Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Pertemuan Nisa dan Bintang.


__ADS_3

Anggraeni marah pada Nayaka karna tidak memberitahukan pertemuannya dengan Nisa namun Nayaka berhasil menjelaskan semuanya dia tak pernah tahu kalau Nisa adalah Queen pemilik enam puluh persen Akbar Group bahkan ia juga merasa sangat shock ketika mengetahuinya. Namun ada hal yang lebih penting yang harus dipikirkan Anggraeni saat ini, bagaimana cara mengembalikan cucunya dari negara ini sebelum wanita itu tahu kalau Armanda yang terkenal di perusahaan adalah Bintang Kecil yang ia cari.


"Armanda harus segera kita pulangkan ke inggris lebih cepat lebih baik."


Anggraeni  berjalan menuju kamarnya namun langkahnya terhenti di ruangan keluarga. Matanya mencari remot control untuk mematikan televisi yang terdengar bising.


"Ibu, Aku tidak yakin Armanda dapat kita pulangkan? Apalagi dengan cara mendadak seperti ini, Bu." balas Nayaka.


Nayaka yang terus mengekori ibunya di belakang sementara ia dan ibunya tidak tahu kalau saat ini Armanda sudah berdiri di lorong kalidor yang memisahkan antara ruangan ini dengan ruangan tengah.


"Gunakan cara yang ditempuh Nisa dulu."


Mata Anggraeni berhasil menemukan remot dan mengambilnya namun televisi masih dibiarkan menyala lalu menatap Nayaka.


"Buat dia tertidur dengan cara apapun, dengan begitu dia tidak akan menyadari saat kita membawanya keluar dari negara ini. Kamu jaga dia di sana sementara Ibu di sini untuk menjaga perusahaan. Ibu tidak akan membiarkan Nisa, Queen atau siapapun itu namanya menghancurkan Akbar Group, apalagi sampai dia berani mengambil Armanda dari tangan Ibu. Tidak akan mudah bagi Nisa untuk menghancurkanku."


Armanda tiba-tiba merasakan tubuhnya terpaku ketika ia mendengar jelas nama Nisa disebut -sebut. Ini sulit dipercaya tapi Nisa yang mana lagi yang berhasil membuat Anggraeni semarah itu. Mungkin ada seribu nama Nisa tapi Nisa yang mana yang akan mengambil dirinya dari tangan Anggraeni? Tak ada Nisa yang lain, kecuali Nisa yang selama ini ia cari.


"Kakak..." Sahutan itu keluar begitu saja dari mulut Armanda yang kelu.


Anggraeni dan Nayaka mendadak terpaku lesu ketika mereka sadari Armanda sudah berdiri diantara mereka dan mendengar percakapan yang seharusnya tidak boleh ia dengar.


Belum selesai dari keterkejutan ini, tiba-tiba kuping mereka dikejutkan lagi dengan hal lain yang berasal dari suara televisi yang belum sempat Anggraeni matikan.


Anggraeni, Nayaka juga Armanda mengalihkan pandangannya serentak ketika kuping mereka mendengar pembawa acara berita televisi sedang menyiarkan siaran langsung berita tentang Akbar Group.


Kaki Armanda mulai melangkah pelan mendekat ketika ia mendengar pembawa acara televisi itu menyebutkan nama Queen Agung. Dari pembicaraan Anggraeni dan Nayaka barusan menjelaskan kalau Queen adalah Nisa.


Armanda  melihatnya sendiri dengan matanya melalui televisi di hadapannya kalau Queen dan Nisa adalah satu orang yang sama sesuai kesimpulan yang ia dapat dari pembicaraan Anggraeni dan Nayaka barusan.


Armanda terpaku tak dapat bicara ketika ia menyaksikan di layar ukuran sembilan puluh ins sosok yang dikenalnya, perempuan cantik yang sudah dua kali ia lihat, pertama di aparmen Mutiara dan kedua di gerbang pagar semalam. Namun inilah pertama kalinya Armanda melihatnya dengan sangat jelas, dan kini ia merasa yakin kalau perempuan cantik dalam televisi itu adalah kakaknya, meski wajah itu mulai samar dalam memorinya karna tekanan waktu tapi saat melihatnya lagi Armanda ingat jelas kalau perempuan dalam televisi itu memang kakak yang selama ini ia cari.


Seorang reporter perempuan nampak sedang memberinya pertanyaan pada pemilik enam puluh persen Akbar Group.


"Apa Anda yakin akan  menjual seluruh saham Anda pada PT Mulya Agung?"


"Iya itu benar, Saya akan menjadikan Akbar Group menjadi anak perusahaan dari PT Mulya.


"Apa ini keputusan sepihak? Bagaimana dengan empat puluh persen saham milik Anggraeni Akbar?


"Iya ini keputusan saya sendiri untuk menjual seluruh bagian saham saya pada PT Mulya dan saya juga sudah putuskan akan melenyapkan nama Akbar Group menggantinya dengan nama baru sebagai anak perusahaan PT Mulya."


"Bagaimana tanggapan Anggraeni Akbar?"


"Saya tidak tahu apa dia terpaksa harus mengikuti jejakku atau tetap bertahan? Intinya saya akan menjual bagian saya saja dan menggabungkan dengan PT Mulya dan menjadikannya sebagai Anak perusahaan PT Mulya. Itu saja. Kemungkinan saya juga akan mengganti nama Akbar Group dengan nama yang lain mengingat nama Akbar Group sudah tidak menguntungkan lagi, Saya akan menggantinya dengan nama baru yang lebih pas dan dapat di terima oleh pasar."


"Nama seperti apa yang kira-kira pantas sebagai Anak perusahaan PT Mulya."


"Saya sudah menemukannya."


"Nama apa itu?"


"Bintang Kecil. Itu nama yang lebih bagus dari pada sekedar Akbar Group."

__ADS_1


"Bintang Kecil. Kenapa Anda memilih nama itu? Nama itu terdengar seperti sebuah lagu anak-anak selain itu Anggraeni Akbar memiliki putra yang benama Bintang yang meninggal sekitar lima belas tahun lalu apa ada hubungannya dengan itu?"


Queen terdiam sebentar wajahnya berubah murung ketika reporter di depannya menyebut nama ayah angkatnya.


"Anda benar. Semua memang ada hubungannya." balasnya disisipi senyuman yang selalu pura-pura. "Pertama? Saya sangat menyukai lagu anak-anak tersebut. Kedua..,Bintang Akbar dia adalah ayah angkatku."


Armanda menangis mendengar pernyataan perempuan cantik dalam layar itu.


Reporter kembali melempari pertanyaan berikutnya pada Queen.


"Apa sebagai anak perusahaan PT Mulya, apa sudah memiliki persetujuan dengan pemilik PT Mulya itu sendiri." Reporter menatap lelaki di sebelas Queen. Dia adalah Ridwan Agung.


"Hak pergantian nama saya serahkan padanya, "Menatap Queen. Kembali menatap reporter. "Selain itu saya memberi wewenang penuh Queen Agung dalam perusahaan kami. Bagaimanapun Queen Agung memilki bagian penting di perusahan ini dan sekarang saya sudah mengangkat Queen sebagai dewan tertinggi di jajaran dewan direksi di perusahan kami."


Queen Agung tersenyum puas membalas pernyataan Ridwan Agung. Kembali ia menatap reporter.


"Saya sudah memutuskan Anak perusahan Akbar Group akan berganti nama menjadi Bintang Kecil."


"Saya lihat nama itu begitu berkesan di hati Anda?"


"Sangat." balas Queen berubah lesu. " Karena nama Bintang Kecil saya ambil dari nama adikku. Adik kesayanganku."


Armanda menangis pecah mendengar ungkapan perempuan dalam layar di hadapannya, Bintang Kecil adalah namanya yang dihapus Anggraeni sepuluh tahun lalu, Armanda tidak akan melupakan nama Bintang Kecil karna itu adalah nama lahir yang diberikan ayah dan ibunya.


"Kakak..." sahut Armanda menangis.


Armanda menyentuh dan meraba gambar hidup perempuan cantik dalam layar televisi rasanya Armanda ingin berada ke tempat itu tanpa harus lari, kalau bisa ia ingin menembus layar itu untuk bisa bertemu orang yang paling ia rindukan selama sepuluh tahun ini.


Anggraeni dan Nayaka sendiri mendadak tak bisa berpikir lagi tentang rencana Queenisa yang ingin melenyapkan nama Akbar Group serta tangisan Armanda yang membuat perasaan Anggraeni dan Nayaka merasa kacau balau.


Armanda memperdulikanya sahutan Mutiara yang menyahutnya dari dalam mobil , Armanda  lewati mobil itu. Saat ini dipikirannya hanya ada Nisa ia bahkan melupakan Mutiara yang sudah ia tunggu kedatangannya sejak pagi. Kedatangan Mutiara pagi ini ingin mengembalikan alat perekam berbentuk boneka Spiderman  yang tertinggal di apartemennya.


Dengan menyalip kendaraan di depannya sementara mobil sport Mutiara berusaha mengejar di belakangnya. Ketika sampai, konfrensi pers yang diadakan di halaman depan gedung besar Akbar Group masih berlangsung.


Armanda melepasnya Helm. Matanya pokus pada sekumpulan awak media yang sedang memadati  gedung Akbar Group . Armanda melesat meninggalkan motor balapnya dan berusaha menerobos  para awak media untuk bisa menemukan kakaknya.


Terpaku Armanda ketika ia berhasil menerobos para wartawan dan berdiri ditengah-tengah mereka pandangannya terkunci pada sosok perempuan cantik yang sedang duduk sekitar dua meter di hadapannya.


Mendadak suara Armanda tidak mampu keluar padahal saat ini ia ingin sekali berteriak memanggilnya, tiba-tiba kakinya tak bisa bergerak padahal ia ingin lari memeluknya, tak ada yang bisa Armanda lakukan saat ini untuk mengekpresikan kebahagiaanya kecuali dengan menangis.


Semua mata pokus kepadanya terpaku bingung menyaksikan seorang pemuda tampan dengan gaya rambut panjang agak berantakan mendadak datang mengganggu konfrensi pers, namun yang lebih membingungkan saat pemuda itu menangis menatap Queen dan hal itu justru menjadi hal yang cukup menarik untuk diliput.


Sebagian awak media mengenalnya dia adalah Armanda Akbar sosok yang terkenal di jejaring sosial, dia cucu seorang Anggraeni Akbar yang terkenal akan kebadungannya.


Queen dan Ridwan Agung menatap bingung pada pemuda di hadapannya yang menangis seperti anak kecil.  Queen memang tidak aktif di media sosial tapi Queen ingat ini bukan kali pertama ia melihatnya, luka yang membekas di pipinya serta masih ada sedikit memar-memar di wajahnya memberitahunya kalau pemuda ini adalah pemuda yang ia lihat dibundaran HI yang di keroyok oleh sekumpulan genk motor.


Nama pemuda ini adalah Armanda Akbar sosok yang terkenal di perusahaan karena kenakalannya dan disebut sebagai generasi terakhir Akbar yang terlahir gagal. Yang jadi pertanyaan kenapa ia menangis?.


Queen ingat, Armanda dia adalah calon pewaris Akbar Group milik Anggraeni dan mungkin ia datang untuk protes dengan rencananya?tapi  seorang pemuda badung seperti ini bagaimana mungkin menangis sedalam ini.


Queen menilai wajah pemuda itu, ntahlah sejak awal melihatnya Queen merasa tidak asing dengan wajah pemuda ini, wajahnya tampan, sedikit mirip Nayaka karna tentu saja dia pamannya walau gaya mereka berbeda tapi bibir serta bentuk hidungnya mirip dengan Nayaka tidak bisa dikatakan pemuda ini lebih tampan dari Nayaka namun pemuda ini lebih menarik dari pada Nayaka? Lalu kenapa pemuda ini menangis?


Queen akhirnya mengerti pemuda ini menangis karna dia tidak menerima rencana dirinya untuk melenyapkan Akbar Group. Ini lucu sekali orang seperti Armanda dengan jiwa yang liar dan bar-bar pun begitu peduli dengan perusahaannya.

__ADS_1


Namun cara pemuda ini menangis menatapnya sebenarnya berhasil menyentuh perasaan Queen, tapi ini bagian perangnya melawan Anggraeni mustahil mundur hanya karna melihat tangisan pemuda ini.


"Kalau kamu datang untuk menghentikan rencanaku sebaiknya pulang saja, tangisanmu tidak akan mengubah apapun, katakan pada Anggraeni saya hanya berurusan dengannya. Pulanglah katakan juga padanya perang baru dimulai." tutur Queen sambil bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan wawancaranya.


Armanda merasakan sakit seperti ada jarum kecil menusuk tepat sekali di jantungnya yang membuatnya lemas tak berdaya saat menyaksikan kakak yang selama ini sangat ia rindukan siang dan malam sudah tak mengenalinya lagi.


Sepuluh tahun memang bukan waktu yang singkat sudah banyak metamorposa yang ia alami dari anak kecil sepuluh tahun menjadi pemuda berusia dua puluh tahun dan mungkin memang cukup sulit untuk bisa dikenalinya lagi.


Armanda menjatuhkan badannya berjongkok menopangkan tubuhnya yang terasa lemas di kedua kakinya. Ia tidak bisa berhenti menangis seperti anak kecil sementara Mutiara yang sebenarnya sudah berdiri dari tadi di belakangnya terpaku menyaksikan Armanda seperti itu.


Mutiara bertanya dalam hati mungkinkah orang yang sedang diratapi Armanda saat ini adalah kakak yang selama ini ia cari. Ini tidak mungkin? Untuk meyakinkan Mutiara mengambil rekaman berbentuk boneka Spiderman di saku jaketnya. di sini ada suara kakaknya itu yang Armanda bilang namun Armanda tidak pernah mengijinkan siapapun mendengar isi rekaman itu.


Mutiara tidak perduli lagi kalau pria ini akan marah karna membuka rekaman ini, Mutiara hanya ingin meyakinkannya saja.


Queen terhenti dari langkahnya ketika kupingnya mendengar suara seseorang. seluruh tubuhnya seakan bergetar ketika mendengar suara itu, suara itu adalah suaranya yang ia rekam sepuluh tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun adiknya yang kesepuluh.


Queen berbalik mengarah pada suara itu nampak Mutiara sedang memegangnya. Air mata Queen langsung menetes ketika melihat benda itu, alat perekam berbentuk boneka Spiderman miliknya yang ia berikan sepuluh tahun lalu sebagai hadiah. Reaksi Queen saat ini adalah bukti nyata bagi Mutiara kalau Queen yang selama ini hidup dengannya ternyata adalah kakak yang selama ini dicari Armanda.


Mutiara menghampiri Armanda menyodorkan benda itu dan berkata.


"Seandainya saja lo memberi tahukan isi rekaman ini ke gue. Lo pasti akan bertemu Kakak lo lebih awal."


Armanda berdiri berusaha menghentikan tangisnya. Mutiara dan Armanda berdiri saling berhadapan. Mutiara ikut menangis seperti Armanda karna merasa terharu pencarian Armanda tentang kakaknya sepertinya akan berakhir hari ini dan Mutiara sangat terharu bahagia.


"Dasar bodoh." Memukulkan boneka itu ke dada Armanda dan tangan Armanda menangkapnya. "Kenapa begitu cengeng? Seharusnya lo bertindak kalau dia sudah tak mengenali lo lagi."


Queen menatap kembali wajah pemuda yang berdiri berdekatan dengan Mutiara. Ucapan Mutiara memberitahukan kalau pemuda itu adalah adiknya.


Queen meneteskan air matanya menatap pemuda itu sambil memurkai diri karna tak bisa mengenalinya lagi, padahal dari tadi pemuda itu terus menagis memandangnya. Tak terlintas sedikitpun  kalau pemuda ini adalah adiknya yang selama ini selalu membantainya dengan kerinduan yang datang ribuan kali setiap hari hingga ia merasa kerinduan itu akan membunuhnya.


"Bin.. Tang...."


Suara Quinisa keluar pelan dan lirih lalu perlahan dengan kaki yang seribu kali sangat berat ia melangkah menghampirinya dan berhenti tepat di hadapannya Armanda.


Ia pandangi wajah itu ia sentuh dan ia raba dengan kedua tangannya. Matanya tajam dan ekpresip hidungnya mancung  bibirnya kecil dan penuh dan saat ia tersenyum seperti saat ini akan nampak sebuah lesung yang manis di pipi kirinya dan Queen menangis karna terlambat menyadarinya.


"Bin-tang." Suaranya tersendat parau.


Armanda meresponnya dengan anggukan dan senyuman haru kemudian menyahutnya parau.


"Kakak."


Tangisan Nisa pecah ketika dari bibir kecil pemuda di depannya menyahutnya dengan memanggilnya kakak. Hanya Bintang Kecil yang memanggilnya seperti itu.


Luka di pipinya saat ini mengembalikan ingatan Queen pada saat menyaksikan perkelahian di Bundaran HI.


Tangisan Queen semakin sakit ketika ia membayangkan bagaimana  pemuda ini dipukuli di depan matanya dan saat itu ia hanya bisa menontonnya tanpa tahu kalau yang sedang dipukuli habis-habisan itu adalah adiknya sendiri, itu terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.


Pandangan miring sebutan keturunan Akbar yang terlahir gagal melekat pada dirinya seseorang yang suka membangkang, liar dan bar bar dan seringnya masuk tahanan karna di anggap mengganggu ketertiban umum itu menyakiti hatinya setelah tahu yang di omong-omongkan itu adalah Bintang Kecil adiknya sendiri.


Kenyataan pahit yang becampur dengan kebahagian tiada tara yang Queen rasakan saat ini membuat pikirannya kacau. Otot-ototnya lemas, sendi-sendi tubuhnya seakan putus. Nisapun lunglai.


Bergerak seketika tubuh Armanda menahannya agar tidak jatuh sementara orang orang yang berdiri disekitarnya ikut panik dan ayah Mutiara yang memang sejak tadi mengikuti konfrensi ini segera menyarankan Armanda membawanya keruangan Queen. Dan ini pemberitaan paling dramatis yang disiarkan langsung di acara televisi liputan 6 pagi.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada mereka semua ikut larut dalam kebahagian mereka, namun tidak dengan Anggraeni dengan perasaan marah dan sedih ia mematikan tivi itu dengan remot control yang ia pegang dari tadi.


# gimana bab ini bagus gak? di tunggu komen dan vote nya*


__ADS_2