
Pemandangan seru bagi Armanda ketika ia sudah duduk berkumpul di ruangan makan bersama paman dan Omahnya.
Anggraeni saat ini nampak begitu terlihat gelisah walau nampak berusaha menutupinya tapi sudut matanya nampak berkali-kali melihat jam dinding yang tergantung dalam ruangan ini. Sudah lewat lima belas menit wanita istimewa yang ditunggu keluarganya belum juga muncul.
Ini sudah Armanda kira, sebelumnya wanita bernama Queen Agung itu tidak akan datang karna Armanda selalu merasa wanita itu sedang mempermainkannya.
Armanda menjadi satu-satunya orang yang menikmati pemandangan ini, ia tersenyum-senyum lucu menyaksikan wajah Anggraeni yang kaku nampak seperti udang yang sudah direbus berwarna merah, tentu saja Anggraeni akan merasa paling malu karna saat ini ia pasti merasa sedang bertaruh melawan cucunya.
Armanda memancing keadaan bertambah genting ketika sendok dan garpu diantara kedua piringnya ia mainkan dengan memukul-mukulnya pelan seperti irama musik makan malam yang hendak menghancur keheningan malam.
Meja makan yang nampak segala macam hidangan sudah tersaji, suara ketukan itu seolah menjadi nada yang membisingkan namun tak ada protesan karna menurut Nayaka dan ibunya memprotesnya malah akan menambah suasana malam ini jadi takaruan karna mereka tahu suasana kacau itu yang diinginkan Armanda.
"Mau menunggu sampai kapan?" menghentikan suara sendok dan garpunya. "Sampai kita semua jamuran?" Sindirnya mengejek.
"Armanda!" protes Nayaka tetap tenang meski sebenarnya ia mungkin lebih panik dari pada ibunya.
"Kenapa?" Menatap Nayaka terkatup. "Sudah kubilang tadi perempuan itu tidak akan datang, kalau masih tidak percaya, ya.., sudah. Tunggu saja sampai kita benar-benar jadi jamur."
"Kalau masih terus bicara, sebaiknya kamu masuk kamarmu." Nayaka mulai terpancing.
"Bagaimana aku bisa meninggalkan meja ini kalau aku belum makan malam." protes Armanda membalas Nayaka.
Detik jarum jam semakin keras terdengar, wanita itu belum juga datang, diantara rasa laparnya Armanda tertawa sambil menjatuhkan keningnya di atas meja dan berkata,
"Oh Tuhan... Aku lapar sekali. Dasar wanita itu kenapa tega sekali mempermainkan keluarga ini."
Anggraeni berusaha tidak terpancing dengan celetukan-celetukan cucunya yang sengaja memanas-manasi keadaan, berusaha tetap pokus pada keyakinannya kalau Queen Agung pasti datang walau terlambat.
Anggreni dulu pantang sekali menunggu, ia melakukan ini demi kembalinya Akbar Group kepadanya. Karna hanya dengan cara pendekatan ia merasa yakin akan mampu membujuk perempuan itu untuk menjualnya kembali perusahan Akbar Group kepada dirinya.
"Sudah setengah jam. Baiklah aku akan tidur saja." Armanda berdiri bangkit lalu berkata, "kenapa tidak ada yang percaya padaku kalau dia tidak akan datang." Keluar dari meja sambil berucap, "bener-bener menyebalkan."
"Tunggu!"
Langkah Armanda terhenti ketika mendengar suara Anggraeni menghentikannya.
"Kamu begitu yakin dia tidak akan datang. Apa kamu juga tahu apa alasannya?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu alasannya. Tapi, Aku merasa sejak awal, perempuan bernama Queen Agung itu sedang mengerjaimu."
Armanda jujur namun kejujurannya itu berhasil membuat antara ibu dan anak itu menatap kepadanya, Armanda berhasil membuat emosi terpendam pada wajah omahnya, saat itu juga ia melihat Anggraeni pergi meninggalkan ruangan ini dengan wajah kaku menyeramkan seolah ia sangat memurkai wanita itu.
Armanda menambahkan kalimatnya menatap kepergian omahnya, lalu tersenyum mendengus.
"Itu hanya berpendapatku saja," lalu menatap Nayaka. " Apa Paman tidak berpikiran sama denganku?" ujarnya bukan bertanya tapi jelasnya ungkapan yang mengejek.
Nayaka ikut menyusul ibunya meninggalkan ruangan ini meninggalkan Armanda, Nayaka sebenarnya jauh lebih kesal pada sikap keponakannya dibanding pada wanita yang tidak datang malam ini, karna kemarahan ibunya terpancing akibat celetukan-celetukan nakal keponakannya, namun jika apa yang dipikirkan keponakannya benar maka Nayaka mencemaskan wanita itu karna artinya wanita itu sedang bermain api dan ibunya tidak akan menerima itu.
Armanda panik ketika di kamarnya ia tidak menemukan boneka Spydermannya, boneka pusaka yang setiap malam menemani tidurnya lalu ia ingat kalau boneka perekam itu tertinggal di Apartemen tiara siang tadi.
Armanda melesat keluar berniat mengambil rekaman itu ke tempat Mutiara. Namun, ketika ia sampai menuju gerbang besar rumahnya Armanda terhenti ketika melihat sosok perempuan sedang berdiri di depan gerbang rumah ini.
Armanda Pelan-pelan mendekatinya dan sosok itu mulai jelas lampu-lampu taman berhasil menyinari sosoknya.
Perempuan bergaun indah berwarna merah membalut tubuhnya yang ramping, rambutnya panjang dengan tataan bergelombang di bagian bawahnya, wanita itu nampak cantik meski Armanda tidak begitu jelas melihat wajahnya.
Armanda mulai mendekatinya dan saat itu ia menyaksikan sesuatu yang sangat mengejutkan. Perempuan itu terdengar menangis tersedu-sedu.
"Kamu siapa?"
Armanda teringat kata-kata Mutiara tentang Queen Agung, yang diam-diam suka menangis. dan untuk pertama kalinya Armanda mendapatinya persis di depan matanya. Tapi kenapa..?
"Kenapa menangis?" Armanda bertanya lembut.
Queen Agung menangis pilu mengingat di gerbang rumah ini bagaimana mereka memisahkan ia dan adiknya dengan paksa. Subuh itu sepuluh tahun lalu, masih tergambar jelas dalam ingatan, bagaimana Nayaka membawa pergi Bintang Kecil yang sedang tidur sementara saat itu ia hanya bisa menangis ketika polisi menangkapnya menuduhnya sebagai penjahat. Di gerbang ini, untuk terakhir kalinya ia melihat adiknya dan itu sudah melewati waktu sepuluh tahun.
"Aku merindukannya." lirih Queen.
Armanda mendengar perempuan itu bicara, ntahlah apa yang sedang dipikirkannya dan siapa yang sedang dirindukannya, tapi cara ia menangis, Armanda merasa tidak tega melihatnya.
"Kenapa tidak masuk, kami semua menunggumu."
Armanda bertanya hendak menyentuh pundaknya namun belum sempat menyentuhnya tiba-tiba perempuan itu berlari membawa tangisannya.
Armanda mengejarnya tapi perempuan itu berlalu dengan memakai mobilnya menembus kegelapan malam. Armanda hanya berhasil melihat sekilas wajahnya saja itupun dari samping dan wajah perempuan sama dengan sosok yang ia lihat di Apartemen sebelahan dengan Mutiara. Dia adalah Queen Agung.
__ADS_1
Malam ini Armanda menyaksikan seseorang tengah menangis begitu pilu, tangisan hampa dan memilukan dari seorang Queen Agung. Armanda bertanya dalam hati sebenarnya orang seperti apa perempuan bernama Queen Agung itu? Kenapa sosok yang dikenal orang sebagai sosok yang angkuh dominan dan mengerikan justru sangat begitu rapuh malam ini.
Perempuan itu berhasil mengalihkan pikirannya Armanda dari alat perekam yang tertinggal di apartment Mutiara. Gara-gara perempuan itu Armanda tak bisa tidur malam ini karena terus memikirkannya.
Keesokan paginya.
"Pagi-pagi sekali mereka mau ke mana Bik?" ujarnya sambil mengambil segelas susu yang disodorkan bik Kasih.
Armanda merasa heran ketika melihat dibalik jendela kamarnya nampak omah dan pamannya menaiki mobil dan meluncur keluar gerbang dengan tergesa-gesa.
"Ke kantor, Den. Sepertinya kejadian semalam membuat nyonya sangat marah, makanya mereka berangkat pagi-pagi sekali untuk menemui perempuan itu."
Armanda terdiam, mengingat perempuan semalam perempuan yang Anggreni harapkan datang sebenarnya muncul, namun kenapa ia tidak masuk dan malah menangis itu yang jadi pertanyaan sejak semalam?
"Sebenarnya perempuan itu datang, Bik." Meneguk susuknya sedikit lalu menatap perempuan renta di sampingnya. "Semalam, Aku melihatnya di gerbang rumah ini."
"Masa sih, Den? Kenapa tidak masuk kalau benar dia sudah datang."
"Itu yang sedang kupikirkan. Bik, kenapa coba enggak masuk? Dan yang membuatku semakin bingung dia menangis, Bik. Dan saat aku tanya kenapa tidak masuk? Dia malah berlari, benar-benar membuatku tak tak bisa tidur semalaman."
"Apa dia cantik, Den?"
"Kurasa begitu aku melihatnya dua kali tidak begitu jelas sih.., aku hanya melihatnya dari samping tapi kata Mutiara wanita itu sangat cantik, dan kupikir wanita itu memang sangat cantik, Bik."
"Hati-hati. Den Manda tidak boleh jatuh hati padanya."
"Apa...?" ucapnya terkejut lalu mengulang. "Jatuh hati?"
Armanda meneguk kembali susunya sambil membayangkan perempuan semalam yang masih terngiang suara tangisannya yang memilukan, tapi saat memikirkan lagi bagaimana Arogansi perempuan itu dan sikapnya yang kejam dan ambisus tidak mungkin baginya untuk jatuh hati. Selama ini ia hanya akan terpikat dengan wanita dewasa yang keibuan yang lembut dan penuh kasih sayang bukan dengan perempuan yang terkenal kejam, angkuh dan ambisius.
"Kurasa dia bukan tipeku.'' ujar meyakinkan.
"Syukurlah kalau begitu." balas bik Kasih, bernapas lega. "Den Manda memang harus menghentikan kebiasaan buruk Den yang selalu terpikat dengan pesona wanita-wanita dewasa. Itu tidak baik. Den..."
"Kenapa? Orang dewasa itu kebanyakan lebih lembut dan keibuan. Aku suka."
"Kalau begitu pacaran sama Bibik saja." ujar bik Kasih mencandai tuannya.
__ADS_1
Tersedak Armanda dengan susu yang baru saja ia teguk.
"Apa, Bik...Yang benar saja walaupun mereka bilang aku ini si Oedipus complek tapi mana mungkin aku terpesona dengan perempuan yang sudah udzur seperti Bibik." protesnya mengejek. "Tapi kalau Queen?" Menyipit sebentar mengingat sosoknya yang terkenal ambisius dan dominan. "Sepertinya dia tidak masuk hitungan seleraku juga, dia terlalu ambisius, kaku dan introper. Huh..." Meneguk susunya sampai habis lalu melanjutkan kalimatnya seperti bergumam. "Mengingatkanku pada omah saja. Bagaimana mungkin aku tertarik."