Bintang Rebutan

Bintang Rebutan
Pernyataan Cinta Mutiara


__ADS_3

Sejak kepulangannya dari bogor satu minggu lalu Armanda merasa Nisa menghindarinya, awalnya Armanda bisa memahami karena mungkin kakaknya membutuhkan waktu untuk berpikir tapi setelah itu Armanda mengalami kesulitan untuk menemuinya lagi, setiap ia hubungi telepon genggamnya ia tidak mau menjawab, ia telepon ke kantornya selalu asistennya yang bicara saat ia datang ke kantornya selalu ada alasan yang membuatnya tidak bisa menemuinya.


Armanda bingung mencari cara bagaimana ia bisa menemuinya lagi setelah satu minggu ini kakaknya tak mau pulang ke apartementnya, namun Armanda teguhkan dalam hati jika mungkin ia harus kehilangan kakak maka ia akan berjuang untuk bisa mendapatkan perempuan yang dicintainya.


Sementara di tempat lain Nisa berusaha menyibukan diri dengan harapan bisa sedikit melupakan masalah berat yang menimpahnya tapi Nisa tahu itu tidak mudah karena setiap saat wajah adiknya terus muncul seperti bayangan yang mengikutinya.


Nisa sendiri tahu menghindar bukanlah jalan yang terbaik karena yang terjadi ia malah terbantaikan dengan kerinduan yang luar biasa.


Nisa benar-benar sangat kacau walau ia berusaha menyibukan diri tapi ia sendiri merasa kacau setiap apa yang dikerjakannya. Konsentrasi bekerjanya hilang, tak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain menangis.


Banyak yang menilai sejak kepulangan mereka berlibur terjadi banyak keanehan yang terjadi pada mereka, tiba-tiba saja Queen mencabut gugatannya di pengadilan melawan Anggraeni dalam persaingan memperebutkan status Armanda, dan saat rapat mengenai naiknya perusahaan kali ini Nisa tak banyak komentar, Nayaka dan Anggraeni merasa aneh dengan sikap Quinisa saat ini. Sementara yang membuat Mutiara aneh adalah sejak kepulangan mereka berlibur satu minggu lalu, Nisa kembali tinggal di rumah ayahnya seperti dulu tanpa memberitahukan alasannya pada siapapun.


Nisa terkejut ketika ia pulang di sambut dengan adanya Mutiara yang nampak sedang berenang, gadis itu dari dulu memang pandai sekali berenang beda sekali dengan dirinya yang tidak bisa berenang.


Ini memang rumah milik ayahnya Mutiara tapi selama ini gadis itu telah lama tinggal di apartement, ia jarang pulang ke rumah kalau tidak ada hal yang penting.


Nisa merasa kedatangannya saat ini ada sangkut pautnya dengan adiknya.


"Kamu berada di sini, apa untuk menemui Tante?" ujar Nisa ketika gadis itu sudah mengangkat tubuhnya dari dalam air.


"Aku cuma sedang merasa bingung, Tante..." ujar Mutiara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kenapa?" tanya Nisa singkat dan ia melihat gadis itu nampak terdiam seolah ada sesuatu sedang ia pikirkan.


"Ini mengenai Armanda..." ujarnya sambil menghampiri Nisa mengikutinya duduk di sampingnya. "Aku merasa sesuatu telah terjadi antara kalian?" Menatap wajah Nisa yang duduk di dekatnya. "Apa kalian ada, masalah?" 


Pertanyaan Mutiara tembus ke titik sasaran karena tiba-tiba ia melihat perempuan yang dianggapnya super keren ini nampak berubah murung.


"Tidak ada yang terjadi."


Nisa berbohong karena tidak mungkin mengatakan semuanya yang telah terjadi, ini terlalu rumit dan tidak akan ada orang yang bisa memahaminya.


"Tapi aku merasa aneh setelah kalian pulang berlibur, Tante kembali ke rumah ini dan Armanda...," terhenti sebentar, dan ia melihat ketika menyebut nama Armanda, pandangan wanita  itu memutar ke arahnya, sepertinya ia memang sedang menunggu kabar tentang adiknya. "Selama satu minggu ini dia sangat murung bahkan saat di kelas ia sama sekali tidak belajar, dan sudah dua hari ini dia benar-benar tidak masuk kuliah. Saat aku tengok ke apartemen Tante, dia.. hanya tiduran dan sangat murung. Aku merasa ada masalah besar yang menimpah Armanda, Aku mau tanya apa masalah yang terjadi pada Armanda sekarang ini, ada hubungannya dengan Tante?"


Nisa tidak dapat menyembunyikan kepedihan hatinya ketika mendengar cerita adiknya dari Mutiara, terpikir mungkin penderitaan adiknya saat ini tak ada bedanya dengan dirinya saat ini yang begitu sedih dan terpuruk.


"Apa dia mau makan?" lirih Nisa berkaca-kaca karena dari kemarin itu yang selalu ia pikirkan. bagaimana perutnya, bagaimana makannya, kadang hanya pikiran itu saja sudah cukup mengoyak bathin Nisa.


Mutiara melihat kesedihan yang mendalam pada wajah perempuan di sebelahnya, seperti tebakannya, antara dia dan adiknya memang sedang terjadi masalah besar.


"Sepertinya beban dipikirannya membuatnya malas makan Tan, beberapa kali aku tengok, dia hanya tiduran, tidak beraktifitas apapun, Aku sedih melihatnya seperti itu.."

__ADS_1


Mendengar jawaban itu hati Nisa semakin terluka, tak terasa air matanya menetes, Nisa beranjak dari hadapan Mutiara dengan pikiran kacau.


Mutiara tak sengaja menemukan handphone milik Queen yang tertinggal barusan. Wanita itu pergi begitu saja tanpa mau mendengar apa-apa lagi darinya, namun Mutiara menemukan kepedihan itu jelas di matanya.


Mutiara melihat puluhan panggilan tak terjawab dari dalam Handphone itu dan ada beberapa pesan di dalamnya, dan semuanya dari Armanda hal itu memancing rasa penasaran Mutiara untuk mencari tahu?


Tangan Mutiara mulai membuka semua pesan itu yang hampir semuanya adalah kata-kata permintaan Armanda yang memintanya untuk pulang. Dada Mutiara tiba-tiba terasa sesak, ketika ia mendengar suara Armanda terdengar dalam handphone itu.


Kak.. Aku mohon pulanglah, Jangan Kakak hukum aku seperti ini, Aku tahu apa yang sudah terjadi masih sulit untuk dapat diterima, Tapi kita tidak harus terhindar dari kenyataan.. Cinta bukanlah dosa, Tak ada yang keliru dalam peraasaan kita jadi biarkan Aku mencintaimu sesuai dengan apa yang kurasakan, Pulanglah. .Aku merindukanmu..


Meneteslah Airmata Mutiara rasa marah cemburu dan sedih bercampur dalam dadanya karena tak bisa dipungkiri dalam hatinya meski saat ini ia dan Armanda adalah sahabat karib namun di hatinya yang paling dalam ia menginginkan lebih dari itu.


Mutiara segera meninggalkan rumah milik ayahnya ini setelah meneguhkan hati kalau Armanda harus mengetahui perasaan yang sebenarnya, sebelum Armanda benar-benar jatuh ke tangan orang lain, apa lagi wanita sekeren Queen yang akan sangat sukar dikalahkan.


Jantung Mutiara berdegup dengan kencang ketika  ia mengetuk pintu apartemen Queen. Seseorang muncul di balik pintu itu.


Armanda membuka pintunya lebar sambil berharap itu kakaknya, namun ia kecewa karena yang muncul di hadapannya bukan seseorang yang ia rindukan selama satu minggu ini.


"Kupikir kakak aku..." Suara Armanda kecewa.


"Apa gue ganggu?" tanya Mutiara.


"Tidak. Ada apa?" balasnya dengan suara lesu.


"Mau bilang apa, cepat Aku masih ngantuk."


Mutiara merasa berat untuk mengatakannya, tapi ia harus yakinkan diri kalau ia harus mengatakannya karena dengan begitu ia akan memiliki harapan.


"Gue.., Suka lo, Boy.." ungkapnya berat, kembali meneruskan kalimatnya dengan memberanikan diri sekali lagi. "Gue ingin kita.., pacaran lagi."


"Apa..!" Respon Armanda terkejut.


Armanda baru membuka kedua matanya lebar-lebar, yang tadinya merasa ngantuk tiba-tiba hilang begitu saja ketika ia merasa mendengar sesuatu yang mengejutkan dari mulut si ginsul dua.


Tapi setelah itu Armanda meresponnya dengan tertawa karena ia merasa si ginsul dua sedang bercanda.


"Kamu lagi bercanda?"


"Apa menurut lo ini lucu?"


Mutiara merasa sangat sedih karena pernyataannya dianggap sebuah candaan padahal membutuhkan perjuangan berat bagi Mutiara untuk menyampaikan perasaannya yang ia pendam selama bertahun-tahun ini.

__ADS_1


Armanda menghentikan tawaannya ketika melihat raut muka gadis di depannya yang nampak sangat serius.


"Jadi.., kamu serius?"


Armanda terkejut namun berharap ini tidak serius, namun saat ia memperhatikan wajah gadis di depannya itu, nampaknya apa yang tadi ia dengar memang benar-benar serius.


Setelah putus jadi pacarnya lima tahun lalu Armanda tidak pernah berpikir untuk pacaran lagi dengan gadis ini karena ia sudah merasa nyaman menjadikannya sahabat terdekatnya, Mutiara adalah tempat berantem dan satu-satunya orang yang membuatnya merasa bebas bersikap, dan Mutiara satu-satunya yang memanggilnya dengan kasar. Boy, kepedekan dari kata Badboy cuma Mutiara yang memanggilnya dengan nama kesayangan seperti itu, dan Armanda sudah nyaman dengan semua itu, ia tidak ingin kehilangan sahabat seperti ini baginya si ginsul dua adalah sahabat tak tergantikan.


Mutiara membalas dengan memasang wajah sangat serius dan sedih.


"Gue serius. Gue ingin kita pacaran lagi. Mau kan?"


"Kurasa..." Armanda berusaha menjawab mencari kata-kata yang pantas dan tidak menyinggung. "Aku.., sudah merasa nyaman jadi temanmu. Aku.., tidak berpikir untuk pacaran lagi denganmu." suara Armanda terbata-bata karena sangat takut menyinggungnya, kalau tersinggung pukulan Muhamad ali bisa meluncur ke wajahnya yang tampan ini.


"Ada perempuan lain kan..?" Tiara menebak sementara matanya berkaca-kaca setelah mendengar penolakan langsung tanpa memberi dirinya kesempatan.


Armanda tepaku bisu tebakan Mutiara tepat menusuk hatinya. Armanda ingin memberitahukannya kalau saat ini sudah ada Nisa yang mengisi hatinya tak ada celah sedikitpun untuk wanita lain meskipun itu untuk Mutiara, namun ia bingung harus mengatakannya, karena ini terlalu rumit bagi dirinya saat ini.


Tak ada kalimat yang lebih pas untuk disampaikan pada sahabatnya ini selain,


"Maafkan aku..."


Mutiara menangis karena kata itu bisa diartikan sebuah pengakuan kalau saat ini ada perempuan lain di hatinya? Inilah untuk pertama kalinya Mutiara merasa cemburu karena ia melihat jelas sekali cinta di matanya, dan itu bukan sekedar cinta biasa.


Mutiara ingin memungkirinya dan berharap kalau seperti  sebelumnya Armanda hanya bermain-main saja.


"Siapa dia?" Mutiara pura-pura tidak tahu, sekedar ingin tahu apakah pria ini berani menyebut nama kakaknya.


"Dia.., perempuan pertama yang ku kenal dalam hidupku." balas Armanda parau tanpa menyebut nama Nisa karena kalau memberi tahunya masalah akan tambah besar.


Mutiara menangis, pria di depannya memang tidak menyebut nama kakaknya tapi menyebut kata perempuan pertama, itu lebih terasa menyakitkan.


"Kamu hanya menyukai dia saja kan? Seperti kamu pernah menyukai dosenmu dulu atau Kakak kelas kita dulu. Benarkan...?" lirih Mutiara berharap seperti itu dengan begitu hatinya tidak merasa sedang dicabik-cabik.


"Maafkan aku Mutiara.., tapi sepertinya saat ini aku benar-benar mencintai dia..." ungkap Armanda dengan nada murung, terpikir saat ini wanita yang dicintainya itu sedang marah padanya, kemudian ia tersenyum sakit. "Aku juga heran kenapa aku bisa seserius ini?"


Tumpah ruahlah air mata Mutiara, ini yang kedua kalinya ia melihat cinta di matanya, Pertama? Ia melihat cinta itu untuk kakaknya namun saat itu ia melihat cinta itu nampak begitu murni layaknya cinta seorang adik untuk kakak yang di sayanginya. Dan kedua?  Saat ini, Cinta itu nampak tulus dan menggebu-gebu seperti cinta pria pada seorang wanita yang dikasihinya.


Ironis sepertinya memang tak ada celah cinta untuk yang lain, cinta itu semua untuk Nisa, dari awal sampai akhir cuma ada Nisa di matanya.


Petualangan cinta Armanda sudah berakhir dan berlabuh dalam rangkulan cinta seorang Queen Agung.

__ADS_1


Mutiara menangis ia menyesalkan kenapa Tuhan menciptakan wanita model  Queen yang memiliki kapasitas lebih dari pada wanita manapun. Dia sudah membuat banyak perempuan iri dengan kecantikan dan kemampuan yang di milikinya, dan bahkan sekarang perempuan itu juga berhasil menaklukan hati si pencari cinta seorang Armanda Akbar.


Mutiara tak akan membiarkan wanita itu meraih semuanya, sudah cukup ia meraih cinta ayahnya, tapi tidak dengan Armanda. Janjinya Mutiara dalam hati.


__ADS_2