Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
JANGAN TINGGALKAN AKU, KAKAK....


__ADS_3

Waktu berjalan lebih cepat rasanya dari biasanya. Besok..? Nisa akan bertunangan dengan Nayaka. Rasanya berat bagi Nisa untuk melakukannya? Dan besok juga adiknya akan pergi meninggalkannya. Meskipun ia selalu merasa terluka setiap kali melihat kekasihnya mengingat ia tidak bisa memilikinya namun Nisa ingin terus melihatnya meskipun hanya memposisikan sebagai kakak dan setiap menatapnya hatinya hancur bagai tersayat sembilu, Nisa tidak peduli asal tetap bisa melihatnya.


Besok semua akan berakhir besok. Nisa merasa kehidupannya akan berakhir besok. Sangat menakutkan bagi Nisa memikirkan apa yang akan terjadi besok, dalam ketakutannya Nisa tersenyum getir. Ada sesuatu yang kebetulan karena besok usia adiknya genap dua puluh satu tahun artinya memang sudah waktunya pria itu lepas darinya sesuai wasiat sang ayah.


Nisa menangis menyaksikan kue tart berbentuk Bintang kecil yang sudah ia beli tadi bersama lilin angka dua puluh satu. Kembali Nisa harus merayakan ulang tahun adiknya seorang diri di kamar tanpa ada siapapun di dalamnya.


Nisa mendekat ke arah jendela tatapannya tertuju pada jendela kamar sebelah, sambil berharap ia bisa melihat adiknya di sana meski dari kejauhan. Nisa menebak adiknya pasti belum tidur seperti dirinya saat ini karena memikirkan apa yang terjadi besok?Nisa tahu adiknya masih belum bisa menerima kenyataan ini. Nisa hanya bisa mengutuki diri karna sudah membuat pria itu menderita walau kadang Nisa berpikir ia ingin mengabaikan Mutiara dan berlari kepadanya namun kelumpuhan Mutiara dan hutang nyawa pada ayahnya kembali memprotesnya keras.


Nisa berbalik berjalan menuju pintu ketika ia mendengar pintu kamarnya ada yang mengetuk. Nisa terpaku tak dapat bicara ketika membuka pintunya sosok yang sangat ia rindukan sudah berdiri di hadapannya. Dengan lembut dan murung pria itu menyahutnya,


"Kakak..."


Dengan melihatnya sedekat ini membuat kacau perasaan Nisa tapi Nisa tekankan diri untuk tidak terpengaruh pada kecintaannya pada pria ini.


"Bintang," balas Nisa parau dan sedih.


"Malam ini aku berulang tahun. Aku ingin merayakan ulang tahunku bersamamu. Kakak maukan?" lirihnya dan ia melihat perempuan di depannya tersenyum lembut namun tampak menahan sakit, sesaat kembali dengan membawa kue berbentuk Bintang berukuran kecil di hadapannya. Armanda membalasnya dengan tersenyum.


"Aku tahu, selain Kakak tidak ada yang ingat ulang tahunku?" ucapnya mengambil alih kue di depannya, kue yang selalu kakaknya beli untuk merayakan ulang tahunnya. Kembali menatap wajah Nisa. "Malam ini di luar sangat terang. kita kebawah..." Menyodorkan tangan kirinya pada Nisa dan Nisa menyambut dengan memberikan telapak tangannya hingga saling mengait kuat mungkin ini akan menjadi saat terakhir mereka bergandengan tangan seperti ini lagi karena besok semua akan berakhir.


Nisa dan Bintang duduk saling menempelkan punggung di tengah rerumputan halus di halaman belakang rumah ini. Rembulan dan bintang berbaur dengan sinarnya lampu taman, bunga-bunga hias yang mengelilingi mereka seolah mereka ikut berbagi dalam pesta mereka.


Taman ini seolah disulap menjadi sebuah kebun bunga karena besok di taman inilah Nisa akan bertunangan dengan pamannya, Armanda tidak ingin mengingat hal itu karena baginya taman ini akan memberi momen perayaan ulang tahunnya yang ke dua puluh satu bersama orang yang dicintainya, satu hal saja untuk malam ini yang mereka inginkankan, esok tidak akan tiba.



"Apa Kakak ingin tahu apa permintaanku pada Tuhan kali ini?" ucap Armanda tersenyum dengan pandangan menatap angkasa malam.


"Tidak." Jawab nisa lembut dan pelan. "Biarkan itu jadi rahasia." Dalam hati sebenarnya Nisa merasa takut pemohonan adiknya adalah sesuatu yang tidak bisa terkabul. Nisa takut kalau adiknya memohon dirinya untuk menghentikan pertunangannya dengan Nayaka jika itu pertanyaan lebih baik Nisa tidak mau mendengarnya karena Nisa tak mampu mengabulkannya.


"Kenapa? Apa Kakak takut aku meminta sesuatu yang tidak bisa di kabulkan oleh Tuhan?" ujar Armanda dan perempuan di belakang punggungnya membisu sebagai tanda kalau tebakannya benar, Armanda tertawa kecil mengingat setiap momen ulang tahunnya dulu, ketika kakaknya selalu memaksanya membuka mulutnya untuk memberi tahu tentang permohonannya, Bintang Kecil selalu merahasiakannya tapi kakaknya selalu memaksa dengan menggelitik tubuh kecilnya saat itu, "Saat ku kecil Kakak suka memaksaku untuk memberitahukanmu apa permohonanku, tapi kali ini Kakak sepertinya sudah tidak mau tahu. Kalau begitu aku mau tidur saja." Memejamkan bola matanya. "Mau Kakak bernyanyi Bintang kecil untukku?" ujarnya tanpa membuka matanya.


Nisa merasa sedih mendengar permintaannya karena hal itu mengingatkannya kembali sebelas tahun lalu saat ia mengembalikan Bintang Kecil pada Anggraeni secara diam-diam ketika Si Kecil tertidur lelap setelah dinyanyikan lagu itu, dan kalau Nisa melakukan itu lagi seolah lagu ini akan mengantarkannya untuk kepergiannya besok dan Nisa tidak mau mengulang kesedihan itu.


"Bintang sudah tidak menyukainya." ucap Nisa  menolaknya secara tidak lansung.


"Entah kenapa aku ingin Kakak menyanyikan lagu itu lagi."

__ADS_1


"Nanti Bintang benar-benar akan tertidur..."


"Aku memang ingin tidur."


"Tidak aku tidak  mau bernyanyi, nanti tidurmu lelap. Kakak tidak bisa mengangkat tubuhmu lagi seperti dulu."


"Baiklah tidak mengapa yang penting aku bisa tidur di dekatmu seperti ini." Suara parau dan lelah.


Nisa diam-diam  menangis tersedu-sedu setelah ia tidak lagi mendengar suara adiknya dan berpikir adiknya sedang tertidur di punggungnya. Nisa tak sanggup menahan penderitaannya saat ini.


Nisa terkejut ketika lima menit kemudian adiknya yang menempelkan punggung di belakangnya berkata,


"Jangan bertunangan dengan Naka. Kembalilah padaku. Itu permintaanku tadi pada Tuhan."


"Bin..tang..." Suara Nisa serak berusaha menghentikan tangisnya tapi tidak berhasil.


"Aku mohon. Kembalilah..." ucap Armanda sekali lagi terdengar parau.


"Kita tidak bisa berbuat lebih kejam lagi pada Mutiara..." lirih Nisa menangis.


"Lebih tidak adil kalau kita meninggalkan Mutiara tanpa kaki bisa berjalan."


"Kalau Mutiara bisa berjalan. Apa Kakak akan kembali padaku?"


"Besok Kakak bertunangan..."


"Kalau ada keajaiban datang sebelum besok?"


"Tak ada keajaiban."


"Kalau ada?" Armanda terus menekan Nisa dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri merasa prustasi mendengar jawabannya.


"Kakak mohon hentikan..."


Tangis Nisa semakin pecah menjadi kidung yang menyayat hati dalam kesunyian malam ini. Nisa merasa prustasi karena keajaiban itu hanya sebuah omong kosong dan ia sadar kesempatan untuk bersatu lagi tidak akan ada, hal itu membuat Nisa merasa sedih dan putus asa. Namun ia harus menegaskan tentang keajaiban yang tidak pernah ada dan pria ini tidak boleh berharap sesuatu yang mustahil karana nantinya akan membuatnya lebih terluka. Terpaksa Nisa harus menutup kemungkinan itu. Nisa melepaskan punggungnya untuk berbalik menatap pria itu.


"Keajaiban itu tidak akan pernah ada. Kalaupun ada. Kakak tetap tak bisa kembali padamu." lirih Nisa pahit dan hati Nisa semakin terkoyak menyaksikan air mata pria di depannya menetes. Kembali Nisa melanjutkan. "Bintang harus berusaha mencintai Mutiara, Kakakpun akan berusaha mencintai Nayaka."

__ADS_1


Ucapan Nisa mencabik-cabik perasaan Nisa sendiri. Tangisan pria itu melukai Nisa hingga ke titik jenit, Nisa tak tahan lagi hingga ia merasa akan mati saat ini juga. Nisa bangkit berdiri untuk meninggalkan pria ini namun dalam sekejap pria itu sudah memeluk kedua pahanya dari belakang menahannya untuk tidak pergi.


"Jangan tinggalkan aku, Kakak..." Armanda merengek.


Nisa berusaha berbalik untuk menatap wajah itu lagi, dan membantunya berdiri hingga saling berpandangan.


Nisa melempar senyum di antara tangis dan dadanya yang terasa sakit. Kedua tangan Nisa memegangi kedua rahang dan pipinya dan berkata dengan lembut.


"Malam ini usiamu genap dua puluh satu tahun. Mulai besok Bintang bebas. Pergilah ke tempat yang jauh di mana tidak ada Kakak di sana dengan begitu mungkin Bintang bisa melupakan Kakak? Pergilah ke mana yang Bintang suka karena Kakak sudah tidak berhak lagi untuk menahanmu. Besok Kakak sudah tidak memiliki kewajiban apa-apa lagi atas dirimu. Tentukanlah jalan hidupmu sendiri. Kakak merelakanmu pergi..."


Tangisan Armanda pecah mendengar penuturan Nisa.


"Tidak.., jangan bicara begitu, Aku bisa mati tanpa Kakak..."


"Kalau Bintang mati apa lagi Kakak. Bertahanlah untuk tetap hidup. Kita berdua harus sama-sama bertahan. Bintang harus hidup bahagia. Tidak banyak menangis seperti ini, itu melukai Kakak. Sayang..."


Armanda menarik tubuh Nisa mendekapnya, ia merasakan benar-benar sangat takut terlepas dari Nisa dan Armanda belum siap menghadapi besok tanpa Nisa lagi di sisinya.


"Jangan pergi Kakak.., Aku takut..." Tangis Armanda mendekap semakin erat. "Bagaimana aku mampu hidup tanpa Kakak..."



Nisa menangis tapi Nisa sudah tidak punya pilihan lagi. Nisa melepaskan pelukannya, berusaha tersenyum lagi meski hatinya hancur. jemari-jemari Nisa menyeka air mata pria di depannya.


"Jangan seperti ini. Bintang harus kuat. Pria tidak boleh lemah seperti ini. Kakak akan berdoa pada Tuhan biar semua kesedihan Bintang di ambil sama Tuhan kalau perlu biar kesedihan seumur hidup Bintang Kakak yang menanggungnya, Bintang harus tersenyum tidak boleh menangis..."


Nisa menangis lagi karena merasa tidak kuat menyaksikan penderitaan pria di depannya, Nisa segera memeluknya kemudian melepasnya lagi dan berkata,


"Tanggung jawab Kakak sudah selesai sampai di sini, Kakak melepasmu, Bintang harus bahagia tanpa Kakak, Kakak sangat menyayangimu, lebih dari apapun bahkan Tuhan tidak sanggup menyaingi perasaan Kakak padamu." Kemudian kedua kaki Nisa berjingjit untuk mencium kening pria di depannya. "Selamet Tinggal, Sayang.., percayalah semua akan baik-baik saja." ucap Nisa lalu pergi meninggalkan tangisan kekasihnya.


Armanda meratapi kepergian Nisa dengan  terus menyahut dalam hatinya,


"jangan pergi, Kakak..., jangan pergi.., jangan lepaskan aku, tanpamu aku pasti mati..."


Namun tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali langit malam yang mendengarnya dan menyampaikan pada Tuhan.


HAI SEMUA YANG MENUNGGU KELANJUTAN NISA DAN BINTANG, MENUJU TIGA EPISODE TERAKHIR LOH, TETAP KOMEN, LIKE DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA, KITA TUNGGU APA BINTANG DAN NISA BISA BERSATU KEMBALI ATAU HARUS BERPISAH???

__ADS_1


__ADS_2