah."


Mutiara tertawa kecil kalimat pria di sampingnya berhasil menetralkan perasaannya. Spiderman adalah tokoh kesukaan Armanda, Mutiara tahu hal itu sejak masih di Inggris itulah kenapa pria ini suka sekali beratraksi memanjat dinding.


"O,ya. Gimana reaksi ayahmu dia memperlakukanmu seperti itu?" Armanda kembali bertanya setelah berhasil menetralisir perasaan Mutiara.


"Sial. Ayah cuci tangan dalam hal ini, dia memberinya kewenangan untuk mengatur hidup gue, kurang lebih seperti inilah nasib gue dua tahun ini.'' Bernapas panjang.  "Untungnya sekarang sih mulai terbiasa."


Armanda cukup terkejut, mengingat selama ini Mutiara akan melawan siapapun yang mengganggu hidupnya, tapi sepertinya orang terdekat ayahnya itu berhasil membuatnya mati kutu.


Mutiara menghentikan mobilnya ketika pandangannya tertuju pada tulisan reklame Yayasan Sumber Kasih.


"Gue rasa ini tempatnya."


"Kamu yakin?"


Armanda mengikutinya menyelidik Yayasan itu ketika mobil Mutiara berhenti di depan yayasan ini.


"Aku cek di internet sih ini. Coba lo turun ingat-ingat lagi, bener gak ini tempatnya?"


"Aku lupa itu sudah sepuluh tahun yang lalu.''


Armanda menatap gedung yayasan itu, lalu membuka mobil dan turun mendekat memastikan tempat yang ia cari. Ia mulai menilai lagi dengan mengingat ngingat kembali masa lalunya dan ia ingat di samping belakang panti ini terdapat pohon Beringin besar dan ternyata pohon itu masih ada.

__ADS_1


Yayasan Sumber Kasih. Ini benar tempat yang ia cari, ia ingat pernah hidup di sini selama empat tahun saat itu usianya lima tahun ketika pindah ke yayasan ini dan saat usianya sembilan tahun ia meninggalkan yayasan ini karna saat itu usia kakaknya menginjak delapan belas tahun. Sesuai surat wasiat yang ayahnya buat, Ia dan kakaknya harus kembali ke rumahnya saat usia kakaknya delapan belas tahun.


Armanda menyipitkan matanya ketika dari dalam yayasan ini keluar sosok yang masih dikenalnya.


Perempuan berkacamata minus usianya sekitar empat puluh tahunan, dia adalah Dewi Purnama ibu asuhnya, tapi entah kenapa saat ia melihat ibu asuhnya itu Armanda jadi merasa enggan untuk menghampirinya.


Armanda merasa tiba-tiba tangannya terasa dingin dan jantungnya merasa berdebar-debar, mengingat kalau sekarang ini jika ia menghampirinya, ia akan segera bertemu kakaknya orang yang selama sepuluh tahun ini dirindukannya.


Armanda berubah pikiran ia berbalik menjauh dari gerbang, hendak menaiki mobilnya lagi, tapi Mutiara menghentikannya dengan menarik tangan Armanda.


"Kenapa... ? Apa ini bukan tempatnya?"


Mutiara kembali melihat papan nama yang tertulis Yayasan Sumber Kasih.


Mutiara menatap kembali pria di depannya, wajahnya nampak berubah murung.


"Apa tidak lebih baik kita masuk untuk memastikannya? Mungkin saja kak Nisa lo ada di sini?''


Mutiara menarik tangan Armanda, dari sana Mutiara merasa ada yang aneh, telapak tangan pemuda ini berubah sangat dingin, sepertinya ia mengalami perasaan shock dan cemas.


"Tangan lo dingin sekali."


Mutiara penuh selidik, biasanya pria ini akan berubah murung begini kalau ia sedang marah, sedih dan cemas.


"Sebenarnya... '' Suara Armanda terdengar sedih.


Armanda bersedih bibirnya terasa berat untuk mengatakan perasaannya saat ini. Masa lalu di ulang tahunnya yang kesepuluh, saat itu kakaknya berjanji akan tinggal di rumah rahasia yang ada di Bogor, tapi malam saat ia sedang tidur lelap, kakaknya secara diam-diam membawanya pada Anggraeni, ketika sadar dirinya sudah berada di dalam pesawat bersama pamannya, hari itu sudah sepuluh tahun lalu Bintang Kecil ngamuk di dalam pesawat. berhenti menangis ketika menemukan hadiah ulang tahun di saku bajunya, sebuah rekaman suara kakaknya.


Dari situ ia selalu berpikir kakaknya tidak menepati janjinya dan itu hal yang sangat menyakitkan dalam hidupnya.


''Kakakku tidak menginginkan aku.. '' Suara Armanda sedih.


"Apa?"


Mutiara tertegun aneh karna ini pertama kalinya pria itu berkata seperti itu tentang kakaknya yang hilang, padahal sebelumnya ia suka bercerita kalau kakaknya adalah orang yang paling mencintainya di dunia ini.


"Bukannya lo bilang dia sangat mencintai lo? Dan lo juga sangat merindukanya kenapa sekarang lo bilang begitu?"


Armanda menarik tangannya dari tangan Mutiara, berusaha mengacuhkan pertanyaannya. Ketika ia hendak membuka mobilnya seseorang sudah berdiri membuka gerbang yayasan itu. Armanda tertegun karna ia tahu betul kalau dia adalah ibu asuhnya, meskipun dia sekarang terlihat tua tapi Armanda ingat dia ibu asuhnya yang bernama Dewi Purnama.


"Maaf. Tadi sepertinya kalian hendak memasuki yayasan ini? Apa ada yang bisa dibantu?"


Armanda terpaku memandangnya ketika ibu asuh di hadapannya bertanya karna melihat Armanda terdiam. Mutiara mewakili pertanyaan ibu berkacamata itu.


"Iya. Benar, Bu. Kami di sini sedang mencari seseorang?" ucap Mutiara berusaha sopan.


"Ibu.. ''


Armanda mengeluarkan sepatah katanya berat, tiba-tiba sepatah kata itu keluar begitu saja mengalihkan mata Mutiara dan Ibu berkacamata itu pada Armanda. Armanda tidak melupakan ibu asuhnya ini dia pernah jadi bagian kehidupannya di waktu kecil, ia pernah mengurus dan menampungnya di yayasan ini.


"Ini aku. Bu. Bintang Kecil."


Dewi Purnama terpaku kaget menatapi pemuda jangkung di hadapannya, Tak ada yang memilki nama unik seperti itu kecuali anak asuhnya yang dulu telah dibawa pergi keluarga Akbar tapi benarkah dia Bintang Kecil?




Dewi Purnama berusaha mengingat kembali Bintang Kecil saat berusia sepuluh tahun lalu? Tubuhnya kecil dan wajahnya tampan, dia juga memiliki senyuman yang manis seperti ibunya, namun sekarang yang ia lihat adalah seorang pemuda Ganteng, berambut panjang sedikit berantakan, tubuhnya tinggi tegap, ramping dan bagus.


Sangat berubah hampir tidak ada kemiripan sedikitpun jika dibandingkan dengan waktu kecil dulu, namun ketika pemuda itu tersenyum saat ini? Dewi Purnama baru yakin dia memang Bintang kecil yang ia lihat sepuluh tahun lalu, senyuman manis yang sama persis dengan senyuman  Quin Alifa, siapa sangka tubuhnya yang dulu kecil bisa setinggi ini.


"Ini benar Bintang Kecil?" Melangkah menghampiri lebih dekat untuk menyentuh wajahnya. "Kamu sudah besar, Nak."




"Iya, Bu, waktu sudah berlalu sangat lama, tapi ibu tidak berubah, aku masih bisa mengenalimu."


"Iya, tapi ibu sudah tak mengenalimu, jika Nisa melihatmu, pasti diapun tidak akan mengenalimu."


"Kak Nisa..." Suara Armanda lirih. "Dimana kak Nisa, Bu? Aku rindu."


Armanda tiba-tiba menyaksikan segurat kesedihan yang mendalam pada wajah ibu asuhnya ketika ia bertanya tentang kakaknya, Armada merasa sesuatu yang buruk terjadi.


"Mana kak Nisa, Bu?" Armanda bertanya dengan perasaan takut.


"Kak Nisamu tidak ada di sini. Dia pergi sepuluh tahun lalu dan belum kembali. ''

__ADS_1


Armanda mulai merasa takut hal buruk menimpa kakaknya, Armanda membayangkan kembali saat-saat terakhir ia melihatnya di rumah rahasianya, saat itu ia tertidur dalam dekapan erat kakaknya namun tiba-tiba ia sudah berada di dalam Pesawat, dan tidak tahu apa yang telah terjadi saat itu yang jelas kakaknya sudah tidak ada bersamanya, tapi justru orang pertama yang ia lihat saat terbangun dari tidurnya itu adalah Nayaka.


__ADS_2