Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Jangan pergi saat ku tidur


__ADS_3

Nisa sudah berdiri di dalam rumah besar kediaman Akbar setelah seorang perempuan renta bernama bik Kasih membukakannya pintu.


"Armanda kalian ada bersamaku."


Nisa memberitahukan ketika ia melihat Anggraeni dan Nayaka sedang berjalan menuruni tangga.


"Kupikir kamu tidak bodohkan? Mengganggu ketenangan tidur kami hanya untuk memberi tahukan kalau Armanda saat ini ada bersamamu."


Anggraeni membalas sinis sebenarnya tanpa harus diberitahukanpun ia sudah tahu kalau cucunya saat ini sedang bersamanya setelah melihatnya pertemuan mereka tadi pagi di televisi.


"Kau benar, Aku datang karna ingin mengadakan kesepakatan denganmu. Aku tahu benar Akbar Group sangat penting untukmu. Kau pasti tertarik dengan penawaranku saat ini."


"Penawaran?" Anggraeni mengulang menyelidik wajah Nisa.


"Kembalikan status Bintang Kecil padaku. Dan aku akan memberikan berkas-berkas perusahaan ini menjadi milikmu." Menyodorkan berkas warna kuning itu ke depan Anggraeni. "Kau tak punya pilihan lain? Karena kalau tidak aku akan benar-benar  menghancurkannya. Bagaimana kau setuju kan?"


Anggraeni mengambil alih surat itu dari tangan Nisa, ini kesempatan bagus baginya karena bisa memilki seratus persen Akbar Group dan tidak akan kehilangan Akbar Group, tapi Anggraeni masih bingung Akbar Group memang adalah nafasnya tapi, Armanda adalah denyut nadinya.


Nisa kembali ke apartemennya setelah Anggraeni menyepakati tawarannya. Namun ketika ia sampai menuju lorong kalidor ia mendengar teriakan-teriakan gaduh dan memanggil-manggilnya kakak...


Astaga....!


Itu suara adiknya yang sengaja ia kunci di dalam apartementnya.


Nisa melesat panik ketika ia lihat nampak  beberapa orang sudah berkumpul di depan pintu salah satunya Mutiara mereka nampak ingin tahu apa yang terjadi di dalam.


Nisa menerobos diantara orang-orang itu, tangannya segera membuka kunci, sekilat ia buka seseorang dari dalam melesat mendekap tubuhnya erat.


Armanda melepas pelukannya ia melepaskan kepanikannya dengan berteriak.


"Kakak dari mana saja..! Jangan pergi saat aku sedang tidur! Kakak tahu tidak aku ketakutan setengah mati!" Teriaknya sambil menggerak-gerakan tubuh Nisa hingga menyakitinya.


"Tenanglah. Sayang...Tenanglah..." Nisa ikut panik namun berusaha mengendalikan tubuh pemuda di depannya yang nampak kacau. "Ini Kakak..." lirih Nisa berhasil terlepas dari cengkraman panik adiknya lalu ia sentuh pipinya dengan kedua tangannya lembut. "Ada apa hmmm?"


"Kakak pernah meninggalkanku dulu saat aku sedang tidur. Aku takut sekali tidak bisa melihatmu lagi seperti dulu. Aku mohon jangan pergi saat aku sedang tidur. Aku takut." lirih Armanda tak perduli orang-orang disekitarnya menatapnya aneh dan iba.


Nisa menangis mendengar pengakuannya, ternyata apa yang telah ia lakukan dulu terhadapnya dengan meninggalkannya diam-diam saat sedang  tidur telah menjadikannya sebuah momok yang menakutkan baginya.


"Maafkan Kakak... Maaf.., Kakak benar-benar minta maaf..." lirih Nisa menangis.


Nisa memeluknya erat dan menangis perasaannya terluka ketika mengingat kembali kejadian sepuluh tahun lalu di mana saat itu ia mengembalikannya pada Anggraeni dan sampai saat ini Nisa menyesali itu.


Nisa membawanya masuk adiknya ke dalam, meninggalkan beberapa orang yang menatap ke arah adiknya termasuk Mutiara. Mereka menatap adiknya dengan pandangan iba.


Nisa tidak beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya mengenai peristiwa semalam Nisa berharap itu hanya sebuah mimpi buruk yang tidak benar-benar menimpa adiknya tapi itu kenyataan yang tak dapat dia sangkal.

__ADS_1


Peristiwa semalam benar-benar terjadi. Siapa sangka pemuda yang mereka gunjingkan liar, nakal dan bar-bar begitu amat rapuh dan menyedihkan, hal itu terlalu menyakitkan untuk dibayangkan.


Nisa pandangi wajah tampan pemuda di dekatnya itu, setelah peristiwa semalam adiknya tidak lagi menolak tidur bersamanya.


Matahari pagi yang menyelinap lewat jendela nampak menyinari wajahnya yang tampak polos. Bibirnya yang kuncup hidungnya yang mancung dan lancip pas sekali di wajahnya yang agak tirus dan ketika ia mengerang nampak terlihat seperti bayi kecil, momen seperti ini sering ia saksikan sepuluh tahun lalu kebelakang dan saat melihatnya lagi Nisa merasakan kebahagian yang luar biasa.


Nisa melihat pelan-pelan kedua bola mata di hadapannya terbuka, dan Nisa memberikan seutas senyum pagi hari kepadanya.


"Pagi... Nyenyak sekali tidurmu." ucap Nisa lembut.


Armanda menatap wajah kakaknya yang masih berbaring di sampingnya dengan posisi mengarah kepadanya, jemari kakaknya nampak bermain di rambut dan keningnya lembut.


Setelah sepuluh tahun baru pertama lagi Armanda merasakan tidur begitu nyenyak. Armanda tersenyum dan menyapa perempuan di dekatnya dengan suara lembut dan manja.


"Kakak..."


Nafas adiknya yang begitu dekat pada wajahnya menyapu hangat wajah Nisa.


"Nyenyak sekali tidurmu."


"Iya, sudah lama aku tidak bisa tidur senyaman ini."


"Iya. Semalaman Bintang terus memeluk Kakak."


Kalimat kakaknya mengingatkan kembali kejadian semalam. Semalam  ia sudah bertingkah sangat konyol. Dia panik seperti orang gila dan tidak sadar semalaman dia sudah tidur dalam pelukan Nisa.


Astaga....



Armanda segera bangkit dari tidurnya mengubah posisinya menjadi duduk. Tiba-tiba wajahnya terasa panas seperti terbakar. kejadian semalam benar-benar membuatnya merasa konyol.


Nisa melihat adiknya nampak salah tingkah. seperti ada suatu hal yang membuatnya merasa malu.


"Kenapa?" tanya Nisa memandangnya bingung.


"Semalam sikapku..., konyol sekali yah...?" Menggaruk-garuk  rambutnya reaksi spontan karena malu. "Aku malu sekali padamu."


Nisa  terdiam sebentar sebenarnya ia tak ingin membahas peristiwa semalam tapi sepertinya dari sikapnya saat ini apa yang terjadi semalam di luar kendali adiknya namun Nisa tidak menganggap itu sebuah kekonyolan itu adalah hal yang wajar jika dilakukan oleh Bintang Kecil yang manja dan amat rapuh. Mungkin memang agak konyol kalau hal itu dilakukan oleh seorang Armanda Akbar yang dikenal liar, bar-bar dan jagoan.


Kedua tangan Nisa menyentuh kedua pipi adiknya yang juga duduk bersila menghadapnya.


"Bintang ingat tidak? Dulu Bintang kecil selalu seperti itu..." Melepaskan tangannya dari kedua pipinya dan beralih memegangi kedua tangannya. "Kalau bangun tengah malam, Bintang Kecil akan menangis dan memintaku untuk memelukmu. Dulu Bintang Kecil sangat manja sekali sama Kakak, saat tidur Bintang tidak mau lepas dari pelukan Kakak. Jadi.., peristiwa semalam Kakak merasa sudah tak aneh lagi, Bintang tidak perlu malu, karna bagi Kakak Bintang yang sekarang dengan Bintang yang dulu masih sama, jadi tidak perlu malu apa lagi sungkan sama Kakak, karna adikku tidak akan seperti itu. Bintang. Paham?" ujar Nisa dan ia melihat pria di dekatnya itu mengangguk mengiyakan. "Nah begitu baru benar. Kalau Bintang malu karna hal kecil seperti itu bagaimana dengan rahasiamu yang Kakak tahu tentang tanda merah besar yang ada di..."


Nisa tidak meneruskan katanya tapi tatapannya yang dibuat jahil mengarahkan ke arah letak bagian di mana ia memiliki tanda merah itu sepertinya berhasil membuat adiknya melompat dari tempat tidur.

__ADS_1


"Apa sih Kakak..." berdiri sambil menutupi bagian bawahnya dengan bantal.


Wajah Armanda memerah lagi mengingat ia memang memiliki sebuah tanda merah cukup besar di alat kelaminnya, tak ada satu orangpun yang tahu kecuali...?


Nisa tertawa melihat reaksi adiknya saat melompat dari tempat tidur dan cara ia berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya dengan bantal, begitu lucu.


"Masih ada yah.." Suara Nisa nakal.


"Enggak ada. Sudah hilang." jawabnya berbohong karena tanda merah itu sampai sekarang masih menempel di tempatnya.


"Masa.., coba Kakak lihat." Nisa tersenyum menggodanya.


"Iiihh enggak. Enggak boleh."


"Jadi benarkan masih ada..?" goda Nisa lagi.


Armanda mulai membenarkan kalimat kakaknya. Tak sepatutnya ia merasa malu bukankah sedari dulu kakaknya yang tahu dirinya secara luar dalam dan dia juga orang yang paling memahaminya dirinya jadi kenapa harus merasa malu padanya.


"Iya."


"Iya apa?" Nisa pura-pura tidak mengerti untuk menggodannya.


"Iya, ada."


"Ada apanya?"


"Itu tanda merahnya, masih ada." ujarnya malu-malu meong.


Nisa tertawa kecil melihat adiknya yang nampak polos dan bersikap malu-malu.


"Tuh kan hal sedalam itu saja Kakak tahu, jadi kenapa harus malu. Benar enggak?"


Armanda tersenyum mengangguk. Sambil melempar bantalnya ketempat tidur.


"Sekarang enggak ada alasan aku malu sama Kakak lagi. Dari kecil Kakak tahu segalanya tentang aku jadi kenapa aku mesti malu."


"Itu baru adiknya Kakak..." ujar Nisa berhasil memberi kenyamanan hati adiknya.


"Ya sudah Aku mau mandi dulu ,Kak.."


"Mau Kakak mandiin?"


"Iiihh enggak. Enggak...." Berlari keluar kamar seolah berusaha menyelamatkan diri dari godaan kakaknya.


Nisa tersenyum lucu melihat reaksi adiknya yang memang sangat lucu padahal Nisa sedang mencandainya.

__ADS_1


"Ya sudah mandi yang bersih yah. Kakak bikin sarapan. Setelah beres kita belanja kebutuhanmu." teriak Nisa pada adiknya yang sudah tidak terlihat.


__ADS_2