Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Tembok yang sulit dirubuhkan


__ADS_3

Tembok besar itu mengingatkannya pada kisah cinta kedua orang tuanya yang saat kecil sering ia dengar dari cerita kakaknya. Tembok besar bagi mereka adalah seorang Anggraeni sementara yang sekarang ia hadapi lebih ironis lagi, karena yang harus di perangi adalah status dirinya sendiri.


Armanda menghentikan pikiran tentang kisah cinta kedua orang tuanya yang menurutnya dramatis ketika ia melihat kakaknya sudah berdiri di sampingnya dengan mengenakan piyama tidur berwarna hijau.


Armanda melingkar satu tangannya ke punggung dan pundak kakaknya. merapatkan tubuhnya ketika melihat kakaknya nampak kedinginan.


"Kenapa belum tidur?" ujar Armanda sambil menyaksikan ribuan Bintang yang menghiasi angkasa malam.


"Bintang tidak ada di sampingku. Bagaimana Kakak bisa tidur?"


Nisa melingkarkan satu tangannya ke belakang pinggang pria di sebelahnya, tubuhnya mulai hangat dengan rangkulan tangan adiknya yang memutar di punggung dan pundaknya di belakang.


"Entah kenapa malam ini aku teringat dengan mama dan papa? Sepertinya aku sangat merindukan mereka."


Nisa memutar wajahnya ke samping menatap wajah adiknya yang nampak mendangak ke atas langit seperti sedang membayangkan sesuatu, mungkin ia sedang membayangkan kedua orang tuanya berada diantara Bintang-bintang itu.


"Mereka sepertimu..."


Nisa mengikutinya memandang langit malam yang nampak indah malam ini. Cahaya bulan penuh menambah keayuan pesona langit malam.


"Benarkah..?" respon Armanda menatap Nisa yang berdiri rapat di sampingnya.


"Bintang memiliki mata dan senyuman mirip mama. Mama adalah perempuan yang cantik dan sangat lembut." Membalas tatapan adiknya. "Dan Bintang memiliki ketampanan dan keberanian seperti papa."

__ADS_1


"Benarkah..?" Senyumnya senang.  "Aku lupa dengan wajahnya."


"Saat papa meninggal umurmu baru lima tahun." ungkap Nisa dan ia melihat pria itu memgangguk mengiyakan.


Armanda menyipit teringat sebuah rumah rahasia yang dulu saat kecil sering mereka kunjungi yang berada di kawasan perbukitan kota bogor seingatnya di sana ada terdapat beberapa lukisan kedua orang tuanya.


"Kakak masih ingat tidak tentang rumah rahasia kita dulu kalau tidak salah di sana ada beberapa lukisan papa dan mama. Aku ingin sekali ke sana."


Nisa terpaku termenung ketika adiknya mengingatkan tentang rumah rahasianya, banyak kenangan manis yang tersimpan di sana namun ada sebuah kenangan pahit yang ia kubur di sana membuatnya tak ingin kembali ke rumah itu.Yang sangat ingin Nisa lupakan adalah hari terakhirnya, saat di mana hari ulang tahun adiknya yang kesepuluh si kecil memintanya untuk tinggal di rumah itu namun Nisa tidak bisa memenuhi harapan adiknya untuk tinggal, malah dengan diam-diam saat sedang tidur ia membawa pergi adiknya dari rumah itu. Sampai  detik ini Nisa menganggap hal itu sebagai kekeliruan terbesarnya hingga sampai detik ini ia masih menyesalinya, karena menurutnya penderitaan itu bermula dari sana.


"Kakak tidak ingat." jawab Nisa singkat sambil melepaskan tangannya dari pinggang adiknya kemudian masuk meninggalkan balkon dan adiknya mengikuti dari belakang.


"Masa Kakak lupa..." Mengekori kakaknya yang memasuki kamar. "Itu Kak, yang ada di daerah bogor. Aku lupa tempatnya, tapi aku ingat rumah itu agak terpencil, setiap tahun Kakak merayakan ulang tahunku di sana. Mustahil Kakak lupa." ujar Armanda berusaha mengingatkan sambil menyaksikan kakaknya yang menaiki tempat tidur.


"Kakak... Jangan dulu tidur..." Menyentuh dan menggerakan tubuh bagian belakang Nisa memaksanya untuk mengingat. "Masa Kakak lupa sih, Aku saja masih ingat, Ayolah Kak ingat-ingat lagi. Jangan dulu tidur."


"Sudah malam," Menoleh wajah adiknya yang duduk di belakangnya. "Kakak ngantuk. Bintang juga harus tidur..."


"Tidak mau." ketus Armanda kesal dengan memasang wajah manyun lalu bangkit berdiri hendak meninggalkan kamar sambil bergumam. "Tega sekali melupakan banyak kenanganku di sana."


Nisa menoleh menatap punggung adiknya yang berjalan menjauhi tempat tidur. Ada perasaan sedih di hati Nisa karena membuatnya kecewa. Nisa tersenyum dan berkata.


"Cepat tidurlah. Pagi-pagi sekali kita ke sana..."

__ADS_1


Armanda berbalik memutarkan badannya.


"Serius..." pukau Armanda.


"Iya." balas Nisa sambil mengangguk.


Armanda spontan melompat memeluk tubuh Nisa gembira. Nisa menyambutnya dengan  pelukan yang sama. Saat gembira seperti ini Armanda nampak seperti anak kecil yang gembira ketika berhasil mendapatkan keinginananya.


Kebahagian seperti inilah yang Nisa inginkan, Nisa tak akan membiarkan kekecewaan itu berlanjut pada wajahnya meski tawaan itu nantinya akan melukainya.


Perkiraan Nisa benar ia merasa tergores bathinnya ketika harus menyaksikan kembali rumah rahasianya setelah sepuluh tahun ia tak pernah kembali bahkan sakitnya terasa dari mulai ujung jalan untuk sampai ke rumah ini, setiap ruas jalannya pernah ia pijaki dengan tetesan air matanya sepuluh tahun lalu.


Tidak ada yang berubah dari rumah ini warna catnya masih semengkilat dulu, hamparan sekitarnya hijau dengan banyaknya pohon cemara yang berjejer seolah menjadi prajurit bagian terdepan dalam menjaga rumah ini.  Bahkan ketika memasuki rumah ini sudah terpasang lampu sepertinya ada seseorang yang selalu merawat rumah ini, padahal tak banyak orang yang tahu mengenai rumah ini selain ia, adiknya dan...Yah sepertinya ibu Dewi Purnama yang sudah merawat rumah ini hingga nampak tetap indah seperti dulu.


Rumah ini memang cukup penting baginya karena satu-satunya peninggalan Queen Alipa sahabat sejatinya.


Nisa tak dapat lagi menahan air matanya ketika ia melihat sebuah lukisan keluarga yang masih tergantung di atas tempat pembakaran api.


Udara di sini cukup dingin sengaja papanya membangun rumah yang memiliki cerobong asapnya untuk menhangatkan tubuh istrinya setidaknya itu yang Nisa dengar waktu kecil dari papanya.


Nisa kecil yang berada dalam gendongan sang ayah sementara sang ibu nampak duduk di kursi dengan perut buncit karena sedang hamil tua. Dalam lukisan itu memberi kesan keluarga yang harmonis dan bahagia tertebar banyak cinta kasih di dalamnya.


"Papa..." Nisa meraba wajah papanya dalam lukisan itu dan menangis pilu. "Nisa datang bersama Bintang. Pah.., lihatlah..." beralih menyentuh pipi adiknya yang berdiri di sampingnya. "Bintang sekarang sudah besar..." Kembali beralih menyentuh lukisan. "Maafkan Nisa, Pah... Karena setelah sepuluh tahun Nisa baru bisa membawakanya pada Papa. Nisa benar-benar minta maaf..." Tangis Nisa pecah.

__ADS_1


Armanda segera memeluknya ternyata ini jawabannya kenapa kakaknya ingin melupakan tempat ini. Mungkin terlalu banyak kenangan yang ingin ia kubur di tempat ini dan Armanda terlambat menyadarinya, tapi untungnya kesedihan kakaknya tidak berlanjut setelah ini.


__ADS_2