Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Bahagia dan Air mata


__ADS_3

Pada saat seperti inilah Armanda mulai bisa menilai-nilai wajah kakaknya. Sepuluh tahun waktu yang banyak untuk mengalami metamorposis dari remaja berwajah manis menjadi perempuan dewasa yang mempesona. Walau dulu belum paham apa itu cantik? Armanda yakin wajah cantik yang ia lihat sekarang masih wajah yang sama tanpa perubahan meskipun ia pun tak bisa menimbang-nimbang karna wajah sepuluh tahun lalu hampir tersamar dalam pikirannya.


Sentuhan halus pada wajah kakaknya membukakan matanya secara perlahan-lahan. Air matanya mengalir lagi ketika ia bangkit duduk di dekatnya. Kedua tangan lembut milik kakaknya meraba kembali wajah dirinya saat ini. ia menangis diantara senyumannya, dan mengunci tatapannya pada dirinya, dalam sekejap perempuan cantik yang nampak begitu rapuh ini mendekap tubuhnya erat. Armanda membalas pelukannya dengan serupa.


Nisa tak bisa berhenti untuk tidak menangis, pertemuan ini adalah moment selama sepuluh tahun ia tunggu, kesedihan dan bahagia bercampur hari ini jadi satu. Nisa bahagia karena ia bisa melepaskan beban kerinduan yang sepuluh tahun membantainya, dan sedih karena harus menerima kenyataan pahit kalau Bintang Kecil telah banyak mengalami kesulitan hidup selama sepuluh tahun tanpanya hingga menjadikannya sosok seperti ini.


"Maafkan kakak, Sayang...Maafkan kakak karna tidak mengenalimu." Lalu melepas kembali pelukannya untuk menatap kembali wajah pemuda tampan di depannya. "Kakak benar-benar tidak tahu kalau tubuhmu sudah setinggi ini..."


Armanda tersenyum getir menatapi perempuan di depannya yang terus menangis tanpa bisa dihentikan.


"Kakak..." lirih Armanda kembali meneteskan air matanya dan menyekanya.


"Jangan menangis..." Ikut menghapus air mata adiknya lembut. "Jangan menangis. Bintang tidak boleh menangis. Biar kakak saja yang menangis. Anak laki-laki mana boleh menangis seperti ini." Kedua tangan Nisa kembali merangkulnya erat.


Nisa melepaskan pelukannya setelah berusaha menghentikan tangisannya, memegang kedua tangan adiknya dan terus mengunci pandangannya.


"Bintang sudah besar. Dulu kecil sekarang sudah setinggi ini." Nisa tersenyum getir.


"Kakak...Sebenarnya aku juga sama. Aku terlambat menyadarinya, padahal beberapa kali aku melihatmu bahkan semalam aku menyapamu, dan sama sekali aku tidak tahu kalau itu Kakak. Aku menyadarinya setelah melihatmu di televisi." lirih Armanda menangis.


"Jadi. Semalam itu?"


"Iya. Itu aku."


Quinisa merasa tak percaya dengan jarak sedekat itu ia bahkan tak mampu mengenali Bintang kecilnya padahal semalam ia menangis karena ketika sampai di gerbang itu mengingatkannya saat terakhir melihat adiknya ketika Nayaka membawa pergi menuju bandara. Itu puncak penderitaan Nisa sepuluh tahun lalu yang membuatnya selalu menangis saat memikirkannya.


"Ya ampun. Kenapa bisa ada kejadian seperti ini. Bintang begitu dekat tapi kakak tidak menyadarinya."

__ADS_1


"Kakak...," Suara Armanda menyahut lirih. "Selama ini aku terus mencarimu hingga aku merasa sangat takut tidak bisa menemukanmu. Aku sangat merindukanmu. Kak..." ungkapnya parau.


"Kakak juga..,Sayang. Kakak juga sangat merindukanmu." Lalu tertawa kecil. "Kakak ini bodoh yah.., Kakak bekerja di perusahaan ini tapi Kakak tidak tahu kalau Armanda yang sering Kakak dengar di perusahaan ini adalah Bintangku."


"Omah sudah mengubah seluruh Identitasku." Suaranya menurun lalu ia melepaskan kedua tangannya dari Nisa. Melarikan pandangannya. "Aku minta maaf, Kak.."


Nisa melihat wajah tampan di depannya berpaling darinya seperti ada sesuatu yang membuat perasaannya sedih.


"Minta maaf, untuk apa?" Menyentuh wajah pria di depan agar kembali menatapnya.


"Aku banyak salah padamu, Kak.., karena selama sepuluh tahun ini aku tidak berlaku baik, Kakak pasti sudah banyak mendengar hal buruk mengenaiku. Aku minta maaf.."


Quinisa sekilat langsung memeluk tubuh di depannya pengakuannya menyakiti hati Nisa bukan karna ia kecewa melainkan Nisa merasa bersalah.


Menurutnya apa yang terjadi pada pria ini adalah kesalahannya, terbayang bagaimana adiknya yang dulu sangat ia manjakan secara mati-matian mampu hidup seorang diri tanpa pantauannya tanpa pengendaliannya itu pasti  sangat sulit hingga membuatnya jadi sosok seperti ini.


Nisa melihat wajah tampan yang sedang ia sentuh itu mengangguk dan Nisapun tersenyum namun wajah Nisa berubah sedih ketika ia meraba bagian luka  di pelipis.




"Ini pasti sakit?" Suara Nisa sedih.


"Tidak..." Armanda menarik wajahnya dari sentuhan kakaknya seolah ingin menyembunyikan luka itu. "Ini sama sekali tidak sakit. Kemarin aku..." kalimat terakhir menurun.


Armanda meralat mulutnya untuk tidak mengatakan apa yang terjadi kenapa luka ini bisa ada karna selain akan mempermalukan dirinya sendiri hal itu pasti akan menambah kesedihan untuk kakaknya.

__ADS_1


Nisa mengerti kenapa adiknya tidak melanjutkan kalimatnya.


"Lain kali Bintang harus hati-hati tidak boleh terluka seperti ini lagi. Oke?" ujar Nisa seolah ia tidak perlu tahu apa yang terjadi kemarin, dan Nisapun tak berniat memberitahukannya kalau ia melihat kejadian ketika ia berkelahi di Bundaran HI karna itu hanya akan melukai harga dirinya.


"Iya. Kakak.., Aku janji tidak akan terluka seperti ini lagi." ujarnya dan Armanda menyaksikan perempuan cantik di hadapannya tersenyum senang.


"Apa lukanya sudah diobati?"


"Sudah. Sekarang sudah tidak sakit."


Nisa membalasnya dengan senyuman kecil, sebenarnya perasaan Nisa hancur melihat luka itu membayangkan Bintang Kecil yang saat sepuluh tahun ia jaga secara apik tidak boleh terluka dan dilukai kini hidupnya bar-bar dengan banyak luka, Nisa tidak kecewa tapi Nisa sangat terluka karena rasa bersalahnya.


"O-ya mengenai perusahaan..., Kakak  tidak akan benar-benar akan melenyapkannya." Nisa mengalihkan pembicaraan.


"Sebenarnya aku tidak begitu perduli dengan perusahaan."


Armanda menimpalinya seolah memberitahunya kalau ia tidak mempermasalahkannya meskipun ia tahu kalau kakaknya pasti melakukan hal itu karna dendam dan itu sangat wajar.


"Kemarin Kakak tidak tahu kalau Armanda adalah Bintang, Kakak tidak tahu kalau Bintang adalah pewaris empat puluh persen perusahaan ini. Sekarang kakak tahu apa yang harus kakak lakukan pada perusahaan ini, kakak tidak akan melenyapkannya.


"Apapun yang akan Kakak lakukan pada perusahaan seratus persen aku mendukungmu selain itu akupun sudah banyak mendengar mengenai kehebatan Kakak. apa Kakak tau..., omah sebenarnya..." Lalu berbisik. "Takut padamu. Kedua kaki dan tangannya akan terlihat gemetaran setiap kali mendengar nama Queen Agung."


"Masaa... Sih? Balasnya menyeringai.


"Iya. Hahaha..." Tawaannya makin menyeringai berhasil membuat kakaknya tertawa yang sama.


Nisa tertawa lagi. Harus menunggu sepuluh tahun untuk bisa tertawa selepas ini, Nisa menyadari hanya Bintang Kecil satu-satunya orang yang bisa membuatnya menangis dan satu-satunya yang bisa membuatnya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2